
Hari selanjutnya, paginya Yuan benar-benar tidak datang, seperti dugaan Rose.
Pria itu sepertinya sungguh marah besar padanya.
Situasi ini membuat Rose merasa khawatir, khawatir kalau Yuan akan meninggalkannya.
Bagaimanapun juga, di dalam hubungan mereka, yang lebih banyak mengejar dan berjuang adalah Rose.
Biasanya, pihak yang lebih banyak bersusah-payah dalam suatu hubungan adalah pihak yang paling mudah di campakkan.
Tapi, apakah Yuan setega itu?
Pagi hari berlalu, matahari beranjak naik, semakin terlihat membumbung tinggi di atas sana.
Setiap kali jam mata kuliah selesai, Rose tidak langsung masuk ke kelas mata kuliah selanjutnya. Karena dirinya itu pasti akan langsung keluar dari gedung fakultas hukum dan pergi ke gedung fakultas ekonomi dan bisnis untuk menemui Yuan.
Tapi nihil, sudah dua kali dirinya itu bolak-balik, namun Yuan tak kunjung terlihat oleh sapuan pandangannya.
Masih tidak ketemu juga. Sebenarnya dia bersembunyi dimana? Apa dia benar-benar ingin menghindariku? Yuan, kau ada dimana?
Aku hanya ingin meminta maaf. Apa meminta maaf sesulit ini?
Rose menghela nafasnya, tubuhnya terasa lesu, moodnya seketika langsung turun drastis, raut wajahnya itu seperti seseorang yang tidak memiliki semangat hidup. Ekspresi Rose saat ini sama seperti ketika dirinya kehilangan ibunya waktu itu, menyedihkan.
Aku harus bagaimana? Apa hubunganku dan dia hanya sebatas ini saja?
Bagaimanapun juga, kalau hubungan ini berakhir, yang paling merasa hancur adalah diriku. Cintaku padanya telah lama ada, sedangkan dia, baru beberapa bulan belakangan.
Terkadang cinta bisa dengan mudah musnah karena waktu.
Tapi, itu semua juga tergantung seberapa tulus cintanya padaku.
Pertanyaannya— apakah cinta Yuan sangat tulus padaku? Apa di dalam hatinya benar-benar terukir jelas diriku?
Entah kenapa, dalam situasi seperti ini, sejak kemarin, aku selalu berpikir kalau semua ini sungguh seperti sebuah papan permainan yang akan segera berakhir.
Sejujurnya aku takut. Tapi juga masih menyimpan rasa percaya padanya. Aku ini bodoh atau memang terlalu cinta?
Rose terduduk pada salah satu kursi yang ada di taman kampus.
Wajahnya tertunduk lesu, ingin menangis, tapi apa yang bisa ia tangiskan? Air matanya itu sudah seperti sumur kering yang kehabisan air.
“Rose.” seseorang datang menghampirinya, dari kakinya, Rose dapat menebak siapa yang telah berdiri dihadapannya itu.
__ADS_1
Rose mendongakkan kepalanya, menyingkap helaian rambut yang menutupi wajahnya, lalu menyisipkan rambut pendeknya itu ke belakang telinganya. Kemudian membalas tatapan Nana yang sedang menatapnya sedih. “Nana.” ucap Rose lirih, tanpa senyum ramah seperti biasa.
“Apa kau sudah bertemu dengannya?” tanya Nana.
Rose menggelengkan kepalanya lesu,
“Belum.”
Helaan nafas kemudian terdengar dari diri Nana, gadis berkepawakan ideal itu lalu duduk di samping Rose, mengusap lembut punggung Rose, memberikan dorongan semangat dan juga dukungan untuk temannya itu.
“Aku sudah berusaha menghubunginya, tapi nasib panggilanku juga sama sepertimu, tidak diangkat, bahkan terakhir kali aku menghubunginya, keparat sialan itu mereject panggilan dariku. Hah, Yuan, pria bodoh itu, benar-benar membuatku geram padanya.” ujar Nana sembari mendengus kesal mengingat kelakuan sepupunya yang dengan sengaja menolak panggilan darinya kemarin malam.
“Mungkin dia sudah tahu kalau kau pasti menghubunginya untuk membicarakan masalah kami? Karena itu, dia menolak panggilan darimu. Maaf ya Nana, Yuan jadi ikut marah padamu. Aku mengacaukan hubungan baik persaudaraan kalian. Maaf, aku sungguh menyesal.” kata Rose dengan wajah penuh penyesalannya.
“Jangan berkata seperti itu. Aku membantumu juga bukan karena apa, aku tulus mengulurkan tanganku padamu. Jadi lain kali jangan berbicara seperti itu lagi, aku sungguh tidak suka dan juga tidak ingin mendengarnya di kemudian hari. Kau harus ingat itu.” ujar Nana.
Rose mengangguk sembari tersenyum tipis,
“Terimakasih, aku sungguh berterimakasih padamu. Aku pasti akan mengingatnya.” ucap Rose.
“Ya, tapi sekarang bukan itu yang harus kita bahas. Saat ini yang lebih penting adalah mencari Yuan dan langsung meluruskan masalah ini dengan cepat dan baik. Jika tidak, nanti takutnya akan semakin memburuk, dan hubungan kalian bisa— ” Nana tidak sanggup melanjutkan kata terakhirnya, sungguh ia tidak ingin hubungan Yuan dan temannya itu kandas begitu cepat, apalagi keduanya memang baru saja bersama-sama.
“Berakhir maksudmu? Kenapa tidak melanjutkannya?” ucap Rose, kemudian tertawa kecil, lebih kepada menertawakan dirinya sendiri, “Kau saja tidak sanggup mengatakannya, apalagi aku. Aku lebih tidak sanggup lagi, dan juga tidak tahu bagaimana jadinya diriku jika itu benar-benar terjadi. Aku pasti akan sangat hancur ketika itu benar-benar terjadi pada hubungan kami.”
Nana menghela nafas, mendengar perkataan miris dari Rose barusan, hatinya seolah ikut teriris, sakit sekali.
Rose tersenyum, tapi senyum getir, ia ingin meyakinkan hatinya bahwa perkataan Nana itu benar adanya, tapi di sisi lain dari hatinya benar-benar ragu dengan apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Yuan.
“Nana, kau tahu tidak? Di saat Yuan tiba-tiba berkata kalau dia mencintaiku, aku seperti seekor ulat bulu yang langsung berubah menjadi kepompong. Lalu, ketika dia berkata kalau kami adalah sepasang kekasih dan semua sikap manisnya padaku, seketika membuat kulit kepompong ku langsung mengelupas begitu cepat. Aku, pada detik itu telah menjadi seekor kupu-kupu. Aku sangat senang dan bahagia, mempunyai dua sayap indah, lalu bisa terbang bebas kemanapun aku mau.” ujar Rose dengan wajah berseri mengingat kembali kenangan manis yang telah berlalu.
“Tapi, terkadang aku juga takut. Ketika badai seperti ini akan datang, sayapku pasti akan robek, lalu, bukannya terbang bebas, tapi aku akan jatuh bebas ke tanah.” Rose menghela nafasnya sejenak, kemudian mulai melanjutkan perkataannya kembali,
“Kita seringkali berpikir, kupu-kupu yang jatuh, mungkin tidak akan merasakan sakit, karena tubuhnya yang kecil dan ringan. Tapi, yang namanya jatuh sudah pasti akan tetap merasakan sakit, tidak peduli siapapun dan apapun itu yang terjatuh.”
•••
Ana masuk ke dalam kamar Yuan setelah ia membuka paksa kamar putranya itu dengan kunci cadangan.
Sudah hampir tengah hari, tapi kepala pelayan rumahnya melapor kalau Yuan tidak kunjung keluar dari kamarnya.
Karena itu, Ana sampai pulang dengan terburu-buru dari restorannya.
Untung saja Ray tidak mengetahui tentang hal ini. Tadi, pagi-pagi sekali Ray sudah harus berangkat ke perusahaan karena ada pertemuan dengan ketua Barack untuk membahas proyek baru.
__ADS_1
Kalau ayahnya itu sampai tahu jika putranya menjadi pemalas dan bahkan sampai tidak masuk kuliah, Ray pasti tidak akan tinggal diam saja. Hal paling ringan yang akan ia lakukan adalah menyiram Yuan dengan satu ember air dingin agar pria itu lekas bangun dan pergi kuliah.
“Yuan! Kau tuli ya? Mom sudah mengetuk pintu kamarmu puluhan kali, tapi kau tidak kunjung membukanya juga. Suka ya membuat mommy mu ini marah?! Ayo cepat bangun. Lihat ini sudah jam berapa, kau berniat membolos kuliah hah?! Kalau sampai daddy mu tahu, bisa habis dirimu ini.” kata Ana sembari menarik selimut Yuan yang masih membungkus tubuh putranya itu.
Tidak ada respon dari Yuan.
Pria itu terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur sungguhan, membuat Ana merasa heran dengan putranya itu.
Selama ini, sebagai ibu dari Yuan, Ana tahu, kalau Yuan tidak akan pernah bisa tidur di jam-jam seperti ini.
“Yuan, jangan berpura-pura tidur. Ayo buka matamu. Hah, ya ampun, kemarin daddy mu yang jadi pemalas, sekarang gantian anaknya. Kalian berdua memang luar biasa ya. Benar-benar ingin membuatku terkena darah tinggi apa?!” ucap Ana.
“Yuan?” panggil Ana lagi, ketika tidak mendapatkan respon apapun dari anaknya.
Ada apa dengan anak ini? Kenapa hanya diam saja? Wajahnya juga terlihat pucat sekali? Apa dia sedang sakit?
Lalu, karena merasa heran dan juga cemas dengan Yuan yang hanya diam tak bergerak juga masih menutup matanya.
Ana pun mengulurkan tangannya, ia mulai meletakkan tangannya ke atas dahi Yuan, seperti seseorang yang sedang memeriksa suhu tubuh orang lain, ya itu yang sedang Ana lakukan pada Yuan.
Beberapa detik terlewatkan, pada detik ke lima puluh dua, mata Ana terlihat membelalak, mulutnya pun juga tampak menganga, kemudian raut wajah cemas dan juga khawatir menghiasi dirinya.
“Astaga anakku!” pekik Ana sembari memeriksa suhu tubuh Yuan di bagian leher dan pipi.
“Kepala pelayan! Bibi Jeni! Siapapun cepat datang kemari!” teriak Ana pada siapapun orang yang mendengar teriakkannya.
Tidak butuh waktu lama, tampak dua orang yang tadi telah Ana sebutkan namanya, mereka masing-masing berdiri dengan sopan di samping Ana yang masih sibuk memeriksa suhu tubuh Yuan.
“Hubungi dokter Liam, suruh dia cepat datang ke rumah. Yuan demam, panasnya tinggi sekali, aku bahkan merasa kalau tanganku bisa terbakar karena menyentuh kulitnya. Ayo cepat hubungi!” ujar Ana dengan diri yang sangat panik.
“Baik nyonya, saya akan segera menghubungi dokter Liam, saya permisi.” ujar kepala pelayan Miku, setelah itu, ia berlari keluar dari kamar tuan mudanya dan pergi untuk menghubungi dokter keluarga Gavin.
“Jeni, kau tolong hubungi ketua Ray, katakan padanya tentang kondisi Yuan. Suruh dia pulang ke rumah apapun kesibukannya. Kalau dia sampai tidak pulang, katakan padanya, aku, istrinya ini tidak akan mau bicara padanya selama satu tahun penuh!” ucap Ana, menyampaikan pesan ancaman pada suaminya jika suaminya itu lebih mementingkan pekerjaan daripada anaknya sendiri.
“Baik nyonya, saya akan menghubungi ketua Ray, kalau begitu saya permisi.” kata bibi Jeni yang kemudian langsung pergi keluar kamar Yuan dengan tergesa-gesa.
“Ya ampun sayang, kau kalau sakit kenapa tidak memberitahuku mommy, kalau sudah seperti ini bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Dan bagaimana kalau tadi mommy tidak memaksa untuk masuk ke dalam kamarmu? Kau pasti sudah dalam bahaya. Yuan, kau ini, benar-benar membuat mommy khawatir.” ucap Ana sembari mengusap lembut puncak kepala anaknya.
“Rose~” Yuan mengigau, itu adalah sesuatu yang ia ucapkan di alam bawah sadarnya.
Mendengar nama itu di sebut oleh sang anak, Ana pun langsung teringat dengan gadis itu, Rose.
“Ah iya kekasihmu. Apa kau ingin bertemu dengannya? Apa dia sudah tahu kalau kau sakit? Apa perlu mommy menyuruhnya untuk datang? Sayang? Jawab mommy, mommy mohon. Mommy akan bawa Rose datang kemari, jika itu bisa membuatmu sembuh.” ucap Ana.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍