The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Apa itu Falling in Love?


__ADS_3

Suara deruman mobil di luar restoran menjadi daya tarik semua orang yang mendengarnya.


Bukan karena mobil itu mengganggu mereka, tapi karena mobil itu adalah mobil yang jarang bisa dimiliki orang, hanya orang-orang yang memiliki finansial tinggi saja yang mampu membelinya.


Seorang pria keluar dari dalam mobil itu, tampilan wajah datar dan dingin menambah kesan kelas sosial level atas bagi dirinya.


Yuan berjalan melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran milik ibunya itu.


"Tuan muda Yuan, selamat datang." Seorang pegawai senior yang melihat kedatangan anak tunggal dari bos mereka itu menampilkan wajah berseri menyambut kedatangan Yuan.


"Em, mom dimana?" Tanya Yuan.


"Bos ada di ruangannya, biarkan saya antarkan anda ke ruangan bos Ana." Ujar pegawai itu.


"Tidak perlu, lagipula ruangannya tidak sejauh itu. Bahkan saat ini aku bisa melihat pintu ruangan mom, untuk apa mengantarku." Kata Yuan.


Pegawai itu hanya tersenyum,


"Kalau begitu, tuan muda ingin makan atau minum apa? Biar nanti saya antarkan untuk anda." Ujar pegawai itu.


"Apa karena aku sudah lama tidak datang kemari, jadi kau lupa apa yang biasa aku pesan saat aku datang kemari?" Tanya Yuan, ia menatap datar ke arah pegawai senior itu.


"Ah baiklah, tapi jika anda ingin makan pasta di sore hari seperti ini, apa tidak masalah?"


"Apa memakan pasta harus menggunakan waktu? Apa makan pasta di sore hari dilarang?" Tanya Yuan ketus.


Mulut pria itu seperti batang mawar, walaupun menumbuhkan sebuah bunga yang harum dan indah namun ia memiliki duri yang dapat melukai siapapun yang menyentuhnya.


"Maaf atas perkataan saya tuan muda." Ucap pegawai itu.


"Lupakan saja, aku sudah tidak punya nafsu makan lagi. Kau tidak perlu membawakan makanan atau minuman, lagipula aku hanya ingin mampir untuk menjemput ibuku pulang bersamaku." Ujar Yuan yang kemudian pergi dari hadapan pegawai itu.


Yuan kembali melangkahkan kakinya dengan wajah mengarah kedepan, tapi ekor mata pria itu terus bergerak aktif mencari sosok gadis yang menjadi tujuan utama dia datang kemari. Ya, Yuan mencari Rose.


Saat kaki Yuan tepat berdiri di depan pintu ruangan ibunya. Terdengar suara lonceng pintu yang berbunyi, diiringi oleh suara langkah kaki cepat yang menuju kearah dapur restoran.


"Ah maafkan saya manajer Dita, saya terlambat. Maafkan saya." Kata sebuah suara yang membuat Yuan mampu menyunggingkan senyum seringaiannya.


Setelah mendengar suara dari gadis itu, Yuan memegang handle pintu ruangan ibunya, membukanya dan masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Mommy, apa kau tidak mau menyambut ku?" Ucap Yuan setelah ia menutup kembali pintu ruangan itu.


Terlihat Ana sedang fokus pada kertas-kertas berisi laporan pemasukan dan pengeluaran restorannya. Wanita itu bahkan tidak menoleh walaupun mendengar suara pintu terbuka. Karenanya, Yuan langsung berucap seperti itu.


"Astaga! Yuan! Ah mom senang kau datang kemari. Tapi kenapa kau tiba-tiba datang ke restoran mom? Tidak seperti biasanya." Ujar Ana sembari bangkit dari tempat duduknya, wanita itu berjalan menghampiri anaknya yang masih berdiri di depan pintu.


"Yaa— aku hanya ingin mampir saja. Apa tidak boleh?" Tanya Yuan, pria itu terlihat menampilkan wajah pura-pura sedih.


"Oh tentu saja boleh, mom hanya tidak percaya kau datang kemari. Ada apa ini?" Tanya Ana, ia menampilkan wajah dengan tatapan penuh selidik pada putra tunggalnya itu.


"Ada apa dengan tatapan mom itu? Sudah aku katakan, aku hanya ingin mampir dan menjemput mom saja." Ujar Yuan sembari berjalan menuju sofa, lalu kemudian duduk disana.


"Maaf, mom hanya bercanda, mom sangat senang kau mau datang berkunjung kemari." Ujar Ana.


Wanita paruh baya itu kemudian berjalan mengikuti Yuan yang sudah duduk di sofa dengan santai. Tampak Yuan memejamkan matanya, tapi bukan karena penat melainkan membayangkan kembali perbuatannya pada seorang gadis beberapa jam yang lalu.


"Kenapa kau tersenyum sambil memejamkan mata seperti itu? Jika mom seorang gadis, mom akan mengira kau sedang memikirkan hal-hal yang kotor." Kata Ana sembari duduk di hadapan Yuan.


Yuan membuka matanya, ia melemparkan sebuah senyuman manis pada ibunya itu.


"Mom." Panggil Yuan yang telah memposisikan dirinya duduk rapi dihadapan ibunya.


"Mom— bagaimana dulu mommy dan daddy bertemu?" Tanya Yuan.


"Eh? Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?"


"Ya— Yuan hanya ingin tahu saja." Ujar Yuan.


"Bagaimana mom dan dad bertemu ya? Ah itu sudah lama sekali, sudah puluhan tahun yang lalu, mom sedikit lupa." Bohong Ana.


"Ayolah mom, ceritakan sedikit saja." Rengek Yuan.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu? Apa kau menyukai seseorang?" Tanya Ana.


Yuan diam sejenak ketika sebuah pertanyaan terakhir dari ibunya terasa mengusik hatinya.


Menyukai seseorang? Aku menyukai seseorang? Apa benar aku menyukai Rose? Tapi aku hanya—


Yuan tidak melanjutkan apa yang ia debatkan dalam pikirannya, karena dirinya sendiri juga bingung dengan semua rasa ini. Sebuah getaran yang begitu asing, yang tidak pernah seorang Yuan Mauli Gavin rasakan sebelumnya.

__ADS_1


"Yuan?" Panggil Ana, menyadarkan lamunan anak laki-lakinya itu.


"Ah iya, ada apa?" Tanya Yuan.


"Kau melamun? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, apa itu seorang gadis? Katakan pada mom, siapa gadis yang kau sukai?" Tanya Ana yang tampak antusias.


"Tidak ada mom. Ah iya, mom belum menjawab pertanyaan Yuan. Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, ayo jawab pertanyaan Yuan tadi, bagaimana mom dan dad dulu bertemu?" Tanya Yuan.


"Hah kau ini. Bagaimana mom dan dad dulu bertemu ceritanya sangat panjang. Tapi intinya kami memang di takdirkan untuk bersama, tidak peduli berapa lama waktu memisahkan kami ataupun banyaknya masalah yang harus kami lalui, mom dan dad mu akhirnya bisa bersama." Jawab Ana.


"Terdengar mendramatisir sekali." Ucap Yuan.


"Hei, kau sedang menyindir kisah hidup kami ya? Jika tidak rumit dan tidak banyak rintangan yang harus kamu hadapi, mungkin kami tidak bisa bersama dan kau tidak akan duduk di depan mommy saat ini." Ujar Ana.


Yuan tersenyum lebar menanggapinya.


"Apa kau sudah makan? Kau ingin makan apa? Biar mom suruh salah satu pegawai mom untuk mengantarkan makanan kesini."


"Tidak, Yuan belum lapar. Oh iya mom, diantara pegawai mom, apa ada perempuan yang seumuran dengan Yuan?" Tanya Yuan.


"Eh, kau ini aneh sekali ya hari ini. Tadi tiba-tiba bertanya tentang bagaimana mom dan dad bertemu. Sekarang bertanya tentang pegawai perempuan yang seumuran denganmu. Apa kau— "


"Tidak tidak, mom jangan salah paham. Yuan hanya penasaran saja." Sanggah Yuan.


Ana tersenyum tipis mendengarnya, anaknya itu sudah dewasa, bagi Ana itu hal yang wajar, selama Yuan tidak melampaui batasan.


"Apakah Rose?" Tanya Ana sembari memandang Yuan dengan penuh arti.


"Ha? Itu— dia— ah tidak tidak maksudku aku tidak mengenalnya." Jawab Yuan, pria itu menjawab pertanyaan ibunya sembari mengalihkan pandangannya, tak berani menatap manik mata sang ibu.


"Ah jadi benar dia ya." Ucap Ana dengan senyuman yang seakan menemukan sebuah harta karun yang telah lama terpendam.


"Apa yang mom pikirkan. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa." Ujar Yuan cepat.


"Eh! Kau tadi bilang tidak mengenalnya, tapi kau baru saja menyanggah jika kau dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Ck, kau ini buruk sekali dalam hal berbohong ya. Lagipula— mom sudah tahu semuanya. Kau dan Rose" Kata Ana.


"Apa yang mom tahu?"


Ana menampilkan senyum penuh misteri di wajahnya. Membuat Yuan merasa khawatir dengan senyuman yang ibunya itu tampilkan.

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2