The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Magang (bagian satu)


__ADS_3

Hari selanjutnya, pagi hari pukul tujuh lewat lima belas menit.


Yuan terlihat sudah berdiri di depan pintu apartemen Rose.


Tidak lama kemudian, pintu apartemen itu terbuka. Memperlihatkan sosok gadis yang seketika itu membuat Yuan tersenyum sumringah.


“Selamat pagi, tuan putri Rose.” ucap Yuan.


Rose tersenyum, namun kemudian mendesis ke arah Yuan.


“Jangan berlebihan.” kata Rose sembari mengunci pintu apartemennya.


Yuan hanya tersenyum lebar menanggapinya. Lalu kemudian ia menyadari sesuatu yang aneh. “Temanmu yang bernama Yana itu mana?” tanya Yuan.


Seingat Yuan, semalam Yana menginap di rumah Rose. Tapi kenapa pagi ini tidak terlihat? Dan lagi, setelah Rose keluar dari dalam apartemennya, gadis itu langsung mengunci pintunya, ia tidak terlihat menunggu seseorang. Itulah kenapa Yuan merasa aneh dan heran.


“Eh? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan keberadaannya?” tanya Rose setelah memasukkan kunci apartemen ke dalam tasnya.


“Jangan cemburu, aku bertanya karena merasa aneh saja. Bukankah semalam dia menginap di rumahmu? Tapi kenapa sekarang gadis bermulut pedas itu tidak terlihat? Kau juga langsung mengunci pintu apartemenmu.” kata Yuan.


“Ck, siapa yang cemburu. Yana tadi pagi jam lima subuh sudah pulang. Makanya sekarang kau tidak melihatnya di apartemenku.” ujar Rose.


“Oh, baguslah. Kalau begitu, ayo berangkat.” ucap Yuan yang kemudian tampak meraih tangan Rose, lalu menggenggamnya.


Yuan menggandeng tangan Rose sembari berjalan bersama gadisnya itu keluar dari gedung apartemen.


“Bagus apanya?”


“Ya bagus, karena dia tidak akan menjadi pengganggu kita berdua.” ujar Yuan.


“Yuan, yang kamu sebut pengganggu itu teman baik aku loh.” ucap Rose dengan nada mengingatkan.


“Iya, iya maaf. Kau memang selalu membela dirinya daripada aku yang padahal kekasihmu sendiri.” protes Yuan.


“Jangan mengeluh seperti itu. Lagipula, kalian berdua itu sama-sama orang yang sangat penting untukku.” kata Rose.


“Iya, aku mengerti.” ucap Yuan sembari menghentikan langkah kakinya tepat di depan sebuah mobil hitam miliknya.


Yuan pun kemudian membukakan pintu mobil bagian kiri untuk Rose. “Ayo masuk.” katanya.


“Terimakasih.” ucap Rose sembari masuk ke dalam mobil tersebut.


Setelah Rose masuk, Yuan kembali menutup pintu mobilnya. Lalu ia berjalan ke sisi kanan mobil, membuka pintu mobil tersebut dan masuk ke dalamnya.


“Sudah pakai seatbelt-nya?” tanya Yuan sembari memasang seatbelt-nya sendiri.


“Ah iya, hampir lupa.” ucap Rose, ia kemudian meraih seatbelt dan mulai memasangnya sendiri.


“Sini, biar aku bantu.” ujar Yuan. Pria itu kemudian mengambil alih seatbelt yang Rose pegang dan mulai memasangkannya untuk Rose.


Setelah selesai memakaikan seatbelt itu, Yuan pun mendongak ke arah Rose, membuat Rose harus sedikit mengangkat kepalanya ke atas agar tidak terlalu dekat dengan Yuan.


“Apa kau tidak ingin mengucapkan terimakasih dengan ini?” tanya Yuan sembari menyentuh bibir ranum milik Rose.


“Terimakasih.” ucap Rose. Ia sebenarnya paham dengan maksud Yuan, tapi dengan sengaja ia berpura-pura salah pengertian, agar Yuan berpikir kalau Rose sudah salah mengira maksud dari kata 'dengan ini' yang sebenarnya memiliki pengertian sebagai ucapan terimakasih dengan sebuah kecupan.


“Ck, payah.” kata Yuan yang kemudian menjauh dari Rose.


Rose pun tampak menghembuskan nafas leganya setelah ia melihat Yuan menjauh darinya dan mulai menghidupkan mesin mobil.


“Kau magang di firma hukum Anyu mananya?” tanya Yuan setelah mobil yang ia kendarai melaju ke jalanan.


“Eh? Maksdunya bagaimana?”


“Astaga, kenapa pagi ini otakmu itu susah sekali koneksinya sih? Makanya kalau pagi itu minum air putih yang banyak biar kepalamu itu mencair, tidak beku seperti ini.” keluh Yuan.


“Maaf. Tapi aku sungguh tidak paham dengan pertanyaanmu tadi.” ujar Rose.


Yuan terlihat mengehela nafasnya sejenak. Lalu kemudian, sekilas ia melirik ke arah Rose yang tampak menatap dirinya.


“Lokasimu magang di firma hukum Anyu itu di gedung pusatnya atau di gedung cabangnya? Kalau di bagian cabang, cabang yang di mananya? Masalahnya cabang firma hukum Anyu itu ada tiga. Di jalan Greenpeace, Newland, sama di jalan Skyland.”


“Aku di gedung pusatnya.” ujar Rose.


“Ck, kenapa kau tidak mengatakannya sebelum aku berbicara panjang lebar?” kata Yuan.

__ADS_1


“Memotong pembicaraan orang kan tidak baik Yuan.” ujar Rose memberikan alasannya.


Yuan hanya menghela nafasnya, ia mengalah.


“Rose, satu hal yang harus kau ingat dan jangan pernah kau lupakan selama magang di sana.” kata Yuan tanpa menoleh pada Rose yang kini masih menatapnya.


“Apa?” tanya Rose.


“Ingat dan jangan pernah lupa untuk terus menjaga jarak dengan Feng. Kau juga tidak boleh terlalu sering bertemu dengannya.” ucap Yuan.


“Iya, aku tahu. Lagipula, memangnya Feng itu pasien positif covid nineteen? Pakai acara jaga jarak segala.” ujar Rose.


“Ck, jangan membantah perkataanku, ingat saja apa yang aku katakan dan jangan coba-coba untuk melupakan-nya apalagi mengabaikannya.” kata Yuan.


“Iya Yuan, kau tenang saja. Aku tidak akan sesering mungkin bertemu dengan Feng, lagipula kami kan berbeda ruangan. Mungkin intensitas pertemuan kami sama seperti di kampus, tidak akan terlalu sering. Kecuali— ” ujar Rose, sengaja menggantungkan kalimatnya.


“Kecuali apa?” tanya Yuan sembari menatap sekilas ke arah Rose, lalu kemudian kembali fokus pada jalanan.


“Kecuali dia yang menemuiku. Walaupun aku berusaha menjauhinya kalau dia sendiri yang menemuiku bagaimana? Apalagi kalau jam makan siang, Feng pasti ikut makan siang bersamaku dan Yana juga.” kata Rose.


“Itulah kenapa aku sangat tidak suka melihatmu magang di tempat yang sama dengannya.” ujar Yuan.


“Kalau begitu seperti ini saja, bagaimana kalau setiap jam makan siang, kita bertemu? Jadi, kita bisa makan siang bersama. Lagipula, aku bisa meluangkan waktu untuk makan siang di luar kantor bersamamu.” kata Rose.


“Benarkah? Apa tidak masalah?” tanya Yuan.


“Sepertinya tidak.” jawab Rose sembari tersenyum.


“Baiklah. Tapi aku tidak janji. Masalahnya, ayahku pasti sungguh akan mendidikku dengan tegas di perusahaan. Jadi, aku tidak tahu, apakah aku bisa punya waktu luang atau tidak untuk keluar dan bertemu denganmu. Karena itu aku tidak akan berjanji. Kau— tidak masalah kan? Aku sungguh minta maaf.” ujar Yuan.


“Ya, kalau memang seperti itu mau bagaimana lagi. Kita sekarang sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Kita juga tidak bisa menyalahkan keadaan. Ini semua juga perjuangan kita untuk menciptakan masa depan yang baik. Tentu saja aku akan memahamimu. Jadi tidak masalah bagiku. Kalau kau bisa keluar, hubungi saja aku.” kata Rose.


Yuan pun tersenyum mendengarnya, ia merasa terharu dengan perkataan Rose barusan. Pria itu kemudian tampak mengacak-acak lembut rambut pendek Rose yang sudah tertata rapi.


“Yuan, kau membuat tatanan rambutku rusak.” keluh Rose sembari mengambil sisir dan juga cermin yang ia simpan di dalam tasnya.


“Sejak kapan kau menyimpan benda-benda seperti itu di dalam tas mu? Dan juga, sejak kapan kau peduli dengan penampilanmu? Ck, apa karena kau akan bertemu dengan Feng, makanya kau berdandan seperti sekarang ini?” kata Yuan yang sebenarnya hanya bercanda.


Rose yang tadinya sedang menyisir rambutnya, ia pun terpaksa menghentikan aktivitasnya tersebut karena berpikir kalau Yuan salah paham lagi padanya.


Yuan tertawa kecil mendengarnya. Padahal tadi ia benar-benar hanya bercanda, tapi Rose menanggapinya dengan serius.


“Ya ampun Rose. Kau terlihat tegang sekali, aku itu hanya bercanda padamu. Kenapa kau harus berkata seserius itu? Ayolah, rilekskan dirimu sejenak. Walaupun ini hari pertamamu magang, tapi juga jangan setegang dan sekaku itu.” ujar Yuan sembari menoleh sekilas ke arah kekasihnya yang tampak mengerucutkan bibir.


Ekspresi Rose itu sungguh membuat Yuan semakin mengencangkan suara tawanya.


“Sama sekali tidak ada yang lucu.” ucap Rose dengan nada kesalnya.


•••


Di sebuah kamar yang di desain dengan perpaduan keeleganan dan kemewahan. Terlihat seorang wanita paruh baya yang tampak memijat pelipisnya setelah baru saja membuka matanya.


Ana mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya temaram dari lampu tidur.


Tirai kamar yang berwarna abu-abu bercampur warna hitam pekat itu bahkan belum dibuka, membuat cahaya matahari yang sudah bersinar sejak beberapa jam yang lalu terhalang masuk ke dalam kamar tersebut.


“Ini jam berapa?” gumam Ana dengan suara parau khas orang bangun tidur.


Ana pun kemudian mengernyitkan matanya, menajamkan penglihatannya untuk melihat ke arah jam weker yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya.


“Apa?! Sudah jam setengah sepuluh?! Aku ini kebo ya? Bagaimana bisa aku tertidur sampai jam segini?!” pekik Ana dengan mata yang langsung terbuka lebar, melenyapkan rasa kantuk yang tadi masih membelai lembut dirinya.


“Aish, aku benar-benar bangun kesiangan.” ucapnya.


Setelah itu, Ana tampak bergegas menuju ke arah kamar mandi.


Selesai membersihkan dirinya, Ana pun keluar dari dalam kamar mandi dan mulai memakai pakaian lengkapnya dengan gerakan cepat.


Lalu, karena waktu terus berjalan dan seolah-olah sedang mengejar dirinya. Ana sampai tidak sempat lagi untuk menorehkan make up lengkap pada wajahnya. Ia hanya menggunakan bedak padat dan lipstik saja. Tidak ada primer, foundation, maskara, eyeshadow, dan yang lainnya.


“Sudah tidak sempat lagi.” ucap Ana dengan mata yang tampak memandang peralatan make up-nya itu.


“Ini semua gara-gara Ray, kalau saja semalam aku bisa mengabaikan perkataannya dan tidur dengan nyenyak. Aku tidak akan mengalami insomnia yang sampai membuat diriku bangun kesiangan.” ujar Ana sembari memakai bedaknya.


“Sudah cukup seperti ini saja.” kata Ana, ia sejenak tampak menatap dirinya dari pantulan cermin.

__ADS_1


Lalu kemudian, Ana meraih tasnya dan segera keluar dari dalam kamarnya.


Ketika Ana baru saja membuka pintu kamarnya, wanita paruh baya itu dibuat kaget oleh sosok berbadan tegap yang entah sejak kapan telah berdiri di depan pintu kamar tersebut.


“Ah ya tuhan, Mengagetkanku saja.” keluh Ana pada orang itu.


“Kau bangun kesiangan?” tanya orang itu, Ray, suami Ana.


Ana menatap ke arah Ray sekilas. Tapi kemudian ia mengabaikan pria paruh baya itu dan memilih untuk pergi begitu saja.


“Ana.” panggil Ray, tapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari sang istri.


“Kau masih marah padaku ya?” tanya Ray.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Ana pun menoleh ke belakang, ke arah Ray berdiri.


“Kau pikirkan saja sendiri.” jawab Ana. Setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya.


“Ana, sayang. Dengankan aku dulu, aku sungguh minta maaf.” ucap Ray sembari melangkah mengejar Ana yang mulai menuruni tangga.


“Kau ingin minta maaf padaku?” tanya Ana tanpa menghentikan langkah kakinya.


Ana terus menuruni tangga hingga ketika sampai di tangga terakhir, ia berbalik dan menatap ke arah suaminya yang telah berada tepat di sisinya.


“Iya.” jawab Ray yang juga ikut menghentikan langkahnya.


“Kalau begitu, katakan padaku, apa kesalahanmu?” ujar Ana sembari mensedekapkan kedua tangannya dan bersandar pada sisi kanan tangga.


“Kesalahanku? Kenapa aku harus mengatakannya? Aku hanya ingin meminta maaf padamu, kenapa kau mempersulitnya?” tanya Ray.


Ana pun menatap miris Ray, membuat pria itu langsung diam seketika. Raut wajahnya yang tadi tampak kesal sekarang menciut, bukan karena takut, tapi lebih kepada kekhawatiran. Ia khawatir kalau Ana akan semakin marah padanya jika ia salah bicara satu kata saja.


“Oh, jadi kau ha-nya ingin minta maaf saja? Kalau begitu, aku tidak perlu menanggapinya.” ujar Ana, ia sengaja menekankan kata 'hanya' untuk mengintimidasi pria dihadapannya itu. Agar Ray sadar dengan apa yang telah ia katakan pada istirnya.


Memangnya permintaan maaf itu sebuah permainan? Dia bilang 'hanya ingin'? Cih, lebih baik dia simpan saja permintaan maafnya. — batin Ana.


Ana pun kemudian terlihat kembali melangkahkan kakinya, namun dalam hitungan detik, Ray sudah menahan lengan wanita paruh baya itu, ia mencegah Ana agar tidak pergi darinya sebelum permasalahan mereka selesai.


“Jangan pergi dulu. Kita selesaikan masalah kita berdua. Mau sampai kapan kau akan mengabaikan aku dan terus marah padaku?” kata Ray.


“Masalah? Aku tidak pernah berpikir kalau ada masalah di antara kita berdua. Kau saja yang terlalu banyak berpikir.” ujar Ana.


“Kalau kau tidak berpikir seperti itu. Lalu kenapa kau bangun kesiangan? Kau biasanya bangun kesiangan karena malamnya tidak bisa tidur. Jadi, pasti kau semalam mengalami insomnia karena terlalu banyak memikirkan masalah kita. Iya kan? Kau tidak bisa menyembunyikan itu dariku.” kata Ray.


“Cih, apa yang yang kau katakan? Jangan asal bicara, dan juga, jangan berbicara seolah kau tahu segalanya tentangku.” ucap Ana sembari berusaha melepaskan pegangan tangan Ray pada lengannya.


“Aku memang tahu segalanya tentangmu, sedetail mungkin aku sangat tahu. Karena kau sudah hidup bersamaku selama puluhan tahun, bagaimana bisa aku tidak mengenalmu dengan baik.” kata Ray.


“Ray, kalau kau mengenalku dengan baik, kau tidak akan membahas tentang perjodohan Yuan denganku. Apa kau tidak mengerti juga? Aku sangat benci pembahasan itu. Sama sekali tidak suka.” ujar Ana.


“Sayang, aku tahu kau tidak menyukainya. Tapi itu semua juga untuk— ”


“Untuk kebaikan Yuan?! Iya?! Selalu saja kau berkata seperti itu, tapi apa kau pernah bertanya langsung pada Yuan, apakah itu baik untuk masa depannya? Apa kau bisa memastikan kalau Yuan akan bahagia dengan perjodohan itu? Kau dan aku sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan anak kita. Jadi bagaimana bisa kau dengan mudahnya berkata kalau semua ini untuk kebaikan Yuan?!” kata Ana dengan suara lantangnya. Bahkan mungkin semua orang yang ada di rumah itu dapat mendengar perkataannya.


“Ray, asal kau tahu ya. Semua yang kau lakukan ini sudah jelas sekali hanya untuk kebaikan perusahaanmu. Kau bahkan rela mengorbankan masa depan anakmu hanya demi kemajuan perusahaan. Kau sungguh luar biasa. Aku tidak percaya kau akan menjadi seperti ini. Ambisimu itu sangat mengerikan.” sambung Ana yang kemudian berhasil melepaskan lengannya dari genggaman tangan Ray.


Setelah itu, Ana terlihat pergi meninggalkan Ray yang tampak terpaku dengan semua perkataannya.


Sama seperti puluhan tahun yang lalu, perkataan Ana kembali membuat Ray terdiam membisu dan membuat dirinya seperti patung es yang membeku.


“Ray, ada apa? Dari dalam kamar, tadi ibu mendengar suara Ana yang terdengar marah. Apa kalian sedang bertengkar?” tanya nenek Calista yang tampak berjalan mendekatinya dengan dibantu oleh perawat pribadi yang khusus merawat wanita tua itu.


Ray menghembuskan nafas beratnya, lalu kemudian berbalik menatap ibu tirinya.


“Kami memang sedang bertengkar. Tapi ibu tenang saja, semua akan selesai. Lagipula, bukankah hal wajar jika suami-istri betengkar?” kata Ray.


“Iya, itu memang wajar-wajar saja. Tapi masalahnya, ibu tidak pernah melihatmu dan Ana bertengkar seperti saat ini. Bahkan Ana sampai mengeluarkan suara lantang seperti itu padamu. Masalah yang menjadi akar pertengkaran kalian pasti sangat serius. Ibu bukannya ingin ikut campur, tapi kau cobalah yang terbaik untuk menyelesaikan masalah kalian. Ibu sungguh tidak ingin melihat kalian yang biasanya romantis, sekarang menjadi seperti sepasang musuh bebuyutan.” kata nenek Calista.


“Iya bu, Ray mengerti. Kalau begitu, Ray pamit berangkat ke kantor.”


“Iya, hati-hati di jalan.” ucap nenek Calista.


Ray pun mengangguk, lalu kemudian, pria paruh baya itu terlihat berjalan keluar dari dalam rumahnya menuju ke garasi mobilnya.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2