The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Yuan vs Feng (bagian dua)


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menampar kakak sepupuku?!" Pekik Daisy. Gadis itu merasa shock dengan tindakan yang baru saja Feng lakukan pada kakak sepupunya itu.


"Dia pantas mendapatkannya." Jawab Feng.


"Beraninya kau!"


Yuan terlihat ingin menyerang balik pria di hadapannya itu. Tapi, untungnya Nana lebih cepat bergerak dan menghentikan tangan Yuan yang masih terkepal kuat. Nana tampak menahan lengan Yuan dengan susah payah. Bagaimanapun juga, tenaga Yuan lebih besar darinya.


"Yuan! Dasar bodoh! Kendalikan emosimu. Jangan mudah terbawa emosi!" Ujar Nana.


Walaupun itu hanya perkataan yang sederhana. Tapi, perlahan-lahan kepalan di tangan Yuan terlihat memudar. Pria itu sepertinya sudah bisa mengendalikan emosinya kembali. Walau belum sepenuhnya. Tapi setidaknya, Yuan tidak hilang kendali untuk saat ini.


"Kalian berdua! Hanya karena seorang perempuan, apa pantas melakukan perkelahian seperti ini?! Coba kalian pikirkan! Apa Rose akan senang ketika dirinya harus melihat kalian bertengkar karenanya?! Bukan hanya tidak suka, tapi dia akan menjauhi kalian dan bahkan membenci kalian, itu juga berlaku padamu Yuan." Kata Nana.


"Bukan masalah besar. Semarah apapun Rose, dia tidak akan pernah bisa marah begitu lama padaku. Lagipula, kau tidak perlu ikut campur masalah ini. Kau— lebih baik kau dan Daisy cepat pergi dari tempat ini." Ujar Yuan, membalas perkataan Nana.


"Kenapa harus pergi?! Kau pikir aku tidak akan tahu ketika kami berdua pergi, apa yang akan kau lakukan dengannya?!"


"Memangnya apa yang ingin kami lakukan?"  Ujar Yuan tanpa ekspresi.


Nana terlihat mencebik kesal dengan pertanyaan yang baru saja Yuan lemparkan padanya itu. Bagaimanapun juga, Nana hanya ingin mengantisipasi kejadian yang tidak ia harapkan, yaitu mereka bertengkar.


"Jangan berpura-pura bodoh. Ayo cepat, lebih baik kita kembali ke ruang pesta tadi." Ajak Nana sembari menarik tangan Yuan. Tapi sayangnya, pria itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun. Tubuh Yuan saat ini seperti sebongkah batu besar yang sangat tidak mungkin bagi Nana untuk menggerakkannya.


"Aku masih ada urusan dengannya. Kalau kau ingin pergi, pergilah lebih dulu. Jangan lupa, ajak adikmu itu pergi dari sini juga." Ujar Yuan.


"Bagaimana mungkin aku meninggalkan kalian berdua para pria yang sedang terbakar emosi ini. Dengar ya! Lebih baik aku meninggalkan dua wanita yang sedang emosi daripada dua pria yang saling melemparkan amarah seperti kalian ini. Dan akan lebih baik kalau seandainya kalian ini perempuan, karena kalian mungkin hanya akan saling menarik rambut satu sama lain. Tapi sayangnya, kalian ini dua pria, yang artinya akan sangat berbahaya kalau aku membiarkan kalian bertengkar. Karena kalau itu terjadi, kalian benar-benar akan saling memukul, menendang, dan adu tinju sampai tenaga kalian berdua benar-benar habis. Jadi, kumohon, hentikan pertengkaran kalian ini." Kata Nana.


Namun sayangnya, lagi dan lagi, ocehan panjang dari Nana barusan hanya akan menjadi angin lewat bagi Yuan dan Feng. Semuanya dapat dilihat dari tatapan mata mereka yang tetap terus beradu tajam satu sama lain.


"Kak Yuan, yang kak Nana katakan itu ada benarnya. Lagipula, kalau kalian bertengkar hanya karena seorang perempuan, apa kalian sungguh tidak malu? Kalian ini kan dua tuan muda terhormat." Ujar Daisy.


"Yuan— ayo pergi dari sini." Ajak Nana, lagi.


Yuan tampak menoleh ke arah Nana. Pria itu sepertinya sedikit tergiur dengan ajakan Nana.


Akhirnya, Yuan kembali berusaha menahan amarahnya pada pria hadapannya itu. Yuan juga ingin memilih untuk pergi saja dan melupakan pertengkaran ini.


Tapi sepertinya, Feng tipe pria yang suka menyiram bensin diatas kompor yang sedang menyala.


"Kalau kau pergi dari sini. Itu berarti, kau itu hanyalah seorang pecundang kelas atas. Ck, Kau benar-benar tidak pantas berada di sisinya." Kata Feng yang semakin membuat api di dalam dada Yuan bergemuruh lagi.

__ADS_1


"Yuan, yuan! Tenang, okey. Dia hanya sedang memancingmu. Kau harus bersikap dewasa. Ingatlah selalu, kalau sampai Rose tahu tentang ini, dia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri." Bujuk Nana.


"Maaf Nana. Tapi, aku harus menyelesaikan masalah ini dengannya. Dia itu sudah berani meremehkan dan menghina seorang Yuan Mauli Gavin. Sekalipun, ayahnya adalah teman baik daddyku. Tapi, itu tidak akan pernah memudarkan amarahku terhadapnya." Kata Yuan.


"Ya, itu baru benar. Aku dengan senang hati akan menjadi rival abadimu sepanjang masa." Ujar Feng, membalas perkataan Yuan.


"Bagus, aku tidak akan pernah membiarkanmu mendekati atau bahkan mendapatkan Rose. Sedikitpun, tidak akan pernah." Ucap Yuan sembari melemparkan raut wajah dinginnya.


"Cih, kau lihat saja nanti. Ada saatnya, kau akan melihat Rose berpaling darimu dan kemudian, dia akan datang kepadaku." Kata Feng.


"Ya ya, itu semua akan terjadi. Tapi— dalam mimpimu!" Sahut Yuan.


"Kau!"


"Astaga! Kalian ini sudah hilang akal ya?! Rose itu bukan barang! Dia itu manusia! Bukan seenaknya saja bisa kalian perebutkan! Dia juga punya hak untuk memilih. Kalau memang cinta, ya tunjukan dengan cara yang baik, bukan seperti ini! Kalian ini dua pria terhomat. Tapi, hanya karena berebut satu gadis, kalian berubah menjadi pria yang sangat-sangat tidak punya sopan santun. Tolong pikirkan perasaan Rose! Kalau orang lain melihat kalian seperti ini, mereka akan berpikir kalau Rose itu adalah gadis jahat yang membuat dua pria bertengkar karenanya! Apa kalian belum mengerti juga?!" Kata Nana dengan nada frustasinya. Gadis itu sudah kehabisan cara untuk memisahkan kedua pria yang masih saja ingin berseteru itu.


"Memangnya— apa bagusnya perempuan bernama Rose itu? Tidakkah kalian tahu? Perempuan di dunia ini sangatlah banyak. Kenapa hanya karena satu perempuan itu, kalian bertengkar? Aku jadi penasaran, seperti apa rupa perempuan itu." Ujar Daisy.


"Diam!" Bentak Feng dan Yuan bersamaan.


"Aku hanya menyampaikan pendapat, kenapa kalian begitu berlebihan." Kata Daisy sembari menekuk wajahnya. Sungguh, ia tidak akan masalah kalau Feng yang membentaknya, tapi kalau Yuan— Daisy merasa kecewa.


"Daisy, lebih baik kau kembali ke dalam ya. Jangan ikut campur urusan mereka. Kau hanya akan melukai dirimu sendiri." Saran Nana.


"Yuan, ayo kembali ke ruangan itu." Ajak Nana, lagi.


Kali ini, tidak terlihat reaksi atau tindakan apapun dari Feng. Pria itu terlihat diam dan seakan membiarkan Yuan pergi begitu saja.


Sepertinya, perkataan Nana tadi mampu meredakan emosi yang sempat membara di dalam hatinya.


"Baiklah." Ucap Yuan pada sepupunya itu.


Sebelum pergi dari tempat itu. Yuan terlihat menoleh sejenak ke arah Feng. Menatap pria itu dengan tatapan dinginnya.


"Ingat apa yang akan aku katakan ini. Rose adalah milikku. Apa yang telah menjadi milikku, tidak ada yang boleh mendapatkannya, mendekatinya, ataupun menyentuhnya, walau hanya seujung kukunya." Ujar Yuan yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Feng yang hanya diam sembari menatapnya tajam.


"Dasar bodoh! Kau pikir Rose itu barang?! Seenaknya saja kau klaim sebagai hak milikmu!" Kata Nana yang tiba-tiba memukul kepala Yuan.


Yuan hanya bisa mengaduh dengan tindakan sepupunya itu. Lalu kemudian, ia kembali berjalan menuju ke arah lift, mencoba mengabaikan Nana yang terlihat ingin menceramahinya terus.


•••

__ADS_1


"Oh itu Alex." Ucap Ana ketika pandangannya menangkap sosok ipar terdekatnya.


"Alex!" Panggil Ana kepada pria bernama Alex itu.


Dari kejauhan, Alex tampak tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya, membalas lambaian tangan dari Ana.


"Turunkan tanganmu. Kau itu sejak dulu selalu terlihat lebih akrab dengannya daripada aku. Benar-benar membuatku cemburu saja." Ujar Ray.


"Untuk apa kau cemburu, dia itu adikmu." Kata Ana.


"Iya, aku tahu." Ucap Ray.


"Halo semuanya, selamat malam." Kata Alex yang telah sampai dihadapan kedua keluarga itu. Ray, Ana dan Yohan, Rachel.


"Kau datang terlambat sekali. Apa kau lupa? Kau itu CEO perusahaan tnp group, seharusnya datang lebih awal." Oceh Ray. Pria itu sebenarnya sedang melampiaskan kecemburuannya pada Alex.


Ana yang menyadari tingkah suaminya itu hanya bisa tertawa kecil.


"Eh, maaf kak. Aku harus menyelesaikan rapat bersama dewan direksi tadi. Makanya aku menyuruh wakil CEO Yohan untuk datang lebih dulu. Tapi, bukankah aku sudah pernah mengatakan ini pada kakak?" Kata Alex.


"Jangan pedulikan dia Alex. Kau tahukan, bagaimana kakakmu ini kalau melihatku menyapa dirimu dengan baik." Bisik Ana yang kebetulan berada di samping Alex.


"Ah begitu ya." Gumam Alex sembari membalas tawa kecil Ana.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Ray.


"Tidak ada." Jawab Ana.


"Oh iya, aku belum menyapa pemilik pesta ini. Akan sangat tidak sopan kalau aku belum menyapanya. Jadi, aku permisi undur diri dulu ya." Ujar Alex sembari pergi mencari sosok pemilik pesta acara ulang tahun ini, ketua Barack.


•••


"Halo? Bagaimana kabar ibu?" Tanya seorang gadis pada sang ibu yang telah lama tidak ia jumpai.


"Baik-baik saja. Bagaimana kabarmu disana? Maaf, ibu belum bisa mengunjungimu. Lain waktu, pasti akan ibu usahakan untuk datang ke ibu kota dan bertemu denganmu." Kata sang ibu dari seberang sana.


"Ibu jangan pikirkan hal itu. Biar aku saja yang mengunjungi ibu. Kalau ada waktu luang, aku yang akan datang menemui ibu. Ibu lebih baik fokus menjaga kesehatan ibu. Ibu harus terus sehat. Karena ibu adalah satu-satunya harta berharga yang aku miliki. Jadi, jangan sakit lagi." Ujar perempuan itu, Rose.


"Tentu saja. Ibu akan menjaga kesehatan ibu dengan baik disini. Kau jangan khawatir. Kau juga harus lebih fokus dengan kuliahmu."


"Em, aku mengerti ibu. Lagipula, sebentar lagi aku akan lulus, setelah semester tujuh ini selesai, hanya tinggal satu semester lagi. Setelah lulus, aku akan bekerja keras untuk mewujudkan impianku. Lalu, setelah aku sukses, aku akan membeli rumah untuk kita tempati berdua. Aku dan ibu." Ujar Rose sembari membayangkan hari itu tiba.

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2