The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Your Choice


__ADS_3

Hidup adalah permainan. Sebuah permainan role player yang dimainkan oleh diri sendiri. Bagaimana karakter sebuah permainan itu terbentuk tergantung pada diri yang memainkan perannya.


Life is choice. Tapi nyatanya, hidup bukan hanya sekedar tentang pilihan. Hidup juga bukan hanya tentang perjuangan. Karena perjuangan tanpa hasil juga hanya akan berujung pada pembuangan sumber daya yang tidak efektif.


Pilihan dan keinginan diri bisa saja bertentangan dengan situasi yang terjadi. Membuat seseorang harus mengambil keputusan yang sulit. Setiap tindakan yang dilakukan, semua pasti memiliki dasar. Seperti laut yang dalam, securam apapun itu, pasti ada dasarnya.


Keputusan Ray bukan semata hanya karena nafsu duniawinya saja. Harta bukanlah yang paling berharga untuknya. Karena keluarga adalah alasan utamanya tetap ada di dunia ini dengan baik.


Keluarga baginya adalah sebuah tempat dimana seseorang bisa berteduh kapan saja. Disana banyak pohon rindang yang akan menduhkan, namun tak jarang ada ranting kering yang akan jatuh dan melukai diri.


Ray sudah memikirkan ini berulangkali, selama tiga tahun berlalu, tidak sedikit yang ia usahakan sebagai alternatif. Semua jalur masa depan anaknya sudah ia pertimbangan dengan matang. Dan jalur yang paling baik adalah pilihannya saat ini.


Apa yang Ray katakan tentang semua demi masa depan Yuan adalah sebuah kebenaran. Sebagai seorang ayah, Ray merasa dirinya mempunyai tanggung jawab atas masa depan Yuan. Sebelum matanya tertutup rapat, Ray berharap agar Yuan memiliki segalanya. Hingga anaknya itu bisa melakukan apapun yang dia suka.


“Tuan besar. Mobil yang menjemput Tuan muda Yuan sudah memasuki halaman rumah.” lapor seorang asssiten rumah tangganya.


Ray menghembuskan nafasnya. Jari-jari tangannya tampak ia ketuk-ketukkan pada pegangan kursi yang sedang di dudukinya.


Pria paruh baya itu seperti tidak sabar ingin melihat sang anak yang sudah satu bulan tidak terlihat oleh pandangannya. Entah kemana putranya itu bersembunyi, tapi Ray akui kalau Yuan cukup mahir dalam hal bersembunyi.


Ketukan jari tangannya itu kemudian berhenti ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Postur tubuh tegap dan menjulang tinggi memasuki ruangannya itu. Hati Ray terasa hangat. Perasaan rindu yang sudah ia pendam selama satu bulan ini seolah terbayarkan dengan kehadiran Yuan yang kini sudah berada di hadapannya. Anaknya itu terlihat baik-baik saja.


Dia bersembunyi dengan baik. — batinnya.


“Yuan, bagaimana kabarmu?” tanya Ray.


Yuan tersenyum, senyum miris dengan pandangan yang beralih ke sembarang tempat. Pria itu seolah berkata kalau dirinya merasa benci dengan pertanyaan tersebut.


“Tidak perlu basa-basi. Langsung pada intinya saja. Dimana ibuku?” tanya Yuan. Nada bicaranya tidak lagi hangat, tidak pula hormat. Yuan seperti sedang berbicara pada seorang musuh yang terpaksa ia temui.


“Apa kau hanya merindukan Mommy-mu? Bagaimana denganku?”


Yuan mencebik, “Apa yang anda harapkan, Ketua Ray? Atas dasar apa saya harus merindukan orang yang egois seperti anda?”


Ray tersenyum, lalu terkekeh. Tawanya itu membuat orang lain merasa tidak nyaman berada di areanya. Sebuah tawa yang bahkan mampu membuat keberanian Yuan sedikit goyah.


“Egois? Kau bilang Daddymu ini egois?” tanya Ray sembari menatap Yuan yang langsung mengalihkan pandangannya, tak ingin beradu mata dengan sang ayah. “Baiklah. Karena kau sudah berkata seperti itu. Maka jangan salahkan aku kalau aku akan seperti itu.” katanya.

__ADS_1


“Dad— ”


“Mommy-mu tidak ada disini.”


“Apa?!”


“Pergilah.” ujar Ray.


“Tidak.” jawab Yuan.


“Tidak? Bukankah kau enggan melihatku? Aku sudah berbaik hati untuk tidak memaksamu tinggal disini. Jadi cepat pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran.” kata Ray.


“Apa yang sebenarnya Daddy rencanakan?!”


Ray kembali terkekeh. Pria paruh baya itu kemudian berdiri. Melangkah mendekati Yuan yang masih diam di tempatnya. Dalam jarak sekitar satu meter, mereka berhadapan. Menatap satu sama lain.


“Kau cukup pintar rupanya. Benar-benar anakku. Kau sangat teliti.” ujar Ray tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya.


“Katakan saja, dimana Mom?” ucap Yuan.


“Kita berdua sama-sama terjun di dunia bisnis. Hidupku dan hidupmu dipenuhi dengan sesuatu yang berbau bisnis. Meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dan menghindari kerugian. Itu adalah pedoman kita berdua. Jadi, Yuan, ” perkataan itu untuk beberapa saat tergantung dalam keheningan.


Ray sengaja menggantungkannya. Jari-jari pria paruh baya itu tampak kembali ia ketuk-ketukkan pada benda yang tersentuh oleh tangannya. “Bagaimana kalau kita membahas sedikit bisnis?” sambungnya.


Yuan segera membalikkan badannya. Menatap punggung sang ayah yang kini bersandar pada sofa yang membelakanginya.


“Jangan bercanda.” ucap Yuan.


“Apa aku terlihat seperti seseorang yang suka bermain-main? Daddymu ini selalu serius dengan apa yang dia katakan.” jawab Ray. “Duduklah, kita akan bahas bisnis kita.”


“Dimana Mommy? Hanya itu yang ingin aku tahu.” ucap Yuan.


“Duduklah.” kata itu terucap kembali. Namun kali ini terdengar lebih tegas dan memerintah.


“Aku tidak ingin berbisnis dengan orang licik seperti Daddy.”


“Licik? Apa perusahaan Tnp group berdiri kokoh karena kelicikanku?” tanyanya. “Cepat kemari dan duduklah.”

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak mau berbisnis dengan Dad.”


“Kau takut kalah dan merugi?”


“Cih, siapa yang takut? Aku hanya tidak mau memperlakukan ibuku sendiri seperti barang.”


Ray tersenyum. Anaknya itu sungguh keras kepala dan teguh pendirian. Namun, pria itu masihlah sosok pria muda yang belum banyak memiliki pengalaman hidup seperti dirinya. Yuan bahkan terkadang sembrono dalam setiap tindakannya.


“Daddy tidak pernah mengatakan kalau kita akan melakukan bisnis jual beli.” kata Ray.


“Lalu maksud Dad tentang bisnis tadi apa?!”


“Memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian.” jawabnya. “Kau tahu Yuan? Seorang anak adalah investasi bagi orangtunya. Mereka di rawat dari bayi hingga tumbuh besar. Tapi sangat banyak seorang anak tidak mengerti tentang rasa terimakasih. Seperti dirimu.”


“Dad— ”


“Aku akan membuat pilihan untukmu.” ujar Ray, menyela perkataan Yuan dengan cepat. “Mommy-mu atau gadis yang bernama Rose itu?”


Yuan tertawa. Tawa yang terasa memilukan. Tawanya itu adalah tawa untuk dirinya sendiri. Ia telah masuk ke dalam permainan ayahnya.


Tentu saja itu pilihan yang sulit baginya. Yuan bahkan tidak bisa memilih sama sekali. Keduanya sama-sama penting untuknya. Yang satu adalah seorang wanita yang telah melahirkan dirinya dengan mempertaruhkan nyawa. Dan yang satunya lagi adalah wanita yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Siapa yang bisa memilih salah satu dari mereka?


“Tidak. Aku— ”


“Kalau begitu pergilah.” ucap Ray yang sejujurnya sangat bertolak belakang dengan isi hatinya.


“Dad, tidak bisakah— ”


“Yuan.” teriakan itu menghentikan keseriusan yang sedang menyelimuti kedua pria berbeda usia itu. Teriakan yang berasal dari seorang wanita paruh baya. Ia masuk ke dalam ruangan suaminya. Menerobos semua orang yang menghalangi jalannya untuk bertemu dengan sang anak.


Mata Yuan terbuka lebar ketika melihat kondisi ibunya. Tubuhnya kurus, lebih kurus dari terakhir kali ia melihat sang ibu satu bulan lalu. Wajahnya pucat bagai mayat hidup. Mata wanita paruh baya itu tampak memerah karena menangis tanpa tahu caranya berhenti. Rambutnya pun yang biasanya tertata rapi, kini seperti serabut kelapa yang di jadikan sapu ijuk.


“Mommy.” Yuan berlari. Merengkuh tubuh lemah itu ke dalam pelukan hangatnya. Menumpahkan perasaan rindu yang selama ini terbendung di dalam hatinya. Hilang rasa rindu itu berubah menjadi tangisan haru.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2