The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Persetujuan (bagian satu)


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih banyak💕 untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Yusen keluar dari dalam mobil Sean. Pria kecil itu melihat jam tangannya sekali lagi.


Pukul setengah enam sore menjelang malam.


“Kau yakin Mama-mu tidak akan curiga kita pulang secepat ini?” tanya Sean.


Tadi, mereka memang ingin pergi ke taman kota. Tapi sangat disayangkan, tempat itu di tutup karena alasan pembangunan.


Yusen yang memang dari awal tidak berniat pergi jalan-jalan, ditambah tubuhnya yang sudah terasa lelah. Pria kecil itu pun memilih untuk pulang.


“Em, iya,” jawab Yusen, menanggapi pertanyaan Sean.


“Baiklah, mau bagaimana lagi. Maafkan Paman karena membuatmu gagal menonton pemandangan yang ada di taman kota,” kata Sean.


Yusen tersenyum tipis sembari mengangguk, “Tidak masalah, Paman. Lagipula, aku juga tidak terlalu berminat pergi kesana. Ikut pergi bersama Paman Sean tadi itu adalah alasanku untuk menenangkan pikiranku yang sedang campur aduk,” jujur Yusen.


Sean mengangguk paham, “Jadi, apa sekarang kau merasa lebih tenang?” tanya Sean kemudian.


“Ya, lumayan,” jawab Yusen.


“Oh iya. Terimakasih Paman, Sean. Sekarang Paman bisa pulang,” imbuh Yusen.


Sean terkekeh, “Kau baru saja mengusir pamanmu ini ya?” tanya Sean sembari menampilkan raut pura-pura sedihnya.


Yusen menyengir, ia kemudian mengangkat bahunya. Lalu berbalik membelakangi pamannya itu.


Sean pun mengikuti Yusen dari belakang. Pria dewasa itu tidak mungkin pulang sebelum benar-benar menyerahkan Yusen kembali pada Rose. Bagaimanapun juga, itulah etikanya.


Yusen membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci. Ia masuk, kemudian menahan pintu itu tebuka, menunggu pamannya untuk masuk juga. Setelah Sean masuk, Yusen menutup pintu rumah itu tanpa menguncinya.

__ADS_1


“Biar aku panggilkan Mama dulu,” tutur Yusen sembari melepaskan sepatunya, lalu menggantinya dengan sandal rumah.


Yusen, si pria kecil itu berjalan menuju kamar ibunya. Sesampainya di depan kamar sang ibu. Tangannya terlihat terangkat untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Namun dari sudut pandang Sean. Yusen tiba-tiba menghentikan gerakannya. Pria itu seperti di kejutkan oleh sesuatu.


“Kalau begitu, kita menikah saja,” sebuah ajakan serius dari seorang pria yang Yusen yakini milik ayah kandungnya terdengar dari dalam kamar tersebut.


“Kau, kau bilang apa?” kini suara ibunya yang terdengar.


“Apa kau sedang mencoba bermain tuli-tulian denganku?” suara selanjutnya terdengar samar. Yusen tidak bisa mengupingnya dengan jelas. Pria kecil itu hanya mendengarnya samar-samar.


“Tidak, aku, aku— ” suara ibunya yang terdengar gugup membuat Yusen tampak menghela napas beratnya. Setidaknya dari sikap ibunya itu, Yusen tahu jawaban apa yang akan wanita itu berikan untuk ayah kandungnya.


“Menikahlah dengaku, Rose. Pegang janjiku. Kali ini aku tidak akan mengingkarinya. Sebelumnya, aku juga tidak pernah mengingkari janjiku padamu. Apa yang terjadi waktu itu, sungguh diluar rencanaku. Aku kehilanganmu, aku terpuruk karena merindukanmu, dan aku yang tidak bertanggung jawab sebagai seorang ayah. Maafkan aku untuk semua itu,”


“Kalau saja waktu itu aku tahu jika kau sedang hamil anakku. Kau pikir aku akan melanjutkan rencana itu? Tentu saja, tidak. Aku pasti akan lebih memilihmu dan anak-anakku,” deretan kalimat yang penuh ketulusan itu terdengar begitu semilir di telinga Yusen.


Tangan pria kecil itu bahkan sampai terjatuh. Ia mengurungkan niatnya yang hendak mengetuk pintu kamar tersebut.


“Yusen? Ada apa?” tanya Sean pelan. Pria dewasa itu kemudian tampak mendekati Yusen. Kini ia pun berdiri di samping Yusen, tepat di depan kamar Rose.


“Yuan, kau tahu? Aku juga menginginkan hal itu. Selama ini aku menahan diriku untuk tidak bertemu denganmu. Bukan berarti aku tidak percaya akan cinta tulusmu. Tapi aku berpikir kau terlalu baik untukku yang biasa saja seperti ini,” jelas Rose dari dalam kamar itu.


Sean dan Yusen tampak diam mendengarkan.


Sean merasa lemas mendengarnya. Pantas saja perjuangannya selama bertahun-tahun untuk mendekati Rose tidak ada hasilnya. Ternyata, semua karena hati wanita itu sudah penuh dengan cintanya pada seseorang, yaitu Yuan.


Yusen menatap pamannya, pria kecil itu kembali menghela napas beratnya ketika semburat kesedihan teruntai jelas dalam mimik wajah tegas Sean.


Yusen memang tidak tahu bagaimana rasanya sakit hati bila cinta tak tersampaikan. Tapi, setidaknya Yusen tahu bagaimana perasaan pamannya saat ini. Sakitnya seperti tangan yang tertusuk oleh jarum dan jarum itu lebih dari satu, tusukannya pun menghujam tanpa henti, menimbulkan lubang tanpa darah yang menganga di dalam hati.


“Aku bisa saja menikah denganmu. Tapi masalahnya... kau tahu kan kalau kita sudah punya anak. Mereka juga punya hak untuk mengambil keputusan. Karena itu, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku butuh pendapat Yusen dan juga Yuna,” jelas Rose kemudian.


Jiwa Sean benar-benar luruh. Tubuhnya lemas ketika ia harus mendengar kenyataan ini. Kenyataan bahwa wanita yang di cintainya menerima pinangan dari pria lain.


“Paman,” lirih Yusen. Jujur saja, ia merasa kasihan pada pamannya itu.


“Maaf, Yusen. Paman... Paman sepertinya tidak bisa menemui Mama-mu. Paman harus pergi, Paman baru ingat kalau Paman ada urusan mendesak. Kau tolong sampaikan permohonan maaf Paman pada Mama-mu ya. Sampaikan juga kalau Paman turut bahagia,” ujar Sean.


Setelah mengatakan hal itu, Sean bergegas pergi dari sisi Yusen. Pria itu tampak berjalan cepat menuju pintu keluar rumah. Sean keluar dengan hatinya yang hancur.

__ADS_1


Di saat Yusen tengah sibuk menatap melas atas kepergian pamannya. Ia pun kemudian dikejutkan oleh suara pintu yang tiba-tiba terbuka.


“Yusen?” tanya sebuah suara bariton. Nadanya pun terdengar kaget karena melihat Yusen yang tiba-tiba terlihat di depan kamar tersebut.


“Yusen, kau sudah pulang? Dimana pamanmu, Sean?” tanya sang ibu yang berada di belakang pria dengan suara bariton itu.


“Paman Sean baru saja pulang. Dia menitipkan pesan padaku untuk Mama,” jawab Yusen.


“Oh? Pesan? Aaa.. pasti permintaan maaf karena tidak menyerahkanmu langsung pada Mama ya?” tebak Rose.


Yusen mengangguk, “Dan Paman juga menyampaikan pesan kalau Paman Sean turut bahagia,” kata Yusen.


Rose mengernyitkan keningnya. Dia bingung untuk sementara waktu. Tapi kemudian matanya terbelalak ketika menyadari sesuatu.


“Kau... tidak, tidak, apa kalian, kalian mendengar pembicaraan kami?” tanya Rose pada Yusen. Tanpa basa-basi lagi.


Sejenak Yusen menghela napasnya, kemudian ia menjawab, “Ya, Yusen mendengarnya,”


“Semuanya? Dari awal sampai akhir?” Rose bertanya lagi pada putranya itu.


“Ma, Yusen bukan orang yang suka menguping. Tadi Yusen ingin mengetuk pintu kamar Mama. Tapi Yusen tidak sengaja mendengar Paman Yuan melamar Mama. Jadi, karena terkejut, Yusen diam mematung di depan kamar Mama dan mendengar percakapan kalian berdua. Maaf kalau Yusen sudah tidak sopan,” jujur Yusen.


Rose terlihat menggigit bibir bawahnya. Ia merasa cemas. Cemas kalau Yusen akan marah padanya karena dirinya yang terlalu jatuh hati pada Yuan, ayah kandung pria kecil itu.


“Ma, Mama dan Paman Yuan, jika kalian berdua ingin menikah, kalian tidak perlu meminta persetujuan dariku ataupun persetujuan dari Yuna. Selama Mama bahagia, Yusen pasti akan senang juga. Dan untuk Yuna, kita semua tahu kalau dia sudah menyukai Paman Yuan, karena itu aku yakin tanpa kalian bertanya dan meminta persetujuan darinya, Yuna pasti sudah sangat setuju,” jelas Yusen.


Kedua orangtua itu tampak terenyuh dengan ketegaran hati si pria kecil.


Yuan bahkan sampai merasa bersalah padanya.


“Yusen, kau dan Yuna itu anak kami. Kebahagiaan kalianlah yang paling utama bagi kami. Kami tidak mungkin bisa egois. Kalau saat ini kau belum setuju Papa menikahi Mama-mu. Papa bisa menunggu sampai kau setuju dan menerima Papa sebagai ayahmu,” tutur Yuan sembari mensejajarkan dirinya dengan sang anak.


Yusen terdiam sejenak. Lalu kemudian, tiba-tiba ia berkata, “Paman ingin tahu apa yang hatiku katakan sebenarnya?” tanya Yusen.


Yuan mengangguk dengan cepat.


“Katakan saja apa yang ada di dalam hatimu. Sekalipun itu menyakitkan. Papa tidak mungkin bisa marah padamu. Satu hal yang harus kau ingat, Yusen. Seorang raja singa pun tidak akan melukai darah dagingnya sendiri. Apalagi seorang pria kecil yang akan menjadi the next lion king,” jawab Yuan.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai.


__ADS_2