The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Bertemu (bagian satu)


__ADS_3

Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


“Sekarang, ayo kita buat harapan dan tiup lilinnya,” ucap Rose seraya melepaskan pelukannya.


“Aku ingin bertemu ayahku,” kata Yuna mengucapkan harapannya sembari menatap sang ibu seolah dia sedang berkata dengan tegas kalau dirinya benar-benar ingin bertemu dengan ayahnya.


“Aku tidak ingin bertemu dengan orang yang membuat ibuku menangis,” sahut Yusen, seperti sedang mengajak adu argumen dengan saudara kembarnya. Harapannya itu bertolak belakang dengan Yuna.


“Yusen,” panggil Rose.


“Mama tidak ingin membuat harapan? Lilinnya sebentar lagi mati,” Yusen mengalihkan pembicaraan.


Rose menghela napasnya, kemudian beralih pada kue ulang tahun itu.


“Aku berharap, Yusen dan Yuna bahagia,” harap Rose.


Aku juga berharap memiliki keberanian untuk bertemu kembali dengan ayah mereka. — imbuhnya dalam hati.


Kemudian, Rose meniup lilin itu sampai padam.


“Ma, Papa itu orangnya seperti apa? Dia tampan tidak? Pasti tampan kan? Apa aku mirip dengannya?” tanya Yuna, dia terlihat antusias.


Rose tersenyum lebar, “Yusen, apa kau tidak ingin mengajukan pertanyaan juga?” tanya Rose pada putranya itu.


Yusen mengalihkan pandangannya, berpura-pura tidak tertarik, tapi sebenarnya ia juga penasaran.


“Tidak ada ya? Kalau begitu Mama jawab pertanyaan Yuna,” ujar Rose.


Yuna mengangguk, ia membenarkan posisi duduknya. Siap mendengarkan cerita ibunya.


“Papa kalian itu orangnya— ” Rose tampak berpikir, kemudian tersenyum, “Seperti Yusen,” jawab Rose, singkat dan padat.


Yuna langsung menatap kembarannya itu, ia menatapnya dengan lekat, memperhatikan setiap inci wajah Yusen.


“Apa yang kau lihat? Berhenti melihatku seperti itu,” protes Yusen tak senang.


Rose tertawa cekikikan melihat tingkah laku kedua anaknya itu.


“Mama serius? Papa benar-benar seperti Yusen?” tanya Yuna yang sudah mengubah panggilannya dengan sebutan 'papa'.


Rose mengangguk, “Em, wajahnya hampir mirip,” jawabnya.


“Kalau begitu aku juga seperti Papa? Aku dan Yusen 'kan kembar,” kata Yuna dengan polosnya.


“Bodoh, kita berdua kembar tidak identik. Orang lain pun masih bisa membedakan kita,” cibir Yusen.


Yuna mencebik mendengarnya, lalu ia mengabaikan saudara kembarnya itu dan kembali fokus untuk menerima jawaban dari ibunya.


“Yuna juga mirip kok, hidung dan mata Yuna mirip seperti milik Papa Yuna,” ujar Rose.


“Benarkah?" tanya Yuna sembari menyentuh hidung dan matanya.


Rose mengangguk, “Tapi yang benar-benar mirip dengan Papa kalian itu, Yusen. Dari sifat dan semuanya, Yusen yang mewarisinya,” katanya lagi.


“Aku tidak suka disamakan dengan orang itu. Jadi, Mama jangan samakan aku dengannya,” sewot Yusen.


“Ck, orang sok bijak satu ini,” cibir  Yuna.


“Sudah, sudah, jangan ribut. Yuna masih mau mendengarkan jawaban dari Mama tidak?” tanya Rose.


Gadis kecil itu pun langsung mengangguk cepat menanggapinya.


Rose kembali tersenyum untuk yang kesekian kalinya, ia mengusap puncak kepala kedua anaknya itu bersamaan.


“Ah iya, apa pertanyaanmu tadi?” tanya Rose, lupa.


“Papa tampan tidak?” ulang Yuna, gadis itu bertanya tapi terlihat seperti sedang menggoda ibunya.


Yuna pun sampai menopang dagunya, menatap ibunya dengan senyum mesam-mesemnya.


Tingkah anaknya itu membuat pipi Rose memerah seperti buah tomat yang sudah siap petik.


“Tampan,” jawabnya, ”seperti Yusen,” imbuh Rose.


Yusen lagi, Yusen lagi, mungkin dua kata itu lah yang saat ini terbesit di benak Yusen.


Pria kecil itu pun sampai berdecak kesal karena terus-menerus di samakan dengan orang yang tidak ia sukai karena telah meninggalkan ibunya, dirinya dan Yuna.


“Aku tahu kalau diriku ini tampan. Tapi bisakah Mama berhenti menyamakan aku dengannya?” pinta Yusen.


“Nah ini,” ucap Rose tiba-tiba.


Yusen dan Yuna pun mengerutkan keningnya bingung.


“Kata-kata Yusen barusan itu sama seperti Papa kalian, terlalu percaya diri,” ucap Rose yang langsung di sambut cekikikan oleh Yuna.

__ADS_1


“Ma, please, stop equating me with him,” pinta Yusen sampai harus mengeluarkan bahasa daerahnya.


Rose ingin menjawab pertanyaan putra kecilnya itu. Tapi, Yuna lebih dulu mencegahnya dengan memberikan ibunya satu pertanyaan yang ditujukan untuk menyindir kembarannya.


“Papa pasti juga sangat menyebalkan ya, Ma?” tanya Yuna.


“Kenapa Yuna berpikir seperti itu?” Rose balik bertanya.


“Karena Yusen juga seperti itu. Mereka kan sama,” canda Yuna sembari menertawai saudara kembarnya itu.


Yusen yang sudah mencapai batas kesabarannya. Ia memilih turun dari kursinya, berniat pergi ke kamarnya.


“Sayang, kau mau kemana?” tanya Rose.


“Nafsu makanku hilang karena Mama dan Yuna tidak berhenti membahas pria tidak bertanggung jawab itu,” ujar Yusen kemudian pergi dari hadapan mereka.


“Kau marah ya?” tanya Rose lagi.


“Tidak,” jawab Yusen, singkat.


Rose menghela napas pendeknya, “Hah, ya ampun anak itu, dia bahkan memanggil ayahnya sendiri seperti itu,” gumam Rose. Tapi bagaimanapun juga, ia tidak bisa mengalahkan Yusen.


Rose tahu kalau Yusen tidak benar-benar membenci ayahnya. Pria kecil itu hanya memendam kekesalannya pada sang ayah karena telah meninggalkan ibunya, dirinya dan juga kembarannya.


“Ma, apa tidak masalah kalau Yusen bersikap seperti itu?” tanya Yuna.


Rose menatap putrinya itu, lalu mengusap lembut rambut sepunggung milik Yuna.


“Suatu hari nanti, dia pasti akan mengerti. Terkadang laki-laki bisa menjadi lebih sensitif, hanya saja mereka terlalu gengsi untuk menunjukkannya,” ujar Rose.


Yuna mengangguk paham, “Tapi, Ma,” ucapnya.


“Hm? Apa?”


“Apa aku, Yusen dan Mama bisa bertemu dengan Papa?” tanyanya.


Rose terdiam, tak mampu menjawab. Usapannya pada rambut panjang Yuna pun terhenti.


“Mama tidak yakin soal itu, maaf Yuna, Mama tidak bisa menjawabnya,” jujurnya.


•••


Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, Waktu Indonesia Barat.


Yusen berdiri tegap di depan pintu. Tangannya bersedekap di depan dada, tubuhnya ia sandarkan pada dinding dekat pintu keluar rumah.


Ia berdiri di sana bersama Yuna yang ada di hadapannya. Kedua kakak-beradik itu tengah menunggu ibu mereka yang tampak berlarian kesana kemari karena dikejar oleh waktu.


“Buruk sekali,” imbuhnya lagi.


“Ck, kau sedang mengumpati ibumu sendiri?” tegur Yuna, menatap Yusen dengan tangan yang berkacak pinggang.


Yusen mengalihkan pandangannya, malas menanggapi kakak kembarnya itu.


“Tidak, aku hanya berkata tentang sesuatu yang membuat mataku sakit,” paparnya.


“Maaf membuat kalian menunggu lama, ayo berangkat,” ujar Rose. Perempuan itu sebenarnya tidak bangun kesiangan, tapi dia sangat buruk dalam mengatur waktu.


Rose terkadang terlalu asyik membersihkan rumah atau mengurus keperluan sekolah anak-anaknya, sampai akhirnya ia lupa menyiapkan keperluannya sendiri. Rose juga seringkali ceroboh dan lupa meletakkan beberapa barang, contohnya kunci mobil


Lihat saja, rumah yang sudah ia bersihkan rapi, kini terlihat berantakan hanya karena satu benda kecil itu.


“Lain kali taruh kunci mobil di gantungan kunci,” kesal Yusen.


“Yusen, kau ini,” tegur Yuna.


“Sudah, sudah, ayo berangkat, kalian hampir terlambat. Maafkan Mama, ini salah Mama,” Rose mengakui kesalahannya.


Ibu dua anak itu pun kemudian menggandeng tangan Yuna dan mengikuti Yusen yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


•••


Yuan berdiri di depan cermin kamarnya. Pria itu menatap pantulan dirinya dalam diam.


Rambut halus terlihat tumbuh di dagunya. Pria itu mengusap rambut itu pelan, tiba-tiba saja kilasan balik memorinya tentang Rose menjajah pikirannya.


Dulu, Rose pernah mengeluh karena rambut halus yang mengganggu penampilan itu tumbuh tanpa di rawat. Dulu, karena Rose merasa risih, perempuan itu mencukurnya untuk Yuan.


Dan kini, semua itu hanya menjadi kenangan manis yang nyatanya terasa pahit.


Lama Yuan berpatut pada cermin. Pintu kamar pria itu pun terbuka. Sosok paruh baya mendekati usia tua masuk ke dalam kamarnya yang memiliki nuansa warna abu-abu dan hitam.


“Butuh bantuan?” tanya Ana, sang ibu.


Yuan menoleh pada wanita yang telah banyak berjasa padanya itu. Kemudian, semburat senyum lembut Yuan lemparkan padanya.


“Tidak, sudah selesai. Apa Daddy sudah berangkat?” jawabnya sembari balik melontarkan pertanyaan pada ibunya.


Ana mengangguk, kemudian berjalan mendekati sang anak, ia menyentuh kedua bahu tegap Yuan, lalu menepuk-nepuknya beberapa kali, seolah sedang mengusir debu yang tak kasat mata.


“Putra Mommy sudah dewasa. Kau dulu sangat kecil, sekecil kucing milik Fani,” ujar Ana.

__ADS_1


“Fani?” tanya Yuan, merasa asing dengan nama itu.


Ana tersenyum, “Nana dan keluarganya sudah kembali ke Indonesia. Kau belum mendengar kabar darinya ya? Anaknya namanya Fani, umur sepuluh tahun, sangat lucu dan menggemaskan. Mama jadi iri dengan Bibi-mu Rachel,” ungkap Ana diiringi helaan napasnya.


Perempuan berusia lima puluhan lebih itu ikut mematut dirinya didepan kaca bersama sang anak. Ia menatap dirinya yang telah menua di makan usia.


“Sekarang Mama tahu bagaimana cemasnya Grandma-mu dulu saat Mommy belum punya anak,” ujarnya.


Yuan hanya diam, mendengarkan.


“Mommy— ”


“Yuan,” Ana lebih dulu menyela.


Yuan kembali diam, menunggu sang ibu mengatakan sesuatu.


“Mommy ingin sekali kau bahagia dengan perempuan pujaanmu itu. Tapi, kau juga harus ingat umurmu,”


“Mom— ”


“Mommy tahu, kau menentang Mommy dan Daddymu yang terkadang ingin kau berhenti memikirkan dia yang hilang. Tapi Yuan, kau juga berhak bahagia. Mommy sudah memikirkan ini cukup lama. Delapan tahun sudah berlalu, umurmu bahkan bukan usia jagung lagi. Kau sudah dewasa, lebih dari cukup untuk menikah, berkeluarga dan punya anak,” tutur Ana.


“Mom— ”


“Anggap saja perkataan Mommy hanya angin lewat. Karena Mommy tahu bagaimana perasaanmu. Mommy juga sering menentang Dad mu tiap kali dia menyinggung tentang dirimu yang harus melupakan perempuan itu. Tapi, terkadang Mommy berpikir kalau Daddymu ada benarnya juga,” imbuh Ana.


“Yuan, Mommy tidak ingin memaksamu. Tapi Mommy ingin kau bahagia, tidak seperti sekarang ini,” jujur Ana.


“Aku tahu,” balas Yuan.


“Tapi aku tetap akan berpegang teguh pada pendirian ku. Aku masih ingin mencarinya. Bagaimana kalau dia masih menungguku di suatu tempat yang mungkin belum terbesit di otakku?” kata Yuan, membuat Ana menatapnya kasihan.


Tapi kemudian, Ana mengangguk paham, “Mommy mengerti, semua terserah padamu, ini hidupmu,” ucap Ana pada akhirnya kembali pasrah.


“Ayo, turun dan sarapanlah. Mommy sudah siapkan sarapan untukmu,” ujar Ana, mengubah arah pembicaraan.


“Maaf, Mom. Pagi ini Yuan harus memberikan sedikit pidato sebagai alumni untuk acara pra-ujian di sekolah dasar Lizard,” sesal Yuan tak bisa menerima ajakan sarapan dari ibunya.


Ana mengangguk, berusaha untuk mengerti. Anaknya itu benar-benar sibuk di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, sama seperti suaminya dulu.


“Pergilah. Tapi jangan lupa untuk mengisi perutmu,” pesan Ana.


Yuan tersenyum, “Aku tidak akan lupa. Kalau begitu, Yuan berangkat dulu ya Mom. Yuan sayang Mommy, bye, Mom,” pamitnya sembari mengecup kening sang ibu, lalu setelah itu ia pergi keluar dari kamarnya.


•••


“Hari ini kalian sudah ujian?” tanya Rose setelah memarkirkan mobilnya dekat gerbang sekolah dasar terbaik di negara ini.


“Belum, ujiannya mulai hari Selasa besok sampai hari Kamis nanti,” jawab Yusen, padat dan jelas.


Rose menanggapinya dengan ber-oh ria.


“Ah iya, ini uang jajan kalian,” ucap Rose sembari memberikan beberapa lembar uang saku untuk kedua anaknya itu.


“Nanti kalau sudah pulang hubungi Mama ya. Karena hari ini Mama ada banyak klien. Jadi takutnya nanti kalau kalian tidak menghubungi Mama, Mama lupa menjemput kalian,” jujur Rose.


“Iya, kami tahu itu,” ujar Yusen mewakili.


“Yasudah, cepat kalian turun, ingat pesan Mama, belajarnya sewajarnya saja ya,” pesan Rose.


Biasanya orangtua lain akan berkata 'belajar yang pintar ya' tapi tidak dengan Rose. Perempuan itu terkadang merasa bingung dengan kedua anaknya. Mereka berdua lebih suka belajar dari pada bermain, apalagi Yusen.


“Hm,” jawab Yusen, ia turun dari mobil.


“Bye, Ma,” pamit Yuna yang kemudian mengikuti Yusen turun dari mobil tersebut.


Setelah melihat kedua anaknya turun. Rose pun melambaikan tangannya ke arah mereka. Lalu kemudian, ia pergi dari area sekolah dasar itu dan berangkat ke tempatnya bekerja.


“Yusen,” panggil Yuna setelah mobil ibunya tidak terlihat lagi dalam pandangan mereka.


“Apa?” jawab Yusen sembari berjalan memasuki sekolah dasar mereka.


Yuna pun ikut berjalan di sampingnya, ia menatap Yusen dengan helaan napas pendeknya.


“Dari kemarin kau bersikap dingin dengan Mama. Kau masih marah soal semalam?” tanya Yuna.


“Tidak,” jawab Yusen.


“Ck, jangan bohong, aku tahu kau tidak suka— ”


“Berhenti membahas masalah semalam. Kau tahu kalau aku tidak suka, jadi jangan membahasnya,” bentak Yusen. Entah kenapa dia merasa sangat kesal setiap kali ibu ataupun saudari kembarnya itu membahas soal ayahnya yang tidak tahu ada dimana.


“Seorang pria tidak boleh membentak seorang gadis seperti itu,” kata seseorang dari arah samping keduanya.


Kedua kakak-beradik kembar itu pun menoleh, menatap seseorang yang berniat menasihati sikap kurang baik Yusen.


“Oh? Bukankah kau gadis kecil yang kemarin? Tidak di sangka kita bertemu lagi,” ucap pria itu, Yuan.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2