The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Kita Berjumpa Lagi


__ADS_3

Pukul 09:00 pagi, Yuan baru saja terbangun oleh bunyi alarm yang telah di aturnya tadi malam.


Pria itu bangun siang bukan tanpa alasan, itu karena dirinya baru tidur pukul dua dini hari.


Semenjak kejadian malam dimana identitas aslinya terbongkar, Cafe tempat Yuan bekerja menjadi semakin banyak pengunjung, bahkan pemiliknya pun akhirnya menerapkan sistem dua puluh empat jam, dengan menggunakan jadwal shifting pada pegawainya.


Yuan mendapatkan jadwal malam karena keinginan pria itu sendiri, ia meminta pada pemilik cafe untuk mengaturkan jadwal kerjanya sesuai dengan jadwal kegiatannya sehari-hari. Karena bagaimanapun juga, setelah kuliah ia harus berlatih bersama teman-temannya untuk persiapan tampil di acara perayaan kampus yang kurang seminggu lagi.


"Dia belum pulang juga ya." Gumam Yuan ketika dirinya tak sengaja melihat pintu kamar pemilik apartemen yang telah menjadi tempat tinggal sementaranya itu.


Pria itu kemudian berjalan mengambil susu yang disimpannya di dalam kulkas, Yuan juga mengambil satu bungkus roti isi yang ada di dalam lemari.


Saat dirinya sedang fokus pada sarapannya, tiba-tiba terdengar bunyi suara ponselnya, sebuah pemberitahuan panggilan masuk dari sepupunya — Nana tertera di layar ponselnya.


Yuan menggeser tombol hijau dan menekan loud speaker ponsel itu.


"Ada apa?" Tanya Yuan langsung, ketika sambungan telepon itu telah terhubung.


"Kau datang kan?"


"Ah acara kelulusanmu? Maaf, sepertinya aku tidak bisa hadir, aku harus berlatih untuk persiapan di acara hari jadi kampus nanti. Tidak masalah kan?"


Terdengar suara helaan nafas dari seberang sana, Nana menghela nafasnya ketika Yuan berkata tidak dapat hadir di acara wisudanya.


"Ya, tidak masalah." Jawab Nana yang terdengar lesu.


"Maaf ya Nana. Aku janji, saat kelulusanmu di jurusan seni nanti, aku pasti akan datang." Ujar Yuan, pria itu berusaha menghilangkan kekecewaan yang sedang menyelimuti diri Nana.


"Tentu saja kau akan datang, dasar bodoh, kau mencoba menipuku? Saat aku wisuda jurusan seni, kau juga akan wisuda jurusan manajemen bisnis, kita akan lulus dalam waktu yang sama. Bagaimana mungkin kau tidak datang." Ujar Nana.

__ADS_1


"Kau memang pintar sepupuku! Aaa— sudah dulu ya, aku terlambat, sampai jumpa." Kata Yuan yang kemudian langsung mematikan sambungan telepon itu.


Yuan tersenyum lebar, menahan tawanya sembari memandang ponselnya yang ia letakkan di atas meja makan.


Pria itu sebenarnya tidak sedang terlambat, karena dirinya tidak ada jadwal kegiatan hari ini.


Yuan hanya memiliki satu mata kuliah untuk hari ini, tapi kemarin, dosen yang mengajar mata kuliah itu memberitahu kalau hari ini beliau tidak masuk.


Yuan juga sedang libur kerja, dan lagi, latihannya hari ini di break karena Kin harus pergi ke tempat neneknya.


Dan karena semua itu, saat ini, jadwal kegiatannya Yuan hanya satu, bermalas-malasan.


•••


Terminal bus hari itu lumayan padat, banyak orang berdatangan sejak pagi hari tadi.


Rose turun dari bus yang baru saja mengantarnya untuk kembali ke ibu kota. Kakinya melangkah menapaki jalan menuju trotoar.


Rose kembali melangkahkan kakinya sembari menarik koper yang di bawanya. Ia menyusuri trotoar itu dengan wajah menunduk.


Jarak antara terminal bus antar kota dan rumahnya tidak terlalu jauh. Jika dirinya berjalan kaki, kurang lebih, Rose membutuhkan waktu tempuh sekitar hampir satu jam. Tapi ia bisa mempersingkatnya dengan naik taksi, yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit saja.


Namun, Rose adalah gadis yang super hemat, bukan karena dirinya terlalu irit, tapi karena ia harus pandai memanajemen uangnya sendiri. Kalau masih bisa di tempuh dengan berjalan kaki, kenapa harus menggunakan kendaraan yang akan mengeluarkan biaya mahal.


"Yuan masih tinggal di apartemenku tidak ya?" Gumam Rose, dirinya itu terus saja teringat dengan pria pujaannya. Apalagi pria itu tidak pernah menghubungi dirinya ketika Rose masih berada di kota tempat ibunya tinggal sekarang. Padahal ia berharap, Yuan menghubunginya.


Walaupun Rose tahu, jika harapannya itu hanya akan menjadi lelucon bagi gadis-gadis pecinta Yuan yang lain. Dia itu siapa? Kenapa Yuan harus menghubunginya? — Mungkin itu yang akan Rose dengar dari mulut para gadis-gadis itu.


Helaan nafas terdengar dari diri Rose, gadis itu kembali teringat dengan semua fakta yang di dapatnya selama berada di rumah bibinya.

__ADS_1


Fakta jika ayahnya dulu adalah pria baik yang sekarang berubah menjadi seorang pria dengan sikap dan sifat yang buruk.


Rose juga akhirnya tahu, alasan kenapa ibunya tetap bertahan bersama sang ayah. Itu semua karena cinta dan harapan yang tidak pernah padam di hati ibunya.


Seketika Rose tanpa sadar tersenyum miris, ia merasa ibunya telah terbodohi dengan yang namanya cinta dan harapan, tapi melihat dirinya sendiri, ia pun tidak jauh berbeda dari sang ibu.


Dia juga memiliki cinta dan harapan yang besar di hatinya untuk seorang pria, pria yang tidak akan mungkin menjadi pendamping hidupnya, seorang pria yang memiliki kelas sosial yang jauh berbeda darinya.


"Jika dipikir-pikir, Yuan itu ibarat sebuah pohon yang tinggi dan aku adalah tanah, Yuan akan selalu tumbuh menjulang tinggi, sedangkan aku— tanah selamanya akan tetap berada dibawah." Gumam Rose.


"Rose?!" Terdengar suara pria memanggilnya dari kejauhan.


Rose menyipitkan matanya, menajamkan penglihatannya, agar ia bisa tahu, siapa yang telah memanggil namanya.


"Rose! Apa itu kau?" Tanya pria itu, ia berjalan mendekati Rose, pria itu memakai jaket dengan tudung yang menutupi kepalanya, membuat Rose sulit mengenali pria tersebut dari jarak yang kurang dekat.


Saat pria itu sampai di hadapannya, Rose mengernyitkan keningnya, ia bertanya-tanya, siapa orang di balik tudung jaket itu?


"Ini aku, Yuan." Ucap Yuan sembari membuka tudung jaketnya.


"Yuan? Apa yang kau pakai? Ini benar-benar kau?" Tanya Rose, ia tidak percaya ketika melihat pria itu memakai jaket dengan harga murah yang berwarna kuning dengan celana training dengan warna senada.


"Memangnya apa yang salah? Ayo pulang, dan bawa ini." Ujar Yuan sembari melemparkan kantong plastik yang berisi makanan ringan dan minuman ke arah Rose. Setelah itu, ia berjalan mendahului Rose yang masih diam di tempat.


Gadis itu dengan sigap menangkap kantong plastik yang Yuan lemparkan padanya, Rose menatap kantong plastik itu dan melihat isi didalamnya, kemudian tatapannya beralih pada Yuan yang sudah berjalan cukup jauh didepannya.


"Oi! Sedang apa? Ayo cepat jalan!" Teriak Yuan yang berada beberapa meter di depan sana.


"Iya." Jawab Rose, gadis itu kemudian meraih kopernya dan menariknya lagi. Tangan kanannya menarik koper, sedangkan tangan kirinya memegang kantong plastik berukuran besar namun tidak terasa berat baginya.

__ADS_1


Melihat Rose yang sudah mulai melangkah, tanpa sadar Yuan tersenyum, namun kemudian ia menampilkan wajah dinginnya lagi dan kembali berjalan mendahului Rose yang terlihat susah payah berjalan di belakangnya.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2