
Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love
Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.
SELAMAT MEMBACA
✴✴✴
Kedua kakak-beradik kembar itu pun menoleh, menatap seseorang yang berniat menasihati sikap kurang baik Yusen.
“Oh? Bukankah kau gadis kecil yang kemarin? Tidak di sangka kita bertemu lagi,” ucap pria itu, Yuan.
Mendengar perkataan pria itu, Yusen sebagai keluarga pria dari Yuna, ia pun langsung mengambil posisi siaga untuk melindungi kembarannya itu.
“Kau mengenalnya?” tanya Yusen sembari berdiri di hadapan Yunara, menghalangi pandangan Yuan untuk melihat kembarannya itu.
“Dia paman yang waktu itu aku ceritakan padamu,” ungkap Yuna.
“Apa ini saudara kembar yang kau ceritakan pada Paman waktu itu, gadis kecil?” tanya Yuan dengan senyum ramahnya.
“Dia memang sangat posesif, seperti dugaanku,” imbuhnya.
“Tapi, rasanya ada yang aneh, kau— sedikit mirip dengan ku sewaktu kecil dulu,” klaim Yuan.
Yusen menatap pria dewasa di depannya itu dengan raut tak sukanya.
Apalagi ini? Orang lain pun juga mengira dirinya mirip denganku. Apa wajahku ini terlalu murahan? Jadi banyak yang merasa mirip denganku. Ck, menyebalkan. — batin Yusen, kesal.
“Paman, Paman kenapa ada di sini?” tanya Yuna, ia menggeser tubuh kembarannya. Lalu berjalan maju mendekati Yuan.
Yuan pun tersenyum pada gadis kecil itu. Ia berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Yunara.
“Paman alumni sekolah dasar ini. Jadi guru-guru kalian undang Paman untuk jadi tamu sekaligus memberi sedikit pidato pra-ujian,” jawab Yuan sembari mengusap rambut Yunara pelan.
“Kau dan kembaranmu itu sekolah di sini ya?” tanya Yuan kemudian.
Yuna mengangguk cepat, lalu ia menunjukkan name tag yang tergantung di leher kecilnya.
“Yunara Putri, kelas empat A— eh? itu usiamu baru delapan tahun, tapi sudah kelas empat sekolah dasar?” tanya Yuan sembari menunjuk name tag identitas Yuna.
Yuna kembali menganggukkan kepalanya, “Em, itu karena otak kami terlalu pintar,” jawab Yuna dengan penuh percaya dirinya.
“Kami? Maksudmu— dia juga sudah kelas empat sekolah dasar?” tanya Yuan, kini ia menunjuk ke arah Yusen yang terlihat bersedekap dada sembari menatapnya datar.
“Iya,” jawab Yuna.
“Wah,” hanya itu yang mampu Yuan ucapkan.
Dulu dirinya memang pintar, tapi dia tidak sepintar dua kakak-beradik itu. Yuan hanya bisa meloncat satu tahun lebih cepat dari teman-teman seusianya. Berbeda dengan Yunara dan Yusen, mereka bisa meloncat dua kali lebih cepat. Sungguh luar biasa, pikir Yuan.
“Wah? Paman jangan berlebihan,” sahut Yusen, masih dengan tampang dinginnya.
“Kalau Paman tidak ada urusan dengan Yuna lagi, kami pergi dulu,” sambungnya, sembari menarik lengan Yuna paksa.
“Tunggu dulu, Yusen,” keluh Yunara, ia menepis lengan adik kembarnya itu. Lalu kembali menatap Yuan yang masih berjongkok di hadapannya.
“Paman, sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada Paman,” kata Yuna.
“Oh? Apa itu? Katakan saja, jangan khawatir,” ucap Yuan sembari tersenyum hangat.
“Itu, boneka yang Paman berikan padaku, Paman lupa membayarnya ya?” tanyanya.
“Yuna,” panggil Yusen, memperingatkan kakak kembarnya itu. Tapi Yuna mengabaikannya.
“Eh? Memangnya kenapa?” tanya Yuan, tapi kemudian ia menyadari sesuatu, “Ah benar. Paman lupa bilang dengan pegawai toko itu kalau bonekanya Paman berikan gratis padamu. Mereka pasti mengambilnya darimu ya?” tebak Yuan.
Yuna mengangguk cepat, bibirnya pun tampak mengerucut imut. Respon dari Yunara itu membuat Yuan merasa kalau dirinya sedang melihat seseorang yang telah lama ia rindukan dalam diri gadis kecil itu.
Gadis kecil ini, entah kenapa aku merasa... dia mirip sekali dengan Rose. — batin Yuan.
“Yuna, apa yang kau lakukan? Ayo cepat pergi,” ajak Yusen. Tapi Yuna masih kekeh tidak mau beranjak pergi.
“Ck, apa kau ini seorang pengemis?! Hanya karena boneka seperti itu saja kau tidak mau beranjak pergi dari Paman asing ini. Kalau Mama tahu kau bersikap seperti ini, Mama pasti tidak akan menyukainya,” tukas Yusen.
Yuna menundukkan kepalanya, ia tahu kalau yang Yusen katakan adalah hal benar. Tapi hati kecilnya merasa kalau dirinya ingin terbuka dengan paman asing yang notabenenya adalah ayah kandungnya sendiri.
“Pria baik, jangan berkata seperti itu pada saudarimu. Kau melukai hatinya. Paman tahu maksudmu itu baik, tapi bukan seperti itu caranya,” lembut Yuan.
Yusen mendengus, ia mengabaikan nasihat itu, menganggapnya sebagai angin lalu.
“Yuna, ayo pergi,” ajak Yusen sekali lagi. Dan kali ini Yuna menurut.
“Maaf, Paman. Yuna pergi dulu, sampai jumpa,” pamit Yuna yang kemudian pergi mendahului sang adik kembar.
Setelah Yunara pergi. Yusen terlihat menatap Yuan sesaat.
Hal aneh terasa menyeruak masuk ke dalam hatinya. Rasa asing yang tercipta di dalam hatinya, membuat Yusen merasa terganggu.
Bola mata Yuan, membuat Yusen sadar, ia benar-benar seperti melihat dirinya di masa depan. Mereka memang mirip.
Sedangkan Yuan yang ditatap dengan ekspresi datar seperti itu, ia hanya bisa diam. Walaupun sebenarnya ia merasa salah tingkah karena dirinya itu seolah di intimidasi oleh seorang pria kecil berusia delapan tahun.
Lalu kemudian, setelah merasa puas dengan tatapan intimidasi-nya. Yusen berbalik dan berjalan menyusul Yuna.
Melihat kepergian pria kecil yang memiliki banyak kemiripan dengannya, termasuk aura intimidasi yang kuat itu. Yuan pun menghembuskan napasnya lega.
__ADS_1
“Dia benar-benar mirip dengan anda, Presdir,” jujur sekertaris Iko yang sejak tadi hanya diam memantau.
Yuan menoleh pada sekertarisnya itu, “Ya, mungkin ini hanya kebetulan saja. Kau harus tahu kalau di dunia ini setiap orang punya setidaknya tujuh orang yang kembar atau mirip dengannya,” kata Yuan.
Sekertaris Iko mengangguk paham, ia setuju dengan hal itu. Karena dirinya sendiri juga pernah membaca tentang masalah itu dari beberapa artikel di internet.
•••
Rose berjalan masuk ke dalam gedung firma hukum dengan logo 'keluarga yang baik, keluarga yang sehat' itu dengan senyum yang mengembang setiap kali ada staf menyapa dirinya.
“Rose, kau terlihat bersinar pagi ini,” puji seorang wanita berusia tiga puluhan ke atas, namun sayangnya, ia masih saja melajang.
Rose tersenyum ke arahnya, “Kau sepertinya hari ini ada kencan buta,” tebak Rose. Ia sudah paham dengan rekan kerjanya satu itu.
Kalau Gea sudah banyak mengeluarkan pujiannya pada orang-orang, gadis itu pasti sedang bahagia, dan yang paling mungkin membuatnya bahagia adalah adanya seseorang yang akan menjadi calon pasangannya.
“Ck, kau ini peramal ya? Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.
Rose kembali melemparkan senyuman-nya, ia menatap rekan kerjanya itu setelah selesai melakukan scan sidik jari untuk mengisi absensi.
“Kau tidak lihat? Di keningmu itu dengan jelas ada tulisan besar 'kencan buta'. Ck, coba bercerminlah sebelum berangkat bekerja,” gurau Rose.
“Kau ini, jangan bercanda. Ah iya, hari ini sebenarnya aku ada dua pria. Apa kau ingin salah satunya? Cobalah untuk melakukan kencan buta juga, kau itu masih normalkan? Bukankah kau ini butuh pria untuk menjagamu dan membuat dirimu juga anak-anakmu bahagia?” tutur Gea.
Rose terdiam, lalu kemudian ia menghela napasnya.
“Tidak, terimakasih. Aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu. Melihat anak-anakku tumbuh dengan baik, itu sudah cukup membuatku bahagia,” jawab Rose.
Gea mengangguk paham, ia mencoba mengerti dengan pilihan Rose yang menurutnya sangat di sayangkan itu.
Setelah Rose pergi, Gea pun menghela napasnya, “Ck, dia itu padahal cantik, banyak yang suka padanya. Tapi masih saja menutup hatinya dan mengatasnamakan anak sebagai alasan untuk tetap melajang. Sayang sekali,” gumamnya.
•••
Ray keluar dari ruangan cuci darah setelah selesai melakukan rutinitas mingguannya itu.
Sekertaris Chenli pun telah berdiri di hadapannya
“Ayo berangkat ke kantor,” ucap Ray.
“Ketua Ray,” panggil sekertaris Chenli.
Ray menoleh pada sekertarisnya itu, ia mengangkat sebelah alisnya, menunggu sang sekertaris untuk berkata.
“Apa anda sungguh tidak berniat memberitahu Nyonya Ana tentang penyakit anda?” tanyanya.
Ray mengernyitkan keningnya, tidak biasanya sekertarisnya itu memberikan saran yang jelas-jelas ia tahu kalau Ray pasti berkata 'tidak'.
“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Ray, merasa aneh.
“Maafkan saya, Ketua Ray. Tapi saya harus mengatakan ini pada anda. Saya, sudah saatnya bagi saya untuk pensiun dari pekerjaan saya. Apalagi keluarga saya selalu menyuruh saya untuk mengundurkan diri dan menikmati hari tua saya bersama keluarga. Setelah saya pikirkan hampir satu tahun ini, saya akhirnya memutuskan untuk menuruti permintaan keluarga saya itu,” kata Chenli.
“Saya putuskan untuk mengundurkan diri sebagai sekertaris anda,” putusnya.
Ray diam, kemudian pria itu mendekati sang sekretaris yang sudah dia anggap lebih dari sekedar rekan kerja.
Ray pun tersenyum padanya, ia menepuk bahu Chenli sekilas.
“Ya, itu keputusan yang bagus. Di usia kita ini, sudah seharusnya bagi kita untuk berhenti memikirkan pekerjaan dan fokus pada keluarga, juga menikmati hari tua,” tutur Ray.
“Mulai sekarang, kau bukan lagi sekertaris ku. Sekarang, kau adalah teman seperjuanganku. Angkat kepalamu dan tegapkan badanmu, Chenli, tidak ada lagi keformalan di antara kita,” sambungnya.
Chenli pun mengikuti apa yang di ucapkan oleh Ray. Ia menegapkan tubuhnya itu, lalu tersenyum hangat ke arah mantan bosnya yang sekarang menjadi teman baiknya.
Mereka pun saling bersalaman sembari melemparkan senyum satu sama lain.
“Ah iya, sebenarnya ada satu hal yang harus anda ketahui, Ke— maksudku Ray,” ucapnya, sedikit kaku dengan penggunaan bahasa barunya.
“Apa itu?” tanya Ray.
“Ini tentang kekasih Presdir Yuan,” ucapnya.
“Perempuan itu? Apa kau menemukannya?” tanya Ray, ia terlihat antusias. Bagaimana tidak, jika dia menemukan Rose, maka Ray bisa membantu anaknya untuk hidup bahagia kembali.
Chenli menghela napasnya sejenak, sebelum kemudian ia menjawab, “Aku tidak tahu dimana dia sekarang. Tapi delapan tahun yang lalu, aku melihatnya bersama Sarah,” jelas Chenli.
“Tunggu, maksudmu— Sarah itu, Sarah mantan sekertarisnya Yuan?” tanya Ray.
Chenli pun mengangguk, “Ya, waktu itu bahkan aku sempat sedikit berbincang dengannya,” ungkapnya.
“Dimana kau bertemu dengan mereka?” tanya Ray lagi.
“Disini, di rumah sakit ini,” jawabnya.
“Apa saat aku sedang melakukan cuci darah?”
Chenli mengangguk, “Benar,”
“Apa yang kalian perbincangkan?” Ray kembali bertanya.
“Jadi, waktu itu mereka datang bertiga, yaitu Sarah, dan perempuan bernama Rose itu, lalu juga seorang pria yang sepertinya saudara kembarnya Sarah, karena dari informasi privasi yang saya tahu bahwa Sarah memiliki saudara kembar, dia itu sebenarnya saudari dari Sean Kingston, pemilik perusahaan konveksi terbesar di negara ini,” urai Chenli.
“Lalu, apa hubungannya dengan Rose dan Yuan?”
Chenli kembali menghela napasnya, “Saat itu, Rose sepertinya sedang hamil,” ungkap Chenli.
__ADS_1
Mata Ray pun membelalak lebar, “Jangan bercanda,” ucapnya, walau ia tahu kalau mantan sekretarisnya itu tidak sedang bercanda.
“Anda pasti berpikir kalau Rose hamil anak saudara Sarah. Saya sendiri pun juga berpikir seperti itu pada awalnya. Tapi, perkataan Sarah padaku— hah, sebenarnya ini adalah kabar besar,”
“Katakan, katakan saja,” ucap Ray, seperti seseorang yang kehilangan sabarnya.
“Sarah bilang, anak yang Rose kandung memiliki darah murni keluarga Gavin, itu artinya— "
“Dia mengandung anak Yuan, cucuku,” tebak Ray, benar. Pria itu menyela perkataan Chenli dengan wajah sulit dibaca, intinya, pria tua itu sangat terkejut.
“Kenapa kau tidak menceritakannya dari dulu?” tanya Ray kemudian.
“Maaf,” ucap Chenli yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ray menghela napasnya kasar, rasa berdosanya pada Rose pun semakin membesar.
“Kau tadi bilang kalau Sarah adalah saudara kembar dari pemilik perusahaan konveksi terbesar di negara ini kan?” tanya Ray, memastikan kalau tadi ia tidak salah dengar.
“Iya,”
“Kalau begitu, kita— ah iya, kau sudah mengundurkan diri. Kalau begitu, aku harus menemuinya,” ucap Ray.
“Sebagai tugas terakhir saya. Ijinkan saya untuk menemani anda, Ketua Ray. Karena saya tahu dimana kediaman Sean Kingston berada,” kata Chenli.
Ray menatapnya haru, “Terimakasih,” ucapnya.
•••
Pukul sebelas lewat dua puluh lima menit.
Klien Rose telah keluar dari ruangannya. Perempuan itu pun melihat jam tangannya, lalu kemudian memeriksa ponselnya.
“Bukankah seharusnya mereka sudah pulang? Kenapa belum ada yang menelponku? Ck, dasar anak-anakku,” ucap Rose sembari berdiri dari kursinya.
Rose pun meraih tasnya, lalu berjalan keluar dari ruangannya.
“Ibu Rose, anda ingin pergi ya?” tanya seorang staf dari bagian informasi.
Rose tersenyum, lalu mengangguk, “Apa masih ada klien yang harus aku temui?” tanya Rose.
Staf bagian informasi itu pun menggelengkan kepalanya, “Tidak ada lagi, karena beberapa klien meminta untuk memundurkan jadwal konsultasi mereka,” jawabnya.
“Ah begitu, baguslah,” ucap Rose.
“Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Rose.
Staf bagian informasi itu pun mengangguk, lalu tersenyum sopan.
Setelah itu, Rose keluar dari gedung firma hukum konsultasi perceraian itu. Ia menuju ke arah parkiran, menghampiri mobilnya dan masuk kedalamnya. Lalu, melajukan mobil itu ke sekolah dasar Lizard. Sekolah dasar dimana kedua anaknya menempuh pendidikan disana.
•••
“Kalian berdua,” panggil seorang pria, Yuan.
Dua orang anak kecil yang di panggil itu pun menoleh padanya.
Salah satu dari mereka menatapnya datar dan dingin. Tapi yang satunya lagi, yaitu Yunara, ia terlihat tersenyum sumringah melihat Yuan yang masih belum pulang setelah melakukan pidato beberapa jam lalu.
“Paman masih mau mengganggu Yuna lagi?!” sewot Yusen.
“Yusen, jangan berkata tidak sopan seperti itu,” untuk pertama kalinya, Yuna terlihat bijak, kalau seperti ini, gadis kecil itu pantas disebut sebagai kakak kembar dari Yusen.
Yusen mengalihkan pandangannya, kembali kesal.
“Maaf, Paman tidak bermaksud mengganggu kalian, apalagi membuat Yusen kesal,” ucap Yuan.
“Jangan menyebut namaku seolah kita ini akrab,” katanya.
“Yusen,” Yuna kembali memperingatkan atas sikap tidak sopan adik kembarnya itu.
“Paman, maafkan Yusen ya. Dia dari semalam memang sangat sensitif, suka marah-marah dan kesal tanpa alasan. Bahkan Mama kami menjadi korbannya, untung Mama kami punya hati yang lapang,” tutur Yunara.
Yuan mengangguk, ia juga tidak masalah dengan sikap Yusen padanya.
“Paman sengaja menunggumu karena Paman ingin menebus perkataan Paman yang sudah berjanji padamu kemarin,” ujar Yuan sembari memberikan kode pada Iko untuk mengambilkan sesuatu dari dalam mobilnya.
Mata Yunara tampak berbinar senang ketika sebuah boneka Grizzly bear itu dapat ia lihat kembali.
“Itu untukmu. Setelah ini, tidak ada lagi yang bisa merebutnya darimu, karena kalung pada boneka ini sudah bertuliskan namamu, Yunara Putri,” kata Yuan sembari mengeja nama Yuna yang tercetak di kalung boneka itu.
Yuna semakin tersenyum lebar. Tak sabar lagi, ia lekas memeluk boneka itu, erat.
Tapi rasa senangnya itu luntur ketika Yusen tiba-tiba mendekatinya dan merebut boneka itu darinya. Lalu melemparkan boneka itu ke arah samping Yuan.
“Yusen,” seru Yuna, kesal. Ia marah dengan adik kembarnya itu.
Melihat keduanya yang seperti akan bertengkar, Yuan pun hendak melerai mereka.
Tangan Yuna tampak terangkat ke atas, ia siap untuk memukul adik kembarnya yang hanya diam saja.
Tapi, belum sempat Yunara melakukannya, sebuah suara pun menyiutkan aksinya. Itu bukan suara Yuan, melainkan suara dari seorang wanita yang berada di belakang tubuh Yuan dan sekertaris Iko.
“Yunara!” serunya, Rose.
💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍