The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
A Hard Nut to Crack


__ADS_3

Nana masuk ke dalam mobil ayah kandungnya itu dengan gerakan kasar. Gadis itu sengaja menutup pintu mobil milik Alex dengan keras, seakan dirinya sedang memberitahu sang ayah kalau ia benar-benar kesal.


"Pakai sabuk pengamannya." Ucap Alex.


Tanpa menjawab, Nana langsung menuruti perintah ayah kandungnya itu.


"Kau marah?" Tanya Alex sembari fokus pada mobil yang sedang ia kendarai.


"Tidak." Jawab Nana. Tapi, walaupun ia berkata demikian, nada bicaranya itu mencerminkan kalau dirinya sedang marah.


"Nana, papa senang kau berniat membantu papa untuk menjaga nenekmu. Tapi, bagaimanapun juga, papa tidak akan pernah mengijinkanmu absen kuliah." Ujar Alex.


Nana hanya diam. Ia memilih mengalihkan pandangannya dari sang ayah dan mencoba mengabaikan ayah kandungnya itu.


Sedangkan Alex, pria paruh baya itu juga tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia juga belum memiliki topik pembicaraan yang bisa ia gunakan untuk membujuk Nana agar tidak marah lagi padanya.


Semua itu, menjadikan keduanya hanya berselimutkan keheningan dalam perjalanan ke kampus Nana.


"Ngomong-ngomong, kita sudah lama tidak  pergi bersama. Bagaimana kalau setelah kau pulang kuliah nanti, kita pergi ke taman bermain?" Tanya Alex. Pria paruh baya itu sedang berupaya membujuk putrinya.


"Aku bukan anak kecil lagi." Jawab Nana.


"Ah— kau benar. Papa lupa, kau ini kan sudah dewasa ya. Sayang sekali, kalau begitu ya sudahlah, mau bagaimana lagi." Kata Alex, ia terlihat menampilkan raut wajah kecewanya.


"Begitu saja?" Tanya Nana yang membuat Alex sekilas menoleh padanya, sang ayah sepertinya tidak paham dengan maksud perkataan putrinya itu.


"Apa?" Alex balik bertanya.


"Hanya begitu saja usaha papa membujukku agar aku tidak marah lagi? Papa, kau benar-benar payah." Ucap Nana yang tampak semakin kesal pada ayahnya.


"Jadi kau ini benar-benar marah pada papa ya?"


"Papa! Papa tahu tidak? Kalau sikap papa seperti ini terus, papa tidak akan pernah dapat jodoh. Coba bersikap lebih peka sedikit, apalagi dengan perempuan." Kata Nana.


Sebuah helaan nafas singkat terdengar dari diri Alex. Pria itu, dalam hitungan menit kemudian langsung membisu. Ia hanya fokus pada mobilnya yang telah memasuki area kampus.


"Sudah sampai." Ucap Alex, tanpa ekspresi.


Pria itu, sepertinya memang tidak akan pernah mau menjawab atau bahkan membahas perihal jodoh. Entah apa alasannya. Tapi, dirinya itu selalu diam atau lebih baik lagi menghindar ketika harus dihadapi dengan pembahasan seperti itu.


"Papa." Panggil Nana yang masih belum berniat untuk keluar dari dalam mobil.


Gadis itu, sejenak ia memperhatikan Alex yang terlihat diam membisu. Kontur wajah ayah kandungnya itu tampak sekali menampilkan raut muram. Aura yang terpancar pun terasa sangat kelabu.


Nana menghela nafasnya. Ia tahu, ayahnya tidak akan menanggapinya. Bukan karena marah. Tapi, karena Alex akan menjadi manusia super diam ketika ia harus berhadapan dengan kata 'jodoh' ataupun 'pernikahan'.


Setelah cukup lama diabaikan oleh sang ayah. Nana pun akhirnya memilih untuk turun dari mobil. Tapi, sebelum ia menutup pintu mobil itu, Nana kembali melihat Alex sejenak.


"Pa, soal tawaran papa yang ingin mengajakku pergi ke taman bermain setelah aku pulang kuliah nanti. Aku mau, Nana mau pergi ke taman bermain bersama papa. Jadi, papa jangan lupa menjemput Nana ya. Aku akan menunggu papa di gerbang universitas. Kalau begitu, sampai jumpa nanti, papa." Ujar Nana yang kemudian pergi setelah menutup pintu mobil itu.


•••


Yuan berdiri di depan gedung fakultas hukum. Pria itu sudah membuat janji pada Rose kalau dirinya tidak akan pergi dari sana sebelum ia benar-benar melihat Rose masuk ke dalam gedung fakultas itu.


"Pergilah, Yuan. Kalau sampai orang lain melihatmu berdiri di sana karena aku. Aku bisa mendapat masalah nanti." Ujar Rose yang tampak berdiri di depan pintu masuk gedung fakultasnya.


"Apa kau lupa? Aku sudah berjanji padamu. Aku akan pergi setelah aku melihatmu masuk ke dalam sana. Aku tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi. Kalau aku pergi lebih dulu, siapa yang tahu jika nanti ada seorang pria mesum yang tiba-tiba menarikmu pergi ke suatu tempat." Kata Yuan.

__ADS_1


"Eh? Maksudmu— Feng? Kau jangan salah paham seperti itu. Dia bukanlah pria buruk yang seperti kau bilang tadi." Ujar Rose.


Mendengar perkataan Rose yang seolah sedang membela rival sejatinya itu. Yuan langsung bergerak, ia berjalan mendekati Rose yang masih pada posisi sebelumnya.


"Apa kau bilang? Aku salah paham? Apa kau sedang mencoba untuk membelanya?! Kau sepertinya sangat mengenalnya dengan baik ya?!" Kata Yuan yang saat ini telah berada di hadapan Rose.


"Aku dan dia itu adalah teman baik. Dia sering meminjamkan buku-buku yang sulit aku dapatkan. Dia juga— "


"Berhenti memuji pria lain di depanku. Apa kau belum mengerti juga?! Aku tidak suka itu." Ujar Yuan.


"Kenapa? Kau cemburu?!" Tanya Rose.


Entah darimana datangnya keberanian itu. Tapi saat ini, dengan kepala tegak dan tanpa keraguan sedikitpun. Gadis itu menatap Yuan dengan tatapan yang seolah sedang menantang pria itu.


"Cem— cemburu? Kau bercanda ya? Mana mungkin aku cemburu padamu." Jawab Yuan dengan sikap yang jelas sekali kalau dirinya itu sedang salah tingkah.


"Oh, benarkah? Baguslah kalau begitu. Jadi, kedepannya kalau aku dekat dengan pria manapun, itu bukan urusanmu." Ujar Rose.


"Apa?!"


"Apa?" Ucap Rose yang sengaja melemparkan pertanyaan yang sama kepada pria dihadapannya itu.


"Kau ini semakin lama semakin berani padaku! Apa kau sama sekali tidak takut?!"


"Kenapa harus takut? Kau itu juga sama, semakin lama semakin seenaknya saja padaku." Balas Rose.


"Aku bersikap seperti apapun padamu juga wajar-wajar saja. Tapi, tidak denganmu."


"Kau ini— ah sudahlah, aku malas berurusan denganmu. Kedepannya, kuingatkan padamu, jangan menjemputku lagi." Kata Rose.


"Tunggu dulu! Kau ini kenapa?" Tanya Yuan, tangan pria itu memegang lengan Rose. Ia berniat menahan Rose untuk pergi.


"Apa? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Kau ini kenapa? Kenapa suka sekali mengganggu hidupku? Kenapa suka sekali merusak suasana hatiku? Kenapa kau harus masuk ke dalam hidupku lagi? Kenapa setiap hari kau menjemputku, tapi kau tidak pernah mau mengakuinya? Kenapa kau selalu membuat hatiku terus berharap tanpa kepastian darimu? Dan kenapa?! Kenapa kau tidak ijinkan saja aku berhenti menyukaimu?!"


Yuan tampak tercengang dengan semua kalimat tanya yang tersembur keluar dari mulut Rose. Gadis itu seolah-olah mengatakan semua itu dengan satu tarikan nafas, sangat cepat dan benar-benar menggambarkan seluruh isi hatinya. Sampai-sampai, Yuan pun tidak dapat berkata-kata lagi.


"Maaf. Permisi, aku harus pergi." Kata Rose yang kemudian langsung melepaskan tangan Yuan yang masih memegang lengannya. Lalu setelah itu, Rose pergi begitu saja dari hadapan Yuan. Walaupun dirinya sendiri sedang merutuki perkataannya yang menurutnya berlebihan, tapi Rose tetap melangkahkan kakinya menjauhi Yuan.


"Ada apa denganku?" Tanya Yuan, pada dirinya sendiri.


•••


Setelah berjalan menjauhi mobil ayahnya. Nana langsung berjalan menuju ke arah fakultasnya.


Tapi, gadis itu sepertinya tidak berniat untuk masuk ke kelas. Semua karena beberapa alasan.


Alasan utama Nana tidak ingin masuk ke mata kuliah satu-satunya di hari ini, karena ia sudah terlambat, pasti ibunya sang dosen pengajar, tidak akan mengijinkannya masuk.


Lalu, alasan lainnya adalah, karena ia memang dari awal tidak berniat untuk masuk kuliah. Nana bisa sampai disini juga karena ayah kandungnya— Alex masih tetap memakirkan mobilnya di area kampus dan mengawasi Nana sampai gadis itu masuk ke dalam gedung fakultasnya.


Beberapa detik setelah mobil ayahnya terlihat keluar dari universitas itu. Nana menghembuskan nafasnya lega.


Setelah itu, ia segera keluar dari gedung fakultas seni itu, dan berniat pergi menuju kantin universitas.


"Wah! Lihat, siapa gadis yang sedang membolos mata kuliah ibunya sendiri ini?" Kata seseorang dari arah belakang Nana. Suara seseorang yang tiba-tiba terdengar itu, membuat Nana berjengkit kaget.


Nana segera menolehkan kepalanya, mencari tahu siapa yang sudah kurang ajar membuatnya terkejut sampai rasanya jantungnya ingin berlari dari tempatnya. Bahkan, bulu kuduknya saat ini masih berdiri tegak.

__ADS_1


"Kai! Kau mengejutkanku." Pekik Nana.


"Eh, benarkah? Kalau begitu, aku minta maaf, aku sama sekali tidak bermaksud mengejutkanmu." Kata Kai.


"Iya baiklah, aku percaya. Tapi, ingatkan pada dirimu itu, jangan mengajakku bicara ataupun memanggil namaku saat kau tidak berada di hadapanku. Dan juga, keluarkanlah bunyi langkah kaki atau sejenisnya saat kau sedang berjalan. Apa kau ini hantu? Tadi, aku sama sekali tidak dapat mendengar langkah kakimu." Ujar Nana.


Kai terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Pria itu hanya bisa menampilkan senyum lebar kepada Nana.


"Maaf ya. Aku janji, hal seperti ini, tidak akan terulang lagi." Kata Kai.


"Sudahlah. Itu hanya hal kecil yang tidak perlu di besar-besarkan. Oh iya, kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau ada di dalam kelas ibuku?" Tanya Nana.


"Aku terlambat. Jadi— yah, kau tahu kan apa konsekuensinya kalau kita sampai terlambat di mata kuliah dosen Rachel." Ujar Kai.


"Ck, ibuku itu benar-benar menyeramkan sekali ya. Seharusnya— dia itu seperti dosen Leni, yang lemah lembut dan penuh pengertian." Kata Nana


"Hei, jangan berkata seperti itu. Dia itu ibumu." Ucap Kai.


"Ya, aku tahu. Aku hanya bercanda." Ujar Nana.


"Baguslah kalau memang seperti itu. Oh iya, kau tadi— ingin pergi kemana?" Tanya Kai.


"Aku? Aku ingin pergi ke kantin. Kenapa? Mau ikut juga?"


Kai kembali menampilkan senyum lebarnya, membuat deretan giginya yang tertata rapi itu terlihat oleh Nana. Senyum itu, entah kenapa, terasa sangat manis di mata Nana.


"Tentu." Ucap Kai yang kemudian langsung menarik lembut tangan Nana. Mereka berjalan keluar dari gedung fakultas seni itu bersama.


Ya, bersama-sama absen mata kuliah ibu Nana sendiri.


"Eh, bukankah itu Yuan?" Tanya Kai ketika pandangannya menangkap sosok teman baiknya.


"Iya, tapi kenapa dia berjalan dari arah sana. Bukankah itu— astaga, apa bocah sialan itu masih mencoba bermain-main dengan Rose lagi?! Dia sama sekali tidak mengindahkan kata-kataku semalam." Ujar Nana.


"Ada apa?" Tanya Kai.


"Tidak, bukan hal penting juga. Tapi, itu sedikit penting bagiku." Jawab Nana dengan tatapan mata yang terus mengawasi gerak-gerik sepupunya itu.


"Sepertinya tidak ada yang aneh dengannya. Lihat, dia sudah pergi ke halaman gedung fakultasnya." Kata Kai.


"Ya, kau benar. Tapi— aku merasa anak itu sedang tidak baik-baik saja. Dia terlihat agak— sedih. Apa dia masih memikirkan masalah kondisi nenek?"


"Oh iya, semalam ibuku bilang, nyonya Calista tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sampai sekarang belum siuman juga." Kata Kai.


"Em, nenek tiba-tiba jatuh sakit. Dokter keluarga bilang, itu karena darah tingginya."


"Lalu kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?"


"Kau lupa ya? Nenek Calista itu termasuk salah satu anggota keluarga Gavin. Kalau sampai media tahu, gosip yang beredar nanti, pasti juga akan mempengaruhi harga saham perusahaan. Setidaknya, selama dokter keluarga bilang kalau kami tidak perlu khawatir dan nenek bisa di rawat dirumah saja. Keluarga Gavin akan merawatnya dirumah. Lagipula, fasilitasnya juga sama saja seperti di rumah sakit." Kata Nana.


"Begitu ya. Ternyata, menjadi orang terpandang dan terhormat itu— lumayan merepotkan juga ya. Kadang, setiap kali aku melihat Yuan, Kin dan juga Julian— aku merasa iri pada mereka, tapi juga merasa kasihan."


Nana tersenyum mendengarnya. Ia paham betul apa maksud dari perkataan Kai. Karena bagaimanapun juga, dulu Nana hanyalah seorang putri dari wanita sederhana. Lalu roda kehidupannya berputar dan kini ia telah menjadi salah satu tuan putri di keluarganya. Apalagi, dia itu juga memiliki darah murni keluarga Gavin.


*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*

__ADS_1


__ADS_2