The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Satu Juta Dolar Lebih Dekat


__ADS_3

"Permisi, kau—teman Rose kan?" Tanya Nana pada Yana yang di buat kaget karena seorang gadis seperti Nana sedang mengajaknya berbicara.


"Halo? Apa kau mendengarku?" Nana melambaikan tangannya di depan wajah Yana.


"Eh, apa yang kau tanyakan tadi?" Tanya Yana yang baru saja tersadar dari rasa terkejutnya.


"Rose, dimana dia?" Tanya Nana lagi.


"Rose? Kenapa tiba-tiba menanyakan nya? Tapi sepertinya orang yang kau cari tidak hadir hari ini. Dia baru saja mengirimkan ku pesan." Ujar Yana sembari menunjukkan ponselnya.


"Apa kau tahu dimana rumahnya?"


Yana mengernyitkan keningnya, menatap Nana dengan tatapan menelisik gadis itu.


"Ah dengar, aku tidak bermaksud buruk pada Rose. Aku hanya ingin menepati janji ku untuk mengembalikan bukunya tepat waktu." Ujar Nana saat melihat Yana terlihat curiga padanya.


"Yah, aku hanya penasaran, kenapa orang sepertimu sangat ingin menemui gadis biasa seperti Rose?"


"Karena aku temannya." Jawab Nana.


"Teman? Sulit dipercaya. Nana tidak pernah menceritakannya padaku. Jika Rose berteman dengan mu hanya karena ingin dekat dengan Yuan, itu—tidak mungkin. Rose bukan orang seperti itu. Jadi, bagaimana kalian bisa berteman? Kau sedang tidak ingin memanfaatkannya atau menipunya kan? Aku tidak bisa membiarkan temanku disakiti sekalipun itu kau." Ujar Yana.


Nana tersenyum, ia melemparkan senyum tulusnya pada Yana.


"Jadi pertemanan itu seperti ini ya. Kalian saling membela satu sama lain, membuatku iri. Kau tahu, selama ini aku selalu menuduh orang memanfaatkan ku, tapi baru sekarang aku dituduh seperti itu. Menggelikan sekali." Ucap Nana dengan tawa kecilnya.


"Apanya yang lucu?" Tanya Yana dengan nada kurang bersahabatnya karena masih curiga pada gadis itu.


"Ah maafkan aku. Tapi bisakah kau memberitahuku dimana alamat rumah Rose? Aku ingin mengembalikan buku ini padanya." Ujar Nana sembari menunjukkan buku yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya.


Yana menatap buku itu meneliti, memastikan jika itu memang buku Rose dan Nana tidak sedang menipunya.


"Baiklah, aku akan memberitahumu. Tapi bukankah kau bisa langsung menanyakan alamat Rose di bagian Informasi atau arsip biodata mahasiswa. Orang sepertimu pasti punya akses bebas untuk keluar masuk kesana kan?"


"Benar juga, kenapa aku tidak terpikirkan sebelumnya." Ucap Nana.


"Ck, orang pintar sepertimu terkadang juga bisa melupakan hal sepele seperti itu ya. Hah, baiklah, aku akan memberitahumu alamat rumah Rose." Ujar Yana, ia kemudian mengambil book note nya dan juga pena, menuliskan alamat rumah Rose disana.


Yana merobek kertas itu dan memberikannya pada Nana.


"Itu alamat rumahnya. Aku tidak tahu kenapa kau ingin sekali bertemu dengannya, tapi yah semoga itu sesuatu yang baik. Karena jika terjadi hal buruk pada teman ku dan itu disebabkan olehmu, aku tidak akan tinggal diam, walaupun harus berhadapan denganmu." Kata Yana.


"Terimakasih." Ucap Nana, ia mengambil kertas yang Yana berikan padanya.


"Em, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa." Ujar Yana kemudian berlalu pergi dari hadapan Nana menuju fakultasnya.


•••


Rumah itu terlihat kacau, barang-barang tampak hancur berantakan.


"Apa yang kalian lakukan?!" Teriak seorang gadis dari arah pintu masuk rumah.


Rose berdiri disana dengan nafas terengah-engah nya. Ia harus berlari kembali ke rumahnya saat mendapat kabar dari salah satu tetangganya jika ada keributan besar dirumah gadis itu. Rose bahkan sampai rela tidak masuk kuliah karena terlalu khawatir pada ibunya.


"Oh akhirnya kau datang juga, kami akan langsung membawamu pergi." Ujar salah satu dari dua pria itu.


"Kalian masih belum jera juga ya?! Aku benar-benar akan melaporkan kalian ke polisi jika kalian masih a—" Rose menghentikan perkataanya saat pria yang berbadan paling besar mendekat kearahnya dan menunjukkan sebuah kertas dengan cap sidik jari berwarna merah.


"Ini sidik jarimu. Kau tidak bisa menolak lagi, semua hutang ayahmu juga hutangmu sekarang." Ujar pria itu.


Rose menganga tak percaya,


"Tidak mungkin, aku tidak pernah mencap jariku di surat perjanjian atau kontrak apapun. Ini pasti palsu." Ujar Rose menyanggah pernyataan mereka.


"Kau bisa mengeceknya sendiri." Kata pria yang satunya.


"Rose, itu memang sidik jarimu. Ayahmu yang melakukannya, dia mengambil cap sidik jarimu saat kau tertidur. Maafkan ibu karena tidak memberitahumu, ibu tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini." Kata sang ibu.


Rose tampak menghembuskan napasnya, ia memejamkan matanya sejenak. Mencoba mengendalikan dirinya dalam situasi seperti ini ia harus pandai menahan emosinya.


"Dimana ayah?" Tanya Rose pada ibunya.


"Kau belum tahu ya? Tukang hutang itu kabur, dia meninggalkan kalian bersama hutang nya." Ujar pria yang memegang kertas berisi surat perjanjian itu.


Rose tersenyum miris pada dirinya dan juga Ibunya. Menyedihkan sekali mempunyai seorang kepala keluarga seperti ayahnya.


"Yah, jika kau tidak ikut dengan kami. Bos kami terpaksa akan memenjarakan ibumu, kau pasti tidak menginginkannya kan?" Kata salah satu pria itu.


"Baiklah aku akan ikut dengan kalian, tapi berjanjilah untuk tidak menggangu kehidupan ibuku lagi." Ujar Rose.

__ADS_1


"Ya tentu saja jika kau ikut dengan kami, hutang ayahmu akan di anggap lunas. Karena bos kami sangat tertarik padamu, kau cukup beruntung hanya dengan menyerahkan dirimu, semuanya lunas begitu saja."


Rose tampak mengepalkan tangannya, ingin rasanya marah. Tapi tidak bisa, situasi seperti ini tidak akan menguntungkannya jika dirinya marah.


"Rose." Panggil ibunya dengan raut sedih.


"Percaya padaku bu, semuanya akan baik-baik saja." Ujar Rose dengan senyum hangatnya.


"Ayo cepat ikut kami ke mobil." Kedua pria itu memegang lengan Rose, membawa Rose yang masih merasa enggan untuk ikut bersama mereka.


Rose berjalan dengan langkah pasrah diantara dua pria itu, mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di ujung lorong jalan kecil itu.


"Hei! Apa yang kalian lakukan pada temanku?!" Teriak Nana saat melihat Rose yang dipaksa masuk kedalam mobil.


Gadis itu keluar dari mobil sport milik Yuan dan berlari mendekati mereka.


"Siapa kalian?! Kalian ingin menculiknya ya?!" Tanya Nana dengan tatapan tidak bersahabat nya.


"Nana, bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Rose.


"Temanmu ini, jika dilihat dari mobil yang dikendarainya dan pakaian yang dikenakannya. Sepertinya berasal dari keluarga kaya, bukankah itu artinya kau bisa saja memintanya untuk—"


"Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini, jangan libatkan dia." Ujar Rose pada dua pria itu.


"Sayang sekali ya, padahal kau bisa memanfaatkannya." Ucap salah seorang pria itu.


"Rose, ada apa sebenarnya? Kau mengenal mereka?" Tanya Nana pada teman barunya itu.


Rose menghela nafasnya, ia menatap manik mata Nana sejenak, kemudian tersenyum.


"Mereka adalah penagih hutang ayahku. Karena ayahku tidak bisa — ah apa yang aku katakan. Nana, sebaiknya kau pergi dari sini. Aku tidak ingin kau terlibat dengan masalah keluargaku." Ujar Rose.


"Apa yang kau katakan? Aku ini temanmu, aku akan membantumu." Sanggah Nana.


"Dengarkan apa yang temanmu katakan, kau bisa meminta bantuannya untuk melunasi hutang ayahmu, dengan begitu kau tidak perlu menjual tubuhmu untuk melunasi hutang ayahmu." Kata si pria penagih hutang.


Nana melebarkan matanya, tak percaya dengan kata menjual tubuh untuk melunasi hutang. Nana melihat Rose yang menundukkan kepalanya, temannya itu terlihat pasrah dan putus asa.


"Rose—"


"Nana, kumohon pergilah." Pinta Rose.


"Tidak. Aku akan membantumu melaporkan mereka ke polisi." Kata Nana.


Rose menghembuskan nafas beratnya saat mendengar perkataan Nana itu.


"Jika hukum terlibat, maka ibuku akan dipenjara." Ucap Rose.


"Bagaimana bisa seperti itu?"


"Karena ini." Salah satu pria penagih hutang itu menunjukkan surat perjanjian tadi.


Nana melihat dan membaca sekilas isi surat yang ada di hadapannya itu.


"Rose, ini— sidik jarimu?" Tanya Nana.


"Aku ingin berkata tidak, tapi itu memang sidik jariku." Jawab Rose semakin menundukkan kepalanya.


"Apa ini surat perjanjian asli?" Tanya Nana menatap kedua pria penagih hutang itu.


Terlihat kedua pria itu tertawa dengan pertanyaan polos dari Nana.


"Tentu saja ini asli, kau bisa lihat dari sidik jarinya, itu cap asli." Kata salah seorang dari dua pria itu.


Nana memandang mereka, awalnya ia memasang ekspresi datar, lalu kemudian ia tersenyum sinis. Dengan cepat, tangannya bergerak merampas surat perjanjian itu.


"Apa yang kau inginkan?! Kembalikan!" Kata pria di hadapannya.


Nana masih menampilkan senyum sinisnya.


"Apa yang aku inginkan? Ini yang aku inginkan." Ucap Nana sembari merobek surat perjanjian itu menjadi beberapa bagian kecil.


"Kau!" Bentak seorang pria yang ada di hadapan Nana.


"Kau berkata kalau ini asli, itu artinya jika aku merobeknya, semua perjanjian yang dipaksakan itu berakhir. Bukankah seharusnya begitu mahasiswa hukum?" Tanya Nana pada Rose yang tampak terperangah dengan tindakan Nana.


"Kurang ajar!" Pria yang berdiri tepat di depan Nana itu tampak marah, ia mengangkat tangannya berniat memberikan pukulan pada gadis itu. Tapi niatnya terhalang, karena ada tangan seorang pria yang menahannya. Dia adalah Yuan.


Ya, Nana datang ke tempat Rose tidak sendiri, ia datang bersama Yuan yang di paksa Nana untuk mengantarkannya. Hanya saja, pria itu sejak tadi tidak keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


Yuan hanya diam mengamati semua yang terjadi dari dalam mobilnya.


"Siapa lagi ini?! Pahlawan kesiangan ya! Cih, dasar anak-anak muda ini." Ujar salah satu dari dua pria itu.


"Lepaskan dia." Ucap Yuan dengan wajah tenangnya, sembari menatap Rose sekilas.


"Ck, kau pikir kami akan mendengarkan apa yang kau katakan?! Tentu saja tidak!"


"Biarkan aku bertemu dengan bos kalian." Kata Yuan dengan ekspresi datarnya, pria itu memandang mereka tanpa rasa takut.


"Yuan, itu berbahaya." Ucap Rose lirih.


"Kau berpikir untuk melawan bos kami?! Hahaha yang benar saja, lucu sekali."


"Kekerasan adalah pilihan terakhir seorang pria sejati. Aku bukan seperti kalian yang berani melukai seorang wanita, dasar sampah masyarakat." Kata Yuan.


"Apa katamu?! Beraninya kau menghina kami!" Salah satu dari dua pria itu ingin melayangkan tinjunya kearah Yuan, tapi dengan gerakan cepat, Yuan mampu menangkis tinju itu.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk mengahadapi kalian yang tidak berguna ini. Cepat suruh bos kalian datang kemari." Perintah Yuan.


"Apa yang kau rencanakan?" Bisik Nana pada Yuan.


"Diamlah." Balas Yuan.


"Ck, berpura-pura berani dihadapan wanita ya. Sangat menggelikan." Kata salah satu rentenir itu.


"Kalian memang suka sekali membuang waktu berhargaku. Baiklah, sekarang katakan saja, berapa hutang ayahnya?" Tanya Yuan dengan nada kesalnya.


"Yuan, kau tidak perlu melakukan itu." Kata Rose yang seakan bisa membaca apa yang akan pria itu lakukan.


"Ck, apa kau berniat membayarkan hutang nya? Yah, sepertinya kau berasal dari keluarga kaya ya."


"Katakan saja jumlahnya." Ujar Yuan.


"Satu juta dolar, apa kau sanggup membayarnya hah?!" Kata si rentenir dengan nada meremehkannya.


"Yuan, tidak, jangan. Kau tidak perlu melakukannya. Jangan lakukan itu, aku tidak ingin—"


"Diamlah." Ucap Yuan. Pria itu kemudian mengambil dompetnya, menarik salah satu kartu yang ada di dalam dompet itu.


"Ini, di dalam kartu itu ada uang sejumlah satu koma dua juta dolar. Ambil saja semuanya dan cepat pergi dari sini." Ujar Yuan.


"Apa kami bisa percaya dengan isi kartu ini?"


"Jika aku membohongi kalian, hubungi saja aku." Kata Yuan sembari menyodorkan kartu namanya pada mereka.


"Bahkan kau punya kartu nama di usia mudamu ini. Sungguh mengagumkan." Kata pria yang menerima kartu nama Yuan.


"Kau—kau anak dari— mustahil." Kata pria itu setelah melihat kartu nama Yuan.


"Cepat pergi dari sini." Ujar Yuan.


"Ah baik, baik tuan muda." Kata mereka, sekejap langsung berubah menjadi begitu sopan pada Yuan.


Setelah itu mereka bergegas masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.


"Terimakasih, aku pasti—"


"Kau berhutang padaku." Ucap Yuan.


"Yuan.." Ucap Nana memperingatkan agar Yuan tidak bersikap berlebihan pada Rose.


"Aku pasti akan membayarnya, tapi dengan angsuran setiap bulan. Bolehkan?" Tanya Rose mengharapkan keringanan dari pria itu.


Yuan menatap gadis itu sejenak, kemudian pergi berlalu dari hadapan Rose.


"Kau tidak perlu membayarnya dengan uang, mulai sekarang jadi pelayanku." Ucap Yuan, setelah mengatakannya, ia melemparkan tas nya kepada Rose.


"Ha?"


"Yuan, bukankah itu keterlaluan? Kau tidak bisa seperti itu." Ujar Nana


"Apa kau bisa membayarkan hutangnya padaku?" Tanya Yuan pada Nana.


Nana yang mendapat pertanyaan skakmat seperti itu hanya bisa diam.


"Cepat masuk ke mobil." Perintah Yuan pada Rose yang masih diam memegang tas nya.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2