The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Tinggal Bersama (bagian tiga)


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


 


 


 


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


 


 


 


SELAMAT MEMBACA


 


 


✴✴✴


Pagi itu, udara terasa menusuk. Mentari pun sepertinya enggan menampakkan diri. Awan berwarna abu-abu itu menyelimuti langit biru yang menawan.


Hari yang di harapkan cerah pun menjadi hari mendung dengan gerimis yang mulai menyapa.


Rose menggeliatkan tubuhnya. Bunyi alarm dari ponselnya membuat Rose harus segera bangun dan memulai aktivitasnya.


Tangan wanita itu bergerak ke arah nakas yang berada di bagian kiri dekat tempat tidurnya.


 


Setelah mendapatkan ponselnya. Rose menekan tombol untuk mematikan alarm tersebut.


 


“Selamat pagi,”


 


Rose membeku. Ia terperanjat. Jantungnya pun berlari marathon. Matanya seketika itu juga lanngsung terbuka lebar. Ia menoleh, ke sumber suara itu berasal.


 


Sisi kanan ranjangnya, seorang pria tanpa mengenakan baju atasnya kini tengah tersenyum ke arahnya. Di saat itu pula lah, Rose baru menyadari kalau bantal yang ia gunakan bukanlah bantal yang sesungguhnya, melainkan tangan kokoh pria itu.


 


Dengan sigap, Rose langsung membuka selimutnya, mengecek apakah semua baik-baik saja.


 


Helaan napas lega pun menjadi pertanda kalau Yuan tidak mungkin melakukan sesuatu yang di luar batasan.


 


Melihat tingkah Rose itu, Yuan terkekeh.


 


“Apanya yang lucu?!” sungut Rose, kesal.


 


Yuan pun berdehem, menghentikan tawa kecilnya.


 


“Selamat pagi. Kau belum menjawabnya,” ujar Yuan.


 


“Pagi,” jawab Rose cepat.


 


Wanita itu kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Tapi tangan Yuan dengan cepat menarik lengan kecil itu, membuat Rose tersungkur ke arah dada bidang milik Yuan.


 


“Kau gila?!” umpat Rose.


“Aku gila karena semalaman harus menahan diri untuk tidak menerkammu,” goda Yuan.


“Kau— ”


“Kau seharusnya mengenakan pakaian tidur yang lebih tertutup jika tidak ada suamimu di rumah,” nasihat Yuan.


“Apa maksudmu, aku— ”


“Aku tidak suka jika ada pria lain melihatmu memakai pakaian tidur ini,” sela Yuan lagi. Pria itu kemudian merengkuh tubuh Rose ke dalam pelukannya.


“Yuan, kau— ”


“Ma, ada ap— ” Yuna masuk ke kamar ibunya karena ia mendengar suara ribut dari kamar Rose. Dan sialnya, semalam, setelah Yuan membobol pintu kamar Rose. Pria itu lupa menguncinya. Alhasil, Yuna harus melihat kedua orang tuanya yang belum sah menikah itu sedang berpelukan di atas tempat tidur.


“Ma...maaf,” ucap Yuna yang kemudian langsung menutup pintu kamar itu.


Keduanya diam membisu. Tidak ada yang bergerak sedikitpun.


Lalu, mereka saling berpandangan, menatap satu sama lain seperti dua maling yang baru saja ketahuan.


“Ini semua salahmu,” keluh Rose sembari menjauh dari tubuh Yuan.


Rose duduk dengan selimut yang membungkus tubuhnya.


Yuan hanya diam, ia juga bingung harus berkata apa. Semua niatannya yang ingin menggoda Rose pun hilang entah kemana.


“Sekarang bagaimana kita akan menjelaskannya pada Yuna?” tanya Rose, seperti seorang wanita yang meminta pertanggung-jawaban.


“Aku akan menjelaskannya,” sahut Yuan.


“Baik, lalu, bagaimana kau akan menjelaskannya, ha? Kau akan bilang, aku tidur dengan Mama-mu? Atau kau akan bilang, semalam aku tidur sambil berjalan dan tidak sengaja masuk ke kamar Mama-mu, begitu?!” tanya Rose.


“Lagipula, bagaimana bisa kau masuk ke kamarku? Semalam aku ingat sekali kalau aku mengunci pintu kamarku dengan baik, kau masuk lewat mana?” Rose bertanya lagi.

__ADS_1


Sedangkan si empu yang di tanya hanya tersenyum sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Masalah Yuna, aku akan menjelaskannya nanti dengan caraku. Kau tidak perlu khawatir,” ujar Yuan, menjawab pertanyaan pertama dari Rose.


“Ck, kau bilang dengan caramu? Itu malah membuatku khawatir,” sungut Rose.


“Kau tenang saja, aku ini ayahnya,” balas Yuan, meyakinkan.


“Dan untuk masalah bagaimana aku bisa tidur di kamarmu. Itu— itu karena aku mempunyai kemampuan khusus,” imbuhnya.


Rose mengerutkan keningnya bingung, “Kemampuan khusus? Ck, kau ini memang aneh,” katanya.


Yuan tersenyum lebar. Ingatannya tentang dirinya yang semalam membuka pintu kamar Rose menggunakan kunci cadangan yang ia temukan di laci dekat televisi pun kembali terlintas.


“Kau itu yang terlalu ceroboh. Ck, sama sekali tidak berubah,” ujar Yuan sembari mengacak gemas rambut Rose.


“Yuan,” seru Rose, kesal.


“Sudah, aku mau mandi dulu,” ujar Yuan sembari turun dari tempat tidur Rose.


“Tunggu dulu, kau belum menjelaskan padaku, bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamarku?” tanya Rose.


Yuan berhenti melangkah, ia menoleh sekilas ke arah Rose sebelum kemudian kembali berjalan menuju kopernya yang juga ikut masuk bersamanya ke dalam kamar wanita itu.


“Kau penasaran?” tanya Yuan, pria itu mulai membuka kopernya.


“Tidak,” sergah Rose sembari mengalihkan pandangannya.


“Tidak? Ah, sayang sekali,” ucap Yuan yang sudah menemukan handuknya dan siap menuju ke kamar mandi.


“Kalau kau penasaran, aku bisa menceritakannya padamu, di dalam sana,” sambung Yuan sembari menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang berdiri kokoh di sudut ruang kamar Rose bagian kanan.


Rose mengikuti arah telunjuk jari Yuan. Tanpa ia sadari, wajahnya telah memerah seperti kepiting yang di rebus.


“Dasar gila,” cibir Rose. Wanita itu pun beranjak dari tempat tidurnya, ia mengambil mantelnya, lalu berjalan menuju pintu keluar kamar.


“Kau mau kemana?” tanya Yuan di sela-sela kekehan kecilnya.


“Bukan urusanmu,” ketus Rose.


“Aku sudah bilang, jangan biarkan pria lain melihatmu berpakaian seperti itu,” pesan Yuan.


Rose yang sudah memegang handle pintu dan ingin membukanya pun ia mengurungkan nya. Wanita itu menoleh ke arah Yuan.


“Jangan berlebihan, di rumah ini hanya ada kau sebagai seorang pria dewasa, dan Yusen, dia masih anak-anak, lagipula dia anakku. Dan lagi, aku mau mengenakan pakaian apapun dan seperti apapun di depan pria manapun, itu bukan urusanmu,” tegas Rose.


Mendengar kalimat terakhir yang Rose ucapkan. Yuan merasakan ada gemuruh yang menggeliat di dalam hatinya.


“Kau bilang apa?” tanya Yuan, berjalan mendekati Rose.


“Apa?!” tantang Rose, ia bahkan mengangkat dagunya, menatap pria itu tanpa rasa takut sedikitpun.


“Pria lain, jangan sebut kata pria lain di hadapanku. Aku tidak suka,” Yuan memperingatkan.


“Pria lain, pria lain, pria lain. Aku pergi bersama pria lain, aku makan bersama pria lain, aku membawa pria lain ke rumahku, itu bukan urusanmu,” ujar Rose, menyulut api cemburu Yuan.


Pria itu pun semakin melangkah ke depan, mendekati Rose yang hanya tinggal beberapa langkah lagi di hadapannya.


Rose mengalihkan pandangannya ketika Yuan sudah sampai di hadapannya. Wanita itu ingin melangkah mundur, tapi dirinya baru ingat kalau di belakangnya itu adalah pintu kamarnya.


Rose tidak bisa lari kemanpun. Tangan Yuan mengekangnya di sisi kanan dan kiri. Sedangkan pria itu terus bergerak maju, mempersempit jarak yang ada di antara mereka.


“Aku tanya padamu, apa kau pernah makan bersama pria lain?” tanya Yuan.


“I...iya,” jawab Rose, ia jujur, tentu saja ia pernah makan bersama pria lain, contoh paling sederhananya saja adalah rekan kerjanya dan kliennya.


“Pergi bersama pria lain?” tanya Yuan lagi.


Rose diam, ia sedang berpikir, apakah dirinya pernah pergi bersama seorang pria selain Yuan atau tidak. Lalu ingatannya tentang dirinya yang pergi ke kantor kejaksaan agama bersama klien pria-nya pun melekat di memori Rose.


“Iya,” jawab Rose, lagi-lagi ia jujur.


Yuan menutup matanya sejenak. Meredam api cemburu yang terus menerus membara di hatinya.


“Tinggal bersama pria lain?” tanya Yuan, ia sebenarnya ragu menanyakan hal ini. Ya, Yuan ragu sekaligus takut.


Sedangkan Rose, tanpa berpikir panjang, ia pun menjawab “Iya, pernah,” Rose kembali jujur.


Wanita itu memang pernah tinggal bersama pria lain, yaitu Sean.


“Kau hanya sedang mencoba membuat ku cemburu saja 'kan?” tanya Yuan, berpikir positif.


“Untuk apa aku membuatmu cemburu? Aku memang pernah pergi makan bersama rekan kerja priaku dan terkadang klienku juga,” ujar Rose.


“Bukan, bukan itu. Kalau soal itu aku tidak peduli. Aku bertanya soal kau tinggal bersama pria lain. Itu kau hanya menggertakku saja 'kan? Kau tidak benar-benar pernah tinggal bersama pria lain kan?” tanya Yuan.


“Aku tidak sedang menggertakmu, aku memang benar-benar pernah tinggal bersama pria lain,” jawab Rose.


Yuan mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia memukul dinding di hadapannya itu. Tapi ia tidak mungkin melakukannya, itu akan membuat Rose takut padanya.


“Siapa?” tanya Yuan, berkata dengan nada rendah, mencoba meredam amarahnya sekuat tenaga.


“Apa?” tanya Rose tak mengerti.


“Siapa pria yang pernah tinggal bersama mu?” tanya Yuan lagi, lebih jelas dari sebelumnya.


“Ah, itu, aku pernah tinggal bersama, Sean. Aku tinggal di rumah, ah tidak, lebih tepatnya di mansion nya selama kurang-lebih tiga tahun,” jujur Rose.


Yuan tersedim untuk beberapa saat, namun kemudian ia menghela napasnya. Pria itu menyentuhkan hidungnya pada pipi Rose.


“Siapa Sean? Dan kenapa kau tinggal di rumahnya selama itu?” tanyanya, seduktif.


“Sean, dia... tunggu, apa kau tidak mengenalnya?” tanya Rose balik.


“Tidak,” Yuan menggelengkan kepalanya, yang otomatis membuat hidung mancungnya itu membuat gerakan pada pipi Rose.


“Haruskah aku mengenalnya?” tanya Yuan.


“Itu, Yuan, bisakah kau sedikit menjauh dariku?” pinta Rose, ia berusaha mendorong tubuh kekar itu. Tapi percuma saja, itu hanya akan sia-sia.


“Tidak,” jawab Yuan cepat.


“Yuan...,” rengek Rose, meminta pria itu untuk menjauh darinya.


“Tidak,” Yuan kembali menanggapinya dengan cepat.


“Aku harus membuatkan sarapan untuk anak-anakmu,” ujar Rose. Dan sepertinya, jurusnya satu ini benar-benar berhasil membuat Yuan mundur beberapa langkah darinya.


Rose menghela napasnya lega, beberapa detik yang lalu ia merasa seperti di cekik dan di cekat secara bersamaan.

__ADS_1


“Maaf,” ucap Yuan, pria itu kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi.


“Kau marah?” tanya Rose yang merasa aneh dengan sikap Yuan, pria itu tiba-tiba terlihat murung dan lesu.


“Aku tidak marah, tapi cemburu,” Yuan memilih untuk berkata jujur soal hatinya. Ia memang sedang cemburu karena Rose pernah tinggal selama tiga tahun bersama pria bernama Sean itu.


Sedangkan Yuan, dirinya saja tidak pernah tinggal selama itu dengan Rose.


“Apa ini soal, Sean?” tanya Rose.


Yuan langsung menoleh, pria itu kemudian menghela napas pendeknya.


“Lupakan saja, aku mau mandi,” ujar Yuan, malas membahas tentang hal itu.


“Dia saudara kembar Sarah,” kata Rose, perkataannya itu berhasil menghentikan langkah kaki Yuan yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.


“Kau masih ingat Sarah?” tanya Rose.


Yuan mengernyitkan keningnya, siapa yang bisa melupakan sekretaris berkompeten seperti Sarah. Apalagi, dulu Sarah juga sangat dekat dengan Rose. Yuan tidak mungkin melupakannya.


“Sarah? Maksudmu— sekretaris Sarah? Sekretarisku dulu?” tanya Yuan, memastikan kalau tebakannya itu benar.


Rose pun menganggukkan kepalanya, “Em, Sarah, sekretaris mu dulu,” jawab Rose.


“Dia, dia punya saudara kembar?” Yuan bertanya lagi.


“Kau tidak tahu itu?” Rose balik bertanya.


Yuan menggelengkan kepalanya polos, ia benar-benar tidak tahu.


“Ya, wajar saja kalau Sarah bisa menyembunyikan identitasnya dengan baik. Sean, saudaranya itu adalah pemilik perusahaan konveksi ternama di negara ini, OurSecond. Kau pasti tidak asing dengan nama brand pakaian itu. Itu brand dari perusahaan Sean, saudara kembarnya Sarah,” jelas Rose.


“Lalu, bagaimana kau bisa tinggal bersama dengannya?”


Rose menghela napasnya, ia sebenarnya malas mengingatkan hal ini pada pria itu. Karena mengingatnya hanya akan membuka luka di masa lalu.


“Itu karena kau meninggalkanku. Saat itu aku sangat kacau, tidak punya siapapun untuk mengadu. Dan Sarah, dengan tangan terbuka, dia membawaku ke rumahnya, rumah Sean. Di sanalah aku tinggal sampai anak-anak berumur tiga tahun, setelah itu, aku bekerja dan pindah ke rumah ini,” urainya.


Yuan menundukkan kepalanya. Sesuai dugaan Rose, membuka kembali kenangan itu, sama saja membuka luka yang baru saja tertutup oleh perban.


“Maaf, seharusnya aku tidak cemburu padamu. Padahal semua itu salahku,” ujar Yuan.


Rose mengalihkan pandangannya, ia tidak tahu harus berkata apa.


“Ma,” panggil sebuah suara pria kecil dari luar kamarnya, membuat kedua orang dewasa itu tersadar dari pergulatan batin mereka.


“Yusen memanggil mu, keluarlah, aku mau mandi dulu,” ujar Yuan yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Yuan masuk ke dalam kamar mandi. Rose membenarkan mantelnya. Lalu membuka pintu kamarnya.


“Yusen, ada apa?” tanya Rose, basa-basi. Tak lupa senyum cerah ia ukirkan diwajahnya.


“Mama tidak lupa kan kalau hari ini aku dan Yuna ada ujian? Karena itu, aku dan Yuna harus berangkat lebih awal dari hari sebelumnya,” jelas Yusen.


Rose mengangguk paham, “Iya, Mama tidak lupa, Mama ingat kok,” jawab Rose.


“Oh iya, dimana Yuna?” tanya Rose, karena ia tidak melihat Yuna bersama Yusen.


“Ada di kamarnya. Katanya nanti keluar kalau Mama sudah selesai membuat sarapan,” jawab Yusen.


“Benarkah? Apa dia baik-baik saja?” tanya Rose lagi, ia khawatir kalau Yuna menangis atau semacamnya.


“Maksud Mama?” Yusen tak paham.


“Ah tidak, tidak apa. Kau tunggulah di ruang makan. Mama mau menemui Yuna dulu,” ujar Rose.


Yusen mengangguk, pria itu pun kemudian berbalik, hendak pergi menuju tempat makan. Tapi, baru dua langkah ia berjalan, Yusen berbalik, ia kembali menghadap ke arah Rose, ibunya.


“Ma, apa Paman Yuan sudah pulang ke rumahnya?” tanya Yusen, ia sebenarnya sudah penasaran sejak tadi. Tapi demi harga dirinya, ia menahan diri untuk tidak menanyakan hal tersebut.


“Eng, itu, Papa kamu, dia— ”


“Selamat pagi, jagoan Papa," sapa Yuan yang baru saja keluar dari dalam kamar Rose.


Yusen pun terbengong, ia menyangka kalau ibu dan ayah kandungnya itu akan tidur bersama.


“Kalian, kalian tidur bersama?” tanya Yusen.


“Itu, Yusen, Mama bisa jelaskan, kau jangan salah paham dulu,” ujar Rose.


“Tadi Papa mu menumpang mandi di kamar Mama. Makanya dia keluar dari dalam kamar Mama,” bohong Rose. Tapi bodohnya Rose, ia memalingkan wajahnya, menjadi pertanda kalau dirinya benar-benar berbohong pada anaknya yang pintar itu.


Yusen diam, membuat ketiga orang berbeda usia itu disapa oleh keheningan.


Tapi, tak lama kemudian, keheningan mereka sejenak terpecah oleh sosok Yuna yang keluar dari dalam kamarnya.


“Yuna,” lirih Rose.


“Selamat pagi,” ucap Yuna, canggung.


Gadis kecil itu pun dengan langkah cepat melewati ayah dan ibunya, Yuna memilih menghindar dan pergi menuju ruang makan lebih dulu.


Sedangkan Yusen, ia tentu saja curiga karena merasa aneh dengan sikap saudari kembarnya itu.


Yusen pun menghela napasnya, ia kemudian pergi mengikuti langkah Yuna yang sudah duduk diam di kursi makan.


Melihat kedua anaknya itu. Rose menatap ke arah Yuan. Ia geram dengan ayah dari anak-anaknya itu. Seharusnya Yuan tidak perlu keluar dari kamar, dengan begitu mereka hanya perlu merayu Yuna.


Karena Yuna masih mudah untuk di rayu dari pada Yusen yang keras kepala itu.


“Ini semua salahmu. Kalau sampai mereka marah, kau harus bertanggung jawab untuk membujuk mereka,” ujar Rose, kemudian ia pergi menuju dapur yang berada dalam satu ruangan dengan tempat makan dan ruang tamu.


 


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


 


 


 


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


 


 


 

__ADS_1


 


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme


__ADS_2