
“Apa yang terjadi?” tanya Rose.
“Tiga minggu yang lalu, tidak lama setelah kita pergi, Mommy-ku menghilang tanpa jejak. Itu yang Sarah laporkan padaku. Dan juga, saat ini perusahaan sedang mengalami beberapa problem, tapi kau tidak perlu khawatir.” ucap Yuan.
Rose menatap prianya itu lekat. Semburat raut kecemasan tercetak cukup jelas di wajahnya. Sekalipun bibir Yuan berkata semua akan baik-baik saja. Rose tidak mungkin bisa mempercayainya. Wajah Yuan itu jelas sekali menggambarkan jika dirinya sedang mengkhawatirkan sesuatu.
“Kalau begitu pergilah. Selesaikan apa yang harus kau selesaikan. Aku akan menunggumu disini.” kata Rose.
Raut wajah Yuan seketika itu berubah, rasa syukur pun terbingkai apik dalam senyum sumringahnya, “Sebenarnya aku ingin pergi karena aku sangat khawatir pada Mommy. Tapi disisi lain, aku merasa berat untuk meninggalkanmu. Kau tahu apa yang hatiku rasakan saat ini? Bimbang, aku bimbang. Ini pasti permainan Daddy untuk membuatku harus memilih antara kau dan Mommyku.” Ujar Yuan sembari mengusap lembut rambut kekasihnya itu.
Rose membalas senyum itu dengan senyum tipisnya. Ia menyentuh tangan Yuan yang masih mengusap rambutnya. Membelai lembut punggung tangan itu, menyalurkan rasa tenang di hati Yuan.
“Aku mengerti. Jangan cemaskan apapun. Sekarang yang terpenting kau temukan ibumu, bagaimanapun juga, dia adalah wanita yang sudah berjuang melahirkan dirimu.”
Senyum itu kembali mengembang di wajah rupawannya. Ia sangat bersyukur memiliki seorang wanita yang sangat pengertian terhadapnya.
Sejujurnya, Rose berkata seperti itu karena mewakili dirinya yang seorang piatu, dia tahu betapa berharganya seorang ibu.
Lagipula, Rose juga tidak ingin Yuan menyesal karena pilihan yang mungkin akan dianggap salah di masa mendatang. Sebuah kalimat klasik yang sudah umum beredar, penyesalan selalu berada di hasil akhir sebuah pilihan. Dan Rose, dirinya tidak pernah bersedia melihat Yuan mengalami hal tersebut.
“Terimakasih.” ucapan itu keluar dari bibir sang pria, Yuan merengkuh lembut tubuh kekasihnya itu. “Aku pasti akan kembali. Tunggu aku.” katanya.
Dalam rengkuhan hangat Yuan, Rose menganggukkan kepalanya, “Aku akan menunggumu karena aku percaya kau pasti akan kembali.” ujarnya.
__ADS_1
Mendengar perkataan yang begitu merenyuh hatinya, Yuan semakin mendekap erat tubuh wanita yang sangat ia cintai itu. “Sungguh terimakasih. Aku sangat bersyukur. Terimakasih Rose. Aku janji, aku pasti kembali. Ini bukan perpisahan, aku hanya pergi untuk sementara waktu.”
“Iya.”
•••
Ruang kamar itu seperti sebuah kapal yang baru saja terkena badai dan ombak besar. Semua barang-barang tampak berserakan dimana-mana. Tidak ada satupun barang yang berada di tempatnya.
Suasananya juga terasa suram, kekacauan ini disebabkan oleh seorang wanita paruh baya yang sudah mencapai puncak keputusasaannya.
Ana kembali menarik rambutnya yang sudah tak tertata rapi seperti dulu. Seorang wanita paruh baya yang biasanya terlihat cantik, elok dan sangat rapi. Kini dirinya bagaikan seorang wanita gelandangan yang hidup di pinggiran jalanan ibu kota.
Teriakan rasa frustasinya pun tidak pernah berhenti terdengar. Mungkin saja, jika dirinya terus seperti ini, lambat laun ia bisa menjadi sosok wanita yang mengidap depresi tingkat tinggi.
Tubuhnya pun terlihat mengurus dengan cepat tanpa diet sama sekali. Ana tidak pernah mau menyentuh makanan kecuali dari selang infus yang akan menempel di tubuhnya ketika dirinya pingsan karena kelaparan.
Lalu pertanyaannya, apa yang sebenarnya membuat dirinya sampai pada titik menyedihkan seperti saat ini?
Semua karena pertarungan prinsipnya dan prinsip suaminya. Tapi, seberapa keras ia berpegang teguh pada prinsipnya. Sebagai seorang istri yang berada di bawah otoritas suami, Ana tidak bisa berbuat banyak.
Bagaimana dengan keluarganya? Apa mereka tidak menentang tindakan Ray yang keterlaluan ini? Tentu saja jika mereka tahu, mereka pasti akan sangat menentangnya, dan Kenan lah yang paling mungkin akan berada di garda terdepan untuk membela kakaknya. Tapi, itu hanya akan terjadi jika mereka tahu.
Tidak ada yang tahu tentang polemik kusut yang sedang terjadi di keluarga ini. Alex, pria itu sudah kembali ke Inggris setelah Nana menikah dengan Kai. Dan nenek Calista, wanita tua itu, sudah pergi meninggalkan dunia ini sekitar dua tahun yang lalu.
__ADS_1
Semuanya benar-benar sempurna bagi Ray. Tapi apakah ia sungguh tega berbuat seperti itu pada seorang wanita yang pernah meluluh lantakkan hatinya? Apa ia sungguh tega melihat Ana yang telah menemani harinya selama puluhan tahun menjadi seperti ini? Jawabannya adalah tidak. Pria paruh baya itu tidak mungkin tega. Hatinya pun setiap hari terasa seperti ada duri yang menusuknya tanpa ampun.
Ray, ia sangat mencintai Ana. Kisah cinta mereka bukan seperti kisah cinta langit dan bumi yang terhalang oleh jarak. Kisah cinta mereka itu seperti sebuah pohon yang sejak kecil sudah ada dan terus tumbuh. Sekalipun daun-daun ingatan sempat berguguran. Tapi pupuk cinta dan kasih sayang air yang menyertai pohon itu membuatnya tumbuh semakin besar dan kokoh.
Cinta mereka itu sekuat pohon kelapa. Dan cinta mereka itu seabadi pohon El Gran Abuelo yang mampu berdiri kokoh selama tiga ribu tahun. Seindah itulah cinta Ray terhadap Ana.
Tapi, kenapa pria paruh baya itu mengurung istrinya di dalam kamar mereka? Semua itu Ray lakukan dengan alasan agar Ana mau merubah prinsipnya. Walaupun Ray tahu, tindakannya itu pada akhirnya hanya akan menjadikan sebuah kata sia-sia menyapa dirinya.
“Ana kumohon makanlah.” pintanya pada sang istri yang terlihat mengalihkan pandangan darinya.
Ana tak sudi melihat sang suami, itu yang ia lakukan selama satu bulan ini. Dari awal, seharusnya Ana tahu kalau Ray itu adalah sebuah kaktus yang berbunga. Tampak sangat indah, Ana pun memeluknya, tapi ketika dirinya telah memeluk kaktus itu, tanpa ia sadari ada noda merah keluar dari balik pakaiannya.
Ray yang dulu, apakah dia kembali merayapi diri pria paruh baya dihadapannya ini?
“Pergilah.” jawab Ana dengan suara lirihnya.
“Ana— ”
“Jangan pernah sebut namaku lagi. Kau membuatku merinding dengan dirimu saat ini. Apa kau tidak sadar? Kau seperti seseorang yang dulu pernah aku benci.” ucap Ana.
Wanita paruh baya itu kemudian menoleh, matanya berkaca-kaca, bibirnya pucat dan kering, sebuah warna gelap di bawah matanya pun tampak terlihat jelas dalam pandangan Ray. Hati pria itu terasa miris melihatnya.
“Kau seperti seorang Raymond yang aku benci dulu.” lirih wanita paruh baya itu dengan sorot mata tajamnya.
__ADS_1
💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍