The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Papa (bagian dua)


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih banyak💕 untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


“Kau!”


Eric ingin membalas Yusen, pria berusia delapan tahun yang tingginya pun tidak sebanding dengan Eric. Tapi belum sempat Eric membalasnya. Sebuah tangan kecil menarik rambutnya kasar, lalu mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur.


“Kalian berdua! Apa yang kalian lakukan pada Eric?!” teriak seorang guru yang tidak sengaja melewati kelas tersebut.


•••


Waktu hampir menunjukan pukul dua belas siang. Yuan terlihat melirik arloji sesekali. Pria itu kini berdiri di depan gedung perusahaan Tnp group, menunggu sekertarisnya yang sedang mengambil mobil SUV nya.


“Presdir,” panggil sekertaris Iko, ia baru saja keluar dari dalam mobil SUV yang terparkir tak jauh dari Yuan.


“Kenapa lama sekali?” keluh Yuan, ia langsung merebut kunci mobil yang di pegang sekertarisnya itu.


“Maaf, Presdir tadi— ”


“Sudah, tidak perlu memberi alasan. Kau urus beberapa dokumen yang tersisa. Aku harus pergi sekarang,” sela Yuan. Pria itu kemudian bergegas pergi menuju mobilnya.


“Baik, Presdir,” jawab sekretaris Iko walaupun ia yakin kalau Yuan tidak akan mendengarnya.


•••


Rose terlihat berlari tunggang-langgang menuju ruang bimbingan konseling sekolah dasar itu.


Wajahnya terlihat panik ketika ia harus mendengar kabar kalau anak-anaknya bertengkar dengan seorang anak dari investor besar sekolah dasar tersebut.


“Permisi, saya Rosela, wali murid dari Yusen dan Yuna,” ujar Rose sembari mengetuk pintu ruangan itu.


“Ah, ibu Rosela, silahkan masuk,” suruh si guru BK, mempersilahkan Rose untuk masuk.


Rose mengangguk, ia kemudian masuk ke dalam ruangan bimbingan konseling itu.


Di dalam ruangan tersebut, Rose dapat melihat kedua anak kembarnya duduk berdampingan.


Yuna terlihat menundukkan kepalanya, wajah gadis kecil itu tampak memerah, bekas tamparan keras dari Eric pun masih tercetak samar di sana.


Sedangkan Yusen, pria kecil itu sama sekali tidak takut, ia mengangkat kepalanya, menatap siapapun yang mengintimidasi dirinya dan saudari kembarnya.


“Yuna, wajahmu...,” lirih Rose, ia menyentuh pipi kiri Yuna yang tampak memerah.


“Apa kau ibu dari dua anak ini?!” tanya seorang wanita, hampir seumuran dengan Rose. Gaya berpakaiannya terlihat mewah. Sangat mencerminkan kalau wanita itu berasal dari kalangan atas.


“Iya, saya ibu mereka. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa— ”

__ADS_1


“Bagus, sekarang saya bisa langsung meminta pertanggung jawaban dari anda,” selanya, terdengar tidak sabaran dan ingin menang sendiri.


Rose menatap wanita berlipstik tebal itu dengan kening berkerut. Ia bingung, dari yang Rose lihat, di sini Yuna, anaknya lah yang terluka.


“Pertanggung jawaban? Maksudnya apa ya? Bukankah anak saya yang terluka?” tanya Rose dengan sikap tenangnya.


Wanita dengan gaya gotic itu mencebik, lalu ia menunjuk ke arah Eric, wajah pria itu terlihat membiru karena pukulan Yusen.


“Kau tidak lihat bagaimana wajah berharga anakku menjadi lebam karena di pukul oleh putramu itu?! Dan lihat, beberapa helai rambutnya rontok karena putrimu menarik rambutnya dan bahkan mendorongnya sampai jatuh tersungkur ke lantai,” jelas wanita itu.


Rose memperhatikan setiap apa yang dikatakan wanita tersebut. Ia menatap wajah pria bernama Eric itu, pipi kanannya memang terlihat membiru, bahkan terlihat ada noda darah yang telah mengering di hidungnya. Rambut pria berusia sebelas tahun itu juga tampak berantakan, seperti baru saja di tarik oleh seseorang.


Kemudian, Rose menoleh ke arah Yusen dan Yuna. Mereka masih dalam posisinya. Yuna yang menundukkan kepalanya dan Yusen yang tidak pernah merasa bersalah sedikitpun.


“Kalian yang membuatnya seperti ini?” tanya Rose dengan nada sedikit kecewa pada dua anaknya itu.


“Apa Mama juga ingin mendiskriminasi kami? Apapun yang aku dan Yuna jelaskan, tidak ada yang mau mendengarkan apalagi percaya,” tutur Yusen tegas.


“Maksudmu?”


“Mama tidak lihat wajah Yuna? Pria itu menampar wajahnya, dia juga menghina kami,” jelas Yusen.


“Menghina? Menghina apa?” tanya Rose.


“Dia bilang kalau kami adalah anak haram,” kata Yusen dengan nada mirisnya.


Rose terhenyak, ibu mana yang mau mendengar kalau anaknya di hina seperti itu. Yusen dan Yuna bukan anak haram, mereka punya ayah. Tapi, tidak adanya ikatan yang sah antara dirinya dan Yuan membuat Rose tidak dapat berkata apa-apa.


“Siapa yang berani mengatakan perkataan buruk seperti itu pada kalian?” tanya seorang pria dewasa. Ia menerobos masuk ke dalam ruang bimbingan konseling yang terbuka itu.


“Benar, itu Presdir Yuan, CEO Tnp Group, aku selalu melihatnya di televisi, tidak salah lagi itu dia,” sahut seorang guru lainnya.


Tidak lama setelah suara bisik-bisik itu. Terlihat seorang pria paruh baya berbadan gempal masuk ke dalam ruangan tersebut dengan wajah panik bercampur khawatirnya.


“Presdir Yuan,” sapanya, membungkuk hormat pada pria itu.


“Saya Adinata, kepala sekolah di sini. Tadi saya mendengar kalau anda datang ke sekolah ini. Jadi saya langsung datang kemari untuk menemui anda,” ujarnya, penuh kehati-hatian.


“Kalau saya boleh tahu, ada perlu apa anda datang kemari? Mari, saya akan antar anda ke ruangan saya, saya akan menjamu anda dengan baik di sana. Di sini sedikit ada keributan, tapi tidak lama lagi akan terselesaikan,” lanjut pria yang mengaku kalau dirinya adalah si kepala sekolah.


Yuan yang sedari tadi diam menatap kedua anaknya, ia kini beralih menatap kepala sekolah itu.


“Akan segera terselesaikan katamu?” tanya Yuan.


Kepala sekolah itu mengangguk, “Iya, guru bimbingan konseling yang akan mengurusnya. Jadi, anda tidak perlu khawatir tentang keributan yang terjadi di sekolah ini,” jawabnya.


Yuan mengangguk, lalu pria itu menatap ke arah para guru yang berdiri tak jauh darinya.


“Siapa guru bimbingan konselingnya?” tanya Yuan.


“Saya, saya Presdir Yuan,” jawab seorang pria paruh baya, ia maju satu langkah dari posisi sebelumnya.


“Apa kau sudah mengambil kesimpulan?” Yuan kembali mengajukan pertanyaannya, membuat semua orang yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan Yuan dan dua kakak-beradik kembar itu, mereka mengira kalau Yuan hanya sedang melakukan evaluasi pada sekolahan yang berada dalam naungan Tnp Group itu.

__ADS_1


Ya, perusahaan Tnp Group merupakan investor utama dari sekolah swasta berskala internasional tersebut.


“Sudah, Presdir,” jawabnya.


“Lalu, apa kesimpulannya? Jadi, siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa yang salah dan yang harus disalahkan? Dan siapa yang harus di hukum dan meminta maaf?” tanya Yuan beruntun.


Guru BK itu terlihat bingung. Dari segi kolusi, maka tentu saja ia akan membela Eric, karena keluarga mereka adalah salah satu investor besar sekolah dasar itu. Dan jika di lihat dari segi keadilan, maka guru BK itu akan menyuruh Eric meminta maaf pada Yuna. Lalu, Yusen meminta maaf pada Eric, lalu keduanya berdamai dan saling memaafkan.


“Itu— ”


“Tentu saja dua anak haram ini yang salah. Mereka sudah membuat wajah anak saya babak belur seperti ini,” sela wanita dengan gaya gotic itu.


“Ngomong-ngomong, Presdir Yuan. Saya adalah istri dari direktur utama perusahaan Jeany. Suami saya banyak bercerita tentang anda pada saat pertemuan kalian beberapa waktu yang lalu,” imbuh wanita itu. Mulai berusaha menggunakan koneksi untuk menentang keadilan.


Yuan diam, ia menatap Rose yang tampak kesal dengan wanita itu. Kemudian, pria itu beralih menatap dua anaknya yang masih diam di tempatnya.


Melihat keadaan Yunara, ingin sekali Yuan merengkuh tubuh putrinya itu. Apalagi wajah Yuna yang masih memerah karena tamparan keras Eric membuat hati Yuan merasa geram.


“Ah, anda istri direktur utama perusahaan Jeany ya,” ucap Yuan yang langsung di balas dengan anggukan oleh wanita itu.


Yuan tersenyum tipis, ia kemudian menarik lengan Rose, mendekatkan tubuh wanita itu dengan dirinya. Tindakan Yuan spontan membuat semua orang membelalakkan matanya, kecuali Yusen dan Yuna.


“Kalau begitu, biar saya perkenalkan istri saya. Rosela, dia istri saya. Dan dua anak kembar yang kau sebut anak haram itu, mereka adalah anak kandung saya,” kata Yuan dengan senyum manis yang menusuk.


Senyum Yuan itu seperti senyum yang terpahat di wajah boneka Annabelle, sebuah senyum menyeramkan.


“Tidak mungkin, anda pasti hanya sedang berusaha membantunya saja kan, iya kan Presdir Yuan?” tanya wanita itu, mewakili pertanyaan yang tersimpan di dalam hati semua orang.


Yuan lagi-lagi tersenyum. Tapi sebuah senyum yang berbeda. Senyumannya kali ini lebih kalem dan ramah.


“Banyak hal yang terjadi. Aku tidak bisa menceritakannya pada kalian yang bukan siapa-siapa bagiku. Intinya, mereka adalah istri dan anak-anakku. Kalau kalian tidak percaya, tunggu saja kabar pesta perayaan pernikahan kami yang tidak lama lagi akan diselenggarakan,” tutur Yuan, kalem.


“Benarkan, Sayang?” lanjutnya sembari menatap ke arah Rose yang tampak bingung harus menjawab apa.


“Itu, Presdir Yuan dan Nyonya Rose, maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya selaku guru BK sudah mendengar penjelasan dari salah satu guru yang menjadi saksi pertengkaran mereka. Jadi, di sini yang salah adalah Eric, anak ini lebih dulu menampar Yuna karena— ”


“Sudah cukup, tidak perlu kau lanjutkan,” sergah Yuan, ia tidak ingin tersulut emosi yang bisa saja membuatnya marah pada orang yang sudah menampar wajah berharga putrinya.


“Kepala sekolah Adinata, saya harap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Hanya karena seseorang memiliki latar belakang yang bagus, bukan berarti pula ia harus diperlakukan secara khusus dan berbeda. Sikap diskriminasi seperti itu bisa mencoreng nama baik sekolah ini,” jelas Yuan.


“Dan untuk anak yang di pukul oleh Yusen. Saya selaku ayah Yusen, mewakilinya untuk meminta maaf. Pesan saya, jangan menampar orang lain sembarangan, apalagi seorang gadis kecil tidak bersalah,” lanjutnya.


“Saya bisa saja membawa masalah ini ke ranah hukum. Apalagi istri saya seorang pengacara. Tapi saya pikir, kedua anak saya dan juga istri saya tidak menyukai konflik yang berkepanjangan. Karena itu, jika istri dari direktur utama perusahaan Jeany berkenan, saya mengusulkan untuk berdamai secara kekeluargaan,” sambung Yuan.


Wanita yang mengaku istri dari direktur utama perusahaan Jeany itu tampak diam. Ia yang tadinya berlagak seperti seekor raja singa, kini nyalinya menciut, wanita itu entah bagaimana berubah menjadi seekor domba hitam yang terjepit.


Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Kalaupun dia berusaha melawan, yang terjadi adalah perusahaan suaminya kemungkinan setelah itu akan bangkrut. Karena Yuan sudah pasti akan membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan tersebut.


“Tentu, tentu saja akan lebih baik bagi kita untuk saling memaafkan dan berdamai,” ujar wanita itu setelah diam untuk sekian lamanya.


Yuan tersenyum, “Kalau begitu, tidakkah kau ingin menyuruh anakmu untuk meminta maaf pada putri ku? Dan juga— apa kau sendiri tidak ingin meminta maaf pada anak-anakku karena telah menyebut mereka anak haram?” tutur Yuan, ucapannya terdengar ramah, tapi sebenarnya berisi ancaman.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme


__ADS_2