
Hari itu, tak terasa waktu cepat berlalu, sore telah menyapa.
Mata kuliah terakhir Yuan sebenarnya sudah selesai dua jam yang lalu. Hanya saja, sampai sekarang ia masih berdiam diri di kampusnya, menunggu seseorang.
Pria itu bersandar pada salah satu pilar penyangga gedung fakultas hukum. Ia dengan sabar berdiri disana selama lebih dari dua jam. Perbuatannya itu, membuat para mahasiswa dan mahasiswi yang melewatinya merasa terheran-heran dengannya.
Kenapa pria nomor satu di kampus ini sering sekali datang ke gedung fakultas hukum?
Deretan kata-kata yang menjadi kalimat tanya itu seperti sebuah misteri besar bagi para mahasiswa yang memiliki rasa penasaran tinggi terhadapnya.
Sedangkan pria yang terus-menerus ditatap oleh banyak mahasiswa itu, ia hanya diam, tak peduli.
"Yuan, aku melihatmu berdiri disini selama kurang lebih dua jam, apa yang sedang kau lakukan? Kau menunggu seseorang?" Tanya seorang gadis yang pastinya berasal dari keluarga kelas atas. Tapi itu bukan Rema.
Dia adalah seorang perempuan yang lahir dari keluarga hukum. Ayahnya seorang hakim senior. Sedangkan ibunya adalah seorang mantan pengacara yang termasyhur di jamannya.
Jean, putri tunggal dari keluarga terhormat. Seorang perempuan yang tengah menempuh pendidikannya di fakultas hukum semester tujuh.
"Siapa kau? Pergilah." Ucap Yuan, ia sungguh tidak mengenali perempuan itu. Tapi Yuan tahu kalau perempuan di hadapannya ini adalah seorang tuan putri, itu semua terlihat jelas dari penampilan Jean yang tampak berkelas.
Lagipula, semua mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini hanya ada tiga kategori, yang pertama adalah mereka yang berasal dari keluarga kaya raya, lalu yang kedua adalah mereka yang memiliki keberuntungan karena dekat dengan anak keluarga kaya, dan yang terakhir adalah mereka yang mendapatkan beasiswa, contohnya seperti Rose.
Cara membedakan ketiga kategori mahasiswa itu adalah dengan melihat dari apa yang mereka kendarai, apa yang mereka pakai, dan bagaimana cara mereka bersikap. Karena biasanya anak keluarga kaya akan bersikap selayaknya kaum kelas atas yang terhormat dan pakaian serta kendaraan mereka pastinya bernilai tinggi.
"Kau tidak mengenalku?!" Tanya perempuan itu.
"Haruskah aku mengenalmu? Aku tidak peduli kau dari keluarga kaya raya mana atau dari keluarga terhormat mana, lebih baik kau pergi dan jangan menggangguku." Ujar Yuan, ia masih bersandar pada pilar gedung itu.
"Benar-benar keterlaluan. Aku ini anak hakim senior di negara ini. Ayahku— "
"Sudah aku katakan, aku sungguh tidak peduli kau itu berasal dari keluarga mana, dan juga, aku sama sekali tidak bertanya padamu, kalau kau itu siapa dan dari keluarga apa."
Jean menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa kesal yang tidak ingin ia tampilkan di hadapan Yuan. Jikalau, pria yang sedang ia hadapi adalah anak konglomerat biasa, mungkin Jean sudah mencaci makinya atau bahkan mengancamnya kalau dirinya akan melapor pada sang ayah. Tapi sekarang ini yang ia hadapi adalah pewaris tunggal dari keluarga Gavin, seorang pria yang memiliki masa depan sebagai pemimpin perusahaan tnp group.
Siapa yang berani membantah Yuan, sekalipun itu adalah Jean sang anak hakim senior yang sangat terkenal.
"Kenapa menundukkan kepala seperti itu? Kau ini seorang perempuan kelas atas, menundukkan kepala seperti itu walau hanya satu detik pun, itu akan membuat reputasimu buruk. Lebih baik, kau pergi dari sini dengan penuh kharisma." Ujar Yuan.
Jean mengalihkan pandangannya sejenak, ia menoleh ke sembarang tempat, emosinya terasa membara tanpa tahu bagaimana cara melenyapkannya.
Seumur hidup, dirinya sama sekali tidak pernah di tolak oleh seorang pria. Baru kali ini ia mendapatkan penolakan juga penghinaan.
Lebih menjengkelkan lagi, Jean tidak dapat berbuat apa-apa, selain menuruti nasihat dari Yuan, yaitu pergi dengan penuh kharisma agar reputasinya tidak terlihat buruk.
Tidak butuh waktu lama dan tanpa berpikir panjang lagi. Jean pergi dari hadapan Yuan, sebelum pergi, sekilas ia menatap Yuan dalam diam. Entah aura apa yang ia pancarkan, tapi itu terasa dingin di mata Yuan.
Selepas kepergian Jean. Pria itu kembali bersandar dengan tenang di pilar gedung tersebut, masih dengan sabar menanti seseorang.
"Eh Rose, bukankah itu Yuan?" Tanya Yana.
Samar-samar, Yuan merasa seseorang menyebutkan namanya dan juga nama seorang perempuan yang sedang ia tunggu sejak tadi.
"Diamlah, abaikan saja." Balas Rose pada teman baiknya itu. Ia menatap Yuan yang tampak memejamkan matanya sembari bersandar pada pilar penyangga gedung.
Dengan langkah pelan dan sedikit menjauh dari area Yuan berdiri, Rose berjalan keluar dari area gedung fakultasnya.
Tapi itu hanya apa yang Rose harapkan dan pikirkan. Karena pria yang sedang ia coba hindari itu kini telah membuka matanya.
Yuan mengarahkan pandangannya langsung ke arah Rose.
Dalam sudut mata Rose, ia dapat melihat aura yang keluar dari Yuan adalah aura kemarahan, Rose berpikir apakah Yuan masih marah soal tadi pagi?
Tapi sekali lagi. Itu hanya apa yang Rose pikirkan dan bukan sebuah fakta nyata. Karena kekesalan Yuan saat ini disebabkan oleh jawaban Rose pada Yana tadi. 'Abaikan saja dia.'
Tiga kata itu benar-benar membuat suasana hati Yuan yang tadinya sudah mereda, kini kembali membara lagi. Ia kesal.
__ADS_1
"Ingin pergi kemana?" Tanya Yuan.
Rose yang ingin kabur dan baru saja melangkahkan kakinya menuruni tangga gedung fakultas itu pun akhirnya mengurungkan niatnya.
Gadis itu berbalik dan menghadapkan dirinya ke arah Yuan.
"Eh Yuan— sejak kapan ada disini?" Tanya Rose yang berpura-pura baru mengetahui keberadaan Yuan.
"Sejak seseorang berkata abaikan saja dia." Jawab Yuan.
"Ah itu— sepertinya kau sudah lama ya ada disini." Ujar Rose dengan senyum canggungnya.
"Tentu saja. Aku bahkan hampir mendapatkan piala Oscar karena telah berdiri disini selama hampir lebih dari dua jam." Kata Yuan.
"Du— dua jam lebih? Untuk apa kau berdiri di sini selama dua jam lebih? Apa kau sedang di hukum karena melakukan pelanggaran kampus?" Tanya Rose.
"Apa kau bodoh?!" Tanya Yuan balik.
"Eh?"
"Kau pikirkan saja sendiri untuk apa aku berdiri disini, dan satu hal lagi, siapa yang berani menghukumku? Sekalipun aku melanggar aturan kampus, mereka hanya akan memberikanku nasihat dengan penuh rasa hormat, tidak mungkin menyuruhku berdiri disini selama lebih dari dua jam." Kata Yuan.
"Oh." Ucap Rose, ia tidak tahu harus berbicara apa lagi.
"Oh? Hanya kata itu yang bisa kau keluarkan dari mulutmu?" Ujar Yuan.
"Tuan muda Yuan jangan marah. Rose, dia— "
"Diam, kau tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga kami." Kata Yuan, dengan cepat menyela perkataan Yana.
"Eh? rumah tangga?" Tanya Yana.
"Yana, jangan salah paham, dia hanya— "
"Kau juga jangan banyak bicara, ayo ikut aku, kita pulang."
Dimata Yana, kedua insan berbeda jenis itu benar-benar terlihat seperti sepasang suami istri.
"Yuan, jangan seperti ini, coba kau lihat, banyak orang yang memperhatikan kita. Kau tidak perlu menarikku, aku bisa berjalan sendiri." Ujar Rose.
Yuan tidak mempedulikan perkataan Rose, ia lebih memilih mempercepat langkah kakinya, dengan begitu mereka akan lebih cepat sampai di tempat parkir kendaraan.
"Masuk." Ucap Yuan ketika dirinya dan Rose telah sampai di depan mobil.
"Tidak, aku tidak mau hidup bergantung padamu. Aku bisa pulang sendiri." Kata Rose.
Yuan menghela nafasnya, tak ingin banyak bicara lagi, ia melakukan sesuatu dengan tindakan. Yuan segera membuka pintu mobil dan mendorong Rose pelan, membuat Rose pada akhirnya masuk ke dalam mobil.
"Jangan pernah berpikir untuk keluar dari dalam mobil." Ancam Yuan yang kemudian menutup pintu mobil itu, setelahnya, ia berjalan di sisi lain mobil dan masuk kedalam mobil juga.
Yuan mulai memutar kunci mobil dan menghidupkan mobilnya. Perlahan, mobil berwarna hitam itu meninggalkan area parkir dan keluar dari kampus.
Dalam sepanjang perjalanan, keduanya hanya berteman dalam diam, tidak ada satupun dari keduanya yang berniat untuk memulai pembicaraan.
Rose, dirinya itu sedang memasuki alam pikirannya. Di dalam kepalanya, Rose sedang berdebat dan beradu asumsi dengan dirinya sendiri.
Sedangkan Yuan, dalam diamnya, ia sesekali melirik ke arah Rose yang terus diam menatap kosong kedepan. Dirinya sejak tadi ingin memulai pembicaraan, hanya saja rasa gengsinya terlalu tinggi.
"Besok tidak perlu menjemputku lagi." Ucap Rose.
Yuan menoleh, hanya sekilas, lalu kemudian kembali fokus pada jalanan.
"Kenapa?"
Kali ini, Rose yang menoleh pada lawan bicaranya itu. Ia merasa heran, biasanya Yuan akan memprotes atau menyanggah kalau dirinya itu tidak pernah ada niatan untuk menjemputnya, karena semua itu adalah sebuah kebetulan belaka.
__ADS_1
Tapi sekarang, Yuan malah melemparkan sebuah pertanyaan yang secara tidak langsung ia mengakui kalau selama ini dirinya itu memang berniat menjemput Rose.
"Apapun alasanku, itu bukan urusanmu." Jawab Rose sembari mengalihkan pandangannya ke sisi kaca mobil yang ada disampingnya.
"Kalau begitu, aku akan tetap menjemputmu." Ujar Yuan.
"Kalau hanya sebuah kebetulan, maka tidak perlu menjemputku."
"Tidak ada kebetulan lagi. Besok dan seterusnya, aku memang berniat menjemputmu."
Rose kembali menolehkan kepalanya, melihat raut muka pria yang selalu saja membuat hatinya seperti sedang naik rollercoaster. Kadang ia merasa takut, kadang juga ia merasa senang.
Mencintai pria seperti Yuan itu memiliki banyak resiko untuk hatinya. Masa-masa bahagia pun terasa menakutkan, ia takut kalau suatu hari nanti kebahagiaan itu hanya akan menjadi kenangan yang menyakitkan.
"Bisakah kau jujur padaku? Sebenarnya kenapa kau akhir-akhir ini begitu peduli terhadapku? Kalau kau hanya ingin bermain lilin denganku, lalu setelah aku habis dan padam kau meninggalkanku, lebih baik kau pergi meninggalkan aku dari sekarang saja. Sebelum rasa suka-ku padamu bertambah dan terus bertambah."
Yuan menghentikan mobilnya, ia berhenti tepat di depan gedung apartemen yang tampak kumuh.
Rose menoleh keluar mobil, ia menghela nafasnya, dirinya tidak akan mendapatkan jawaban dari Yuan, ia tahu itu.
Segera setelah mesin mobil itu mati. Rose melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap untuk keluar dari dalam mobil. Tapi sebuah tindakan dari Yuan, membuat dirinya harus menghentikan gerakannya.
Yuan menahan lengan Rose, menatap gadis itu dalam diamnya.
Merasa tangannya tertahan, Rose menoleh, kini mata mereka beradu pandang.
Seperti sebuah mimpi yang terjadi begitu cepat, Rose merasakan bibirnya sekilas dikecup oleh Yuan. Hanya sekilas, namun sangat membekas dan masih terasa begitu jelas bagi Rose.
"Aku rasa, aku mencintaimu." Ucap Yuan.
Setelah mengatakan ungkapan perasaannya. Yuan menjauhkan wajahnya dari hadapan Rose. Ia merasa wajahnya memanas, belum pernah dirinya berkata seperti itu pada perempuan manapun, Rose adalah perempuan pertama yang mampu memaksa dirinya untuk bekata demikian.
"Apa? Apa katamu? Aku, aku tidak salah dengarkan?" Tanya Rose setelah tersadar dari rasa keterkejutannya.
"Selama indera pendengaranmu tidak mengalami masalah, maka kau tidak salah dengar." Jawab Yuan tanpa menoleh ke arah gadis itu.
"Aku pasti sedang bermimpi kan? Yuan, coba kau tampar wajahku." Kata Rose.
"Kau gila ya?! Bagaimana mungkin aku tega menamparmu." Ujar Yuan.
"Kalau begitu, coba kau ulangi sekali lagi."
"Apa? Ulangi apa?" Tanya Yuan, ia berpura-pura tidak mengerti.
"Ungkapan perasaanmu tadi."
"Tidak."
"Ayolah~"
"Tidak. Cepat turun dari mobilku."
Rose tersenyum, hatinya itu merasa gemas dengan sikap Yuan yang terlihat lucu ketika salah tingkah.
"Baiklah." Ucap Rose sembari membuka pintu mobil.
Setelah keluar dari dalam mobil, Rose berbalik dan menghadap ke arah Yuan yang kini tengah menatapnya.
Sebelum ia menutup pintu mobil, Rose kembali melemparkan senyum manisnya kepada Yuan.
"Apa sekarang kita sepasang kekasih?" Tanya Rose.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Yuan langsung menolehkan kepalanya, mengindari tatapan mata Rose.
"Ya." Jawab Yuan tanpa menoleh ke arah gadis itu.
__ADS_1
*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*