
“Apa kau masih ada mata kuliah lagi?” tanya Nana.
Rose menggelengkan kepalanya, “Tidak ada.” ucapnya lirih.
“Kalau begitu, ayo ikut pulang bersamaku dan Kai.” kata Nana.
“Terimakasih Nana. Tapi maaf, aku harus menolaknya. Aku tidak ingin terus merepotkan dirimu, aku juga tidak ingin menjadi orang yang nantinya bergantung padamu. Lagipula, aku tidak langsung pulang ke apartemenku. Aku harus pergi ke restoran untuk bekerja paruh waktu.” ujar Rose.
“Rose, bukankah aku sudah pernah bilang, kau jangan terlalu sungkan padaku.” ucap Nana dengan tangan yang tampak bergerak menggenggam tangan Rose.
“Bukan seperti itu Nana. Ini bukan perihal tentang sungkan atau tidak sungkan. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang suka bergantung pada orang lain. Nana, selama aku masih bisa melakukannya sendiri, maka aku akan melakukannya sendiri. Jadi kau, tolonglah hargai usahaku.” ujar Rose.
Nana menghela nafasnya, ia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Rose benar-benar sudah menutup celah yang dapat Nana gunakan untuk membalas ucapan Rose itu.
Mereka pun akhirnya saling diam. Bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Di saat keduanya saling diam, tiba-tiba terdengar bunyi nada dering panggilan masuk dari ponsel Nana.
Nada dering itu terputar dengan apik, membuat Nana langsung segera mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas.
Gadis itu mengambil ponselnya dengan raut wajah penuh antuasiasme-nya. Ya, itu karena nada dering yang baru saja terputar di ponsel Nana adalah nada dering yang sengaja Nana atur khusus untuk nomor seseorang yang sangat spesial baginya, yaitu, nomor Kai.
“Siapa? Angkat saja kalau memang penting.” ucap Rose ketika melihat Nana yang tampak memandangi ponselnya. Gadis itu terlihat ingin sekali mengangkatnya, namun merasa tidak enak dengan Rose yang masih merasa sedih di sampingnya.
“Dari Kai.” jawab Nana, yang masih terus memandangi layar ponselnya. “Kalau dia menelpon, hal yang paling penting pasti menanyakan keberadaan ku.” kata Nana.
Rose tersenyum, merasa paham betul dengan perasaan Nana saat ini. Gadis itu sedang kasmaran.
Mendapatkan panggilan dari sang pujaan hati adalah hal yang paling membahagiakan bagi seseorang yang sedang di buai oleh cinta.
“Angkat saja, dia pasti sedang mencarimu.” ujar Rose.
“Em, baiklah, aku akan mengangkatnya.” ucap Nana yang langsung menggeser tombol warna hijau.
Tanpa pergi dari sisi Rose, Nana pun mengangkat panggilan dari kekasihnya itu.
“Sayang.” panggil Kai dari seberang sana.
“Hm? Ada apa?” tanya Nana.
“Kau ada dimana sekarang? Ayo ketemu, ada hal penting yang ingin aku beritahukan padamu.” ucap Kai.
“Aku sedang berada di taman kampus bersama Rose, dekat air mancur. Hal penting apa yang ingin kau katakan? Katakan saja langsung.” ujar Nana.
“Ada Rose juga di sana? Ah, kebetulan sekali. Sekarang coba kau loud-speaker panggilan ini, biarkan Rose juga mendengarnya.” kata Kai.
“Eh? Iya iya baiklah.” ucap Nana sembari menekan tombol loud-speaker di ponselnya.
“Sudah, sudah aku lakukan. Sekarang apa yang ingin kau katakan?”
“Tunggu sebentar. Tadi kau bilang, kau ada di taman kampus kan? Dekat air mancur?” tanya Kai.
“Iya.” jawab Nana.
“Oke, aku melihatmu. Aku akan segera kesana, matikan saja panggilannya, akan aku katakan secara langsung saja.” ujar Kai sembari melambaikan tangannya ke arah Nana.
“Ya, aku melihatmu juga. Akan aku matikan panggilannya. Cepatlah kemari.” ucap Nana, ia membalas lambaian tangan Kai.
Pria itu kemudian tampak berlari menghampiri kekasihnya dan juga Rose yang duduk di kursi taman kampus itu.
“Akhirnya ketemu juga.” ucap Kai dengan nafas yang tampak terengah-engah.
“Ada apa denganmu? Hal penting apa yang ingin kau katakan padaku dan juga Rose? Tapi sebelumnya, duduklah dulu, kau sampai terengah-engah seperti itu.” ujar Nana.
Ya ampun, dalam dua hari ini, sudah dua kali aku melihat orang terengah-engah karena berlarian menghampiriku. Aku benar-benar merasa bersalah disini. — batin Rose.
“Ini minumlah.” ucap Nana sembari memberikan sebotol air mineral bekas minumnya itu kepada sang kekasih, Kai.
__ADS_1
“Ya, terimakasih sayang.” ucap Kai yang langsung merampas air mineral itu dan meminumnya habis.
“Kau menghabiskannya?” tanya Nana.
“Eh? Apa tidak boleh? Kalau begitu aku akan menggantinya sekarang juga. Aku akan pergi membelikan yang baru untukmu.” ujar Kai.
“Ck, apa aku berkata seolah melarangmu untuk menghabiskannya? Sudah, lupakan masalah tentang air minum itu. Sekarang karena kau sudah bernapas dengan normal, coba kau katakan pada kami, apa yang sebenarnya membuatmu sampai berlarian seperti tadi?” tanya Nana.
Kai mengangguk, lalu kemudian menghela nafasnya sesaat.
“Ini tentang Yuan.” ucap Kai, memulai pembicaraannya.
“Yuan? Apa kau tahu dia ada di mana? Aku sudah mencarinya sejak pagi tadi. Tapi tidak menemukannya juga.” ujar Rose yang langsung tampak antusiasme ketika mendengar Kai menyebut nama kekasihnya itu.
“Kau mencarinya?” tanya Kai pada Rose.
“Iya.” jawab Rose.
“Di kampus?”
“Eh, apa?” tanya Rose yang kurang asupan fokus. Sehingga otaknya sedikit kurang cepat tanggap, tidak seperti biasanya.
“Ck, kau mencari Yuan di kampus ini?” tanya Kai secara menyeluruh dan lengkap.
“Iya, tapi sampai sekarang belum juga ketemu. Apa dia itu bersembunyi? Aku bahkan tadi sampai masuk ke dalam ruangan khusus kalian. Tapi disana kosong, tidak ada siapapun.” jawab Rose.
“Memang jarang ada yang masuk ke dalam sana. Sekarang ini, mereka para empat pria populer sedang sibuk dengan urusan kuliah masing-masing. Jadi tidak ada waktu luang bagi mereka untuk berkumpul dan menghabiskan waktu disana.” kata Nana.
“Sayang, lupakan dulu tentang hal itu. Sekarang kita balik lagi ke topik awal yaitu Yuan.” ujar Kai.
“Ck, Lagipula, kau itu kalau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja secara langsung. Jangan bertele-tele, membuatku kehilangan kesabaran saja.” kata Nana.
“Iya iya baiklah, akan aku katakan secara langsung. Jadi begini, tadi ibuku menelpon, dia bilang Yuan sakit. Tadi siang bib—”
“Tunggu, kau bilang apa barusan? Sakit? Yuan sakit?! Katakan padaku, aku pasti salah dengar kan?” tanya Rose, langsung panik.
“Eh? Jadi dia beneran sakit ya? Bukan pura-pura sakit? Astaga.” ucap Nana.
“Oh iya. Maaf Rose, kemarin aku lupa memberitahumu. Jadi, Yuan itu kemarin pulang lebih awal kabarnya karena dia ijin tidak enak badan. Tapi aku pikir dia itu hanya berpura-pura saja. Aku pikir, Yuan hanya karena ingin menghindari dirimu, makanya dia pulang lebih awal dan membuat alasan klasik seperti itu.” ujar Nana dengan raut wajah penuh penyesalan.
Rose menghela nafasnya, saat ini, ia sungguh tidak peduli dengan apa yang terjadi kemarin. Yang Rose pedulikan sekarang adalah bagaimana kondisi Yuan.
“Kai, apa kau tahu bagaimana kondisi Yuan? Apa sakitnya cukup parah?” tanya Rose, masih dengan raut wajah khawatir-nya.
Kai diam sejenak, seperti mengingat kembali apa yang ibunya tadi sampaikan padanya.
“Dia sepertinya demam, bahkan tangan bibi Ana rasanya seperti terbakar saat dia memegang kulit Yuan, itu yang bibi Ana bilang. Masalahnya, tadi sewaktu ibuku menelpon, dokter belum datang. Lagipula, kondisi Yuan baru diketahui siang tadi oleh bibi Ana. Kata ibuku, untung saja bibi Ana memaksa masuk ke dalam kamar Yuan. Kalau tidak, mungkin Yuan sudah dalam kondisi bahaya hanya karena demam tinggi yang tidak segera di atasi.” ujar Kai.
Rose tampak semakin khawatir mendengar perkataan Kai itu. Ia bahkan terlihat sudah berdiri dari tempat duduknya. Ingin pergi melihat kondisi Yuan.
“Eh, kau ingin pergi kemana? Jangan bilang, kau ingin pergi menemui Yuan? Rose, rumah keluarga Gavin bukan sembarangan orang bisa memasukinya.” kata Kai yang berhasil membuat Rose menghentikan langkahnya.
“Lalu aku harus bagaimana?! Tidak mungkin aku hanya duduk diam saja. Berdoa saja juga tidak bisa menutupi rasa khawatir-ku.” ujar Rose.
“Sebelum aku benar-benar melihat kondisinya secara langsung, bagaimana aku bisa makan dan tidur dengan tenang? Kepalaku ini mungkin hanya akan terisi dengan pertanyaan tentang kondisinya, sekarang pun bernapas saja rasanya tidak nyaman.” ucap Rose, lagi.
“Ya tuhan, apa ini karma untukku karena berpacaran dengan orang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dariku? Ini pasti benar-benar hukuman untukku karena tidak tahu malu dan juga tidak tahu diri, sungguh menyedihkan.” sambungnya.
Rose sudah tahu kalau ia tidak dapat menemui Yuan dengan mudah. Tapi dirinya tetap harus melihat Yuan bagaimanapun caranya, itu yang Rose pikirkan.
Kemudian, air mata Rose tampak mengalir deras membanjiri pipinya. Gadis itu menangis dengan keputus-asaannya.
“Rumah keluarga Gavin memang tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalamnya. Tapi, apa kalian berdua ini sudah lupa? Aku ini juga termasuk salah satu anggota keluarga Gavin. Jadi kau tenang saja Rose. Selama masih ada aku, kau bisa keluar masuk dengan bebas ke dalam rumah itu. Aku akan membawamu kesana, hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini juga. Ayo” kata Nana sembari meraih lengan Rose, mengajak temannya itu untuk pergi bersama kerumah Yuan.
•••
“Tuan besar, akhirnya anda pulang. Nyonya besar sudah sejak tadi menanyakan kapan anda pulang.” ujar seorang pelayan yang masih tampak berusia dua puluhan lima ke atas.
__ADS_1
Ray menatap sekilas pelayan rumahnya itu,
“Dimana istriku?” tanya Ray sembari melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
“Ada di dalam kamar tuan muda Yuan.” jawab pelayan tersebut.
Setelah mendengar jawaban dari pelayannya itu, Ray langsung melangkahkan kakinya pergi menuju ke tempat yang pelayannya tadi katakan.
“Dokter Liam masih ada di sana juga?” tanya Ray sembari melangkah lebar menuju kamar Yuan.
“Tidak ada, tuan. Dokter Liam sudah pergi sejak setengah jam yang lalu.” jawab si pelayan.
“Baiklah, kau boleh kembali ke pekerjaanmu.” ujar Ray sembari melepaskan jas kerjanya, lalu ia berikan kepada pelayan itu.
“Baik tuan besar.” ucap si pelayan yang kemudian berhenti mengikuti langkah kaki tuan besarnya yang semakin lebar dan cepat.
Ray tampak melangkahkan kakinya menaiki anak-anak tangga yang terbuat dari marmer itu.
Ia melangkah dengan gerakan cepat menuju kamar putranya.
Dari kejauhan, pintu kamar Yuan tampak terbuka lebar. Lalu beberapa pelayan terlihat keluar dari dalam kamar dan menutup kembali pintu kamar tersebut.
“Tuan besar.” ucap para pelayan itu dengan kepala menunduk hormat pada Ray.
“Apa yang kalian lakukan di dalam kamar Yuan?” tanya Ray.
“Kami mengantarkan makanan tuan.” jawab salah seorang dari tiga pelayan itu.
“Makanan? Apa Yuan sudah sadar?” tanya Ray, lagi.
“Sudah, tapi masih terlihat lemas dan tidak memiliki tenaga. Karena itu nyonya besar Ana dan juga nyonya Calista menyuruh kami untuk memasak makanan yang bergizi untuk tuan muda Yuan.” kata salah satu pelayan itu.
“Oh, baguslah kalau sudah sadar. Kalian boleh pergi.” ucap Ray yang langsung ditanggapi dengan anggukan dan ucapan ‘permisi’ dari tiga pelayan rumahnya.
Setelah itu, Ray kembali melangkahkan kakinya, membuka kamar Yuan, memasukinya, lalu menutupnya kembali dengan rapat.
“Ingat jalan pulang juga akhirnya? Aku pikir tadi kau tersesat ke negeri Wonderland sampai butuh waktu lama pulang ke rumah.” ujar Ana yang tampak duduk di sisi ranjang Yuan.
Wanita paruh baya itu saat ini terlihat seperti seorang madam yang siap memarahi budaknya.
“Sudahlah Ana, setidaknya suamimu itu sudah pulang demi anaknya, itu sudah bagus sekali.” ucap Nenek Calista yang kebetulan memang ada di dalam kamar Yuan juga.
“Tidak ibu mertua. Dia itu pulang ke rumah bukan demi anaknya, pasti juga karena takut dengan ancaman dariku. Iya kan? Aku tahu pasti dirimu itu lebih mementingkan urusan pekerjaan daripada urusan anaknya sendiri.” oceh Ana.
“Mommy sudahlah, jangan ribut. Yuan ingin istirahat pun tidak bisa. Lagipula, Yuan hanya sakit demam biasa, tidak perlu sampai di temani oleh mommy, grandma dan bahkan juga daddy. Yuan ini sudah dewasa mom, malu tahu kalau sampai teman Juna yang lain tahu. Mereka nanti mengira kalau Yuan ini anak manja.” ujar Yuan dengan nada lemasnya.
“Tuh dengar apa yang putraku katakan. Ck, kau ini jangan terlalu membuatnya lembek.” ucap Ray kepada istrinya.
“Apa kau bilang tadi? Yuan, dia putramu? Enak saja, jangan sembarangan bicara ya. Dia itu putraku. Aku ini yang sudah kesakitan dan susah payah melahirkannya. Kau, apa yang sudah kau perbuat untuknya? Hanya bisa memberikan fasilitas saja? Aku pun juga mampu.” kata Ana yang seolah sedang berebut hak asuh dengan suami sah-nya sendiri.
“Mom, dad, tolong berhenti. Ayolah, Yuan butuh ketenangan untuk istirahat. Jadi seharusnya kalian berdua itu tenang, bukannya malah bertengkar karena hal sepele seperti ini. Lagian kalian ini masih mommy dan daddy-ku. Aku ini sama-sama putra kalian berdua. Jadi jangan berebut apalagi sampai bertengkar seperti tadi. Sakit kepala Yuan melihatnya.” keluh Yuan.
Ana menghela nafasnya, ia menatap Ray dengan raut masamnya, kemudian setelah itu beralih pada Yuan yang sekarang tampak diam bersandar pada kepala ranjang.
“Maafkan mommy ya. Apa kau masih mau makan lagi? Apa ada yang kau inginkan?” tanya Ana.
“Jangan memanjakannya. Lagipula, dia itu sedang sakit, tidak semua makanan boleh dia makan. Dan juga, tidak semua keinginan bisa dituruti. Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah mengatakan atau menanyakan pertanyaan seperti ini ‘apa yang kau inginkan?’ itu sangat buruk. Terkadang, ada saatnya kau harus tegas, lembut dan juga pertengahan.” kata Ray sembari berjalan menghampiri ranjang Yuan.
“Apa kau merasa lebih baik sekarang?” tanya Ray ketika dirinya sudah sampai didekat sang anak.
“Em, lebih baik dari sebelumnya.” jawab Yuan.
“Syukurlah.” ucap Ray. Pria paruh baya itu kemudian mengulurkan tangannya, ia mengusap puncak kepala Yuan dengan lembut dan sedikit manly.
“Cepatlah sembuh. Daddy tahu, anak daddy ini pasti kuat, tidak akan mungkin dapat dikalahkan oleh rasa sakit. Jadi tegakkan badanmu dan lekas sembuh, berjanjilah.” kata Ray.
“Em, aku berjanji. Aku pasti akan sembuh secepatnya.” ucap Yuan.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍