
"Kenapa dia terlihat sangat terkejut saat melihatmu? Dan kenapa juga dia memegang bibirnya terus? Dan lagi, walaupun mommy mu ini sudah tua, tapi penglihatanku masih tajam, Rose tampak merona saat melihatmu. Yuan apa kau menyembunyikan sesuatu dari mom?" Bisik Ana penuh selidik pada putranya itu.
"Mom, berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak-tidak." Ujar Yuan.
Pria itu— walau sudah di sindir dan di goda oleh ibunya, tapi pandangannya masih terus terarah pada Rose. Ia tetap saja memperhatikan gerak-gerik gadis itu dari matanya langsung ataupun dari ekor matanya.
"Ada apa bos Ana?" Tanya Rose ketika dirinya telah berada di hadapan pemilik restoran tempatnya bekerja itu.
"Mendengarmu memanggilku 'bos'— saat ada Yuan disini, rasanya aneh sekali ya. Bukankah lebih baik, panggil aku ibu mertua?" Ucap Ana.
"Eh?" Rose terlihat tidak mengerti dengan ucapan dari ibunya Yuan itu.
"Mom~" Bisik Yuan, meminta agar ibunya berhenti menjahilinya.
Ana tertawa kecil, namun kemudian ia tampak menahan tawa itu sembari menatap ke arah Rose lagi.
"Ah iya Rose, aku memanggilmu karena sejak tadi ada yang diam-diam memperhatikanmu, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padamu." Kata Ana sembari memandang ke arah putranya itu.
Rose mengikuti arah pandang Ana, tatapannya kini menuju pada Yuan yang awalnya menatap frustasi ibunya, tapi sekejap kemudian saat tahu Rose menatapnya, pria itu langsung mengubah ekspresinya datar dan dingin, seperti biasa.
"Apa yang kau lakukan Yuan? Kenapa hanya diam saja? Ayo— "
"Ya tentu saja, ayo kita pulang, ayo ayo mom, daddy pasti sudah menunggu kita." Kata Yuan, ia bersyukur karena menemukan celah untuk dirinya kabur dari situasi yang tak dapat ditangani olehnya itu.
Yuan mendorong lembut tubuh ibunya, dengan sedikit paksaan pada ibunya, ia pun akhirnya bisa keluar dari restoran dan menjauh dari Rose yang masih menatapnya dengan tatapan heran.
"Kau beruntung sekali ya Rose. Bisa membuat orang seperti tuan muda Yuan tertarik padamu, kau memang luar biasa. Aku yang sudah tua ini sampai iri padamu." Kata manajer Dita.
__ADS_1
"Eh itu, sepertinya anda salah paham manajer Dita. Aku dan dia hanya saling kenal saja. Asumsi anda juga sepenuhnya tidak benar dan tidak mungkin terjadi. Yuan itu terlalu bagus untuk orang sepertiku." Ujar Rose.
Manajer Dita tersenyum mendengarnya, hal-hal yang seperti itu, tentu ia sebagai seseorang yang telah masuk dalam usia paruh baya, sudah lebih dulu pernah merasakannya dari Rose. Mencintai orang tapi orang itu terlalu tinggi untuk digapai, rasanya seperti ingin menyentuh awan tapi tidak mungkin bisa, hanya dapat memandang dari jarak yang sangat jauh.
"Mendengar perkataan mu itu, kau sepertinya sedang berusaha menguatkan hatimu ya. Hah, dasar anak muda jaman sekarang— tidak ada bedanya dengan jaman ku dulu. Sudahlah, cepat lanjutkan pekerjaanmu." Kata manajer Dita sembari masuk ke bagian ruang karyawan.
Tertarik? Yuan tertarik padaku? Pria yang dikelilingi puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan perempuan. Bagaimana mungkin tertarik padaku? Daripada memikirkan kalau dia tertarik padaku, aku lebih memikirkan kalau dia sedang penasaran padaku dan hanya bermain-main saja. Tapi walaupun sudah begini, aku juga tidak bisa menjauhinya. Apalagi setelah kejadian tadi siang, bukannya membenci tapi semakin mencintai. Bodohnya hatiku~
•••
"Ketua Ray. Sebelumnya, maaf atas kelancangan saya. Kalau tidak ada hal yang ingin dibahas lagi, mohon ijinkan saya untuk pergi." Pinta Yohan dengan penuh rasa hormatnya.
Ray menatap pria yang lebih tua darinya beberapa tahun itu sejenak, lalu detik berikutnya terlihat tawa kecil menghiasi kontur wajah pria paruh baya itu.
Yohan tampak heran dengan tawa kecil yang ia dengar dari mantan tuan-nya itu. Ia menatap Ray canggung.
"Kau ini— astaga, kenapa masih saja begitu formal padaku? Kau itu adik ipar Ana, yang artinya adik iparku juga. Hei, adik ipar santailah sedikit. Jika memang kau ingin pulang, katakan saja secara langsung, tidak perlu se-formal itu. Kau membuatku terlihat buruk." Ujar Ray disela-sela tawa kecilnya.
"Sudah sudah, kalau ingin pulang, pulanglah. Aku sangat paham bagaimana menjadi pria yang beristri. Ah iya, sampaikan salamku untuk Nana. Anak itu sudah lama tidak datang berkunjung kemari, ibu Calista dan Alex sepertinya sudah sangat merindukannya." Kata Ray yang tengah duduk di kursi kerjanya.
Yohan terlihat diam untuk beberapa detik, perkataan dari Ray itu sepenuhnya sangat sulit ia penuhi. Jika saja itu bukan Ray yang mengatakannya, Yohan mungkin akan berkata 'Nana sedang sibuk dengan urusan kuliahnya, tidak bisa diganggu' atau mungkin dia akan diam saja dan pergi.
Namun sayangnya, yang mengatakan semua itu adalah Ray, pria yang sangat dihormatinya dan merupakan bagian dari kehidupannya. Sudah menjadi janji bagi diri Yohan untuk menyanggupi semua perintah, keinginan, ataupun permintaan Ray.
Karena itu, Yohan hanya bisa menghela nafasnya pelan sembari menampilkan senyum hormatnya.
"Tentu saja, saya akan menyampaikan salam anda padanya, dan juga— lain kali jika ada waktu luang, kami sekeluarga akan datang berkunjung kemari." Ujar Yohan.
__ADS_1
"Baguslah, ibu Calista dan Alex pasti sangat menantikannya, apalagi jika berhubungan dengan Nana, mereka akan sangat senang sekali. Yohan— bagaimanapun juga, mereka itu memiliki hubungan darah, aku harap kau memakluminya." Kata Ray dengan senyumannya.
"Iya, tentu saja. Ah kalau begitu, saya pamit undur diri, selamat malam kakak ipar." Ujar Yohan yang kemudian berjalan keluar dari ruang kerja Ray.
Melihat pintu ruang kerjanya kembali tertutup, Ray lantas berdiri dari tempat duduknya, pria itu berjalan menuju ke arah jendela yang ada di ruangan itu.
Jendela berukuran minimalis yang mampu memperlihatkan pemandangan di halaman depan rumahnya.
Terdengar hembusan nafas pelan dari diri Ray, manik matanya menangkap sosok Alex yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Mereka pasti akan berhadapan lagi, lalu— berdebat. Aku harap mereka hanya akan saling mengabaikan untuk saat ini, lebih baik kedepannya mereka segera berbaikan.
Mereka yang Ray maksud itu adalah Yohan dan Alex, walaupun Ray tidak tahu-menahu urusan mereka dan juga tidak ingin ikut campur. Tapi fakta bahwa dirinya pernah mendengar perdebatan mereka, membuat Ray sebagai keluarga juga ikut memikirkan masalah mereka beberapa kali.
"Daddy?" Suara Yuan terdengar dalam ruangan kerja itu. Putra tunggal Ray itu baru saja masuk dan berjalan mendekati sang ayah yang tampak melamun di sudut ruangan dekat jendela.
"Apa yang sedang dad lakukan?" Tanya Yuan.
Ray tersenyum ke arah putranya itu, sejenak memandang Yuan dari ujung rambut sampai ujung kaki, jika diperhatikan dengan seksama, rasanya haru sekali, membuat Ray sadar, ternyata waktu telah berlalu begitu banyak, terasa cepat ketika baru menyadarinya sekarang.
"Ada apa dad?" Tanya Yuan kembali, ia merasa heran dengan ayahnya yang hanya diam memandangi dirinya.
"Tidak ada. Apa mommy mu juga pulang?"
Yuan mengangguk,
"Iya, dia pulang bersamaku."
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita makan malam bersama." Ajak Ray yang kemudian merangkul bahu anaknya itu dengan penuh sayang.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍