The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Kabar


__ADS_3

Angin di sekitar Rose semakin berhembus kencang ketika helikopter itu mendarat tepat di atas padang rumput yang luas.


Masih dengan kening yang mengernyit heran. Rose melangkahkan kakinya perlahan. Medekat ke arah helikopter yang mendarat itu.


Tapi kemudian, langkahnya tiba-tiba terhenti. Sebuah sileut yang terkadang membuatnya merasa takut terlihat turun dari dalam helikopter.


“Tidak mungkin...” ucapnya lirih. Gadis itu kemudian mengambil langkah mundur ke belakang.


Ray dengan badan yang ia usahakan tetap tampak tegap, berjalan mendekati Rose. Perjalanan antara Asia dan Eropa cukup jauh, usianya yang sudah menginjak akhir lima puluhan tahun tentu membuat tulangnya tidak sekokoh dulu. Duduk selama kurang-lebih tiga belas jam membuat tulang punggung Ray terasa kram.


“Ke...ketua Ray. Ba,bagaimana anda bisa tahu kalau saya ada di sini?” tanya Rose saat ayah dari kekasihnya itu telah berdiri di hadapannya.


Tubuh Rose seolah membeku. Ia kesulitan untuk bergerak walau dirinya ingin sekali berlari kencang.


Bagiamana Ray bisa tahu tentang keberadaan Rose? Ya, tentu saja dari surat Yuan yang tidak tersampaikan dengan baik.


“Rose. Sudah lama tidak bertemu.” ucap Ray. Suaranya itu semakin membuat tubuh Rose bergetar, takut.


“Apa itu rumah kalian?” tanya Ray sembari melihat sebuah rumah dengan luas yang tidak dapat di perkirakan oleh jiwa kelas ekonomi bawah.


Rose tampak menggigit bibir bawahnya ketika Ray menyebut kata 'kalian', bagi Rose itu seperti sebuah ancaman secara tidak langsung.


“Apa anda ingin masuk dan minum sesuatu?” ucap Rose. Ia mengutuk mulutnya. Kenapa dia memberi tawaran pada seseorang yang bahkan ia sendiri seperti kesulitan bernapas ketika melihatnya.


Rose merasa dirinya itu seperti seekor kelinci bodoh yang membiarkan pimpinan serigala masuk ke dalam kandangnya.


“Kau menawariku untuk berteduh di rumah kalian?” tanya Ray, masih menyebut rumah itu diiringi dengan kata 'kalian'.


“Menarik.” ucapnya lagi.


“Apa kau tidak merasa takut padaku?” tanya Ray.


Sejenak Rose diam. Ia bergeming. Tidak bergerak sedikit pun.


Dua menit kemudian. Rose baru mulai menunjukkan responnya. Gadis itu kemudian berkata, “Saya pikir akan lebih nyaman kalau kita berbicara di dalam saja daripada di luar sini, Ketua Ray.” Alih-alih menjawab, Rose malah mencoba mengabaikan topik pembicaraan yang sebelumnya, ia memilih mengajukan titik fokus lain untuk menjadi bahan pembicaraan.


“Baik. Aku setuju. Mari masuk ke dalam rumah itu. Aku juga penasaran bagaimana isi rumah yang sangat besar dan luas ini.” ujar Ray.


Pria itu walaupun dirinya bukan seorang tuan rumah. Tapi sikap dan tindakannya sudah seperti seorang pemilik tanah.


Kemudian Ray berjalan melewati Rose. Satu menit, ia berhenti melangkah, manik mata gelapnya terlihat menatap setiap inci desain interior luar rumah itu.


Sungguh luar biasa sempurna. Itu yang Ray pikirkan ketika ia meneliti setiap inci rumah tersebut.


•••


Di ruang tamu dengan nuansa khas Eropa bercampur sedikit budaya Timur, yaitu Asia.


Ray duduk pada salah satu sofa berwarna merah kirmizi. Di seberangnya terlihat Rose yang ikut duduk. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang pas untuk membahas hal penting, sesuatu yang sangat teramat serius.


Dalam hening itu, Rose merasa seluruh atmosfer ruang tamu tersebut sepertinya menghilang. Ia sungguh mengalami rasa sesak dan rasa tercekat di tenggorokannya.


“Saya akan menyiapkan minum untuk anda.” ucap Rose. Kembali berjuang mengalihkan topik fokus permasalahan.


“Tidak perlu.” kata Ray, sebelum kemudian menjelaskan alasannya menolak tawaran Rose, “Aku tidak punya banyak waktu untuk berbincang lama denganmu. Aku harus segera kembali ke Indonesia.”


Rose pun mengangguk paham, “Kalau begitu, apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Ketua Ray?” tanya Rose. Tak lagi mengucapkan basa-basinya.


Untuk beberapa saat. Ray hanya mengetuk-ngetukkan jari tangannya. Jika dikatakan gugup, itu tidak mungkin gugup. Pria itu hanya sedang memilah-milah, kalimat mana yang akan ia gunakan untuk menyampaikan isi kepalanya.


“Kau dan Yuan... sudah berapa lama kalian bersama?” tanya Ray.


Tanpa perlu menghitungnya lagi, Rose langsung menjawab pertanyaan tersebut, “Kurang lebih empat tahun.” jawabnya.


“Empat tahun ya...” ucapnya, seperti sedang menimang-nimang kalimat tersebut. “Kau tahu? Yuan menjadi anakku lebih dari dua puluh lima tahun lamanya.” ujar Ray kemudian.


Perkataan itu seperti pedang tajam yang selesai di asah dan siap untuk di hunuskan ke jantung musuhnya.

__ADS_1


“Tapi mirisnya... dia lebih memilih dirimu daripada aku, ayahnya.” kata Ray.


Rose masih diam. Tak ada niatan untuk menyela apalagi menyanggah.


“Rose.” panggil Ray. Sejak tadi ia menatap Rose lekat. Ia memandang gadis itu penuh penilaian.


“Ya, Ketua Ray?” Rose menjawab panggilan tersebut dengan sopan.


“Empat tahun itu bukanlah waktu yang lama. Bisa saja itu hanya sekedar cinta semu karena terbiasa.” ujar Ray.


Rose mendongakkan wajahnya. Ia yang sejak awal terus-menerus menundukkan kepalanya. Setelah mendengar kalimat yang tidak sesuai dengan selera hatinya itu. Rose balas menatap Ray tanpa ada keraguan lagi. Yaa, walau ada sepercik api takut di matanya.


“Ketua Ray. Ada satu hal yang harus anda tahu. Bahwa waktu tidak bisa menjadi tolak ukur tulus atau tidaknya sebuah cinta.” sanggah Rose, mengeluarkan argumentasinya.


Ray tersenyum samar, ia mengapresiasi keberanian perempuan itu, “Ya, kau benar. Tapi satu hal yang mungkin kau lupakan. Kau harus ingat bahwa waktu adalah penguat dari sebuah hubungan. Dengan berjalannya waktu, seseorang bisa lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain lebih dalam. Dan dari sanalah mucul kesetiaan yang tidak akan bisa memudarkan cinta.” balas Ray, tak mau kalah.


Rose menggigit bibir bawahnya. Lalu kemudian ia menundukkan pandangannya kembali. Tidak ingin membalas tatapan dari ayah sang kekasih.


Namun, dengan wajah tertunduk seperti itu. Rose masih terdengar menjawab perkataan ayahnya Yuan itu.


“Saya harus mengucapkan kata maaf pada anda, Ketua Ray. Karena bagi saya, penguat hubungan adalah rasa saling percaya satu sama lain dan saling terbuka serta saling memahami. Itu semua adalah pondasi terkokoh dari cinta. Dan bagi saya, waktu hanyalah sebuah pintasan yang semu. Dia hanya pendamping dari jalannya sebuah hubungan.” kata Rose.


Ray terdiam. Ia seperti tertegun atau mungkin malah terkejut? Intinya, pria itu sekarang diam, menatap Rose dengan kebisuannya.


Tapi kemudian, ia terkekeh dengan iringan tepuk tangan yang bertempo panjang.


“Kau pandai berkata-kata ternyata.” ucapnya, sebelum kemudian ia kembali bersuara setelah mengingat sesuatu. “Ah iya, aku baru ingat. Kau itu kan seorang lulusan sarjana hukum. Bagaimana bisa aku melupakan hal itu?” ujar Ray.


“Kalau saja aku ingat jika dirimu itu seorang lulusan sarjana hukum. Si Pak tua ini tentu tidak akan mengajakmu beradu argumen.” kata Ray, lagi.


Rose hanya diam. Tidak berniat menjawab.


“Baiklah.” ucap Ray setelah berdehem beberapakali. “Rose, seberapa besar cintamu terhadap Yuan?” tanya Ray.


Sesaat Rose terdiam. Ia tentu butuh berpikir untuk menghitung skala cintanya pada Yuan.


Lalu kemudian, setelah ia merasa menemukan jawaban yang pas. Rose pun tampak mulai berbicara.


Ray kembali terkekeh di buatnya. Sekarang ia paham kenapa Yuan begitu menyukai dan bahkan cinta mati dengan perempuan di hadapannya itu.


Semua karena perempuan itu terlalu unik dan sangat polos. Tapi sikapnya itu membuat Ray langsung dapat menebak kalau Rose seseorang yang naif dan mudah sekali tersakiti.


Dia bukan tipe orang yang cocok berjuang di garda terdepan. Rose lebih pantas berada di belakang punggung seseorang dan di lindungi dengan baik.


Perempuan itu seperti ratu yang lemah lembut. Dia bukan seperti Ana dulu yang beringas dan penuh keberanian.


Kemudian Ray menghentikan kekehannya, lalu kembali menatap Rose yang hanya diam saja.


“Aku sudah merasa puas dengan apa yang aku inginkan.” ucap Ray.


Rose mengernyit tak mengerti, “Ya?”


“Aku harus segera kembali ke Indonesia.” katanya.


“Kembali? Secepat itu?” tanya Rose.


Sebenarnya itu pertanyaan yang dibuat oleh respon cepat otakknya. Tapi sayangnya, respon cepat itu malah di tangkap oleh mulutnya dan keluar dari mulut menjadi kalimat tanya yang Rose sendiri merasa heran dengan pertanyaan tersebut.


“Kenapa? Apa kau ingin aku menginap? Lalu tercipta scandal tentang dirimu dan si Pak tua ini?” tanya Ray, ia hanya bercanda.


“Aku terlalu tua untuk melakukan perselingkuhan.” sambungnya lagi, masih dengan candaan. Tapi cara Ray berbicara itu sama sekali tidak mencerminkan kalau semua kata-katanya hanyalah sebuah gurauan belaka.


“Bukan seperti itu maksud saya. Saya, saya hanya ingin...” Rose terlihat ragu melanjutkan perkataannya. Tapi kemudian, gadis itu menghela napasnya dan kembali berbicara, “Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan kepada anda, Ketua Ray.” ucap Rose dengan nyalinya yang tipis, setipis satu helai rambut.


Ray mengernyit, ia mengangkat sebelah alisnya beberapa saat.


“Oh? Apa itu tentang Yuan?” tanya Ray, bagai seorang peramal ulung yang bisa menebak dengan benar.

__ADS_1


“Iya.” jawab Rose. Singkat namun hatinya kembali merasa khawatir sekaligus takut.


“Apa, apa Yuan baik-baik saja?” tanya Rose setelah terdiam beberapa detik.


“Aku pikir kau akan bertanya hal lain. Sungguh tidak menyangka kalau dirimu ini malah mengkhawatirkan keadaannya.” ujar Ray.


“Maaf.” ucap Rose.


“Kenapa kau meminta maaf? Menanyakan kabar seseorang bukanlah hal ilegal.” ucap Ray.


“Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu.” kata Ray seraya bersandar pada kepala sofa. “Aku tidak yakin anak itu baik-baik saja. Dia sepertinya ingin sekali bertemu denganmu. Tapi sayangnya, dia tidak bisa menemuimu.” kata Ray.


“Kau ingin tahu kenapa dia tidak bisa menemuimu?” tanya Ray.


“Kenapa?” Rose mengeluarkan pernyataan tersebut dengan ketakutan yang terus-menerus menyelimuti hatinya.


“Karena aku melarangnya untuk bertemu denganmu. Aku mengurungnya di dalam rumah. Satu lagi yang harus kau tahu. Beberapa hari lagi Yuan akan bertunangan. Jadi kau tahu kan apa artinya itu, Rosella?” ucap Ray.


Kalimat terakhir yang Ray ungkapkan itu membuat Rose merasa jantungnya berhenti berdetak dalam hitungan detik. Nafasnya tercekat. Dunia indah yang ia bangun dalam benaknya pun hancur. Cahaya harapan yang biasanya bersinar terang di dalam hatinya juga padam.


Tidak mungkin. Ini... ini tidak mungkin. Yuan, dia, dia akan bertunangan. Tidak, ini pasti hanya mimpi buruk kan? — batin Rose yang terus beradu argumen yang tak berujung.


“Aku harus pergi sekarang.” ucap Ray sembari melihat arlojinya.


Pria paruh baya itu kemudian bangkit dari duduknya. Sesaat ia menatap Rose yang masih tercengang dengan fakta bahwa Yuan akan bertunangan.


Ray membenarkan letak dasinya. Lalu berjalan pergi keluar dari dalam rumah tersebut. Ia mengabaikan Rose yang hatinya sedang sekarat.


Aku harap itu cukup membuatnya mundur dan menjauh dari situasi tidak bagus ini.


Dia seorang perempuan yang terlalu naif. Aku tidak mungkin bisa membiarkannya ikut berperang. Karena dia bisa saja tersakiti bahkan sebelum perang dimulai.


Setidaknya, aku sudah menemuinya dan memberitahunya tentang rencana pertunangan Yuan. Entah dia akan tetap bertahan dengan rasa cinta itu atau tidak. Sekarang, itu semua terserah padanya. — batin Ray.


•••


Sebuah kamar dengan nuansa hitam dan putih yang terpadu dengan warna abu-abu itu tampak suram.


Aura dari si pemilik kamar menguar, membuat suasana sekitar terasa buram. Tidak ada aroma kehidupan.


Yuan berdiri di dekat jendala kamarnya. Menatap kosong ke depan. Kemudian tangannya bergerak menyentuh kaca jendela yang bening itu.


Di luar sana hujan mengguyur deras. Awan hitam pun sepertinya enggan bergerak pergi. Ia seolah ingin selalu menutupi langit berbintang serupa harapan.


Helaan napas kembali terdengar darinya. Rasa frustasinya telah memuncak pada titik tertinggi.


Ia tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini. Yuan harus bertindak. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana caranya ia pergi dari tempat seperti Kastel Hozuki ini? Pertanyaan itu selalu membuatnya lemas dan mungkin saja putus asa.


Untuk bernapas saja, Yuan merasa di awasi. Rambutnya bergerak saja, Yuan merasakan banyak pasang mata yang langsung memandangi. Apalagi mencoba menerobos keluar dari rumah ini. Dirinya seolah akan meledak seketika itu juga.


Tok. Tok. Tok


Suara ketukan pintu terdengar. Telinga Yuan juga mendengarnya. Tapi pria itu tidak ada niat sama sekali untuk membukanya.


“Tuan muda Yuan.” panggil seseorang. “Tuan muda, apa anda sudah tidur? Maaf saya mengganggu anda. Saya hanya ingin memberikan selimut tambahan karena di luar hujan turun deras dan udara sangat dingin.” ucap seseorang. Dari suaranya itu, ia pasti seorang wanita paruh baya berusia sekitar empat puluhan ke atas.


Yuan masih diam. Ia sungguh tidak akan membuka pintunya.


“Tuan muda Yuan?” panggil pelayan itu. Tapi Yuan masih bergeming, diam di tempatnya. Ia tidak acuh dengan suara ketukan yang berulangkali terdengar.


Tapi kemudian, sebuah kalimat yang di ucapkan oleh pelayan itu membuat Yuan menoleh ke arah pintu kamarnya.


“Tuan muda, walaupun hujan di luar sangat deras. Tapi langit malam tetap berbintang. Planet Venus si bintang Kejora. Tuan muda Yuan, anda harus menerima selimut ini agar tidak kedinginan.” kata pelayan itu.


“Apa yang kau lakukan di depan kamar Tuan muda Yuan?! Cepat pergi!” ucap sebuah suara lain yang terdengar dari luar kamar Yuan.


Dengan gerakan cepat, Yuan pun segera membuka pintu kamarnya sebelum pelayan yang mengucap Venus adalah si bintang Kejora itu di usir dan pergi dari depan kamarnya.

__ADS_1


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2