The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Hide and Seek


__ADS_3

Di dalam ruangan kerja Ana, Yuan tampak sudah duduk di sofa, begitupun dengan Rose yang juga duduk di sampingnya. Sedangkan Ana, si pemilik ruangan, ia duduk dihadapan kedua pasangan muda itu.


Ana menatap Yuan, menunggu anaknya itu untuk mulai berbicara.


“Yuan, ayo mulai penjelasannya, kau bilang tadi ingin menjelaskannya disini. Tapi kenapa sekarang kau hanya diam saja?” tanya Ana.


Yuan menghela nafasnya gusar, bingung harus mulai menjelaskannya darimana.


Rose yang melihat gelagat kekasihnya yang terlihat kebingungan itu, akhirnya ia pun memberanikan diri, mencoba mewakili Yuan untuk menjelaskannya pada Ana, ibu dari sang kekasih.


“Maaf bibi Ana, kalau boleh, biar saya saja yang menjelaskannya.” ujar Rose.


Ana kini beralih menatap Rose yang langsung menundukkan kepalanya ketika pandangan wanita paruh baya itu tertuju padanya.


Melihat sikap dari Rose, Ana pun menghela nafasnya.


Dia terlalu memaksakan dirinya, apa aku terlalu menekan mereka ya? — batin Ana.


“Jangan paksakan dirimu, biarkan pria disampingmu itu saja yang menjelaskannya. Kau duduk dengan tenang saja ya, jangan merasa tertekan seperti itu. Apa aku ini terlihat seperti calon ibu mertua yang jahat? Aku ini tidak sedang ingin menghukummu, jadi santailah.” ujar Ana.


“Iya, iya bibi, maaf membuat bibi berpikir seperti itu. Sekarang, saya akan bersikap lebih santai dan tidak merasa tertekan.” ucap Rose dengan nada gugupnya.


Yuan menoleh pada gadisnya itu, melihat raut wajah Rose yang tampak berkeringat dingin, membuat Yuan kembali menghela nafasnya.


Ia sungguh merasa tidak tega dengan Rose. Gadis itu, walaupun ia berkata kalau dirinya tidak merasa tertekan dan akan lebih sedikit santai. Tapi nyatanya, tubuh Rose itu sudah memberikan jawabannya, ia sebenarnya sangat takut dan juga khawatir.


“Mom, bisa tidak biar aku saja yang ada di ruangan ini, mom suruh saja dia keluar, biar aku sendiri yang menjelaskannya pada mom. Tidak perlu membawa dia.” ujar Yuan sembari menggerakkan tangannya, meraih tangan Rose, lalu menggenggamnya dengan lembut, memberikan rasa hangat dan nyaman untuk Rose, membuat gadis itu perlahan-lahan merasa tenang dengan situasi yang terjadi.


“Jangan khawatir.” Bisik Yuan dengan senyum tipisnya.


Rose menanggapinya dengan sebuah anggukan kecil.


“Iya.” gumam Rose.


Ana yang ada di hadapan mereka hanya bisa menahan senyum dengan hati terheran-heran, ia tidak menyangka jika sifat Ray benar-benar telah menurun pada sang anak. Sangat romantis dan membuat hati wanita yang di cintai merasakan kehangatan yang begitu nyaman.


“Ehem, apa kalian sedang berniat untuk pamer kemesraan di hadapanku? Yuan, kau menganggap mommy-mu ini sebagai benda mati ya?” tanya Ana yang disertai dengan deheman kerasnya.

__ADS_1


Sikap Ana itu tanpa ia sadari telah membuat Rose semakin menciutkan nyali-nya.


Hebatnya, perasaan dari Rose seakan langsung tersalur ke diri Yuan. Pria yang masih menggenggam tangan Rose itu seolah dapat merasakan kalau Rose saat ini benar-benar merasa takut juga khawatir.


Yuan bahkan tadi dapat melihat Rose yang tampak tersentak kaget ketika Ana tiba-tiba berdehem keras ke arah mereka.


Walau niat Ana yang sebenarnya hanya ingin bercanda, tapi siapa yang tahu kalau Rose salah mengartikannya.


Rose pikir, ibu dari Yuan itu sedang marah melihat dirinya dan Yuan bermesraan.


“Mom, kau membuatnya semakin ketakutan.” keluh Yuan.


“Ah? Benarkah? Astaga, Rose. Mommy hanya bercanda saja, jangan takut seperti itu. Aduh Yuan, kau lebih baik cepat menjelaskan tentang hubungan kalian pada mom. Jadi setelah itu, kau bisa membawanya pergi pulang ke rumahnya.” ujar Ana yang merasa tidak enak dengan gadis muda di hadapannya itu.


“Mom, kenapa mommy harus meminta penjelasan dari kami? Mommy sendiri sudah melihatnya dengan jelas. Lihat kami baik-baik. Tanpa kami menjelaskannya ataupun menceritakan hubungan kami pada mommy, mom pasti sudah tahu jawabannya kan?” kata Yuan.


Mendengar Yuan berkata seperti itu pada ibunya sendiri, Rose merasa tidak enak hati dengan Ana. Kekasihnya itu terdengar seperti seorang anak yang sedang membela wanita lain dihadapan wanita yang telah melahirkannya.


Bagi Rose yang telah kehilangan ibunya, merasa kalau itu adalah perbuatan yang tidak terpuji.


“Yuan, jangan membantah perkataan orangtuamu, apalagi ibumu. Selama kau masih memiliki mereka disisimu, patuhi saja perkataan mereka. Ibumu juga hanya ingin kita bercerita tentang hubungan kita, bukannya ingin memisahkan kita.” ucap Rose yang berusaha untuk tidak terlihat takut lagi.


“Dengar itu Yuan? Dengarkan perkataan kekasihmu itu. Dia benar, benar sekali. Ah ya ampun, calon menantuku sepertinya sangat bijak ya, membuatku tidak sabar ingin menimang cucu dari kalian.” ujar Ana dengan senyum merekahnya.


“Mom, apa yang coba mommy katakan? Jangan seperti itu mom, kami ini masih harus menyelesaikan pendidikan.” keluh Yuan.


“Ah iya iya. Tapi asal kau tahu, di luar sana, banyak kok orang yang kuliah tapi sudah menikah. Anggap saja itu menyelam sambil minum air, menempuh pendidikan sembari menikmati rumah tangga yang harmonis. Ah, sungguh menyenangkan.” kata Ana.


“Mommy~”


“Iya, baiklah, mommy tidak akan membahas itu lagi. Tapi sekarang, ayo cepat kau jelaskan pada mommy, jangan membuang waktumu sendiri." ujar Ana.


Yuan menghembuskan nafas beratnya, kemudian melirik arlojinya, terlihat waktu sudah bergerak cepat, hari sudah mulai sore menjelang petang, sungguh tidak terasa, ia telah duduk di ruangan ibunya itu selama kurang lebih dua jam.


Sekarang sudah pukul empat lebih dua puluh lima menit, yang artinya, kemungkinan, tidak lama lagi ayahnya— Ray akan segera datang untuk menjemput ibunya. Jadi, sebisa mungkin, Yuan harus segera menjelaskan apa yang ibunya itu ingin dengar.


Kalau sampai ayahnya datang, sedangkan Rose masih ada disana, duduk disampingnya. Yuan takut, takut sekaligus khawatir, karena ayahnya itu benar-benar memiliki selera dan keinginan yang berbeda dari ibunya.

__ADS_1


“Baik, aku akan mulai menjelaskannya pada mommy. Jadi, aku dan Rose, kami saling mengenal karena Nana. Karena Rose adalah teman baik Nana. Waktu itu aku pernah membantunya—”


“Kau membantunya apa? Tidak biasanya kau mau membantu orang yang belum kau kenal.” ujar Ana, menyela perkataan anaknya.


“Mom, aku sedang menjelaskannya padamu, tolong jangan memotong pembicaraan Yuan. Mom sendiri yang pernah bilang kalau memotong pembicaraan orang itu tidak sopan. Tapi sekarang, mom yang memakan perkataan mom itu.” kata Yuan.


“Ah baiklah, mom salah. Sekarang kau bisa lanjutkan lagi ceritanya, mom janji, mom tidak akan memotong pembicaraanmu.” ujar Ana.


Yuan menghela nafasnya, kemudian mulai melanjutkan kembali ceritanya. Ia mulai bercerita dari dirinya yang pernah kabur dari rumah, lalu menginap di rumah Rose selama beberapa hari.


Pria itu terus melanjutkan ceritanya sampai pada titik di mana dirinya menyadari perasaannya terhadap Rose, lalu pada akhirnya ia mengungkapkan perasaannya dengan sedikit keberanian dan banyak rasa gengsi.


•••


Alex terlihat duduk di sofa ruangannya. Dirinya itu tadinya berniat ingin pulang dari kantor untuk menjemput Nana.


Tapi tiba-tiba, Kakaknya, Ray datang ke ruangannya, membuat Alex mau tidak mau harus mengurungkan niatnya dan mulai membicarakan sesuatu yang serius dengan sang kakak.


“Aku sudah mendengar semuanya dari sekretaris Chenli. Jadi, bagaimana sekarang kau akan bertindak?” ujar Ray, memulai pembicaraannya.


Alex menghela nafasnya sesaat, pikirannya itu sejak tadi memang terus terarah pada masalah itu. Sejujurnya, Ia sendiri merasa belum siap untuk membuat keputusan apalagi mengambil tindakan. Dalam hal ini, Alex tidak boleh gegabah.


“Aku pikir, kita perlu penyelidikan lebih lanjut sebelum memutuskan apa yang harus kita lakukan. Kak, lagipula, wakil presdir Yohan, dia itu walaupun tampak dingin di depanku tapi sangat hangat di depanmu. Dia itu— walaupun terlihat seperti orang jahat saat berbicara denganku, tapi sebenarnya hatinya baik. Apalagi, dia itu laki-laki yang sudah membesarkan anakku, aku— ”


“Kau sedang mencoba mencampurkan masalah perusahaan dengan masalah pribadimu?” tanya Ray, sengaja memotong perkataan Alex.


“Kak, bukan seperti itu, aku, aku hanya— ”


“Alex, aku tahu apa yang kau maksud. Aku sendiri jika ada di posisimu juga akan bingung membuat keputusan. Tapi bagaimanapun juga dalam dunia bisnis, semua adalah misteri. Terkadang teman bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi sekutu. Kau harus paham itu.” ujar Ray.


“Kak, apa kau sedang mencurigai wakil presdir Yohan dan lebih percaya dengan perkataan pria bernama Hans itu? Kak Ray, kita tidak tahu pria pembohong seperti Hans itu, apa dia sedang berkata jujur atau tidak. Bisa saja dia hanya asal bicara atau sengaja menyebutkan nama wakil presdir Yohan untuk perlahan-lahan menghilangkan pondasi kokoh Tnp group.” kata Alex.


Ray menghela nafasnya, ia yang tadinya bersandar pada sofa, kali ini duduk tegap menatap Alex, adik beda ayahnya itu.


“Apa aku pernah mengatakan kalau aku percaya pada pria bernama Hans dan mencurigai Yohan yang merupakan orang kepercayaanku selama beberapa puluh tahun? Aku hanya berkata kalau dalam dunia bisnis itu penuh dengan misteri. Orang yang kita anggap teman bisa menjadi musuh, begitupun sebaliknya. Apa kau tidak paham dengan maksudku itu?” ujar Ray.


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2