
Rose berlari tergesa-gesa memasuki area kampusnya. Terlihat kedua tangannya memegang kantong plastik berisi makanan.
Beberapa menit yang lalu, setelah Rose mendapatkan pesan singkat dari Yuan. Pria itu langsung menyuruhnya untuk bertemu. Yuan memberikan kartu debitnya pada Rose, menyuruh gadis itu untuk membeli makan siang dari restoran milik ibu Yuan.
Jarak yang lumayan memakan waktu, membuat Rose hampir terlambat dengan waktu yang sudah Yuan tentukan. Karenanya, gadis itu berlari menyapu jalanan secepat kilat.
"Maaf terlambat." Ucap Rose saat membuka pintu ruangan itu.
"Terlambat?" Tanya Kai, hanya pria itu yang ada diruangan grup YJK2. Kai sedang duduk di jendela ruangan itu.
"Eh, dimana yang lain?" Tanya Rose.
Kai menatap dua kantong plastik berukuran besar yang ada di tangan Rose.
"Yuan yang menyuruhmu?" Tanya Kai dengan pandangan yang masih mengarah pada dua kantong plastik berisi makanan itu.
Rose mengangguk,
"Iya."
Terdengar helaan nafas dari diri pria itu, merasa heran dengan tingkah Yuan yang sangat berbeda dari biasanya ini. Sejak kapan Yuan sangat suka merepotkan seorang gadis yang menyukainya, biasanya pria itu hanya akan mengabaikan mereka saja.
"Masuklah dan duduklah. Yuan sedang ada di ruangan ketua yayasan, kau bisa menunggu disini." Ujar Kai, kembali membuka buku yang di bacanya sebelum Rose datang tadi.
"Iya terimakasih, tapi kalau boleh tahu, kenapa Yuan ke ruangan ketua yayasan? Apa ada masalah?" Tanya Rose, ia berjalan masuk dan meletakkan bungkusan kantong plastik berisi makanan itu ke atas meja, setelah itu ia duduk di sofa yang ada diruangan itu.
"Ayahnya datang." Jawab Kai singkat, fokusnya masih terarah pada buku yang di pegangnya.
"Maksudnya tuan Ray? Ada apa?" Tanya Rose yang terlalu penasaran.
Helaan nafas terdengar dari diri Kai, merasa sedikit kesal karena aktivitas membacanya di ganggu oleh perempuan itu.
"Maaf." Ucap Rose pelan, ia merasakan hawa kesal dari Kai.
"Ayah Yuan kan penyumbang terbesar di kampus kita, untuk apa dia datang ke kampus, aku tidak tahu. Tapi kalau kenapa dia datang ke kampus, mungkin ada dua alasan, pertama karena ingin membahas masalah kampus dan uang sumbangan lagi, yang kedua sedang memantau Yuan." Kata Kai.
Pria itu berdiri dari duduknya di jendela ruangan itu, ia berjalan mendekat ke arah Rose, kemudian melemparkan pelan buku yang di pegangnya tadi ke tangan perempuan itu.
"Aku ada kelas, tunggulah pria mu itu disini sendiri." Ucap Kai sembari mengambil tas nya dan melenggang pergi menuju pintu keluar ruangan itu.
"Jangan berbuat yang tidak-tidak, ruangan ini memiliki kamera pengawas yang tersembunyi." Ujar Kai sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu.
Rose menatap ke arah pintu yang sudah tertutup rapat kembali, dirinya menghela nafas, pandangannya kini tertuju pada dua kantong plastik berisi makanan itu.
"Sampai kapan aku harus menunggu? Hah, aku juga harus pergi untuk kerja paruh waktuku." Gumam Rose sambil melirik jam yang melekat di tangannya.
•••
Di ruangan ketua yayasan dari universitas terbesar dan terbaik di negara itu. Yuan duduk berhadapan dengan ayahnya, sedangkan ketua yayasan, si pemilik ruangan itu telah pergi beberapa menit yang lalu, memberikan ruang untuk ayah dan anak itu berbicara.
Walaupun keduanya dapat berbicara dirumah, tapi disini mungkin lebih baik, keduanya bisa adu argumen tanpa ada batasan. Karena jika dirumah, Ana pasti akan menjadi penengah perdebatan mereka.
"Bisa kau jelaskan pada dad sekarang? Apa maksud dari semua ini?!" Tanya Ray dengan tangan yang bersedekap, menatap putranya itu memberikan jawaban.
"Tidak ada penjelasan, itu semua karena keinginanku dan juga impianku." Jawab Yuan tanpa menatap mata ayahnya, ia tidak berani, sesering apapun ia membantah sang ayah, tapi tetap saja seorang anak singa tidak akan pernah berani melawan seorang raja singa.
__ADS_1
"Tidak ingin menjelaskan? Kalau begitu tidak perlu membuat masalah seperti ini, tetap fokus pada kuliah manajemen bisnis mu. Setelah lulus kau akan menjadi pewaris perusahaan ayah, itu takdirmu." Kata sang ayah.
Yuan menundukkan kepalanya sejenak, terlihat tangannya mengepal kuat. Ray yang melihat itu hanya diam menunggu tindakan Yuan selanjutnya.
"Aku tidak mau! Aku punya impianku sendiri! Kenapa dad selalu memaksakan kehendak dad sendiri?! Apa dad pernah memikirkan bagaimana perasaanku dan apa yang aku inginkan?! Aku tidak mau menjadi pewaris TNP Group!" Bantah Yuan, walaupun ia berkata dengan nada lantang dan keras, tapi masih tidak ada keberanian dari dirinya untuk menatap manik mata Ray.
Ray merobek kertas pengajuan pendaftaran jurusan seni musik modern yang di ajukan oleh Yuan pada bagian administrasi beberapa hari yang lalu.
Yuan mengangkat kepalanya, melihat kertas yang tadinya utuh, kini menjadi sobekan kecil yang tidak berbentuk lagi.
"Kau bahkan mengatakannya tanpa menatap mataku. Kau ragu dengan pilihanmu Yuan! Kau ingin meraih mimpimu, tapi kau juga tidak ingin mengecewakan orangtua mu. Bukankah itu yang hatimu rasakan saat ini?" Tanya Ray yang tepat pada sasarannya.
"Yuan! Tatap mata dad! Dan katakan pilihanmu!" Kata Ray dengan suara lantangnya.
Yuan memaksa dirinya untuk menatap manik mata ayahnya yang gelap itu, sangat tajam dan begitu menusuk, bahkan walaupun dia adalah darah daging pria itu, Yuan merasakan ketakutan di hatinya hanya dengan melihat mata pria paruh baya itu.
"Aku ingin menjadi idol dan terjun ke dunia entertainment! Itu pilihanku!" Ujar Yuan dengan nada yang terdengar bergetar di telinga Ray.
Ray tampak tersenyum miris mendengarkan perkataan putra tunggalnya itu.
"Kita bicarakan ini nanti dirumah. Katakan itu di depan mommy mu jika kau berani dan tega padanya." Ucap Ray, pria yang telah berusia lima puluhan namun masih terlihat tegap dan gagah itu berdiri dari duduknya. Ia merapikan jas nya sejenak, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Yuan sendirian di ruangan itu.
•••
Rose kembali melihat jam tangannya, sudah hampir satu jam ia duduk di sana tapi tak ada satupun anggota YJK2 yang datang.
Gadis itu menghela nafas yang kesekian kalinya. Rose tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ia harus pergi ke tempat kerja paruh waktunya.
Rose berdiri, ia berjalan menuju pintu keluar, namun saat tangannya baru saja ingin menyentuh handle pintu, pintu itu sudah di buka lebih dulu oleh seseorang dari luar sana.
"Yuan, aku sudah—"
"Diam!" Ucap Yuan, pikiran pria itu sedang kacau, mood nya sangat tidak baik saat ini.
"Kalau begitu, aku pergi." Kata Rose, kakinya mulai melangkah lagi.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?!" Tanya Yuan dengan nada tidak bersahabatnya.
Rose menghembuskan nafasnya, langkahnya kembali terhenti, ia kemudian membalikkan badannya, menghadap ke arah Yuan yang sudah duduk di sofa dengan mata terpejam.
Ada apa dengannya? Dia terlihat seperti sedang ada masalah? Apa dia baik-baik saja? — batin Rose.
Cukup lama kedua orang itu tetap dalam posisi yang sama. Rose terus berdiri di tempatnya tanpa berani protes sedikitpun. Sampai akhirnya terdengar bunyi perut Rose yang lapar, gadis itu menundukkan kepalanya, merutuki perutnya yang tidak tahu malu itu.
"Kau lapar?" Tanya Yuan setelah memejamkan matanya cukup lama, pria itu akhirnya membuka matanya karena mendengar bunyi perut Rose.
"Eh tidak tidak, ti—" Perkataan Rose terhenti saat perutnya itu kembali mengeluarkan suara lagi.
"Sepertinya perutmu sangat jujur ya." Ucap Yuan, pandangan matanya kemudian menangkap kantong plastik yang berisikan makanan, sejenak pria itu terdiam namun kemudian teringat jika ia tadi menyuruh Rose untuk membeli makanan di restoran milik ibunya.
Mengingat ibunya membuat Yuan kembali teringat dengan perkataan ayahnya di ruangan ketua yayasan tadi. Pria itu kembali menghela nafas beratnya, bagaimana caranya ia tetap mencapai impiannya tanpa mengecewakan orang tua nya?
"Makanlah itu." Ucap Yuan pada Rose, sekilas ia menunjuk ke arah kantong plastik itu.
"Ha? Tapi itu makanan untukmu dan teman-temanmu." Ujar Rose.
__ADS_1
"Kau pikir aku mau memakan makanan dingin seperti ini? Makanlah atau buang saja semuanya." Kata Yuan.
"Jika kau tidak mau, teman-teman mu yang lain bisa memakannya." Jawab Rose.
Yuan yang sudah dalam mood terburuk merasa lebih memburuk saat Rose terus saja menjawab perkataannya daripada menurutinya.
"Makan saja atau buang!!" Bentak Yuan sampai membuat Rose berjengkit kaget.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rose yang merasa aneh dengan sikap Yuan, terlebih lagi dengan nafas pria itu yang tidak teratur.
Rose adalah seorang jurusan hukum, impiannya adalah menjadi seorang jaksa, menganalisa sifat, sikap dan tingkah laku orang adalah hal penting yang harus dipelajarinya. Karena itu Rose mempelajari tentang psikologi manusia, dan kini sepertinya itu semua berguna, ia bisa memahami Yuan lebih cepat dari orang lain.
"Berhentilah bertanya dan membantah, cepat makan atau buang semua ini, aku tidak ingin melihat makanan ini di depanku lagi." Kata Yuan.
"Kau yakin tidak ingin memakannya? Itu semua adalah makanan yang khusus di buat oleh ibumu secara langsung. Kau menyuruhku pergi ke restoran itu karena kau ingin masakan ibumu kan?" Ujar Rose membuat Yuan menatapnya.
"Dari mana kau tahu jika itu restoran milik ibuku?"
Rose tersenyum menanggapinya,
"Tentu saja aku tahu, aku pikir semua wanita yang menyukaimu juga tahu tentang hal itu." Jawab Rose.
"Apa benar ibuku yang memasak langsung makanan ini? Tapi—bagaimana ibuku bisa tahu jika makanan ini untukku? Kau memberitahunya jika aku menyuruhmu untuk membeli makanan ini ya?! Yang terpenting apa kalian saling kenal?!" Tanya Yuan kembali memandang makanan-makanan itu dan Rose secara bergantian.
Rose tersenyum dengan bangga,
"Ibumu itu bos ku, aku bekerja paruh waktu di restoran ibumu. Beliau sangat ramah pada karyawan karena itu kami saling mengenal. Dan lagi, aku memang memberitahu nya jika kau menyuruhku membeli makanan, tapi aku tidak memberitahunya tentang perjanjian kita dan masalah kau membantuku membayar hutang ayahku." Jawab Rose.
"Dia tidak curiga padamu?"
"Yah, dia curiga jika aku menyukaimu, tapi kan itu memang benar. Mungkin bos Ana hanya berpikir jika aku akhirnya bisa dekat denganmu makanya dia membantuku seperti ini." Ucap Rose masih dengan senyumannya.
"Cih, sulit di percaya." Gumam Yuan, ia kemudian menatap Rose yang masih senyum-senyum sendiri.
"Hei bodoh." Panggil Yuan yang merasa risih dengan senyuman dari gadis itu.
"Ya?" Tanya Rose, ia sepertinya tidak masalah dengan panggilan yang Yuan berikan padanya, Rose malah merasa jika itu panggilan spesial untuknya yang membuatnya merasa bangga dan senang.
"Hentikan senyumanmu itu dan jangan memanggil ibuku dengan sebutan bos di depanku atau depan temanmu yang lain, kau paham?!"
Rose langsung menghentikan senyumannya, ia mengangguk menyanggupi perintah dari Yuan itu.
"Bagus." Ucap Yuan kemudian mengambil salah satu makanan dari kantong plastik itu, membukanya dan memakannya secara perlahan.
"Apa yang kau lihat?! Jika ingin makan juga, makanlah." Kata Yuan yang merasa tidak nyaman dengan Rose yang terus menatap dirinya.
"Bolehkah?" Tanya Rose, tak menyangka jika pujaan hatinya mengajaknya untuk makan siang bersama.
"Sudah aku katakan sebelumnya, jika kau tidak mau memakannya maka buang saja." Jawab Yuan.
"Tidak, aku akan memakannya. Mari makan!" Kata Rose dengan nada semangatnya. Gadis itu kemudian mengambil posisi duduk di depan Yuan, mengambil makanan itu dan ikut memakannya bersama Yuan.
Salah satu mimpi yang dulu aku anggap mustahil, sekarang benar-benar menjadi nyata. Ah aku senang sekali. — batin Rose yang menari bahagia.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1