
Yuan menatap ayahnya yang terbaring lemah di kasur rumah sakit. Pria paruh baya itu tampak tak berdaya dengan selang infus dan oksigen yang terpasang di tubuhnya.
Rasa sedih menyebar ke dalam diri Yuan, perasaan bersalah pun menyelimuti hatinya.
"Suamiku." Ana berjalan masuk ke dalam ruang perawatan itu di dampingi oleh Rachel.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rachel pada keponakannya itu.
"Dokter jaga bilang dad terkena hipertensi, tapi kita perlu menunggu dokter Liam untuk lebih mengetahui kondisinya, karena hanya dokter Liam yang mengetahui catatan medis dad, jadi dia yang paling tahu bagaimana kondisi dad saat ini." Jawab Yuan, manik mata pria itu melihat ibunya yang tengah menangis sembari memegang tangan lemah ayahnya.
"Begitu ya." Gumam Rachel.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi ponsel dari dalam tas Rachel. Wanita paruh baya itu lantas mengambil ponselnya, terlihat dilayar ponsel sebuah panggilan masuk dari Nana.
"Bibi angkat telepon dulu ya." Ucap Rachel yang kemudian pergi keluar dari kamar perawatan itu.
Yuan menatap kepergian bibinya itu sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada ibunya yang terlihat sudah berhenti menangis, namun masih tetap setia menggenggam tangan ayahnya.
"Mom."
Ana tidak menjawab panggilan dari putranya itu, Yuan hanya bisa mendengar suara helaan nafas ibunya.
"Maaf, ini semua— salah Yuan." Ucapnya.
"Sekarang baru menyesal? Kemarin kemana saja?" Tanya Ana ketus, ia berbalik menatap putranya.
"Apa kau pikir impianmu itu lebih besar daripada harapan orangtuamu sendiri? Puluhan tahun kami menaruh harapan besar padamu, tapi semua itu musnah hanya karena impianmu? Lucu sekali kan? Bayangkan bagaimana jika kau berada di posisi kami. Ini memang terlihat— jika kami egois padamu Yuan, tapi semua ini untuk kebaikan dirimu sendiri. Satu hal yang harus kau mengerti, tidak ada orangtua yang ingin anak kandungnya sendiri menderita."
'Bagaimana jika kau berada di posisi kami?' Kata-kata yang barusan Ana ucapkan itu mengingatkan Yuan dengan nasehat dari seseorang, 'Pernahkah kau mencoba untuk memposisikan dirimu sebagai mereka? Kenapa kau tidak mencoba melihat dari sudut pandang mereka? Dari pada pergi dari rumah dan kabur dari masalah, itu sangat kekanak-kanakan, dan Yuan yang aku kenal tidak seperti itu.'
Yuan menghembuskan nafas beratnya, pria itu terlihat menundukkan kepalanya semakin dalam.
"Permisi— Ah nyonya Gavin, maafkan saya, saya terlambat datang." Ujar dokter Liam ketika dirinya baru saja masuk ke dalam kamar perawatan itu.
Ana menatap dokter itu dengan senyuman singkatnya.
"Tidak masalah, bisakah dokter Liam langsung memeriksanya?"
Dokter itu mengangguk, kemudian berjalan ke arah ranjang dimana Ray masih terbaring tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Ana ketika melihat dokter Liam telah selesai memeriksa kondisi suaminya.
"Saya lihat dari hasil pemeriksaan dokter yang tadi menangani ketua Ray, tekanan darahnya cukup tinggi, yang artinya beliau terkena hipertensi. Tapi sekarang, tekanan darahnya sudah mulai menurun. Untungnya tekanan darah yang naik tidak terlalu tinggi, jika itu terjadi, ketua Ray mungkin bisa terkena stroke, serangan jantung, dan yang lebih parah bisa mengarah pada kematian. Saya mengatakan ini langsung karena saya harap, mulai sekarang, anda dan keluarga anda sebaik mungkin mengawasi kesehatan ketua Ray, mulai dari pola makan, stress dan juga emosinya." Ujar Dokter Liam.
"Tapi dokter, bukankah suami saya tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi? Kenapa dia tiba-tiba bisa terkena hipertensi seperti ini?" Tanya Ana.
Dokter Liam memandang Ray cukup lama, helaan nafas terdengar darinya, Dokter Liam kembali beralih menatap istri dari ketua perusahaan TNP itu dengan tatapan sendunya.
"Anda tentu tidak lupa dengan kondisi ketua Ray yang hanya memiliki satu ginjal kan?"
"Apa? Dad— dad hanya memiliki satu ginjal?! Maksudnya apa? Mom— kenapa mom tidak pernah menceritakan hal ini padaku? Tidak tidak, maksudku— kenapa aku sebagai anaknya tidak mengetahui hal ini?" Tanya Yuan, pria muda itu terlihat terpukul berat ketika mengetahui fakta yang tidak pernah diketahuinya selama puluhan tahun dirinya hidup.
•••
"Apa kata ibumu? Apa yang terjadi pada ketua Ray? Apa Yuan baik-baik saja?" Tanya Rose yang terlihat khawatir.
"Tenangkan dirimu Rose." Bisik Yana.
Mereka menunggu perkataan Nana yang baru saja selesai menelpon ibunya.
"Paman Ray terkena HTN, tapi sekarang kondisinya sudah stabil." Kata Nana.
"Lalu— bagaimana dengan Yuan? Tadi dia terlihat sangat terkejut, apa dia baik-baik saja?" Tanya Rose lagi.
"Dia baik-baik saja." Jawab Nana.
"Syukurlah." Gumam Rose.
•••
"Tuan muda Yuan belum mengetahuinya ya?"
"Tidak ada yang pernah menceritakan hal ini padaku. Mom—"
"Yuan, tanyakan pada dirimu sendiri. Apa kau pernah sekali saja mencoba untuk melihat dan mengenali orangtuamu lebih dalam? Kau lebih suka berkata jika kami egois dan mementingkan keinginanmu sendiri." Ujar Ana, menyela perkataan putranya itu.
Ana menghela nafasnya sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya ke dokter Liam yang tampak canggung dengan situasi ini.
"Maaf karena anda harus melihat keributan ini dokter Liam. Silahkan lanjutkan kembali penjelasan anda tentang kesehatan suami saya." Ujar Ana.
__ADS_1
Dokter Liam tersenyum kaku. Tapi kemudian, ia mulai kembali melanjutkan penjelasannya yang sempat tertunda sejenak.
"Ketua Ray memang tidak memiliki riwayat HTN, karena hipertensi yang ia alami saat ini bisa di sebabkan karena ketua Ray hanya memiliki satu ginjal. Jadi penjelasan singkatnya seperti ini— orang yang memiliki satu ginjal memang bisa hidup dengan normal, tapi itu selama dirinya menjaga pola makan dan hidup sehat yang benar."
"Karena— orang yang memiliki satu ginjal lebih rentan terkena HTN, apalagi jika pola makan dan hidupnya kurang diperhatikan. Saya khawatir, kemungkinan akhir-akhir ini, pola makan ketua Ray kurang diperhatikan dan efek stress yang berlebihan. Itu semua bisa memicu terjadinya hipertensi yang ketua Ray alami saat ini, karena sebelumnya, kesehatan beliau terlihat baik-baik saja."
"Saya harap, kedepannya— anda memperhatikan kondisi ketua Ray lebih dari sebelumnya. Karena sudah seperti ini, saya khawatir nanti akan terjadi hal buruk yang tidak kita inginkan. Ini bukan tindakan pencegahan, tapi penundaan sementara agar kekhawatiran itu tidak terlalu cepat terjadi." Ujar dokter Liam mengakhiri penjelasannya.
"Maksud dokter apa?" Tanya Ana yang belum mengerti di bagian akhir penjelasan dokter itu.
"Besar kemungkinan kalau ketua Ray akan kehilangan fungsi ginjalnya atau gagal ginjal. Kita tidak bisa menghindarinya, kita hanya bisa menundanya agar kemungkinan itu tidak cepat terjadi." Jawab Dokter Liam.
Ana merasa tubuhnya melemas seketika, mata wanita paruh baya itu terasa memburam karena air matanya yang mulai menumpuk di pelupuk mata.
"Mom." Yuan menopang tubuh ibunya yang terlihat ingin jatuh.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk terus memantau dan menjaga kesehatan ketua Ray. Kalau begitu saya permisi."
"Terimakasih dokter Liam." Ujar Yuan.
Dokter Liam berjalan ke arah pintu keluar kamar perawatan, ia menggeser pintu itu, saat pintu itu terbuka, terlihat Rachel yang berdiri di depan pintu sejak tadi.
"Senang bertemu denganmu lagi, Rachel." Ucap dokter Liam sembari menutup pintu kamar perawatan itu.
Rachel tersenyum,
"Bagaimana kabarnya?"
"Miya? Dia baik-baik saja. Sekarang dia bekerja di rumah sakit universitas. Ah iya, dia bilang— dia bertemu anakmu, namanya kalau tidak salah—"
"Daisy?"
"Benar, Miya bilang— dia sangat mirip dengan ayahnya." Ujar dokter Liam.
"Mereka saling kenal? Daisy tidak pernah bercerita padaku." Ucap Rachel.
"Mereka cukup dekat sebagai seorang perawat pembimbing dan mahasiswi akademi keperawatan."
"Begitu ya."
__ADS_1
"Em— aku harus kembali ke ruanganku, sampai jumpa." Pamit dokter Liam yang kemudian pergi berlalu dari hadapan Rachel.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍