The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
I'm in Love at The First Sight


__ADS_3

Hari itu— sinar matahari sangat menyengat, cuacanya begitu panas, tahun itu, musim kemarau datang cukup lama.


Kilauan panas dari jalan raya terasa menyakitkan bagi mata, warna-warna cerah yang terkena pantulan terik matahari terasa seperti sinaran laser yang menyilaukan.


Tak banyak orang memilih untuk berjalan kaki, mereka rela memboroskan uang mereka untuk naik transportasi khusus ataupun umum.


Tapi, gadis ini berbeda, sengatan di dalam hatinya lebih membara daripada sengatan matahari itu.


Rose berdiri diatas sebuah flyover, berdiri di bawah terik matahari, tak peduli dengan sengatannya yang mampu membuat kulitnya memanas bahkan bisa saja melepuh.


Gadis itu menatap jalan raya yang ada dibawah jembatan layang itu, banyak kendaraan berlalu lalang.


Tarikan nafas yang begitu dalam mengawali langkah kakinya.


Siapa yang akan tahu, jika gadis itu berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan melemparkan dirinya kebawah jembatan itu.


Usianya saat itu masihlah belia, seorang anak sekolah menengah atas tahun kedua, yang memiliki keinginan untuk bunuh diri karena tak sanggup lagi dengan hidupnya.


Setiap hari harus melihat ibunya ditindas sang ayah, setiap hari harus mendapat bullying dari teman-temannya yang mengejek kehidupan broken home-nya. Siapa yang sanggup menghadapinya seorang diri.


"Melompatlah— dan kau akan menyesalinya ketika jiwamu telah keluar dari tubuhmu." Ujar seorang pria asing. Pria itu tiba-tiba berdiri di sampingnya.


Rose menoleh ke arah pria itu, menyipitkan matanya untuk dapat melihat sosok pria yang saat ini sedang menatap kebawah flyover itu.


"Kenapa? Tidak jadi melompat kebawah?" Tanya pria itu sembari menatap dirinya.


Dalam hitungan detik, Rose terpaku dengan sosok pria yang terlihat rupawan di matanya.


"Apa kau malaikat maut? Apa aku sudah mati?"


Terlihat sebuah senyuman terukir di wajah pria itu.


"Yah, anggap saja aku malaikat, tapi bukan malaikat maut."


"Aku belum mati?" Tanya Rose.


Pria itu mengambil sebuah permen loli di dalam saku celananya. Lalu tiba-tiba ia memukulkan permen itu ke kepala Rose, membuat Rose mengaduh kesakitan.


"Kau merasa sakit? Itu artinya kau masih hidup." Katanya sembari memberikan permen yang dipegangnya itu kepada Rose.


"Permen itu awalnya akan terasa asam tapi nanti akan ada rasa manis di bagian akhirnya. Jika kau pintar, kau pasti bisa mengambil sebuah pelajaran darinya." Ujar pria itu yang kemudian pergi dari hadapan Rose, ia berjalan dengan tenang, menjauh dari Rose yang masih terpaku menatapnya.


Ketika punggung pria itu tak lagi dapat di jangkau oleh penglihatannya, Rose kembali tersadar pada dirinya. Ia menatap sebuah permen yang kini ada dalam genggaman tangannya.


Sebuah senyuman kemudian terukir diwajah gadis itu.

__ADS_1


Ingatkan diri Rose tentang sebuah teori, dimana sesuatu yang kecil mampu merubah segalanya.


Sebuah efek tornado dari kepakan sayap kupu-kupu yang kecil.


Pria tadi telah menyelamatkan hidupnya. Hanya karena sebuah permen yang terlihat sederhana, namun memberi efek besar bagi kehidupan Rose.


•••


Waktu terus bergulir, masa sekolah menengah atas sudah berakhir, pada tahun-tahun terakhir masa-masa itu biasanya lebih banyak di selimuti oleh kenangan manis yang sulit untuk di lupakan.


Begitupun dengan Rose, semenjak kejadian di jembatan kala itu, dirinya berubah menjadi pribadi yang berbeda. Tangguh dan berani menghadapi segala macam kerikil dan batu besar yang menerjang.


Karena itu, tak ada lagi yang berani menindasnya ataupun merendahkan dirinya.


Setelah masa sekolah menengah atas berakhir, kecerdasan dan keberuntungannya membuat Rose mendapatkan beasiswa penuh di universitas terbaik di negara itu, sebuah universitas yang berdiri di pusat ibu kota dengan keindahan interior dan eksteriornya, serta fasilitas dan akreditasi yang tiada tanding.


Sebuah senyuman kebahagiaan terpancar ketika kakinya mulai melangkah masuk ke area universitas itu.


"Rose!" Panggil seorang perempuan, suara itu terdengar sangat familiar di telinga Rose, itu Yana, teman baik Rose saat sekolah menengah atas.


"Aku sangat senang kita bisa satu universitas dan juga satu jurusan, dengan begitu kita tidak akan pernah terpisahkan." Ujar Yana.


Rose tersenyum,


"Jangan berlebihan. Bisa masuk ke universitas ini dengan beasiswa, aku sudah sangat bersyukur." Katanya.


Rose mengangguk menanggapinya.


Di sela-sela obrolan mereka, terdengar teriakan dari para mahasiswi senior ataupun junior, mereka berkumpul di depan gerbang universitas, menghadap ke arah sebuah mobil hitam yang bernilai jual tinggi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rose.


"Sepertinya ada aktor atau aktris yang kuliah di universitas ini." Ujar Yana memberikan pendapatnya.


"Aku pikir itu aktor, lihat saja, yang berkerumun kebanyakan adalah wanita." Ucap Rose.


"Apa kau juga ingin melihatnya dari dekat?" Tanya Yana.


"Aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu." Jawab Rose sembari berbalik membelakangi kerumunan itu.


"Astaga! Rose lihatlah, itu— itu bukan hanya sekedar aktor, tapi seorang pangeran." Ujar Yana, tangan gadis itu menepuk-nepuk bahu Rose yang masih membelakanginya.


"Sejak kapan kau terkena demam pria seperti itu—" Kata Rose yang kemudian terdiam saat dirinya berbalik dan melihat sesosok pria yang pernah di temuinya.


"Dia!" Pekik Rose tanpa sadar, mulut gadis itu bahkan sampai terbuka lebar, membuat Yana harus berinisiatif menutup mulut temannya itu.

__ADS_1


"Tutup mulutmu, kau bahkan juga terpesona dengan tuan muda itu." Ujar Yana.


"Siapa dia? Tunggu! Barusan kau memanggilnya tuan muda?" Tanya Rose.


"Kau tidak tahu siapa dia?"


Rose menggelengkan kepalanya, tatapannya masih terarah pada sosok pria yang semakin berjalan mendekat ke arahnya.


"Dia itu anak tunggal dari ketua perusahaan TNP, namanya Yuan Mauli Gavin. Bagaimana bisa kau tidak tahu tentang pria yang sangat di impikan banyak gadis itu. Tapi dia benar-benar mempesona kan? Kau bahkan tadi terlihat terpesona walaupun belum tahu siapa dia." Kata Yana.


"Yuan." Gumam Rose, ia mengucapkan nama itu ketika sosok pria yang memiliki nama Yuan berjalan melewatinya.


Tapi sepertinya pendengaran Yuan cukup tajam, pria itu menghentikan langkahnya ketika merasa namanya dipanggil dengan lirih oleh seorang gadis yang baru saja di lewatinya.


Yuan menoleh ke arah Rose, tapi itu hanya berlangsung sejenak, sebelum kemudian ia merasa asing dengan gadis itu dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke fakultasnya.


"Ah ya ampun, jantungku rasanya berhenti berdetak saat dia menatap ke arah kita." Bisik Yana.


"Ternyata dia tidak mengingatku." Gumam Rose.


"Ha? Apa yang kau katakan?" Tanya Yana yang tidak dapat mendengar gumaman Rose.


"Tidak ada." Jawab Rose.


"Kalau begitu, ayo cepat, kita harus pergi ke fakultas hukum sekarang." Ujar Yana sembari berjalan mendahului Rose.


Sebelum melangkahkan kakinya untuk mengikuti Yana, Rose kembali mengalihkan pandangannya, menatap sosok pria yang baru saja ia ketahui namanya adalah Yuan.


Seorang pria yang pernah memberinya efek tornado pada hidupnya.


Flashback end~


Jika saja, pria bernama Yuan tidak datang saat itu, mungkin Rose tidak akan pernah hadir di masa sekarang, mungkin ia akan menutup matanya di usia enam belas tahun, mungkin ia sudah mati enam tahun yang lalu.


"Karena itu, cintaku padamu— bukan tanpa alasan, Yuan." Ucap Rose dengan senyuman hangatnya, mengenang setiap waktu yang berlalu selama enam tahun ini.


Rose saat ini berdiri diatas jembatan, tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan orang yang sampai saat ini begitu ia cintai.


Gadis itu menghembuskan nafas beratnya,


"Tapi— aku rasa cintaku harus berakhir sampai disini. Anggap saja pertolonganmu hari itu sudah aku balas dengan bantuan yang aku berikan padamu beberapa minggu kemarin. Terimakasih dan selamat tinggal, Yuan." Ujar Rose sembari melemparkan sebuah permen pemberian Yuan enam tahun lalu, yang masih disimpannya sampai sekarang.


Tidak sampai sekarang, karena detik ini, Rose meleparkan permen itu kebawah jembatan, jatuh diantara mobil yang berlalu lalang dibawah sana.


"Walaupun aku sudah membuangnya, tapi aku tetap tidak yakin bisa berhenti menyukainya." Gumam Rose yang diiringi helaan nafasnya.

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2