
Good Morning.
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Yuan mengetuk pintu kamar sang ibu. Lalu kemudian membuka pintu kamar tersebut, ia masuk ke dalam. Di sana, Ana terlihat duduk tenang di kursi balkon kamarnya.
“Mom? Kenapa Mommy duduk di luar?” tanya Yuan, “Ayo masuk, di luar udaranya cukup dingin, sebentar lagi akan turun hujan,” katanya.
“Tidak apa, Mom baik-baik saja. Kondisi Mommy juga menjadi lebih baik semenjak kau berada di sisi Mommy. Terimakasih sudah merawat Mommy, Yuan,” ucap Ana.
Yuan tersenyum, kemudian ia mendekati sang ibu, merengkuh tubuh ibunya itu dari arah belakang.
Ana tersenyum tipis. Tapi kemudian, senyumannya itu luntur. Ia melepaskan pelukan Yuan darinya.
“Ada apa Mom?” tanya Yuan yang merasa aneh dengan tindakan sang ibu.
“Tapi Mom tetap kecewa padamu,” ujar Ana. Ia membahas masalah Yuan yang memilih bertunangan dengan Rue dari pada kembali ke sisi Rose.
“Kenapa kau tidak tinggalkan Mommy saja dan kembali pada Rose? Apa kau tahu, Mommy merasa bersalah pada gadis itu,” ucap Ana sembari menatap kosong pada langit malam yang ditutupi awan mendung. Pandangan matanya itu terlihat menerawang jauh ke sana.
Yuan melangkahkan kakinya, semakin mendekati ibunya. Kemudian, pria itu merengkuh tubuh sang ibu dari belakang. Mencoba menghilangkan kegundahan yang sedang melanda seluruh wilayah hati ibunya.
“Jangan berkata seperti itu, Mom. Tolong percaya pada Yuan, suati hari nanti, semuanya akan baik-baik saja,” ucap Yuan.
Ana menghela napasnya, kemudian mengusap tangan anaknya yang masih merengkuhnya dalam kasih.
“Haruskah Mom percaya padamu kalau semua akan baik-baik saja?” tanya Ana.
Yuan mengangguk dalam pelukannya itu, “Mommy harus percaya padaku,” ucapnya.
“Baiklah, Mom hanya bisa berharap kalau suatu hari nanti kau tidak akan menyesali tindakanmu saat ini,” ujar Ana.
__ADS_1
•••
Di malam yang sama, sebuah helikopter mendarat di atas sebuah gedung pencakar langit.
Tak lama setelah helikopter itu melandasi area lepas landas. Dua orang tampak turun dari bagian depan, mereka adalah pilot dan co-pilot. Lalu, dua orang lainnya turun dari bagian belakang kemudi helikopter tersebut.
Ya, Sarah keluar lebih dulu, kemudian di ikuti Rose yang ikut turun juga.
Setelah beberapa bulan berada di sebuah pulau pribadi. Akhirnya Rose bisa menginjakkan kakinya kembali ke Tanah Air. Rasanya senang.
Raut kebahagiaan di wajah Rose pun tak dapat ia sembunyikan lagi, secercah senyum yang sudah lama tidak menghiasi wajah cantiknya, kini kembali terlihat. Sungguh membuat Sarah merasa senang melihat senyum itu kembali.
“Ayo cepat,” ucap Sarah, membuyarkan debaran rasa senang di hati Rose. Sejenak, mungkin ia bisa lupa dengan kesedihan yang telah bersemayam lama di dalam dirinya.
Lalu kemudian, Rose mengikuti langkah kaki Sarah. Mereka turun dari atap gedung itu. Terus berjalan hingga sampai di basemen gedung tersebut.
Sarah merogoh kantong celananya, mencari sebuah kunci mobil yang ia simpan di dalam sana.
Setelah menemukannya, Sarah menekan tombol aktif pada remote mobilnya.
Rose yang awalnya terbengong dengan mobil mewah yang sarah miliki, ia pun kemudian tersadar dan mulai masuk ke dalam mobil tersebut.
“Sejak kapan kau punya mobil seperti ini, Sarah? Apa kau menghabiskan semua gajimu untuk membeli ini?” tanya Rose. Lalu kemudian, ia teringat dengan helikopter yang ia naiki beberapa saat yang lalu.
“Dan helikopter yang kita naiki tadi... itu bukan dari Yuan kan? Jadi, bagaimana kau mendapatkan helikopter itu?” tanya Rose lagi, ia sungguh penasaran.
Sarah tersenyum tipis sembari melajukan mobilnya ke jalan raya. Gadis itu mengemudi dengan sangat normal, tidak seperti ketika ia akan datang menjemput Rose waktu itu.
“Kau akan tahu jawabannya nanti,” ucap Sarah, “Tapi, setelah kau mendapatkan jawaban atas semua pertanyaanmu barusan. Bisakah kau berjanji padaku untuk tidak menganggapku sebagai orang yang berbeda?” ujar Sarah.
Rose mengernyit heran sekaligus bingung. Tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. Saat ini ia hanya bisa menjawab seperti itu.
•••
Malam semakin dingin. Rasanya udara di luar mampu menusuk kulit hingga sampai ke tulang sum-sum.
Semua orang akan memilih untuk kabur dari udara malam yang begitu dingin itu dan bersembunyi di balik selimut hangat mereka.
__ADS_1
Tapi tidak dengan seorang pria yang terus merenung dalam diamnya.
Mata hitamnya yang pekat, sepekat malam gelap tanpa bintang dan rembulan. Ia menatap ke atas, ke arah cahaya rembulan yang hilang di selimuti oleh awan gelap.
Yuan, pria itu, selepas keluar dari kamar ibunya dan berhasil membujuk ibunya untuk menutup jendela lalu tidur. Ia sendiri malah pergi ke kamarnya dan diam-diam melamun dalam keheningan malam yang sunyi, hanya berteman dengan suara hewan malam yang sepertinya berteriak kesepian.
Aku merasakan kosong, setiap malam selalu berpikir apakah dia baik-baik saja? Bahkan saat menatap langit pun, aku seolah merasa melihat dirinya.
Jika terus seperti ini. Aku mulai ragu dengan pilihan juga keputusanku. Aku mulai takut kalau dia akan berhenti menungguku. Aku juga mulai khawatir dan cemas, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?
Aku ingin sekali berlari dan pergi menemuinya. Tapi aku dan Daddy sudah melangkah sampai pada titik ini. Tidak mudah mendapatkan kesempatan bagus seperti ini. Karena itu aku harus menahannya.
Biarlah rindu yang terpadu dengan rasa khawatir menjadi saksi bisu tentang isi hatiku yang sebenarnya.
Walaupun sebenarnya ini menyiksaku. Aku harus tetap bertahan. Rose, aku harap kau juga tetap bertahan menungguku.
•••
Mobil Porsche merah menyala itu berhenti di sebuah mansion besar di kawasan Jakarta Selatan.
Sarah turun dari mobil tersebut, lalu diikuti oleh Rose yang kemudian turun setelahnya.
“Ini... bukankah ini lebih mirip seperti mansion dari pada sebuah rumah?” tanya Rose, walaupun dirinya bukan berasal dari kalangan bawah. Tapi bukan berarti ia tidak tahu tentang sebuah rumah yang memiliki halaman luas, serta lebar dan besar seperti kastil ini.
“Ya, begitulah,” jawab Sarah.
“Apa ini tempat tinggalmu? Apa kau selama ini tinggal di sini?” tanya Rose.
“Bisa di bilang begitu. Tapi ini bukan rumahku. Aku hanya memiliki hak bebas keluar-masuk dan tinggal di sini kapan pun aku mau. Selebihnya, semua ini adalah milik saudara kembarku,” jawab Sarah. Perlahan ia mulai membuka identitas aslinya pada Rose, ia ingin jujur.
“Apa?!” mendengar kata saudara kembar di sebut. Rose tampak terkejut tidak percaya, “Kau punya saudara kembar?” tanya Rose lagi.
Sarah menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis yang menghiasi sudut bibirnya. Ia menjawab, “Ya, aku memiliki saudara kembar laki-laki. Tapi kami kembar tidak identik,” kata Sarah sembari menatap lurus ke arah belakang Rose. Di balik jendela mansion tersebut, seorang pria tengah memandangi mereka, Sean.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1