The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Pagi yang Manis


__ADS_3

Pagi itu cuaca terasa dingin.


Semalaman hujan turun mengguyur bumi bagian timur itu.


Badai hujan datang seakan-akan ia tidak mau pergi, awan pembawa hujan itu seolah enggan bergerak ke bagian bumi lain.


Di pagi yang seperti ini, sungguh membuat seorang gadis juga semakin enggan untuk bergerak dari atas tempat tidurnya.


Rasa sejuk dan damai membuat dirinya seolah sedang dibuai oleh kasur yang empuk dan bantal serta guling yang mendampingi.


Rose bahkan tampak tersenyum manis dalam tidurnya.


Tapi, semua kedamaian itu kemudian hilang seperti ditiup hembusan angin kencang ketika bunyi ponselnya menggema ke penjuru kamarnya.


Rose mendesah pelan, merasa kesal karena tidurnya terganggu. Kemudian ia menggeliat, merenggangkan badannya yang seolah kaku setelah tidur malam selama kurang lebih delapan jam.


Selesai merenggangkan tubuhnya dengan posisi masih berbaring di atas kasur, Rose menggerakkan tangannya, meraba-raba nakas yang ada di samping tempat tidurnya, ia mencari ponsel yang ia letakkan di atas nakas tersebut.


Setelah mendapatkan ponselnya yang masih bernyanyi itu, Rose langsung menggeser tombol berwarna hijau untuk mengangkat panggilan tersebut. “Halo?” ucap Rose, dengan mata yang masih terpejam.


“Sayang, suaramu terdengar serak. Apa saat ini kau baru saja membuka matamu? Kau baru bangun tidur ya? Aku tebak, sekarang— kau pasti masih berada di atas tempat tidurmu dan mengangkat panggilanku dengan mata yang terpejam. Iya kan?”  kata seorang pria di seberang sana.


Rose yang mendengar orang tersebut memanggilnya ‘sayang’, ia sejak awal sudah tahu kalau itu adalah kekasihnya, Yuan. Tapi, walaupun sudah tahu, ia masih saja terkejut dengan sikap Yuan yang tiba-tiba terasa lebih manis dari sebelumnya.


Sungguh, pria itu, jika di pikirkan lebih jauh lagi. Yuan, dia semakin lama, semakin bersikap manis pada Rose. Sikapnya itu benar-benar hampir mirip dengan ayahnya, Ray.


“Sayang? Kenapa tidak ada jawaban? Sayang, kau mendengarkan aku kan? Kau tidak sedang mencoba untuk mengangkat panggilan dariku, lalu pergi tidur lagi kan? Halo? Rose?” ujar Yuan yang terdengar agak sedikit kesal pada gadisnya.

__ADS_1


“Aku mendengarmu, aku tidak pergi tidur lagi. Mataku benar-benar terbuka lebar karena mendengarmu memanggilku sayang, sungguh rasanya seakan-akan hari ini matahari akan terbit dari barat. Ah iya, ada apa pagi-pagi seperti ini menelponku?” kata Rose.


“Ck, kau ini. Sayang, kelak, kau harus terbiasa dengan panggilan seperti itu. Dan lagi, yang lebih penting daripada menjelaskan kenapa aku menelponmu pagi-pagi seperti ini, bisakah kau sekarang buka pintu apartemenmu? Aku benar-benar bisa mati kedinginan jika terus-menerus berdiri di luar sini, aku juga tidak ingin bertemu dengan tetangga paruh baya-mu, si bibi Meng sialan itu.”


“Apa tadi kau bilang? Kau ada di luar? Serius? Ini masih pukul enam pagi lewat tiga puluh menit, dan kau sudah berdiri di depan apartemenku? Apa kau ini sudah tidak waras?” tanya Rose yang langsung beranjak dari tempat tidurnya.


Gadis itu menceramahi Yuan dengan tubuh yang bergerak cepat untuk segera membuka pintu apartemennya.


“Kau sekarang berani menceramahiku ya? Benar-benar, ck, bahkan kau juga sudah berani mengataiku. Apa tadi? Kau bilang aku tidak waras? Jadi kalau begitu, kau sedang berpacaran dengan pria yang tidak wa— ”


Belum sempat Yuan menyelesaikan perkataannya dalam panggilan tersebut. Pintu apartemen Rose sudah terbuka lebar, tampak seorang gadis dengan pakaian tidur dan juga wajah khas orang baru bangun dari tidurnya, terpampang jelas di hadapan Yuan.


“Ck, kau— lihatlah dirimu itu, jelek sekali.” canda Yuan, setelah itu, ia langsung masuk begitu saja ke dalam apartemen Rose, meninggalkan si pemilik apartemen yang masih berdiri di pintu apartemen.


Rose menoleh ke arah belakang, Yuan tampak sudah berjalan menuju ke bagian dapur apartemen kecil itu. Rose menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan sikap Yuan yang seakan menganggap apartemen kecilnya ini sebagai rumah pria itu sendiri.


Rose kemudian berjalan mendekati Yuan yang terlihat sedang mengeluarkan beberapa sayuran dalam kantong plastik yang pria itu bawa.


“Kau belanja?” tanya Rose.


“Hm, bukankah aku ini sungguh laki-laki idaman?” kata Yuan dengan kedipan mata yang sengaja ia lemparkan pada Rose.


“Ck, terlalu percaya diri.” ucap Rose.


“Aku akan pergi mandi dan bersiap. Kau duduk saja di sofa itu dan tunggu aku di sana. Setelah selesai bersiap, aku akan memasak untukmu.” sambung Rose.


“Tidak, hari ini, biar aku saja yang masak. Kau pergi mandi dan bersiaplah, selesai bersiap, aku pastikan makanan sudah ada di atas meja ini.” ujar Yuan.

__ADS_1


Rose mengernyitkan keningnya, menatap Yuan dengan raut wajah yang semakin merasa heran. Sungguh sulit di percaya, pria seperti Yuan akan berkata seperti itu.


Memangnya dia bisa masak ya? Aku tidak pernah mendengar kalau dia bisa masak, atau aku saja yang kurang update tentangnya? — batin Rose.


“Kau— apa kau bisa masak? Tidak, maksudku, apa kau benar-benar bisa masak? Kau yakin ingin masak sendiri? Apa kau juga yakin kalau kau masak sendiri, bisa dipastikan dapurku ini aman dan masih utuh seperti sekarang ini?” tanya Rose yang merasa ragu dengan inisiatif dari Yuan itu.


“Ck, kau tidak percaya jika aku bisa masak ya? Rose, ibuku ini seorang pemilik restoran, bagaimanapun juga, aku ini anak tunggalnya, walaupun ia tidak berharap penuh kalau aku akan mewarisi restorannya itu. Tapi dia tetap mengajariku cara-cara mengelola restorannya dan juga termasuk mengajariku di bagian dapur, yaitu salah satunya memasak.” kata Yuan.


“Lagipula, aku ini walaupun dari bayi sudah memiliki banyak pelayan yang mengerjakan segala hal untukku. Tapi ibuku itu sungguh tidak ingin aku menjadi anak yang suka bergantung pada orang lain. Jadi, dia mendidikku tegas untuk selalu bisa mandiri dalam segala hal. Sekarang, apa kau bisa mempercayakan dapurmu ini padaku?” sambungnya lagi.


Rose menggaruk tengkuknya, ia menatap Yuan ragu, tapi juga mulai percaya.


“Kalau kau memang bisa memasak, lalu kenapa waktu kau menginap di sini beberapa bulan yang lalu, aku sama sekali tidak pernah melihatmu memasak? Kau lebih memilih memakan makanan instan atau membeli makanan dari luar daripada masak sendiri.” ujar Rose, bertanya.


“Itu karena masakanmu sangat enak. Lagipula, saat itu, aku mengganggap dirimu sebagai pelayan, jadi yaa— sedikit memanfaatkan dirimu agar beguna, tidak salah kan?” jawab Yuan, diakhiri dengan pertanyaan yang membuat Rose mendengus kesal.


“Ck, keparat ini. Baiklah, aku percayakan dapurku padamu. Tolong jangan di hancurkan ya. Kalau begitu, aku akan pergi mandi dan bersiap-siap.” kata Rose yang kemudian melenggang pergi dari area dapur minimalis itu.


“Kalau kau butuh orang untuk membantumu mandi, aku bisa membantumu.” ujar Yuan yang dibalas dengan tatapan tajam dari Rose.


Yuan tertawa puas mendapatkan tatapan yang memang ia harapkan seperti itu. Yuan sungguh paling gemas kalau Rose sedang marah atau menatapnya tajam karena tidak suka dengan candaannya.


“Sebelum kau membantuku mandi, aku pastikan kau sudah berada di akhirat lebih dulu.” ancam Rose, setelah itu, ia langsung menutup pintu kamarnya dengan keras.


“Rose, Rose, sungguh membuatku semakin suka padamu.” gumam Yuan.


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2