
Sinaran matahari pagi itu terasa hangat menyentuh kulit. Pagi yang cerah di sambut dengan hadirnya seorang pria yang membuat para gadis langsung berlarian datang ke arahnya.
Pria itu berjalan seperti biasa, tas yang tersampir di salah satu bahunya, tatapan yang lurus kedepan tanpa mempedulikan para gadis yang berdiri di sisi kanan dan kirinya.
Rose menatap pria itu dengan senyum senangnya, setelah tiga hari tidak terlihat di kampus, Yuan akhirnya kembali, menghapus rindu para gadis yang merinduinya.
Rose mengangkat tangan kanannya, ingin menyapa pria yang pernah tinggal satu atap dengannya itu.
Tapi— entah karena Yuan tidak melihatnya atau karena memang Yuan tidak melihatnya. Pria itu terus berjalan melewati Rose begitu saja.
Rose menurunkan tangannya, ia menatap tangannya itu dengan tatapan sedih. Raut wajah kecewa terlihat sangat jelas darinya.
"Bukankah aku sudah pernah berkata padamu, kalau Yuan hanya ingin bermain-main denganmu saja, tapi dulu kau terlihat besar kepala dan terlalu percaya diri. Sekarang lihatlah, kau diabaikan seperti itu, memalukan." Ujar seorang gadis bernama Rema, gadis yang sangat populer di kampusnya.
Rose mengalihkan pandangannya pada Rema, menatapnya dalam diam, ia berniat mengabaikan Rema dengan berjalan pergi dari hadapan gadis itu.
Tapi salah satu teman Rema tiba-tiba menarik rambut Rose dan mendorong tubuhnya, membuatnya jatuh terjerembab ke tanah.
"Apa yang kalian lakukan?!" Tanya Rose, tatapan kesal ia pancarkan pada mereka.
"Kau bertanya apa yang sedang kita lakukan? Kita semua— sedang memberitahumu jika posisimu saat ini, mencerminkan kualitas dirimu, dasar kelas bawah, rendah dan murahan, cih." Jawab Rema sembari menyedekapkan tangannya.
Rose mendesis pelan, merasakan nyeri pada sikunya. Gadis itu kemudian berdiri dengan susah payah, tapi mereka kembali mendorong tubuh Rose hingga terjatuh lagi.
"Orang dengan status sosial yang sangat rendah sepertimu tidak pantas berada di posisi Yuan, seharusnya kau bercermin pada dirimu." Ujar Rema.
"Mungkin dia tidak punya cukup uang untuk membeli cermin." Kata salah seorang teman Rema.
"Aaa benar juga, karena Yuan sudah bosan denganmu, jadi tidak ada yang memberimu asupan materi ya? Kasihan sekali. Tapi— kau beruntung, aku ini orang yang cukup dermawan." Ucap Rema, gadis itu kemudian menoleh pada seorang gadis yang membawakan tas bermerek terkenal miliknya.
"Gebi, ambilkan dompetku." Suruh Rema pada gadis bernama Gebi itu.
"Ini— dompetnya."
Rema mengambil dompet miliknya itu, ia membuka dompet itu dan mengambil beberapa lembar uang kertas dengan nilai tinggi.
"Kau suka uang kan? Ambil uang itu." Ujar Rema, ia melemparkan uang yang diambilnya dari dompet itu ke arah Rose.
Rose yang mendapat perlakuan seperti itu, merasa sangat direndahkan, dipermalukan di depan umum layaknya seorang gadis murahan, membuat Rose merasa geram dengan sikap Rema yang angkuh dan sombong itu.
Rose menghela nafasnya, perlahan tangannya bergerak memungut satu-persatu lembaran uang yang bertebaran di tanah itu.
Senyum sinis dan meremehkan semakin terlihat dari orang-orang yang melihat tindakan dari Rose itu. Mereka pikir, Rose memungut uang itu karena ingin mengambilnya. Mereka salah, setelah selesai memungut uang yang di lemparkan Rema padanya. Rose berdiri menghadap ke arah Rema tanpa rasa gentar sedikitpun.
"Kau pikir— kau itu kaya? Kau lupa?! Uang ini— apa kau mendapatkannya dari kerja kerasmu sendiri? Kau itu hanya pengemis. Ck, orang yang mengemis uang pada orangtuanya, apa bagusnya? Sangat menyedihkan. Ini aku kembalikan uang hasil mengemis mu." Ujar Rose sembari mengembalikan uang yang Rema lemparkan padanya tadi. Setelah itu, Rose pergi dari sana, berjalan dengan wajah lurus kedepan, seakan menunjukkan jika dirinya tidak akan terintimidasi hanya dengan status sosial yang berbeda.
__ADS_1
"Sialan! Hei tunggu!" Teriak Rema, memanggil Rose yang telah berjalan menjauh darinya.
Diantara orang-orang yang berkerumun untuk menyaksikan keributan itu, disana ada Yuan yang sejak tadi berdiri di tempatnya, memperhatikan kejadian itu. Diam-diam Yuan tersenyum, ia merasa bangga dengan Rose yang baru saja unjuk keberaniannya.
"Jika kau terus tersenyum seperti itu, aku akan berpikir kalau kau sudah jatuh hati padanya." Ujar Kin.
"Terserah apa katamu. Aku harus pergi, mata kuliah pertamaku sudah dimulai, sampai jumpa." Kata Yuan yang kemudian melangkah lebar menuju fakultasnya.
"Dia bahkan tidak berniat untuk menyangkalnya." Ucap Kin.
"Kalau begitu kita sudah tahu jawabannya." Kata Julian.
"Tidak mungkin dia jatuh cinta pada gadis itu." Ujar Kai.
"Ck, kau ini harus banyak belajar tentang kasus percintaan. Pikirkan saja, dua orang beda jenis, tinggal satu atap—"
"Memang apa hubungannya antara cinta dan tinggal satu atap? Kalian ini aneh sekali." Ujar Kai sembari berjalan pergi dari kedua temannya itu.
"Hei bodoh! Aku belum selesai menjelaskannya padamu!" Panggil Kin.
"Sudahlah, jelaskan saja nanti, kita sudah terlambat masuk kelas, ayo cepat." Ujar Julian yang kemudian berlalu dari hadapan Kin.
"Astaga— kenapa mereka suka sekali meninggalkanku saat aku sedang bicara, ck, menyebalkan." Ucapnya sembari berjalan menyusul Julian yang sudah masuk kedalam gedung fakultas seni.
•••
"Aku baik-baik saja." Ucap Rose menjawab pertanyaan Yana yang baru saja menghampirinya di perpustakaan.
"Jangan berbohong, kau bahkan tidak masuk ke kelasnya profesor Noah." Ujar Yana.
"Aku baik-baik saja Yana, kau bisa lihat sendiri, aku tidak terluka sama sekali."
Yana tampak menghela nafasnya ketika mendengar sanggahan dari teman baiknya itu.
"Aku tidak khawatir dengan kondisi fisikmu, aku khawatir dengan kondisi— hatimu." Ujar Yana.
Sejenak Rose terlihat diam, ia memandang kosong ke arah buku yang sedang di bukanya itu, tapi kemudian tatapannya kembali beralih pada Yana.
"Aku sudah terbiasa." Ucap Rose.
"Cih, dasar bodoh. Kau itu tidak pandai menyembunyikan perasaanmu dariku, kau lupa aku ini siapa hah?"
Rose tersenyum sekilas,
"Yah, si pembaca pikiran." Jawab Rose dengan candaannya.
__ADS_1
"Benar, tapi sayangnya— aku tidak di ijinkan untuk membaca pikiran sahabatku sendiri." Ujar Yana.
"Aku baik-baik saja Yana, jangan khawatir."
"Seharusnya kau tidak membantu tuan muda itu, seharusnya kau tidak mengijinkan dirinya untuk tinggal bersamamu. Lagipula, kenapa kau begitu tergila-gila padanya? Padahal sebelumnya kau itu hanya gadis polos yang tidak mengerti soal cinta."
"Hei, kenapa kau tiba-tiba mencibir Yuan?" Tanya Rose.
"Lihatlah, kau bahkan membelanya."
"Bukan maksudku untuk membelanya, tapi semua ini tidak ada hubungannya dengan dia."
"Kau pikir aku bodoh? Rema menindas mu karena dia iri padamu."
Rose tersenyum mendengar penuturan dari Yana itu.
"Apa yang perlu dia iri-kan dariku?"
"Kau dekat dengan Yuan."
"Sekarang sudah tidak lagi." Jawab Rose.
"Memangnya orang akan peduli kapan kau berhenti dekat dengannya? Orang hanya akan peduli tentang dirimu yang pernah dekat dengannya, itu yang akan membekas di ingatan orang lain."
"Tapi aku tidak peduli dengan mereka yang peduli padaku karena masalah itu. Aku hanya tinggal mengabaikan mereka, apa susahnya." Ujar Rose.
"Ck, kau sangat menyebalkan, bersikap seolah semua baik-baik saja. Kau ingin melupakan temanmu ini ya?"
"Tidak, bukan seperti itu Yana."
"Kalau begitu saat di depanku jangan sungkan untuk membuka semua kesedihanmu itu." Ujar Yana, perkataannya itu membuat Rose menatapnya cukup lama.
"Yana— kau— kau membuatku terharu." Ucap Rose sembari memeluk temannya itu.
"Sekarang, belajarlah untuk melupakan tuan muda itu, dan fokuskan saja dirimu pada masa depan dan kariermu." Saran Yana.
Rose melepas pelukan mereka, gadis itu tampak memandang Yana sekilas, kemudian sebuah senyuman terukir manis di wajahnya, ia tersenyum hangat ke arah temannya itu disertai dengan anggukan kepala.
"Aku akan mencoba untuk melupakannya."
"Kalau begitu berjuanglah." Ucap Yana sembari menepuk-nepuk bahu Rose.
*Maaf Yana, aku sendiri tidak yakin, apa aku bisa melupakannya, karena dia itu orang pertama yang membuatku jatuh cinta.
📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*