The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Kerinduan


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Tak lama kemudian, mereka sampai di sekolah dasar Lizard.


Yuan memarkirkan mobil yang di kendarainya itu di sayap kiri gerbang sekolah dasar tersebut.


Kemudian, Yuan bergegas turun dari mobil, berniat membukakan pintu untuk anak-anak. Tapi sayang sekali, Yusen menyuruh kakak kembarnya itu untuk keluar melalui pintu mobil bagian lain.


Rose ingin tertawa melihat ekspresi Yuan, pria itu seperti orang yang baru saja mendapatkan prank.


“Ma,” panggil Yusen, menyadarkan ibunya yang tengah menertawakan Yuan di dalam benaknya.


“Ah, iya, kau ingin masuk ya. Hati-hati ya. Ingat, jaga Yuna,” ujar Rose sembari menepuk pelan bahu pria kecil itu.


“Yuna, kau juga hati-hati ya. Kalian, berjuanglah untuk ujian hari ini,” lanjut Rose, memberikan asupan semangat pada dua anaknya itu.


“Paman, ingat, jangan terlambat menjemput kami,” ucap Yusen pada sang ayah, sebelum akhirnya ia melangkah pergi bersama Yuna.


“Papa akan jemput tepat waktu. Semangat ujiannya, jadilah anak yang baik, Papa sayang kalian,” seru Yuan, menjawab ucapan Yusen tadi.


“Mama juga sayang kalian,” sahut Rose dengan senyum tipisnya.


Diam-diam, kedua kakak-beradik kembar itu tersenyum senang. Mereka senang karena bisa merasakan apa itu keluarga yang sesungguhnya.


Setelah memastikan Yusen dan Yuna benar-benar memasuki lingkungan sekolah, kedua insan itu kembali masuk kedalam mobil dan meninggalkan area sekolah.


Kini tinggal mereka berdua. Inilah momen yang di tunggu oleh Yuan. Tangan pria tampak bergerak, mendekati tangan Rose yang berada di atas paha wanita itu. Perlahan, Yuan mengenggamnya. Awalnya, Rose sedikit tersentak, lalu kemudian, ia mencoba mengendalikan dirinya agar kembali bersikap biasa.


“Aku merindukanmu,” ucap Yuan tulus, ia menatap Rose sekilas, lalu kembali fokus ke jalan raya.


Rose tersentuh mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Yuan secara tiba-tiba. Walaupun begitu ia tetap harus bersikap tegas pada Yuan.


“Singkirkan tanganmu,” suruh Rose.


“Tidak mau,” Yuan menolak mentah.


“Lepaskan, Yuan. Kau sedang menyetir, kau harus fokus pada jalanan,” nasihat Rose.


Dengan terpaksa, Yuan melepaskan genggamannya. Raut wajah pria itu pun kemudian berubah muram.


Melihat Yuan yang seperti itu, Rose menghela napasnya, “Aku juga merindukanmu,” lirih Rose, sangat pelan, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri. Tapi, Yuan masih mampu mendengarnya.


Hati lelaki itu menghangat mendengar kalimat yang keluar dengan pelan dari bibir ranum Rose.

__ADS_1


Mobil berhenti karena lampu merah. Ini kesempatan Yuan untuk memandangi wajah wanita yang sangat ia rindukan selama delapan tahun terakhir.


Seberapa lama pun Yuan memandang nya. Ia benar-benar tidak pernah puas. Dari dulu hingga sekarang pun Rose masih menjadi candu untuknya.


“Coba kau katakan sekali lagi,” suruh Yuan, menatap wanitanya itu lekat.


“Apa?” tanya Rose, berpura-pura tidak mengerti.


“Katakan padaku kalau kau juga merindukanku,” ujar Yuan.


Rose mengalihkan pandangannya, ia memilih menatap keluar jendela mobil itu.


“Aku tidak merindukanmu sama sekali,” bohongnya.


Yuan tersenyum, ia tahu kalau wanita di sampingnya itu sedang membohongi dirinya. Rose terlalu malu untuk berkata jujur padanya.


“Aku juga merindukanmu dan selalu mencintaimu, Honey,” balas Yuan dengan kata manisnya bagai madu.


Jujur saja, Rose dapat merasakan ketulusan yang menguar dari diri pria itu.


Rasa rindu yang benar-benar nyata tak main-main adanya.


Rasa bersalah, dan rasa tidak ingin kehilangan bercampur aduk, terpadu menjadi satu.


Ingin sekali Rose menoleh, manatap pria itu, lalu menyentuh wajah tampannya.


“Kau pikir aku akan luluh hanya karena ungkapan perasaanmu padaku?” ujar Rose. Seperti ingin mematahkan ranting kayu yang baru saja tumbuh.


“Satu lagi, jangan memanggilku sembarangan, apalagi di depan anak-anak. Kalau tidak, jangan salahkan jika aku memukul mulutmu itu,” lanjutnya, penuh ancaman.


“Kau benar-benar sudah tidak waras” cibir Rose. Ia tidak bersungguh-sungguh dengan cibirannya itu.


“Kau tahu itu. Aku tidak waras, benar-benar tidak waras saat berdekatan denganmu,” ujar Yuan. Kemudian, entah apa yang merasuki Yuan, pria itu tiba-tiba mendekati Rose, berniat menghapus jarak di antara mereka.


“Yuan, apa, apa yang ingin kau lakukan?” gugup Rose. Ia berusaha mendorong tubuh Yuan. Namun sia-sia saja, karena tubuhnya itu tidak sebanding dengan tubuh kekar Yuan.


“Yuan lampunya!” pekik Rose, membuat pria itu spontan menjauh darinya.


“Sial,” umpat Yuan sembari menancapkan gasnya, kembali melajukan mobil tersebut.


Melihat ekspresi kesal Yuan, Rose tertawa cekikikan.


“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?” tanya Yuan dengan nada kesalnya.


“Kau menertawaiku karena gagal menciummu kan?” imbuh Yuan, masih dengan nada kesalnya.


Rose menggelengkan kepala, “Tidak,” bohongnya sembari mengulum bibirnya, menahan tawa yang ingin pecah.


“Ck, menyebalkan,” keluh Yuan.


Pria itu pun kemudian terdiam, ia memandangi wajah Rose yang masih berusaha menahan tawanya. Ekspresinya terlihat menggemaskan bagi Yuan.

__ADS_1


“Jangan lakukan hal itu lagi,” ucap Rose ketika hasrat ingin tertawanya lenyap.


“Hal apa?” tanya Yuan, tak mengerti.


“Seperti tadi pagi dan barusan,” jawab Rose.


“Apa? Aku tidak mengerti,” kata Yuan.


“Seperti tadi pagi, kau tidur di kamar ku, memelukku di depan Yuna, memanggilku sayang di depan anak-anak, dan barusan kau hampir menciumiku. Apa aku harus mengatakannya dengan begitu jelas?!” oceh Rose, geram.


Yuan terkekeh mendengarnya, tangannya pun kemudian bergerak, mengacak gemas rambut wanita itu.


“Kau menggemaskan,” ucapnya.


Setelah itu, keduanya hanya berselimutkan keheningan.


Hingga akhirnya, mereka sampai di depan gedung firma hukum tempat Rose bekerja.


Rose menggenggam tasnya dan beranjak ingin keluar dari mobil itu. Tapi, Yuan tiba-tiba menarik lengannya, “Tunggu dulu,” ucap Yuan.


“Ada ap—“


Kalimat Rose terpotong, terganti dengan matanya yang melebar, ia terkejut. Yuan menciumnya secara tiba-tiba. Tidak, bukan di bibir wanita itu, melainkan di sudut bibir Rose. Kecupan kecil itu menimbulkan rasa gemas yang tertahan.


“Aku akan merindukanmu,” bisik Yuan.


“Sekarang kau boleh pergi, hati-hati. Ingat, jangan terlalu dekat dengan pria lain. Jaga jarak paling aman sepuluh meter. Akan lebih bagus lagi kalau kau tidak memiliki rekan kerja atau klien laki-laki,” oceh Yuan tepat di dekat telinga Rose.


“Aku mengerti, sudah cukup, menjauhlah dariku, aku harus turun,” kata Rose. Tapi sepertinya Yuan tidak mendengarkan.


Melihat tidak ada reaksi dari pria itu. Rose mencoba mendorong tubuh Yuan. Namun, hasilnya nihil,  Yuan tak bergerak sama sekali.


Sebuah ide darurat pun melintasi kepala Rose. Wanita itu akhirnya dengan tepaksa menarik Rambut belakang Yuan, “Aku bilang menjauh dariku, kau tuli ya?!” seru Rose, sudah di batas rasa sabarnya.


Yuan mengaduh kesakitan. Pria itu terlihat  mengusap kepala belakangnya yang terasa sedikit berdenyut, “Kau ingin membunuhku ya? Kenapa suka sekali bermain kasar, huh?!” sungut Yuan kesal.


“Salah siapa yang berani mengabaikan perkataan ku. Aku sudah menyuruhmu untuk mejauh dariku. Tapi kau tidak mengindahkan perkataan ku sama sekali. Sekarang terima akibatnya. Kau pikir aku ini masih Rose seekor domba polos? Tidak, kau salah jika masih menganggap ku seperti itu. Aku saat ini lebih mengerikan dari seekor macan betina,” balas Rose tak kalah kesal.


“Sudah lah, aku harus pergi bekerja,”  ujar Rose.


Wanita itu pun kemudian keluar dari dalam mobil tersebut, sebelum pintu mobil itu tertutup rapat. Yuan terdengar mengeluarkan suaranya keras, “Sampai jumpa, Sayang!”


Mendengar itu, Rose hanya bisa menghela napas sembari menahan malunya. Bagaimana tidak, lihat saja, kini semua orang memandang ke arahnya. Rose pun kemudian bergegas menutup pintu mobil itu. Lalu pergi menjauh dari mobil dan segera masuk ke firma hukum tersebut.


Sedangkan Yuan, ia terus memperhatikan Rose dengan senyum mengembang sampai wanita itu benar-benar masuk ke dalam firma hukum itu dan hilang dari pandangannya.


“Dia itu sekarang seperti induk singa,” ucap Yuan saat kembali teringat dengan sikap Rose yang sekarang.


Setelah mengatar Rose, Yuan pun langsung pergi ke perusahaannya.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme


__ADS_2