
Ray duduk di salah satu sofa yang ada di kamarnya. Pria yang telah memasuki usia paruh baya itu tampak sabar menunggu sang istri yang masih berdiri di depan cermin kamar mereka.
"Apa belum selesai juga?" Tanya Ray sembari melirik ke arah jam dinding yang terpajang di kamar itu.
"Sebentar lagi." Jawab Ana.
Mendengar jawaban seperti itu lagi. Ray kembali menghela nafasnya. Dalam hatinya banyak ocehan tak berujung yang ia tujukan pada istrinya itu.
"Apanya yang sebentar? Kau sudah berdiri di depan cermin itu lebih dari satu jam. Ayo cepatlah sedikit. Kau bisa membuat kita terlambat." Ujar Ray yang kini sudah berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Ana.
"Lagipula, kau sudah terlihat cantik tanpa make-up itu." Kata Ray.
Ana menoleh ke arah suaminya. Sejenak diam, tapi kemudian tersenyum.
"Jangan menggodaku. Sudah, ayo cepat, aku sudah selesai." Ujar Ana. Setelah itu ia berlalu melewati Ray dan berjalan keluar dari kamar.
•••
"Baiklah, sampai disini materi kuliah kita hari ini. Kalau ada yang ingin kalian tanyakan silahkan kirim pertanyaan kalian melalui email saya. Saya akan menjawab pertanyaan kalian selama pertanyaan itu logis dan berhubungan dengan materi kuliah saya."
"Baik professor."
"Kalau begitu sampai jumpa di materi kuliah minggu depan." Ujar profesor Prim yang kemudian pergi dari kelasnya.
Setelah melihat profesor itu pergi. Rose langsung berdiri dari kursinya. Ia tampak melihat ponselnya sekilas. Tak ada tanda-tanda seseorang menghubunginya. Bahkan, Yana sejak pagi tadi belum terlihat.
"Itu dia orangnya. Dia gadis yang tadi pagi bersama Yuan." Suara bisik-bisik dari beberapa orang yang ada di luar kelas itu terdengar sangat jelas di telinga Rose.
Dan lagi, ketika Rose melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Terlihat banyak orang yang sudah berkumpul di sekitar kelas itu. Mereka tampak memperhatikan setiap langkah kaki Rose.
Ada apa dengan mereka? Apa ada sesuatu di wajahku? — Pikir Rose yang kemudian langsung melihat ponselnya untuk berkaca.
Tidak ada yang salah dengan wajahku. Lalu— kenapa mereka semua melihatku seperti itu?
Merasa risih dengan tatapan dari para mahasiswa dan mahasiswi yang terus memperhatikannya. Rose semakin mempercepat langkah kakinya agar bisa pergi dari tempat itu secepat mungkin.
"Apa kau yang bernama Rose?!" Tanya seorang gadis bernama Rema yang saat ini berada di belakang Rose.
Mendengar namanya disebut. Rose langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah perempuan itu.
"Iya, ada apa?" Tanya Rose.
Rema menatap sinis gadis itu. Kemudian, ia melangkah mendekati Rose. Lalu, ketika dirinya tepat berada di hadapan Rose, Rema tiba-tiba langsung menampar wajah gadis itu.
"Kau masih belum tahu tempatmu ya? Beraninya kau menggoda Yuan! Apa kau tidak punya rasa malu?! Kau itu tidak punya kualitas apapun untuk berdiri disamping Yuan. Kau itu hanya seonggok sampah yang menjijikan." Ujar Rema.
Rose diam, tangannya memegang pipinya yang terkena tamparan perempuan itu. Ia menatap nanar semua orang yang terlihat memandangi dirinya dengan banyak ekspresi. Ada yang kasihan, tapi ada juga yang senang melihatnya ditindas seperti itu.
"Apa salahnya kalau aku dan Yuan dekat? Kenapa kau harus marah?" Tanya Rose.
__ADS_1
"Masih berani berbicara juga ternyata. Kau memang tidak punya rasa malu sama sekali." Ujar Rema.
"Aku tidak punya rasa malu? Memangnya kesalahan apa yang sudah aku buat? Kalau mencintai seseorang adalah perbuatan ilegal, maka seluruh pasangan di negara ini akan memenuhi penjara." Kata Rose sembari menatap Rema tanpa rasa takut sedikitpun.
"Beraninya kau— "
"Daripada aku. Seharusnya, kau itu yang tidak punya rasa malu sama sekali. Kau itu hanya seorang perempuan yang iri dengan perempuan lain. Orang dengan kualitas sosial yang tinggi sepertimu seharusnya malu karena sudah iri dengan orang yang memiliki kedudukan sosial rendah sepertiku." Sambung Rose.
Perkataan Rose itu membuat Rema semakin merasa kesal. Tangan gadis itu tampak terkepal kuat menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubunnya.
Tak lama dari itu, tangan Rema terlihat terangkat kembali. Sepertinya, perempuan itu ingin menampar wajah Rose lagi.
Tapi sayangnya, niatnya itu terhentikan oleh seorang pria yang menjadi akar masalah saat ini.
"Yuan." Gumam Rose ketika sosok Yuan tampak mencegah tangan Rema yang hampir menampar wajahnya lagi.
"Kalau sampai kau berani menamparnya lagi. Maka, aku tidak akan segan untuk mematahkan tanganmu sekarang juga." Ujar Yuan.
"Tidak Yuan, kau salah paham. Aku tidak bermaksud menamparnya tanpa sebab. Aku— aku hanya sedang memberinya pelajaran atas perilakunya tidak sopan." Sanggah Rema.
Sekilas, Yuan menoleh kebelakang, melihat Rose yang masih setia menatapnya dalam diam. Tapi kemudian, gadis itu tampak menundukkan kepalanya ketika Yuan menoleh ke arahnya.
"Benarkah?" Tanya Yuan yang kini beralih lagi ke arah Rema.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin orang yang mendapat pendidikan moral sejak kecil sepertiku mampu berbohong di depanmu." Jawab Rema.
"Kalau begitu, katakan padaku, apa kesalahannya?" Tanya Yuan.
"Jadi?" Tanya Yuan, lagi.
"Jadi— aku tidak bisa membiarkan orang seperti dia terus-terusan menggodamu. Karena itu, aku terpaksa harus mengotori tanganku dengan menampar wajahnya." Kata Rema.
"Jadi, apa urusannya denganmu?! Siapa yang menyuruhmu menamparnya?!"
"Eh? Yuan— kau tidak bermaksud membelanya kan?" Tanya Rema.
Yuan melepaskan tangan Rema dari genggamannya. Pria itu kemudian berbalik dan berjalan mendekati Rose yang masih berdiam diri ditempatnya tadi.
Lalu, sebuah tindakan selanjutnya dari Yuan membuat semua orang yang ada disana tampak mengaga. Mereka semua terlihat terkejut dengan sikap Yuan terhadap Rose. Masalahnya, pria itu tiba-tiba memeluk pinggang Rose dari samping.
"Dengar semuanya. Mulai detik ini, menit ini, jam ini dan hari ini! Kalian harus ingat, tidak ada yang boleh mengganggu Rose, kecuali— aku. Kalau ada yang berani mengganggunya, tidak peduli dia dari keluarga mana atau kalangan apa, aku pastikan hidupnya tidak akan damai setelah itu." Ujar Yuan yang tengah membuat pengumuman resminya.
"Yuan, apa yang kau katakan? Kau pasti hanya bercanda kan? Kenapa kau begitu peduli dengan perempuan itu?" Tanya Rema.
"Kau tidak bisa mendengar apa yang aku katakan? Apa kau tuli? Dengar ya semuanya. Aku tidak sedang bercanda. Jadi, jangan berani untuk mencoba melanggarnya. Dan lagi, aku melakukan ini, bukan karena peduli padanya. Tapi, karena dia adalah milikku. Kalian harus tahu, apa yang sudah di klaim kepemilikannya oleh Yuan Mauli Gavin, maka tidak ada satupun orang yang boleh mengusiknya. Se-di-kit-pun!" Ujar Yuan.
Setelah mengetakan kalimat itu. Yuan langsung menarik tangan Rose menjauh dari kerumunan.
Disisi lain, ketiga teman baik Yuan dan juga Nana yang sempat datang ke dalam keributan itu terlihat tidak percaya dengan diri Yuan yang sekarang. Pria itu seperti Yuan dalam versi lain. Dia menjadi Yuan yang berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
"Apa dia salah makan?" Tanya Julian yang entah ditujukan pada siapa.
"Kurasa otaknya sedikit konsleting karena hujan pagi ini." Sahut Kin.
"Apa yang kalian katakan? Dia itu sedang jatuh cinta." Ujar Kai yang membuat kedua temannya dan juga Nana langsung menoleh padanya.
"Apa katamu?" Tanya Julian dan Kin bersamaan.
"Kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Apa kau tuli?" Ujar Kai yang sengaja mengikuti gaya Yuan. Setelah itu, ia berbalik ke arah Nana.
"Ayo pulang." Kata Kai yang dibalas dengan sebuah anggukan oleh Nana.
"Kai sialan." Umpat Kin.
•••
"Yuan, berhenti menarik tanganku. Kau ingin membawaku kemana? Bukankah ini arah menuju tempat parkir kendaraan?" Ujar Rose.
"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya. Diam saja dan jangan membuang waktuku."
"Maka dari itu, lepaskan aku. Aku— "
"Apa kau tidak bisa diam dan menurut saja?! Lagipula, tadi aku sudah menyelamatkan dirimu. Tapi sampai sekarang aku tidak mendengar kata terimakasih keluar dari mulutmu itu." Ujar Yuan sembari menghentikan langkahnya.
"Terimakasih. Sudahkan? Kalau begitu, sekarang lepaskan tanganku. Ini sudah sore, aku bisa tertinggal bus terakhir nanti." Pinta Rose.
"Beginikah caramu berterimakasih? Apa kau tidak bisa lebih tulus lagi?! Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau berterimakasih dengan benar." Ucap Yuan.
Rose menghembuskan nafasnya pasrah. Gadis itu sejenak menatap Yuan. Rasa kesal pada pria itu tidak akan pernah bisa bertahan lama. Seberapa banyak kekesalannya pada Yuan, semuanya akan memudar ketika dirinya melihat wajah dingin pria itu.
"Terimakasih, Yuan." Ujar Rose sembari meleparkan sebuah senyum tulusnya.
"Apa itu sudah cukup? Apa sekarang aku boleh pergi?" Tanya Rose.
Yuan diam. Pria itu terlihat seperti orang yang sedang menganalisa sesuatu.
"Sebenarnya— tidak cukup. Karena, hari ini sudah banyak sekali kebaikan yang kau dapat dariku. Tapi, karena aku ini orang yang murah hati. Jadi, aku rasa itu cukup. Hanya saja, aku tidak akan membiarkanmu pergi." Ujar Yuan.
"Kenapa kau licik sekali? Kau bilang, kalau aku berterimakasih dengan benar, kau akan membiarkanku pergi. Tapi sekarang, kau masih ingin menahanku. Kumohon Yuan, aku harus pergi sekarang juga. Kalau tidak, aku bisa terlambat masuk kerja."
"Aku akan mengantarmu." Ucap Yuan sembari menarik tangan Rose kembali.
"Yuan, kumohon berhentilah bermain-main. Aku sedang serius."
"Aku juga sedang serius. Kau pikir, aku ini tipe pria yang suka bermain-main? Ayo cepat masuk! Aku akan mengantarmu sampai di depan restoran ibuku." Ujar Yuan yang kini tengah membukakan pintu mobilnya untuk Rose.
Rose tampak diam sesaat. Ia diam memperhatikan Yuan yang juga sedang menatapnya.
"Ayo masuk. Jangan membuang-buang waktu." Ucap Yuan.
__ADS_1
Rose menghela nafasnya. Ia kembali pasrah dan menuruti perkataan pria itu. Rose akhirnya masuk ke dalam mobil Yuan.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍