
Makan malam hari ini, walaupun sama seperti malam-malam sebelumnya, namun terasa lebih hangat.
"Bagaimana kunjungan mu ke pusat perbelanjaan pagi tadi?" Tanya Alex pada keponakannya itu.
Yuan yang sedang memakan makanannya tampak tidak menjawab untuk beberapa saat, ia mengunyah makanannya sedikit cepat dan menelannya, kemudian menatap ke arah pamannya, Alex.
"Tentu saja berjalan dengan sangat baik." Jawab Yuan dengan nada angkuhnya.
Bukan hanya Alex saja yang tertawa kecil ketika mendengarnya, tapi juga Ray, Ana dan nenek Calista yang ada di ruang makan itu.
"Wah, kau mengatakannya dengan sangat angkuh, sepertinya kau memang anak daddy mu ya." Canda Alex.
"Maksudmu, aku ini angkuh ya?" Tanya Ray, pria itu terlihat berpura-pura menampilkan wajah marahnya.
"Oh sekarang tidak lagi, tapi dulu— iya." Jawab Alex dengan senyum lebarnya.
"Apa yang dikatakan Alex memang ada benarnya. Alex, aku sebagai kakak iparmu, mendukungmu sepenuhnya." Ujar Ana yang ikut masuk ke dalam candaan itu.
"Hei, kau itu istriku, seharusnya membela suamimu sendiri daripada membela pria lain." Kata Ray.
"Mom, memangnya dulu— daddy itu orangnya seperti apa?" Tanya Yuan.
"Bocah satu ini, kenapa tiba-tiba bertanya tentang dad pada mommy mu?" Ujar Ray.
"Ck, kalian ini sangat mirip satu sama lain. Yuan— kalau kau bertanya bagaimana daddy mu dulu, mom tidak akan susah payah menjawabnya panjang lebar. Karena kau cukup melihat dirimu sendiri, kau dan dad hampir memiliki sifat yang sama, yah hanya beda tipis, karena untungnya kau juga memiliki sifat mom." Kata Ana.
"Jika jawaban mom seperti itu, kalau begitu dulu daddy pasti pria yang baik." Ucap Yuan sembari melanjutkan makan malamnya kembali.
Ana tampak membelalakkan matanya dan tertawa ringan, ia sangat tidak menyangka anaknya akan berkata jika dulu ayahnya adalah pria yang baik. Ya, Ray memang pria yang baik, tapi itu setelah ia mendapatkan butterfly efek dari Ana.
"Jadi ini maksudnya secara tidak langsung kau berkata kalau dirimu itu pria yang baik, maka dad mu dulu juga pria yang baik, begitu?" Tanya Ana dengan tawanya.
"Iya." Jawab Yuan.
"Yaaa— memang sangat jelas terlihat kalau bocah ini sebagian besar mempunyai sifat sang ayah dari pada sang ibu. Lihat saja kepercayaan dirinya yang sangat tinggi itu." Sahut Alex.
"Apa salahnya memuji diri sendiri." Ujar Yuan.
"Memang tidak ada salahnya memuji diri sendiri. Tapi— pria baik itu tidak akan menipu hatinya sendiri." Bisik Ana, ia kembali menggoda anaknya itu, mengingatkan Yuan pada kejahilan ibunya tadi sore.
"Mommy~"
__ADS_1
Ana terkikik kecil mendapatkan rengekan dari Yuan, wajah pria muda itu terlihat sedikit malu-malu.
•••
Disisi lain, dalam kegelapan malam yang diterangi cahaya bulan sabit dan lampu-lampu jalanan yang redup.
Rose berjalan dengan pikiran yang sangat melelahkan isi kepalanya, pikiran gadis itu melayang-layang, melambung tinggi jauh di atas sana.
Memikirkan beribu-ribu kata untuk memuaskan hatinya yang sedang bertanya-tanya.
Helaan nafas kembali terdengar dari diri gadis itu, raut wajah lesu tampak pada kontur wajah manisnya, ia terlihat lelah secara jiwa dan raga.
*Berpikir ribuan kali pun jawabannya tetap tidak mungkin. Sudah pasti dia hanya bermain-main denganku saja. Tapi apa dia juga seperti itu pada perempuan lain? Kalau dugaanku memang benar— ah! Apa yang aku pikirkan?!
Bagaimanapun juga— aku dan dia tetaplah sesuatu yang jauh berbeda. Hah— sudah susah payah melupakan pun, tetap saja tidak bisa melupakan-nya.
Rasanya— dia itu seperti medan magnet ya, selalu memiliki daya tarik yang kuat, walaupun pada benda logam tak bernilai sepertiku, tapi dia tetap dapat menarik hatiku.
Benar-benar sulit melupakannya*~
Rose semakin menekuk wajahnya, senyum manis yang biasanya terpancar pun seakan hilang pada detik itu, auranya terasa kelabu.
Rose bingung pada dirinya, pada Yuan, dan juga pada semua yang terjadi hari ini, ia bingung. Memikirkannya pun hanya akan membuat kepalanya terus melayang tanpa ujung.
•••
Yuan merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya yang terasa empuk dan lembut itu.
Matanya terpejam dalam beberapa menit, bukan karena tertidur, melainkan hanya sedang menenangkan pikirannya.
Namun setiap kali mata menawan itu terpejam, bayangan akan kejadian tadi siang antara dirinya dan Rose kembali terngiang-ngiang.
*Sebenarnya— apa yang telah aku lakukan padanya?
Kenapa aku bisa berbuat seperti itu padanya?
Ada apa denganku?
Kenapa?
Ah sial*!
__ADS_1
Pada akhirnya, hanya sebuah pertanyaan tanpa jawaban yang dapat Yuan pikirkan. Berapakali pun ia mencoba mencari belokan, tetap saja, semuanya berujung pada jalan buntu.
Tok. Tok. Tok
"Yuan, apa kau sudah tidur?" Suara Ray dari luar pintu kamar terdengar.
Yuan langsung membuka matanya, memposisikan dirinya duduk di atas kasur sembari menatap ke arah pintu kamarnya.
"Masuk saja dad, Yuan belum tidur, pintunya juga belum Yuan kunci." Jawab Yuan.
Tak lama setelah Yuan menjawabnya, seorang laki-laki dengan postur tubuh yang masih tegap pada usia paruh baya-nya itu masuk ke dalam kamar Yuan.
Sebelum berjalan menghampiri Yuan, Ray menutup pintu kamar itu kembali.
"Ada apa?" Tanya Yuan ketikan ayahnya telah duduk di kursi yang ada di dekat meja belajarnya.
"Tidak ada, hanya ingin memberimu sedikit penawaran kecil." Kata Ray.
"Apa?"
"Besok sore, daddy harus menghadiri undangan ulang tahun dari relasi bisnis dad. Kau— bisa ikut atau tidak?"
Dad bertanya padamu dengan menekankan kata 'bisa' dari pada 'ingin'. Itu sudah menjelaskan, kalau dirinya sedang melemparkan sebuah harapan besar daripada sebuah penawaran kecil. Jika seperti ini, apa aku bisa menolaknya? Tentu saja tidak.
"Aku akan ikut." Jawab Yuan.
"Baguslah, dad senang mendengarnya. Terimakasih. Kalau begitu, selamat malam." Ucap Ray yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Pria paruh baya itu keluar dari kamar Yuan setelah mendapatkan apa yang ia harapkan sejak tadi siang, rasa lega dan senang kini telah mengisi hatinya.
Sedangkan Yuan, pria muda itu hanya bisa mengembuskan nafas pasrah. Jika dirinya diberi pertanyaan dengan penekanan kata yang berbeda, mungkin dirinya akan berkata 'tidak'.
Menghadiri acara-acara seperti itu, sangat membosankan. Semua hanya akan berisi para kalangan atas yang berbicara masalah bisnis untuk para pria dan gosip hangat untuk para wanita.
Acara-acara seperti itu juga merupakan ajang adu kemampuan finansial dan kecakapan fashion. Dimana orang akan dinilai dari penampilan, berapa harga pakaian yang dipakainya?
Siapa yang tidak tahu acara seperti apa yang diadakan para kalangan sosial kelas atas.
Yuan kembali menghela nafas pasrah.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1