
Selamat Pagi~
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Waktu terus berlalu, desiran rindu yang tertahan di dalam hati pun masih merajai diri.
Berulangkali Yuan diam-diam datang ke apartemen penuh kenangan itu. Tapi dirinya selalu mendapatkan zonk.
Rasa kecewa tak henti menyeruak masuk menggeluti hatinya.
Tapi bisa apa dia? Hanya bisa pasrah dengan situasi yang telah ia perbuat sendiri.
Tiga bulan kemudian.
Semuanya masih sama, yang berbeda hanyalah perut gadis itu yang semakin membuncit.
Berat badannya pun bertambah beberapa kilogram. Itu terlihat dari pipinya yang tampak cubby dan membuat orang gemas untuk menjahilinya.
“Sudah siap?” tanya Sarah pada wanita hamil sembilan belas minggu itu.
Rose mengangguk menanggapinya.
“Sean sudah menunggu di bawah, ayo,” ajaknya, kemudian menarik lengan Rose pelan.
Mereka pun berjalan bersama. Sarah membantu Rose menuruni tangga. Perlahan-lahan mereka menapaki anak tangga itu hingga sampai di lantai dasar.
Setelah itu, mereka segera keluar dari mansion tersebut.
Di depan sana, Sean sudah memarkirkan mobilnya, menunggu dua perempuan itu untuk masuk ke dalam mobil itu.
“Sean, tolong buka pintunya,” pinta Sarah pada saudara kembarnya itu.
Tanpa berkata apa-apa, Sean pun menuruti perkataan adik kembarnya itu. Ia membuka pintu mobil SUV nya. Lalu membantu Rose masuk ke bagian kursi penumpang, di susul oleh sarah yang mendampingi wanita hamil itu.
“Sudah 'kan? Tidak ada yang tertinggal?” tanya Sean, memastikan semua yang mereka perlukan sudah tersedia.
Sarah mengangguk, “Sudah beres,” jawabnya.
Lalu kemudian, Sean bergegas masuk ke dalam mobilnya. Menyuruh sang sopir pribadi untuk melajukan mobil tersebut ke rumah sakit.
Hari ini Rose akan melakukan check up, sekaligus untuk mengetahui jenis gender sang janin. Karena selama ini ia selalu berkata tidak setiap kali Sarah ataupun Sean meminta untuk melakukan USG empat dimensi. Kedua kakak-beradik kembar itu yang paling gemas sendiri karena penasaran dengan bayi yang ada di dalam perut Rose itu.
•••
“Tuan Raymond Yuan Gavin,” panggil seorang perempuan yang bekerja di bagian informasi Rumah Sakit Cinta Kasih itu.
“Ya?” Sekertaris Chenli mewakili, ia berdiri dari duduknya.
“Silahkan masuk ke ruangan cuci darah bagian B nomor bed dua,” katanya.
“Baik, terimakasih,” ucap sekertaris Chenli. Ia pun kemudian berbalik menghadap ke arah bosnya.
“Ketua Ray, silahkan,” ujarnya.
“Seperti biasa, kau tidak perlu ikut denganku. Tunggu saja di sini,” suruh Ray.
Sekertaris Chenli mengangguk paham, ia kemudian membungkuk hormat ketika bosnya itu berjalan menuju ruangan cuci darahnya.
Setelah Ray masuk, Sekertaris Chenli terlihat menghela napasnya. Perasaan kasihan kembali menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Bahkan sampai sekarang, bosnya itu masih belum mau memberitahukan kondisinya kepada keluarganya.
Sungguh miris, sebenarnya apa yang membuat bosnya itu menutupi penyakitnya? Sekertaris Chenli pun tidak tahu.
“Sampai kapan Ketua Ray akan menyembunyikannya?” gumam Sekertaris Chenli, kemudian kembali duduk pada kursi tunggunya.
•••
Mobil itu berhenti di depan lobby utama sebuah rumah sakit yang cukup terkenal pelayannya yang sangat baik. Sebuah rumah sakit keluarga dengan nama Rumah Sakit Cinta Kasih.
“Aku sudah membuat janji dengan Dokter Marina, jadi kita tidak perlu antri dan menunggu lama,” ungkap Sean.
“Apa tidak masalah kalau kita menerobos antrian dan langsung masuk ke ruangan? Bagaimana dengan ibu hamil yang lain? Mereka sudah menunggu lama untuk antriannya,” ujar Rose. Ia tidak menyukai diskriminasi.
Sean dan Sarah hanya bisa menghela napasnya. Setiap kali Rose melakukan pemeriksaan kandungannya, ia selalu seperti ini, tidak ingin perlakuan spesial. Padahal dua saudara kembar itu sudah susah payah membuatkan janji untuknya.
“Ayolah, Rose. Jangan seperti ini lagi. Terkadang kau juga harus menggunakan latar belakang untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat,” ujar Sean.
“Tapi 'kan— ”
“Sudahlah Rose, anggap saja ini pelayanan VIP. Lagian Dokter Marina dia hanya khusus menangani pasien VIP, jadi kalau ada yang antriannya kita ambil, mereka tidak akan mungkin mengeluh apalagi protes,” kata Sarah.
“Tuan, Nona, apa masih lama turunnya? Itu, mobil di belakang sudah menunggu kita dari tadi,” ujar sang sopir pribadi.
“Ayo turun,” kata Sean yang kemudian turun dari mobilnya.
__ADS_1
Pria itu dengan bijaknya membukakan pintu untuk Rose. Bagai seorang suami yang sedang mengantar istrinya untuk memeriksakan bayi mereka. Bahkan Sean membantu Rose untuk turun dengan hati-hati dari mobil SUV itu.
“Kau tidak ingin membantuku turun?” canda Sarah pada saudaranya itu.
“Ck, memangnya kau hamil?” balas Sean yang masih memegangi lengan Rose.
“Terimakasih,” ucap Rose sembari melepaskan tangannya dari genggaman Sean.
Sean tersenyum, setelah melihat Sarah keluar dan menutup pintu mobil SUV itu. Ia langsung menyuruh sopirnya untuk memarkirkan mobil tersebut ke basemen rumah sakit.
“Ayo masuk,” ajak Sean, ia menggerakkan tangannya, berniat untuk membantu Rose berjalan. Tapi dengan cepat Sarah menyerobotnya. Ia tidak pernah sedikitpun membiarkan saudaranya itu mendekati Rose.
Melihat sikap sang saudari kembar, Sean hanya bisa menghela napasnya sembari mencebik kesal.
Dalam perjalanan menuju bagian kandungan. Mereka melewati ruang tunggu, dimana ada seseorang dengan pakaian profesionalitasnya tengah duduk menunggu sang bos.
Mata pria paruh baya itu mengedarkan pandangannya luas. Menghilangkan rasa bosannya dengan melihat suasana sekitarnya. Banyak orang datang dan pergi dari rumah sakit itu. Sayangnya, tidak ada yang menarik perhatiannya.
Tapi kemudian, sosok yang sangat familiar di matanya, membuat sekertaris Chenli menajamkan penglihatannya. Ia bahkan sampai mengangkat kacamatanya, lalu menggosok-gosok matanya, memastikan kalau dirinya sedang tidak salah lihat.
“Sarah? Dan Rose?” gumamnya
Tepat saat itu juga, Sarah beradu pandang dengannya. Mereka saling menatap untuk beberapa detik lamanya.
Kemudian, Sarah langsung merapatkan tubuhnya pada Rose. Menutupi perempuan itu dari pandangan sekertaris Chenli. Tapi percuma saja ia melakukannya. Karena sekertaris Chenli sudah lebih dulu mengenali sosok Rose.
“Sean,” panggil Sarah pada saudara kembarnya itu.
“Hm?”
“Kau bawa Rose dan pergilah lebih dulu. Aku ada sesuatu yang harus aku urus. Sebentar saja,” tukas Sarah.
Sean mengernyitkan keningnya heran, ia mencari tahu sesuatu yang disembunyikan oleh saudarinya itu. Tapi sulit bagi Sean untuk membaca mimik wajah Sarah yang sangat pandai menyembunyikan ekspresinya.
“Kau ingin pergi kemana, Sarah? Apa terjadi sesuatu? Apa ada masalah?” tanya Rose, ia pun juga merasa heran.
Sarah menampilkan senyum terbaiknya, kemudian berkata, “Tidak ada, aku hanya ingin pergi ke bagian administrasi,” jawab Sarah, berbohong.
“Sean, ayo cepat bawa Rose,” suruh Sarah.
Sean pun kemudian menurut, walau ia tahu kalau saudarinya itu menyembunyikan sesuatu. Tapi dirinya bisa apa? Dia tidak akan pernah bisa membuat Sarah mengaku. Dan itu juga akan membuang-buang waktu bagi mereka.
“Iya,” ucap Sean kemudian.
“Ayo, Rose,” ajaknya.
Rose mengangguk. Setelah itu, ia pergi bersama Sean yang mendampingi dirinya.
Setelah Rose dan Sean tidak terlihat lagi. Sarah kemudian berbalik. Ia kembali menatap ke arah sekertaris Chenli yang sejak tadi terus memperhatikan.
Tanpa ragu-ragu. Sarah berjalan tegap menghampiri sekretaris paruh baya itu. Tepat di hadapan sekretaris Chenli ia berkata, “Lama tidak berjumpa, Sekertaris Chenli,” sapa Sarah, penuh basa-basi yang hambar.
Sekertaris Chenli pun tersenyum padanya, tanpa berdiri ia membalas sapaan itu.
“Ya, lama tidak bertemu,” ucapnya
“Ada perlu apa anda datang kemari? Siapa yang sakit?” tanya Sarah sembari melihat nomor antrian yang tidak sengaja ia lihat dalam genggaman pria paruh baya itu.
Dengan cepat, Chenli langsung menyembunyikannya, ia memasukkan nomor antrian itu ke dalam saku tuxedo kerjanya.
“Sebaiknya kau anggap tidak melihat apapun, Sarah,” tegas sekertaris Chenli.
Sarah mengerutkan keningnya, lalu terkekeh mendengar ancaman itu.
“Oke, setuju. Tapi itu juga berlaku untukmu, sekertaris Chenli,” kata Sarah.
“Anggap anda tidak melihat apapun hari ini. Jangan pernah katakan pada siapapun tentang pertemuan kita hari ini. Dan juga, jangan beritahu pria itu tentang Rose. Aku yakin anda sudah melihat gadis itu tadi,” imbuh Sarah.
“Tunggu, maksudmu— perempuan hamil tadi, apa dia Rose? Aku pikir, aku hanya salah melihat sosoknya. Tapi ternyata itu benar-benar dia. Apa dia hamil? Dia sudah menikah dengan pria tadi?” tanya sekertaris Chenli.
Sarah mencebik, kesal dengan runtutan pertanyaan itu.
“Apa anda ini seorang wartawan? Kenapa bertanya banyak sekali? Masalah Rose bukan urusan anda. Ingat untuk tidak memberitahukan ini pada siapapun,” ujar Sarah.
“Ah iya, masalah siapakah ayah dari bayi yang dikandung Rose. Aku tidak akan memberitahumu secara langsung. Tapi bayi itu memiliki garis keturunan murni keluarga Gavin,” ungkap Sarah, ia kemudian tampak tersenyum puas dengan raut wajah keterkejutan dari sekertaris Chenli.
“Jangan terkejut Sekertaris Chenli, anggap saja aku ini sedang bercanda, benarkan?” sambungnya.
Setelah itu, Sarah menundukkan kepalanya, melakukan gerakan hormat secara formal. Lalu setelah itu ia pergi dari hadapan sekertaris Chenli yang masih terbengong.
•••
“Silahkan berbaring di bed Ibu Rose, saya akan memulai USG empat dimensinya,” ucap dokter itu.
“Bapaknya sebagai suami, bisa mendampingi istrinya, silahkan,” suruh dokter Marina.
“Itu, saya, saya bukan— ”
“Ibu Rose saya akan memulai USG nya ya...,” sela dokter Marina, tanpa mengindahkan jawaban dari Sean yang tampak gelagapan.
Dokter paruh baya itupun menyingkap sedikit baju Rose, memperlihatkan perut Rose yang besar dan membuncit.
__ADS_1
Alat USG pun mulai bergerak di atas perut itu. Layar monitor yang terhubung ke alat itu mulai menunjukkan gambarannya.
“Permisi, maaf, saya keluarga dari Rosella,” ucap Sarah yang baru saja menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
Dokter Marina menoleh, lalu tersenyum ramah, ia mempersilahkan Sarah untuk berdiri di dekat Sean, memperhatikan gambaran bayi yang mulai tampak jelas.
“Kembar,” ucap Dokter Marina.
“Ha?” ucap ketiga orang itu bersamaan.
Mereka pikir, dokter Marina sedang membahas Sarah dan Sean yang kembar.
Tapi siapa sangka kalau yang dia maksud adalah janin di dalam perut Rose.
“Bayinya kembar,” ulang dokter Marina.
“Laki-laki dan perempuan,” imbuhnya.
Sean langsung menatap Sarah, mereka berdua saling bertatapan, kemudian menatap ke arah Rose yang juga menatap mereka.
“Bukan aku, itu bukan anak aku kok. Aku berani bersumpah, aku tidak pernah sentuh Rose,” kata Sean tanpa tahu apa alasannya berkata seperti itu.
“Kau ini bicara apa?!” omel Sarah, heran dengan tingkah saudaranya itu yang tampak bodoh untuk beberapa saat.
“Kau tidak dengar? Bayi Rose kembar, laki-laki dan perempuan. Orang pasti berpikir kalau aku yang membuat Rose hamil, karena memiliki gen kembar dariku,” celoteh Sean.
Sarah mendengus, gemas dengan pikiran sempit sang saudara.
“Jadi Bapak ini bukan suaminya Ibu Rose ya. Tenang saja, jika bayi yang di kandung kembar, bukan berarti keluarganya yaitu si ibu atau si ayahnya juga kembar. Karena bisa saja dari keluarga ibu Rose atau suami asli ibu Rose memiliki gen itu, walaupun dari kakek atau nenek buyutnya,” terang Dokter Marina.
“Ah, begitu ya,” cicit Sean.
“Dasar bodoh, tidak tahu malu,” geram Sarah padanya.
“Aku tidak tahu, Sarah,” kilah Sean.
“Usia kandungnya sembilan belas minggi tiga hari, janinnya sehat. Tidak ada masalah apapun,” kata dokter Marina setelah selesai melakukan USG pada Rose.
“Pada usia kehamilan ini, Ibu Rose mungkin akan merasakan gerakan aktif dari si janin,” ujar Dokter Marina lagi.
Rose yang saat itu sedang turun dari bed dengan bantuan Sarah, ia tampak antusias mendengarnya.
“Benarkah?” tanya Rose.
Dokter Marina mengangguk, “Hm, iya,” jawabnya.
“Tapi di usia kandungan seperti ini, biasanya kaki ibu hamil seperti anda ini akan mulai terasa kram dan kadang juga ada yang bengkak, karena perut anda sudah membawa beban yang cukup berat. Apalagi itu kembar,” ujar dokter Marina, mengingatkan.
“Itu bukan masalah, selama mereka sehat dan baik-baik saja,” ucap Rose, ia kemudian duduk di kursi, bersebrangan dengan dokter Marina yang juga duduk di kursi kerjanya.
“Saya sudah meresepkan vitamin dan suplemen yang baik untuk janin kembar anda,” kata dokter Marina sembari menyerahkan kertas berisi resep obat.
“Terimakasih, Dokter Marina,” ucap Sarah mewakili Rose.
Dokter Marina mengangguk.
Setelah itu, mereka keluar dari dalam ruangan tersebut.
“Aku sungguh tidak menyangka kalau bayi di dalam perutmu ini kembar. Ah ya ampun keponakanku, kalian membuatku tidak sabar menunggu kelahiran kalian,” tutur Sarah sembari mengelus pelan perut Rose.
“Aku juga tidak menyangkanya. Pantas saja perutku sudah terlihat besar sekali, padahal baru sampai di usia empat bulan kurang,” kata Rose.
“Tapi, ini kebetulan yang aneh sekali. Bagaimana bisa bayinya kembar seperti kita?” tanya Sean sembari menunjuk dirinya dan Sarah.
“Rose, aku sungguh tidak menyentuhmu 'kan?” sambung Sean, beralih tanya pada Rose.
Rose tersenyum, ia bahkan sampai tertawa kecil.
Sedangkan Sarah, dirinya luar biasa geram dengan saudaranya itu. Karena sudah tidak tahan lagi, Sarah pun sampai memukul kepala Sean gemas.
“Apa otakmu sedang mengalami konsleting? Kenapa kau bodoh sekali, huh? Bukankah dokter Marina sudah menjelaskannya?! Aish, dasar,” geramnya.
“Aku hanya memastikan saja,” sanggah Sean.
“Ya, ya terserah kau, dasar duda dua kali,” cibir Sarah.
“Apa katamu?! Kau— bukankah aku sudah bilang, tutup mulutmu, jangan menyinggung masa laluku,” omel Sean.
Melihat pertengkaran dua kakak-beradik kembar itu, Rose merasa terhibur, ia bahkan sampai tak sungkan lagi mengeluarkan tawanya.
Namun kemudian, tawanya luntur saat matanya tak sengaja melihat kilasan sosok yang ia kenal.
Ketua Ray? — gumam Rose dalam hatinya.
Sosok itu melewati lorong tempatnya berada.
Tanpa mengetahui keberadaan Rose. Ray berjalan keluar dari rumah sakit itu.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1