
Satu minggu kemudian~
"Apa kalian sudah siap?" Tanya Julian.
"Aku merasa gugup, padahal ini bukan pertama kalinya untuk kita, tapi entah kenapa rasanya berbeda sekali, apa karena aku akan tampil di hadapan ayahku ya?" Ujar Kin, pria itu terlihat mengatur nafasnya, mencoba menghilangkan kegugupan yang terlihat jelas darinya.
"Dimana Yuan?" Tanya Kai, yang baru menyadari jika Yuan masih belum datang juga.
"Kau sudah menghubunginya?" Tanya Kin pada Julian.
"Sudah, dia bilang sebentar lagi akan datang." Jawab Julian.
"Waktu kita sebelum tampil tinggal dua puluh menit lagi, jika dia belum datang juga, habislah kita." Ucap Kai.
"Dia pasti akan datang, karena ini adalah kesempatannya untuk membuktikan kepada ayahnya, jika impiannya bukan hanya omong kosong belaka." Ujar Julian.
•••
"Apa bus-nya tidak bisa melaju lebih cepat lagi?" Keluh Yuan.
Pria itu bangun melewati jadwal yang sudah diaturnya, walaupun dirinya sudah menghidupkan alarm tapi karena rasa lelah dan baru tidur pukul tiga dini hari, ia terlambat bangun dari waktu yang sudah ia jadwalkan itu.
"Sebentar lagi juga sampai." Ujar Rose yang duduk di samping pria itu.
"Kau juga, kenapa tidak membangunkan aku?" Tanya Yuan kesal.
"Kau tidak memintaku untuk membangunkanmu, aku juga lupa tentang hari ini. Lagipula, bagaimana aku tega membangunmu yang baru saja tidur selama empat jam." Jawab Rose.
Yuan menghela nafasnya,
"Setidaknya kau bangunkan aku, bagaimana jika aku terlambat?!"
"Kenapa menyalahkan aku?" Gumam Rose, wajahnya terlihat muram mendapatkan semburan emosi Yuan.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Yuan, pria itu baru menyadari jika dirinya bahkan lupa memakai jam tangannya, ia juga terlalu malas untuk mengambil ponselnya yang disimpannya di dalam tas.
"Jam sepuluh kurang lima belas menit." Jawab Rose setelah melihat arloji yang melekat di tangan kanannya.
"Apa sudah sampai?" Tanya Yuan ketika merasa bus itu berhenti melaju.
"Iya, ayo cep—" Belum sempat Rose menyelesaikan perkataannya, Yuan sudah lebih dulu beranjak pergi, pria itu keluar dari bus dengan terburu-buru, Yuan berlari cepat menuju ke arah universitas mereka yang berjarak beberapa meter dari halte bus.
Rose menghela nafasnya, ia menatap tangannya yang menggantung di udara, tangan yang tadinya ingin meraih lengan Yuan, tapi pria itu sudah pergi lebih dulu tanpa mempedulikan dirinya.
"Tidak terasa sudah satu minggu berlalu, jadi— hari ini ya, hari terakhir dia tinggal di apartemenku. Setelah ini, aku akan sulit sekali ada di dekatnya." Gumam Rose, ketika kakinya telah menginjak halte bus, tatapannya terarah pada Yuan yang sudah masuk melalui gerbang kampus.
•••
"Acara selanjutnya adalah penampilan dari boyband yang sudah sangat terkenal di universitas ini dan di luar universitas ini. Boyband yang berisi empat pria tampan dan mempesona hati setiap wanita. Baiklah, langsung saja— kita panggilkan! Ini dia— YJK2!!" Kata si pembawa acara.
Mendengar nama grup mereka di panggil, Julian melangkah lebih dulu memasuki area panggung, diikuti oleh Kin dan juga Kai.
Dalam hati mereka, ketiga pria dewasa itu berharap agar Yuan segera datang.
"Bagaimana ini? Yuan belum datang juga." Bisik Kin.
__ADS_1
"Julian, bisakah kita mengulur waktu sebentar? Aku yakin, Yuan sebentar lagi pasti datang." Bisik Kai.
"Aku akan mengulur waktu, tapi akau harap dia segera datang, karena aku tidak bisa berbicara panjang lebar." Kata Julian.
Pria itu kemudian memberikan kode pada pembawa acara untuk mendekat ke arah mereka.
"Ada apa?" Tanya si pembawa acara itu.
"Yuan belum datang, bisakah kau membantu kami untuk mengulur waktu sebentar?" Ujar Julian.
"Aku bisa membantu kalian mengulur waktu, tapi— tidak boleh terlalu lama, karena jadwal acara sudah di buat, tidak bisa diubah karena keterlambatan seseorang, walaupun dia anak dari investor utama sekalipun." Kata pembawa acara itu.
"Baik, kami mengerti." Ucap Julian.
"Aku akan mengatakan pada mereka jika kalian akan memberikan kata sambutan dahulu." Ujar pembawa acara.
"Iya."
"Baiklah, tapi ingat! Kalian hanya punya waktu tujuh menit untuk mengulur waktu."
Julian mengangguk, mewakili kedua temannya yang lain untuk menyetujui kesepakatan itu.
"Para tamu undangan yang terhormat dan para hadirin sekalian. Ini dia YJK2, tapi sebelum mereka membuat kita terbuai dengan tarian dan nyanyian mereka. Mari kita dengarkan lebih dahulu kata sambutan dari mereka." Kata pembawa acara itu menggunakan microfon nya.
Julian mengaktifkan microfon kecil yang tersemat di telinganya, ia melihat jam tangan yang dikenakannya sejenak, kemudian menyapa para tamu undangan dan semua orang yang hadir di aula utama kampus itu.
Julian mulai mengulur waktu selama tujuh menit dengan memberikan ucapan terimakasih dan kata-kata ungkapan rasa syukur lainnya.
Tapi tujuh menit adalah waktu yang sangat singkat, disaat-saat seperti ini, tujuh menit seperti dalam hitungan tujuh detik.
Julian menghentikan perkataannya, ia berpura-pura menampilkan senyuman kepada semua orang, padahal hatinya sudah khawatir.
Masalahnya, Yuan adalah vokal utama di grup mereka. Banyak lirik lagu yang menjadi bagian Yuan.
"Baiklah, itu tadi kata sambutan dari YJK2! Sekarang mari kita saksikan penampilan dari mereka." Ujar pembawa acara dengan microfon.
Pembawa acara itu kemudian pergi dari area panggung, menyisakan ketiga pria yang saling menatap satu sama lain.
Di antara para tamu undangan, Ana yang duduk di bagian VVIP bersama Ray, wanita paruh baya itu sejak tadi terlihat sedang mencari sesuatu dari atas panggung itu.
"Apa ini karena penglihatanku yang bermasalah atau memang Yuan tidak ada di antara mereka? Sayang, apa dia tidak ikut tampil karena kita ada disini? " Tanya Ana.
Suaminya itu terlihat hanya diam saja, tatapan Ray terus terarah ke depan, walau hati dan jiwanya telah melayang-layang entah kemana.
Suara alunan musik intro perlahan mulai terdengar. Julian, Kin dan Kai mulai menyusun formasi koreografi mereka.
"Kita harus memberikan penampilan terbaik." Ujar Julian memberikan dorongan semangat kepada dua temannya.
Saat lampu mulai padam, terlihat oleh Julian, Kin dan Kai, sosok Yuan berlari cepat ke area panggung, pria itu langsung masuk ke dalam formasi yang mereka buat.
Kedatangan dari Yuan membuat ketiga temannya tersenyum senang, mereka akhirnya bisa bernafas lega.
Tak lama, lampu panggung pun kembali menyala. Keberadaan Yuan yang tiba-tiba ada di antara tiga temannya membuat semua mahasiswi yang sejak tadi mencari Yuan berteriak histeris, mereka pikir itu bagian dari pertunjukan, menjadikan Yuan sebagai kejutan.
Tadinya Yuan tidak ada, lalu lampu padam, dan kemudian saat lampu menyala, Yuan berdiri di atas panggung, dan mulai melakukan koreografi dancenya bersama ketiga temannya.
__ADS_1
Lantunan bait-bait lirik lagu mulai mereka nyanyikan bergantian. Ke empat pria populer itu menyanyi dan menari dengan begitu apik, membuat semua orang merasa terpukau melihatnya.
Tiga lagu sekaligus mereka tampilkan secara berurutan, lagu terakhir dengan kesan yang begitu mendalam berisikan tentang harapan dan impian menjadi penutup yang luar biasa dari keempat pria itu.
Nafas keempatnya terlihat terengah-engah, tapi tidak menyurutkan rasa senang dan semangat mereka.
Keempat pria itu membungkuk hormat kepada semua orang yang menyaksikan penampilan mereka.
"Bagian kita sudah selesai, ayo kembali ke belakang panggung." Ujar Julian sembari melepas microfon kecilnya.
"Beri saya sedikit waktu untuk mengatakan sesuatu kepada orang tua saya yang hadir disini sebagai tamu kehormatan." Kata Yuan melalui microfonnya, membuat semua orang langsung terdiam.
"Yuan, apa yang kau lakukan?" Bisik Kai.
Tapi sepertinya, Yuan menganggap pertanyaan dari Kai itu hanya angin lalu, ia mengabaikannya.
"Untuk dad dan mom yang Yuan sayangi, Yuan tidak pandai merangkai kata-kata, tapi ada satu hal yang ingin Yuan katakan pada kalian, terutama daddy. Dad, inilah impian dan keinginan Yuan, daddy bisa melihatnya sendiri, banyak orang yang mendukungnya, banyak orang yang suka. Daddy, Yuan tidak ingin menjadi penerus perusahaan yang dad pimpin." Ujar Yuan.
Ray masih diam memperhatikan anaknya itu, tapi Ana dapat melihat dada Ray yang tampak naik turun menahan emosi.
Istrinya itu lantas mengelus lengan Ray, memberikan ketenangan pada suaminya itu.
"Jika dad menyetujui keinginan Yuan, Yuan akan kembali ke rumah." Kata Yuan mengakhiri perkataannya. Pria itu kemudian melepas microfon yang terpasang di telinganya, lalu berbalik menuju ke belakang panggung.
Namun, sebuah teriakan histeris dari seorang wanita paruh baya membuat Yuan kembali membalikkan badannya, menatap ke arah kursi tamu undangan.
Ana berteriak histeris memanggil nama suaminya yang tidak sadarkan diri, pria itu sejak tadi hanya diam, tapi saat Ana memegang tangannya, keringat dingin terasa menyelimuti diri Ray.
Ray diam dengan nafas memburu karena menahan rasa sakit dikepala-nya, ia juga merasa telinganya berdenging dan nyeri di bagian dadanya. Semua itu Ray rasakan ketika emosinya memuncak saat Yuan mulai mengatakan sesuatu yang sangat membuatnya marah.
"Dad!" Teriak Yuan, pria itu berlari menghampiri ayahnya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tim medis!" Teriak Yuan lagi, ia menepuk-nepuk bahu ayahnya tapi tidak ada reaksi dari pria paruh baya itu.
Tim medis yang memang di siapkan untuk acara itu, mereka datang dengan membawa tandu.
"Ambulance sudah disiapkan." Ucap salah satu orang dari tim medis itu.
Dengan bantuan dari tim medis, Yuan mengangkat tubuh ayahnya ke atas tandu dan membawanya ke mobil ambulance yang sudah terparkir di depan aula utama.
"Kak Ana." Rachel berteriak ketika melihat kakak tirinya itu tampak berjalan sempoyongan menyusul Yuan dan suaminya yang sudah keluar dari aula utama itu.
Rachel mempercepat langkahnya dengan berlari kecil menghampiri Ana.
"Tenangkan dirimu kak, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan." Ujar Rachel sembari membantu Ana berdiri tegak.
Ibu Yuan itu terlihat memegangi dadanya yang terasa sedikit sesak, kepanikan membuat tubuhnya tidak dapat terkendali dengan baik.
"Kita susul mereka dengan mobilku saja, biarkan Yuan yang menemani ayahnya di ambulance itu." Kata Rachel yang dibalas anggukan dari kakak tirinya.
"Ketua tim satu, untuk sementara kau bertanggung jawab atas acara ini, mohon kerjasamanya ya, terimakasih." Ucap Rachel melalui headset bluetooth yang terpasang di telinganya.
"Diterima." Jawab ketua dari tim satu itu.
"Ayo kak." Ajak Rachel sembari membantu Ana berjalan keluar dari aula kampus itu.
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍