
Ruang seminar fakultas hukum itu terlihat ramai, semua kursi yang tersedia tampak di penuhi oleh mahasiswa yang kebanyakan dari semester tujuh.
Mereka semua berkumpul disana untuk mendapatkan arahan tentang program praktek kerja lapangan atau magang.
"Jadi mulai awal bulan depan, yang artinya satu minggu lagi kalian harus sudah memilih tempat untuk kalian magang, boleh di instansi pemerintahan atau di perusahaan organisasi seperti firma hukum atau juga boleh di departemen hukum milik perusahaan besar. Lalu, minggu depannya lagi, kalian langsung mulai magang di tempat pilihan kalian itu. Magang dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. Sampai disini, apa ada yang ingin bertanya? Atau semuanya sudah paham?" Kata seorang profesor yang merupakan seorang ketua prodi jurusan fakultas hukum.
"Saya ingin bertanya profesor." Ujar salah seorang mahasiswa.
"Iya, mahasiswa yang ada disana, silahkan berdiri dan mulai bertanya, tapi sebelumnya perkenalkan dulu dirimu." Ujar profesor itu.
"Perkenalkan nama saya Feng Adelard, fakultas hukum semester tujuh, ingin mengajukan pertanyaan. Apakah dalam satu instansi pemerintah bidang hukum, atau firma hukum atau departemen hukum di salah satu perusahaan boleh di tempati oleh satu orang lebih? Contohnya seperti ini, saya magang di firma hukum A, lalu teman saya juga ikut magang di firma hukum tersebut, jadi apakah satu firma hukum itu boleh dijadikan tempat magang oleh lebih dari satu mahasiswa? Terimakasih."
"Baiklah, Feng Adelard, terimakasih atas pertanyaannya, itu pertanyaan yang cukup detail. Baik, saya akan menjawabnya. Boleh, tapi maksimal tiga, jadi satu tempat hanya boleh di isi oleh tiga mahasiswa. Apa sudah bisa di pahami?"
"Iya, terimakasih atas jawabannya profesor." Ucap Feng yang kemudian kembali duduk di kursinya.
"Baik, apa ada yang ingin bertanya lagi?"
"Kalau tidak ada, kita akhiri sesi pengarahan pertama ini, sampai jumpa di sesi berikutnya, satu minggu lagi." Ujar profesor itu, setelahnya, lampu ruang seminar itu kembali menyala dan para mahasiswa mulai keluar satu persatu dengan tertib.
"Rose." Panggil Feng, membuat Rose yang sedang mengobrol dengan Yana menoleh padanya.
"Iya Feng? Ada apa?" Tanya Rose.
"Senang melihatmu kembali, kemarin aku tidak melihatmu cukup lama." Ujar Feng.
"Ah iya, kemarin itu aku ada sedikit masalah, jadi tidak bisa masuk kuliah." Kata Rose.
"Oh iya Feng, apa kau sudah memilih tempat magang?" Tanya Yana.
"Eh itu, belum, apa kalian berdua sudah memiliki rencana?"
"Belum, kami baru saja ingin mendiskusikannya, tapi kemungkinan kami akan magang di firma hukum ayahku." Ujar Yana.
"Benarkah? Aku dengar— firma hukum ayahmu adalah yang terbaik di negara ini. Pasti akan sangat banyak pengalaman luar biasa jika bisa magang disana." Kata Feng.
"Apa kau ingin bergabung dengan kami? Kalau kau ikut juga, itu artinya cukup untuk kita bertiga, bisa magang di tempat yang sama dengan orang yang di kenal juga bagus." Ujar Yana.
"Bagaimana menurutmu Rose?" Tanya Feng, meminta pendapat Rose.
"Itu— kedengarannya cukup bagus." Ucap Rose.
"Okey, jadi kita bertiga akan magang di firma hukum ayahku ya? Tidak ada yang berubah kan? Soalnya setelah ini, aku akan menghubungi ayahku dan meminta bantuannya agar kita bisa langsung magang disana." Ujar Yana.
"Tentu, asalkan Rose ikut, maka aku juga akan ikut." Kata Feng.
"Ck, kau ini." Ucap Yana.
Rose hanya tersenyum tipis menanggapinya. Lalu kemudian, sebuah getaran dari ponsel Rose membuat gadis itu tersadar akan sesuatu, ia langsung membuka bilik pesan, disana terlihat ada sebuah pesan masuk yang dikirim oleh Yuan.
Astaga, aku terlambat! Aku ada janji makan siang dengannya, Yuan pasti sudah menunggu lama. — Batin Rose.
"Oh iya Yana, Feng, aku pergi dulu ya." Ucap Rose setelah memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Tunggu, kau ingin pergi kemana? Apa kau tidak ingin makan siang bersama kami?" Tanya Feng.
Rose yang tadinya sudah berbalik dan berjalan menjauh, ia menoleh, menatap Yana dan Feng dengan senyum meminta maaf.
"Maaf, aku tidak bisa, mungkin kita bertiga bisa makan bersama lain kali. Aku pergi, sampai jumpa besok." Ujar Rose, kemudian berlari pergi, menjauh dari pandangan kedua orang itu.
•••
Yuan mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja cafe. Saat ini, pria itu sedang duduk menunggu di sebuah cafe yang ada di dekat kampusnya.
Pagi tadi, dirinya dan juga sang kekasih sudah membuat janji, janji untuk makan siang bersama di cafe ini. Tapi sampai sekarang, kekasihnya itu belum juga datang.
Beberapa menit berlalu, akhirnya sebuah bunyi lonceng dari pintu cafe itu terdengar, kali ini Yuan tidak berharap banyak kalau itu adalah Rose, karena sebelumnya ia selalu tersenyum saat dirinya mendengar lonceng itu berbunyi, tapi saat ini, dengan raut wajah lesunya, Yuan menoleh ke arah pintu masuk cafe itu.
"Yuan, maaf aku— "
"Lama." Keluh Yuan.
"Maaf, aku tadi— "
"Lupa?"
"Bukan, bukan lupa. Aku ingat kalau kita akan makan siang bersama disini. Tapi tadi ketua prodi fakultasku tiba-tiba menyuruh seluruh mahasiswa semester tujuh untuk berkumpul ke ruang seminar." Kata Rose.
"Oh, masalah magang?" Tanya Yuan, ia hanya menebak, tapi tebakannya itu benar, karena ketua prodi fakultasnya sendiri juga melakukan hal yang sama.
"Eh? Itu kau sudah tahu."
"Aku hanya menebak, ketua prodi fakultasku juga menyuruh kami mahasiswa semester tujuh untuk berkumpul di ruang seminar." Ujar Yuan.
"Aaa— jadi semua mahasiswa semester tujuh serempak diarahkan untuk persiapan magang ya." Ucap Rose yang kemudian duduk berhadapan dengan Yuan.
"Kau ingin makan apa? Aku akan pesan." Kata Yuan.
__ADS_1
"Aku belum lapar, aku pesan minum saja." Jawab Rose.
"Kau yakin tidak ingin pesan makanan? Bagaimana kalau nanti sakit? Kau harus makan, aku— "
"Yuan, aku sama sekali tidak lapar. Lagipula, sebentar lagi aku juga harus berangkat bekerja, disana nanti juga dapat jatah makan siang, aku bisa makan di restoran ibumu dengan karyawan lainnya." Ujar Rose.
"Ya ya, baiklah, aku pesan minuman dulu, kau mau pesan minum apa?"
"Samakan saja dengan punyamu." Kata Rose.
"Aku pesan kopi. Apa kau suka kopi?"
"Kenapa tidak, asal bukan kopi hitam."
"Cappuccino, aku pesan cappucino, apa kau suka jenis kopi itu?"
"Em, suka."
"Oke, aku akan pesan." Ujar Yuan, setelah itu, ia berjalan menuju tempat untuk memesan menu.
Beberapa menit kemudian, Yuan kembali lagi ke meja mereka dengan membawa dua gelas ice cappucino.
"Ini, punyamu." Ujar Yuan sembari menyodorkan segelas ice cappucino ke arah Rose.
"Terimakasih." Ucap Rose.
"Sama-sama." Kata Yuan yang telah duduk di tempatnya semula.
"Oh iya, apa kau akan magang di perusahaan ayahmu?" Tanya Rose.
"Tentu saja, memangnya aku akan magang dimana lagi? Tapi walaupun aku magang disana, tetap saja, ayah tidak akan memperlakukan aku secara khusus, dia mungkin malah akan mendidikku dengan tegas." Ujar Yuan.
"Benar juga, bagaimanapun, kau ini calon pewaris perusahaannya, ketua Ray mendidikmu dan melatihmu dengan tegas juga untuk kebaikan masa depanmu sendiri." Kata Rose.
Yuan tersenyum,
"Iya. Lalu, bagaimana denganmu? Dimana kau akan menjadi pegawai magang?" Tanya Yuan.
"Em— sepertinya di firma hukum ayahnya Yana." Jawab Rose.
"Yana? Yana itu siapa?"
"Astaga, kau bahkan tidak mengenal temanku. Dia itu anak dari seorang pengacara senior sekaligus pemilik firma hukum yang sangat terkenal di negara ini. Kau pernah mendengar nama belakang Yudistira?"
"Antonio Yudistira? Pemilik firma hukum Anyu?"
"Ah begitu ya. Tapi kau harus tahu kalau firma hukum itu ada dibawah naungan perusahaan Tnp group." Ujar Yuan dengan ekspresi bangganya.
"Sombong." Celetuk Rose.
"Bukan sombong, tapi fakta."
"Ya ya, perusahaan Tnp group memang hebat. Aku akui itu." Kata Rose.
"Tapi, bukankah kau ingin menjadi seorang jaksa? Kenapa kau tidak pergi magang saja ke instansi pemerintahan kalau memang ingin menjadi seorang jaksa? Kenapa malah memilih magang di firma hukum yang pastinya akan melatihmu menjadi seorang pengacara."
"Itu dulu. Dulu saat ibu masih ada, aku ingin menjadi seorang jaksa untuk melindunginya dari pria jahat yang aku panggil ayah." Kata Rose.
"Lalu sekarang, setelah ibumu tidak ada lagi, kau ingin menyerah dengan impianmu itu?" Tanya Yuan.
"Bukannya menyerah. Aku masih berjuang di bidang hukum. Hanya saja— kali ini, aku membuat rencana masa depan yang berbeda." Jawab Rose.
"Oh ya? Jadi sekarang apa rencanamu?"
"Aku ingin menjadi seorang pengacara hebat yang akan selalu ada di sisi-mu, aku ingin menjadi orang pertama yang akan membelamu, apapun yang terjadi, selama kau berada di pihak yang benar." Kata Rose dengan hati yang bersungguh-sungguh.
"Kalau aku berada di pihak yang salah bagaimana?"
"Aku tetap akan menjadi pengacaramu, hanya saja, tidak untuk membebaskanmu, tapi mendampingimu menerima hukuman."
Yuan tertawa mendengarnya,
"Kau ingin di penjara bersamaku?"
"Bukan seperti itu."
"Lalu?"
"Aku akan membantumu agar hakim meringankan hukumannya padamu. Tapi kau jangan sampai ada di pihak yang salah."
"Astaga, aku hanya bercanda, kau terlihat serius sekali." Ujar Yuan di sela-sela tawanya.
"Aku memang sedang serius, kau harus ingat Yuan. Aku tidak akan pernah pergi dari sisimu, apapun yang terjadi, seberapa banyak duri ditubuhmu, aku akan tetap mendekat ke arahmu."
"Iya iya, aku tahu, aku tahu kau sangat mencintaiku. Tapi kalau boleh tahu, sebesar apa cintamu padaku?"
"Sebesar biji bunga matahari."
__ADS_1
"Apa? Sekecil itu?!"
"Siapa bilang itu kecil. Asalkan aku menanamnya di dalam hatiku, lalu menumpuk dan merawatnya dengan baik, itu akan tumbuh besar menjadi bunga matahari yang indah." Ujar Rose sembari tersenyum manis ke arah Yuan.
"Ck, kau pandai menggoda ya?"
"Tidak, tidak pada semua pria, hanya kau saja." Ucap Rose yang mampu membuat Yuan terpaksa harus mengalihkan pandangannya karena tidak ingin gadisnya itu melihatnya merona.
"Kau tersipu malu ya?" Tanya Rose.
"Tidak." Sanggah Yuan.
"Tapi aku melihatnya, wajahmu memerah." Kata Rose.
"Kau salah lihat."
"Penglihatanku masih bagus kok." Ujar Rose yang masih mencoba menggoda Yuan.
"Oh ya? Aku ingat sekali, kau tadi bilang ada duri di tubuhku, tapi lihatlah, tidak ada duri apapun di tubuhku, itu artinya penglihatanmu memang bermasalah."
"Ck, bodoh, itu hanya perumpamaan saja." Ujar Rose.
"Apa? Kau bilang apa? Baru saja aku mendengar kata bodoh keluar dari mulutmu, coba kalau berani katakan lagi, agar aku bisa menghukum mulutmu itu."
"Tidak."
•••
"Jadi Ken akan pindah sekolah disini juga?" Tanya Ana.
"Juga? Memangnya siapa lagi yang akan pindah?" Tanya Kenan.
"Ah itu, anak dari teman bisnisnya kakak iparmu, dia juga pindah sekolah dari luar negeri dan sekarang kuliah di kampus yang sama dengan Yuan." Jawab Ana.
"Oh." Ucap Kenan.
"Memangnya, Ken sekarang SMA kelas berapa?" Tanya Ray.
"Maaf ya paman, aku ini walaupun usia masih tujuh belas tahun, tapi sudah menjadi seorang mahasiswa semester tiga." Kata Ken dengan raut wajah yang sama persis dengan Kenan dulu, datar.
"Benar-benar mirip ayahnya, sombong, menjengkelkan." Gumam Ray.
"Wah, memang tidak salah lagi, kau itu anak dari Kenan." Kata Ana.
"Tapi kecerdasanku ini turunan dari ibuku bukan ayah. Karena setahuku, ayah itu lulus kuliah saja sudah umur dua puluh tiga tahun." Ujar Ken.
"Sembarang kalau bicara." Ucap Kenan.
"Tapi memang benarkan?"
"Iya benar, tapi walaupun seperti itu, bukan berarti ayahmu ini bodoh."
"Disini tidak ada yang berkata kalau ayah itu orang bodoh. Ayah sendiri yang mengakuinya." Ujar Ken.
"Kau ini benar-benar kur— "
"Sudahlah Kenan, kau memang harus berlapang dada menghadapi anak sendiri, apalagi anak laki-laki, memang butuh kesabaran ekstra." Ujar Ray yang merasa kalau keadaan Kenan saat ini sering ia alami juga. Selalu kalah telak dengan anaknya.
Ana tertawa kecil melihat kedua pria yang kini telah menjadi seorang ayah itu.
"Ayo sudahi pertengkarannya, mau sampai kapan kalian akan bertengkar terus? Ah iya, bahas saja masalah sebelumnya. Jadi Ken, kau ingin pindah ke universitas mana?" Tanya Ana setelah menjadi penengah di antara keributan kecil itu.
"Sama dengan kakak sepupu Yuan." Jawab Ken.
"Jurusan apa? Jangan bilang manajemen bisnis juga." Ujar Ray.
"Eh, paman kok bisa tahu jurusan yang Ken pilih?" Ucap Ken.
"Bagaimana tidak tahu, kau itu seperti orang yang suka menduplikat Yuan. Karena Yuan kuliah di jurusan manajemen bisnis, kau pasti juga menduplikatnya." Ujar Ray.
"Tapi kali ini, aku memilih jurusan bukan karena mengikuti kakak sepupu, aku memilih manajemen bisnis karena mengikuti ayahku." Kata Ken.
"Ya terserah kau saja, intinya itu sama dengan Yuan."
"Sama bukan berarti serupa paman." Sahut Ken.
"Astaga, bocah ini. Kenapa kau tidak masuk jurusan hukum saja hah? Pandai sekali mendebat orang lain." Kata Ray.
"Sudahlah Ray." Ucap Ana.
"Kenan, aku turut prihatin dengan hari-harimu. Pantas saja memorimu sedikit bermasalah, pasti karena terlalu stres menghadapi bocah ini." Ujar Ray sembari menatap kesal ke arah Ken.
Selama ini, Ray pikir, Yuan adalah seorang anak yang paling menjengkelkan di dunia ini. Tapi ternyata, ada yang lebih menjengkelkan lagi daripada Yuan, itu dia, Ken, keponakannya.
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1