The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Teman


__ADS_3

"Yuan!" Seseorang masuk kedalam ruangan itu, siapa lagi orang yang dapat seenaknya masuk dan memanggil Yuan dengan sangat akrab. Yah, dia Nana.


"Apa?" Tanya Yuan malas.


"Ayo ikut aku, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu." Ujar Nana menarik tangan Yuan.


"Katakan saja disini." Ucap Yuan yang malas.


Nana menghela napasnya, ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Yuan.


"Serius?" Tanya Yuan.


"Hm, bisakah kau mengantarkan ku ke bandara nanti? Aku ingin menyambutnya disana." Ujar Nana.


Ketiga teman Yuan yang lainnya hanya diam memperhatikan, karena mereka tidak tahu apa yang kedua-nya bicarakan.


"Jam berapa?"


"Sepuluh nanti." Jawab Nana.


"Tidak bisa, aku ada kelas sampai jam dua belas siang." Kata Yuan.


Nana mengerucutkan bibirnya,


"Kalau begitu pinjamkan mobilmu padaku." Ujar Nana sembari menyodorkan tangannya, meminta kunci mobil Yuan.


"Apa? Tidak tidak! Kau tidak ingat terakhir kali aku meminjamkanmu mobilku dulu? Kau menabrakkannya ke trotoar, karenamu aku harus diantar dad sampai sekarang." Ujar Yuan, menyembunyikan kunci mobilnya ke dalam saku celananya.


"Tapi kan sekarang paman sudah membebaskanmu. Kau sudah bisa berangkat ke kampus sendiri. Ayolah Yuan, lagipula bandara cukup dekat dari kampus kita." Kata Nana masih merengek, memohon pada Yuan.


"Naik taksi kan bisa, Nana." Ucap Yuan.


Nana mencebik kesal,


"Kau menyebalkan, aku meminta bantuan mu untuk bertemu papaku, tapi kau bersikap seperti ini padaku, kau memang jahat ya." Nana melemparkan bantal sofa kearah Yuan, pria itu hanya diam tak menanggapinya.


"Biar aku yang mengantarmu." Kai menyela, ia menatap kearah Nana, menunggu jawaban dari gadis itu.


"Yaa mobilku memang tidak sebagus punya Yuan, tapi masih bisa mengantarmu ke bandara." Ujar Kai lagi.


"Terima saja tawarannya, dia tidak biasanya bersikap baik pada orang lain." Kata Yuan yang mulai memasang earphone ke telinganya.


"Oke, tolong ya Kai. Kai memang baik, tidak seperti pria satu ini." Ucap Nana, ia melirik Yuan dengan pandangan menyindirnya. Tapi pria itu sama sekali tidak mempedulikannya, ia sibuk mendengarkan musik yang terputar di earphone-nya.


Melihat sikap Yuan, membuat hati Nana merasa kesal. Tangannya kemudian bergerak mengambil earphone Yuan, setelah itu, ia berlari pergi dari ruangan itu, mengabaikan Yuan yang meneriaki namanya.


"Nana!" Teriak Yuan, kesal pada sepupunya itu.


"Itu akibat kau mengabaikannya. Jika dilihat baik-baik, kalian itu seperti sepasang kekasih ya." Ujar Kin tersenyum menggoda Yuan.


"Kau sudah tidak waras ya?! Dia itu sepupu ku, kalaupun dia bukan sepupuku, aku juga tidak akan tertarik dengan wanita bar-bar sepertinya. " Kata Yuan.


"Tapi ngomong-ngomong, Nana itu cantik juga ya, bagaimana jika aku mendekatinya?" Tanya Kin meminta pendapat teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Jika kau tidak playboy, mungkin aku akan mengijinkan mu, tapi pria seperti mu tidak pantas untuknya. Jangan sekali-kali kau berpikir mendekatinya, ingat itu." Ujar Yuan, ia kemudian berdiri, mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Hei, ingin pergi kemana?" Tanya Julian.


"Ada kelas, aku duluan." Jawab Yuan mengangkat tangannya sebagai kode sampai jumpa nanti.


Pria itu memegang handle pintu, tapi kemudian membalikkan badannya kembali.


"Kai, tolong ya antar Nana. Sebenarnya aku ingin mengantarnya, tapi hari ini aku harus masuk ke kelas para profesor yang mengenal ayahku, jika aku absen, sepertinya tidak baik untukku." Kata Yuan.


"Hm, kau tenang saja." Jawab Kai dengan senyum tipisnya.


"Terimakasih." Ucap Yuan, setelahnya ia membuka pintu ruangan itu dan berlalu pergi menuju kelas mata kuliah pertamanya.


•••


Rose terlihat susah payah berjalan dengan tumpukan buku yang ia bawa, hari ini kesialan melanda dirinya. Karena tidak fokus pada mata kuliah profesor Gun, dirinya dihukum untuk membawa buku-buku referensi kembali ke perpustakaan yang tempanya terpisah dari gedung fakultasnya.


Gadis itu melangkah menuruni tangga fakultasnya, memijakkan kakinya pada area halaman kampus, terus berjalan kearah gedung perpustakaan yang ada di bagian timur kampus besar itu.


Dan kemudian, kesialan Rose sepertinya terus berlanjut. Gadis itu tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan di depannya.


Tumpukan buku-buku yang dibawanya pun terlempar keatas dan menjatuhi dirinya dengan sempurna.


Rose meringis, tertimpa oleh buku-buku yang tebal seperti itu, sangat tidak diharapkan.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya seseorang yang tanpa sengaja Rose tabrak tadi.


Rose menatap orang itu, lalu kemudian melemparkan tatapan bersalahnya.


Orang itu mengulurkan tangannya pada Rose, membantu Rose untuk bangkit dari jatuhnya.


"Tidak masalah, aku juga salah." Ujar orang itu, Nana.


Nana membantu Rose memungut buku-buku yang berjatuhan itu.


"Bukankah kau gadis yang waktu itu? Kita waktu itu juga bertabrakan, jika tidak salah ingat, sudah dua kali ini loh kita bertabrakan." Tanya Nana sembari merapikan tumpukan buku yang di pungutnya.


"Ah! Eh itu—aku—" Rose terlihat gugup saat dirinya sadar jika perempuan yang ada di depannya itu adalah orang terdekat Yuan, pria yang disukainya.


Nana tertawa kecil melihat sikap gugup dari perempuan itu.


"Sepertinya kita berjodoh ya." Ucap Nana.


"Heh?"


Nana kembali tertawa dengan reaksi Rose.


"Mungkin kita akan berteman baik." Kata Nana.


"Ah begitu." Ucap Rose canggung, ia kemudian berdiri setelah selesai menumpuk buku-buku itu kembali.


"Aku akan membantumu membawanya ke perpustakaan." Kata Nana yang juga membawa tumpukan buku.

__ADS_1


"Eh itu—apa tidak masalah?"


"Tentu saja tidak." Jawab Nana, ia kemudian berjalan mendahului Rose menuju perpustakaan yang hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri.


Di dalam perpustakaan, mereka mulai meletakkan dan menyusun buku-buku itu kembali ke rak buku.


"Apa kau—" Nana ingin bertanya soal perasaan Rose pada Yuan, tapi gadis itu mengurungkan niatnya.


"Ada apa?" Tanya Rose sembari menoleh pada Nana yang ada disampingnya.


"Eng, apa kau dari fakultas hukum?" Tanya Nana dengan pertanyaan yang berbeda dari niatnya.        Cccccccccv.


"Em, iya." Jawab Rose sembari mengangguk dan tersenyum.


Dia berbeda dari gadis lainnya ya, biasanya gadis lain akan dengan senang hati mendekatiku agar mereka bisa mendapatkan informasi tentang Yuan atau hanya ingin memanfaatkan ku agar mereka dekat dengan Yuan. Tapi dia, sejak tadi sama sekali tidak berniat seperti itu, atau mungkin dia sedang memiliki strategi untuk mendekati ku? Ah apa yang aku pikirkan.


"Biar aku yang menyelesaikannya, kau bisa pergi jika ada keperluan lain. Tapi sebelumnya terimakasih sudah membantuku dan juga sekali lagi aku minta maaf karena menabrakmu." Ucap Rose, ia mengambil buku-buku yang ada di tangan Nana.


"Apa kau tidak ingin berteman denganku?" Tanya Nana.


"Eh?"


"Maksudku, kita bertabrakan sampai dua kali, entah itu sebuah kebetulan atau kesengajaan, maaf bukan maksudku —"


Rose tersenyum mendengarnya,


"Aku paham bagaimana perasaanmu, menjadi orang terdekat dari seorang pria yang menjadi idaman para wanita pasti sulit. Tapi bukan berarti semua wanita yang menyukai Yuan memiliki sifat yang sama kan? Bagiku mendapatkan cintanya dengan usahaku sendiri lebih baik daripada bantuan orang lain." Ujar Rose sembari meletakkan buku-buku itu kembali ke tempatnya.


Nana terdiam, merasakan perasaan bersalah di dalam dirinya.


"Maaf." Ucap Nana dengan kepala tertunduk.


"Kenapa meminta maaf? Lagipula itu juga salahku, bagaimana bisa dalam waktu singkat bertabrakan dua kali denganmu. Jika aku menjadi dirimu, aku pasti akan berpikiran yang sama sepertimu."


Nana menghela nafasnya,


"Selama ini aku tidak pernah punya teman wanita yang benar-benar ingin berteman dengan tulus padaku. Karena mereka berteman dengan ku hanya untuk bisa dekat dengan Yuan." Curhat Nana.


"Yah, aku tidak heran dengan itu. Tapi setelah mendengar nya langsung darimu, sepertinya sulit sekali menjadi dirimu, dulu aku pikir, menjadi dirimu adalah hal yang luar biasa." Kata Rose dengan senyum lebarnya, membayangkan dirinya yang terkadang iri dengan Nana.


Seperti penyakit menular, Nana pun entah bagaimana juga ikut tersenyum lebar.


"Kalau begitu, bisakah kita berteman?" Tanya Nana.


"Apa kau yakin? Aku ini perempuan yang menyukai Yuan, dan lagi, aku juga pernah menyatakan perasaanku padanya secara langsung."


"Aku tidak akan tahu sebelum aku benar-benar menjadi temanmu." Ujar Nana.


"Sungguh? Aku bisa saja hanya memanfaatkanmu." Canda Rose membuat Nana tertawa.


"Yah, manfaatkan aku sepuas hatimu." Ucap Nana membalas candaan Rose.


Seorang teman dekat adalah mereka yang saling menyusahkan tapi tidak merasa terbebani satu sama lain. Mereka yang bisa membuat diri terbuka dan merasa nyaman didekatnya.

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi ✍


__ADS_2