The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Berhenti Mencintaiku? Apa Kau Bisa?


__ADS_3

"Nanti malam kau sibuk tidak?" Tanya Feng, pria itu berjalan di samping Rose.


"Aku harus bekerja paruh waktu." Jawab Rose.


"Ah begitu ya, sayang sekali."


"Memangnya kenapa?" Tanya Rose.


"Aku punya dua tiket nonton gratis. Tadinya— aku ingin mengajakmu untuk pergi bersama." Jawab Feng.


"Benarkah? Wah sayang sekali, tapi aku benar-benar tidak bisa pergi malam ini. Ah iya, bagaimana kalau kau mengajak Yana saja?"


Feng tersenyum canggung, ia bingung harus berkata apa, ingin menolak saran Rose. Tapi jika ia menolaknya— Rose akan merasa aneh padanya.


"Yaa— itu saran yang bagus, tapi apa dia mau?"


"Coba tanya saja— atau biar aku saja yang menanyakannya untukmu." Ujar Rose sembari mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Eh eh tidak perlu, nanti aku saja yang akan bertanya langsung padanya."


Rose tersenyum, kemudian ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Oh iya Feng. Belakangan ini kau sangat sering meminjamkan buku untukku, aku lupa untuk berterimakasih dengan benar. Bagaimana kalau hari ini aku mentraktirmu makan siang sebagai rasa terimakasihku?"


Feng terlihat senang mendengar ajakan makan siang dari Rose, yang membuatnya menyunggingkan sebuah senyuman di wajah manisnya itu.


"Ah sebenarnya tidak perlu, tapi aku sangat ingin makan siang bersamamu. Jadi— ayo kita makan siang, tapi biarkan aku saja yang mentraktirmu." Ujar Feng.


"Hei, tidak boleh seperti itu, aku tidak ingin berhutang banyak padamu." Kata Rose.


"Ah iya iya, baiklah. Jadi— kita akan makan siang dimana?"


Rose terlihat diam sesaat, tampak berpikir.


"Cafe depan kampus saja, bagaimana?" Tanya Rose.


"Ya, tidak masalah." Jawab Feng.


"Ayo." Ajak Rose, ia berjalan mendahului Feng.


Pria yang menyukainya sejak awal masuk kuliah itu tersenyum melihat Rose yang sudah berjalan lebih dulu didepannya.


Feng kemudian melangkahkan kakinya, menyusul Rose yang beberapa meter berada di depannya.


Tangan pria itu dengan sigap menggenggam tangan Rose, membuat Rose terkejut pada awalnya, namun kemudian seutas senyuman terukir di wajah gadis cantik itu. Sepertinya Rose merasa tidak masalah dengan tindakan Feng padanya.


Saat mereka berjalan, tiba-tiba suara keributan seperti biasa terdengar di area parkir kampus.


Sebuah mobil Lexus hitam terparkir rapi disana, pemilik mobil itu sudah berjalan keluar sejak tadi, setiap langkahnya di iringi teriakan euforia dari para gadis.


Yuan baru saja datang ke kampus karena hanya memiliki satu mata kuliah di jam siang, pria itu datang seorang diri setelah mengantarkan ayahnya pulang kembali ke rumah.


Yuan berjalan dengan langkah tegap, membelah lautan gadis yang mengerumuni dirinya.

__ADS_1


Namun langkah pria itu terhenti ketika pandangannya menangkap sosok gadis yang beberapa hari ini terlihat menghindari dirinya.


Dia Rose, seorang gadis yang kadang kala mengusik pikirannya karena sikapnya yang tiba-tiba berubah padanya.


Rose biasanya ikut berdiri diantara kerumunan para gadis untuk memandangi Yuan. Tapi sekarang, sepertinya sudah tidak lagi.


Mata Yuan semakin menajam saat penglihatannya menangkap tangan gadis itu di genggaman erat oleh seorang pria yang terlihat tidak terlalu asing di ingatannya.


Rose dan Feng berjalan begitu saja melewati Yuan yang masih dikelilingi oleh para gadis.


Ekor mata Yuan mengikuti arah gerak Rose yang telah berlalu melewatinya, gadis itu terlihat sudah keluar dari area kampus.


Apa yang sedang aku pikirkan.


Yuan menggelengkan kepalanya sekilas, lalu kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju kedalam gedung fakultasnya.


•••


"Feng, kau ingin pesan apa?" Tanya Rose ketika pelayan cafe itu datang menghampiri mereka dan memberikan buku menu.


"Sama sepertimu saja." Jawab Feng.


"Jangan sungkan, pesan saja apa yang kau mau. Lagipula aku hanya ingin memesan minuman, karena sebenarnya aku sudah makan siang bersama Nana dan juga Yana tadi." Ujar Rose.


"Kalau kau sudah makan, kenapa mengajakku makan siang bersama? Aku jadi merasa tidak enak padamu."


"Hei, apa yang kau katakan. Aku mentraktirmu karena rasa terimakasihku. Dan lagi, jika tidak hari ini, aku takutnya nanti aku lupa atau tidak ada waktu untuk membalas kebaikanmu selama ini." Ujar Rose.


"Ah baiklah, kalau begitu aku pesan potato chips dan jus jeruk." Kata Feng.


"Tolong ya, potato chips satu dan jus jeruknya dua." Ujar Rose.


"Potato chips satu dan jus jeruk dua. Baik, tolong tunggu sebentar ya." Ucap pelayan itu sembari menulis pesanan mereka, setelahnya pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan.


"Oh iya, kau sekarang terlihat sangat dekat dengan anak wakil CEO TNP group."


"Siapa maksudmu?" Tanya Rose, gadis itu selama ini tidak tahu seluk beluk keluarga Nana, yang ia tahu hanya ibu Nana seorang dosen. Karena ayah Nana tidak pernah terekspos di antara gosip para gadis kampus. Jadi, Rose tidak tahu jika ayah Nana adalah seorang petinggi perusahaan besar itu.


"Kau tidak tahu? Tentu saja Nana, bukankah dia teman dekatmu sekarang?" Tanya Feng.


"jadi ayah Nana sehebat itu ya? Wah, aku benar-benar tidak tahu. Kami hanya baru dekat beberapa bulan ini, aku juga tidak berniat mencaritahu jika dia tidak ingin memberitahukannya sendiri. Lagipula walaupun kami berteman baik, bukan berarti harus tahu segalanya tentang dia kan? Mungkin saja dia juga punya privasi yang tidak ingin orang lain tahu." Ujar Rose.


"Benar juga ya. Ah— kau memang sangat pengertian." Ucap Feng.


"Eh, tapi aku pikir— kau harus tahu tentang ini, kalau Nana itu punya dua ayah." Ujar Feng lagi.


"Jangan bergosip Feng." Ucap Rose.


"Kau tidak percaya? Awalnya aku juga tidak percaya. Tapi itu memang benar. Ayah kandungnya baru saja pulang dari Inggris setelah beberapa tahun tidak kembali. Ayah kandung Nana saat ini adalah CEO baru TNP group. Ah jika kau mengetahuinya lebih dalam, keluarganya itu sangat rumit."


"Ternyata sekarang kau menyukai pria yang suka bergosip ya? Seleramu saat ini benar-benar buruk." Ujar Yuan yang tiba-tiba berdiri di samping meja yang mereka tempati.


"Yu—yuan? Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Rose.

__ADS_1


"Apa perlu aku menjawabnya?"


Rose hanya diam menatapnya penuh tanya, ia masih tidak percaya kalau Yuan saat ini berada di hadapannya.


"Ah baiklah, aku akan menjawabnya. Hari ini aku hanya memiliki satu mata kuliah, saat aku masuk ke kelas mata kuliah itu, ternyata profesornya tidak masuk. Lalu, aku merasa lapar dan ingin makan disini. Yaa— bisa dikatakan, aku tidak sengaja melihatmu sedang bersamanya, ah iya, aku juga tidak sengaja mendengar sepupuku di gosipkan olehnya." Ujar Yuan sembari menunjuk ke arah Feng di akhir kalimatnya.


"Ah kalau begitu maafkan Feng, dia bukannya ingin menggosipkan Nana. Kau hanya salah paham." Ucap Rose.


Gadis itu kemudian berdiri dari duduknya.


"Feng, aku akan membayar pesanannya. Tapi sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok ya." Pamit Rose, setelah mengatakannya, gadis itu kemudian beranjak menuju ke arah kasir untuk membayar pesanannya dan Feng.


"Ro— "


"Sssttt— duduk diam disini dan makan makanan yang sudah Rose belikan untukmu. Biar aku saja yang menyusulnya." Ujar Yuan, pria itu menahan Feng yang berniat mengejar Rose.


"Tapi— "


"Makan saja makananmu." Tegas Yuan yang kemudian berjalan keluar dari cafe, mengejar Rose yang sudah menyebrang ke arah jalan raya, gadis itu terlihat sedang berjalan menuju ke arah halte bus.


Yuan menghela nafasnya sejenak, ia mulai melangkah menyebrangi jalan raya, mengikuti Rose yang sudah terlihat duduk di halte bus.


Sesampainya di seberang jalan, pria itu bergegas menghampiri Rose.


"Ada apa denganmu?" Tanya Yuan, ia ikut duduk disamping Rose.


"Apa?"


"Kau terlihat menghindariku belakangan ini."


"Benarkah? Mungkin hanya perasaanmu saja."


"Tidak, aku yakin sekali, kau—"


"Lagipula kalau aku menghindarimu atau tidak, apa urusannya denganmu? Kenapa kau harus peduli? Tidak tidak, bukan itu yang ingin aku katakan padamu— dengar ya Yuan, aku sudah tidak lagi menyukaimu. Aku akan berhenti mencintaimu." Ujar Rose, tiba-tiba dirinya ingin sekali mengutarakan keinginannya yang sulit itu pada Yuan.


Yuan diam memperhatikan gadis yang ada di sampingnya itu, entah apa yang dipikirkan Yuan, tapi pria itu tidak menampilkan ekspresi apapun.


Mungkin disaat seperti ini, Rose akan merasa lebih baik jika Yuan akan tertawa setelah mendengar perkataannya, daripada melihat Yuan hanya diam saja.


"Kenapa kau diam saja? Aku serius dengan perkataanku. Ah iya! Kau pasti berkata di dalam hatimu itu, jika kau tidak peduli kan? Hah! Aku terlihat sangat bodoh ya bagimu? Kenapa aku harus repot-repot memberitahumu jika aku ingin berhenti menyukaimu." Kata Rose, ia mencoba menenangkan dirinya yang merasa canggung dengan sikap Yuan yang hanya diam menatapnya.


Rose mendengus kesal karena Yuan masih tetap diam walaupun dirinya sudah mengoceh dan mencoba menjelaskan ini dan itu agar Yuan mau bersuara atau pergi dari sana.


Merasa tidak ada respon, Rose kemudian menoleh ke arah Yuan untuk mengatakan sumpah serapah yang mungkin membuat hatinya akan merasa lebih baik.


Tapi— ketika dirinya menoleh, Yuan tiba-tiba langsung mencium bibirnya tanpa memberi aba-aba atau apapun itu.


Rose membelalakkan matanya, getaran yang ingin ia hilangkan belakangan ini, ternyata malah semakin terasa bergetar hebat saat Yuan berhasil merebut ciuman pertamanya.


"Kau ingin berhenti mencintaiku? Lakukan jika kau bisa." Bisik Yuan ditelinga Rose.


Pria itu kemudian berdiri. Sebelum ia pergi dari halte bus itu, Yuan melemparkan sebuah senyuman yang di warnai dengan seringaiannya ke arah Rose.

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2