The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Hampir Tengah Malam


__ADS_3

•••


“Yuan, apa kau yakin ini tidak terlalu malam bagimu untuk berkendara? Apa kau akan baik-baik saja?” tanya Rose ketika mengantarkan Yuan yang hendak ingin pulang.


“Ck, Rose, Rose, dengar ya. Kalau kau terlihat khawatir seperti itu, kenapa tidak suruh saja dia mennginap di apartemenmu? Lagipula dia itu laki-laki, bukannya perempuan. Kau tenang saja, sangat aman baginya untuk tetap berkendara malam-malam seperti ini.” ujar Yana yang juga ikut mengantar Yuan keluar dari apartemen Rose.


“Sebenarnya aku benci mengakuinya. Tapi Rose, apa yang Yana katakan itu benar. Kau tidak perlu khawatir, aku ini seorang pria, aku pasti akan baik-baik saja.” kata Yuan.


“Memangnya kalau kau itu seorang pria, kenapa? Apa hanya karena kau seorang pria maka dapat di pastikan bisa aman? Masalahnya ini sudah hampir tengah malam. Jalanan akan sangat sepi, bagaimana kalau nanti ada orang jahat yang menginginkan mobil mewahmu itu, lalu bagaimana kalau dia melukaimu?” tanya Rose.


“Astaga Rose, kau sungguh— ck, sejak kapan temanku yang satu ini jadi suka berpikiran pendek? Hah, lanjutkan saja kekhawatiranmu itu padanya, aku akan masuk lebih dulu, aku sudah sangat mengantuk, ingin tidur.” kata Yana yang kemudian masuk ke dalam apartemen Rose.


Setelah Yana masuk, Rose masih tampak menatap Yuan khawatir, membuat pria itu harus menghela nafas beratnya.


“Kau itu coba jujur padaku. Sekarang hanya ada kita berdua disini, jadi katakan yang sejujurnya. Kau sebenarnya khawatir atau ingin aku menginap disini?” tanya Yuan yang langsung membuat Rose refleks memukul bahunya.


“Kau masih sempat saja menggodaku. Aku ini sungguh khawatir padamu. Lagipula bukankah dari pukul sembilan malam tadi aku sudah menyuruhmu untuk pulang, tapi kau selalu berkata nanti. Sekarang sudah hampir tengah malam begini baru mau pulang. Bagaimana kalau bibi Ana khawatir juga?”


Yuan menghela nafasnya, lalu tampak tangannya bergerak mengusap lembut rambut pendek Rose.


“Sudah aku katakan, kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja, percayalah. Jadi sekarang biarkan aku pergi, kecuali kalau kau memang ingin aku menginap disini.” kata Yuan sembari tersenyum menyeringai ke arah kekasihnya itu.


“Yuan, berhenti bercanda, aku ini sedang serius.” ujar Rose sembari menepis usapan lembut Yuan pada puncak kepalanya.


“Aku juga serius sayang.” balas Yuan yang kemudian masih kembali mengusap lembut puncak kepala Rose.


“Jadi bagaimana? Kau masih ingin menahanku dengan rengekan kekhawatiran mu itu yang artinya aku tidak akan pernah pergi dari apartemenmu dan mungkin lebih baik aku menginap saja disini, atau kau biarkan aku pulang sekarang juga agar aku cepat sampai dirumah.” kata Yuan.


Rose menghela nafasnya, lalu kemudian mengibaskan tangannya menyuruh Yuan untuk segera pulang. “Pergilah.” ucap Rose dengan lesunya.


“Kau seperti itu sedang mengusirku ya?” tanya Yuan.


“Tidak, aku sedang menyuruhmu untuk segera pulang, jadi cepatlah pulang.” jawab Rose.


“Hah, iya baiklah, mau bagaimana lagi, kalaupun aku memaksa menginap, temanmu itu pasti juga akan menyeretku keluar dari apartemenmu. Ya sudah, aku pulang dulu, bye, sampai jumpa besok.” kata Yuan sembari mengecup sekilas kening Rose. Setelah itu, ia pergi dari hadapan kekasihnya itu.


“Hati-hati dijalan. Kalau sudah sampai dirumah cepat kabari aku. Aku sungguh tidak akan bisa tidur kalau kau tidak memberiku kabar.” ujar Rose yang langsung dibalas oleh anggukan kepala dari Yuan.


“Pasti, aku pastikan untuk memberimu kabar setelah aku sampai di rumah.” ucapnya sembari tersenyum hangat.


Lalu, sebuah lambaian tangan dari Yuan mengakhiri perjumpaan mereka untuk hari ini.


Rose pun membalas lambaian tangan sampai jumpa lagi dari kekasihnya itu hingga sang kekasih lenyap dalam pandangannya.

__ADS_1


Setelah Yuan benar-benar tidak terlihat, Rose baru kemudian masuk ke dalam apartemennya.


•••


Setelah perdebatan panjang dua jam yang lalu. Ray tampak masih berdiri di depan pintu kamarnya yang telah Ana kunci dari dalam.


Pria paruh baya itu terlihat sesekali mengetuk bahkan tanpa peduli dengan harga dirinya lagi, ia merengek pada Ana, memohon pada sang istri untuk di bukakan pintu kamar mereka.


“Sayang, buka pintunya, apa kau sungguh tega membiarkanku begadang seperti ini hanya karena menunggu pintu kamar terbuka? Sayang~” rengek Ray yang masih tidak ada respon dari istrinya. Ana bahkan mungkin sudah tidur lelap sejak tadi.


Ray tampak menghela nafasnya. Karena faktor usia, kakinya terasa kram ketika harus berdiri hampir dua jam lebih disana.


“Sayang, pastikan kau tidak menyesal ya karena sudah mengusirku keluar dari kamar. Ingat itu.” ucap Ray dengan nada lesunya.


Lalu kemudian, ia terlihat menatap pintu kamarnya sejenak, sebelum akhirnya pergi dari sana dan tampak berjalan menuju ke arah tangga yang terhubung ke lantai bawah.


Ketika Ray sampai di lantai bawah untuk pergi menuju kamar tamu. Disana ia tidak sengaja bertemu dengan Yuan yang baru saja pulang dan masuk ke dalam rumah.


“Daddy? Daddy malam-malam seperti ini ingin pergi kemana? Dan ada apa dengan kaki daddy? Kenapa cara berjalan dad terlihat seperti kakek-kakek?” tanya Yuan.


“Kalau bicara jangan sembarangan.” ujar Ray, ia merasa tidak senang dengan kata kakek yang Yuan ucapkan.


“Iya, iya, maaf.” ujar Yuan.


“Kau baru pulang?” tanya Ray.


“Dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang? Kau sedang tidak membuat masalah kan?” tanya Ray lagi.


“Untuk apa aku membuat masalah? Lagipula, apa yang sedang dad khawatirkan? Aku ini sudah dewasa, bukan lagi anak remaja yang perlu di khawatirkan.” jawab Yuan. “Sudahlah, Yuan ingin pergi ke kamar. Sampai jumpa, selamat malam dad.” kata Yuan yang kemudian berlalu dari hadapan ayahnya.


Tapi baru beberapa langkah Yuan berjalan, Ray tampak mengehentikan langkah kaki Yuan dengan memanggil namanya. “Yuan, anakku.” panggil Ray yang tidak biasanya memanggil Yuan seperti itu, apalagi nadanya itu mampu membuat Yuan bergidik ngeri.


“Dad, daddy makan apa saja hari ini? Apa daddy salah makan? Apa mom salah memberi makan daddy?” tanya Yuan dengan pertanyaan yang hanya berputar-putar pada porosnya.


“Dad tidak salah makan. Daddy baik-baik saja. Tapi, bisakah kau menolong daddymu ini?” tanya Ray.


Yuan pun mengernyitkan keningnya, tidak biasanya sang ayah meminta bantuannya secara langsung dan terbuka seperti sekarang ini, sikap ayahnya itu sungguh membuat Yuan merasa aneh.


“Apa yang bisa Yuan lakukan untuk menolong daddy?” tanya Yuan.


“Itu, bisakah kau bantu daddy mengetuk pintu kamar dad dan mom? Ah iya, bilang sama mommy-mu kalau kau ingin bicara padanya, mungkin saja kalau kau yang mengetuknya, mommy-mu itu akan membuka pintu kamar kami.” ujar Ray.


Perkataan Ray itu dalam sekejap langsung membuat Yuan paham dengan perubahan sikap sang ayah dan juga alasan ayahnya itu masih berkeliaran di waktu yang sudah cukup larut malam seperti ini.

__ADS_1


“Daddy di usir keluar dari kamar sama mommy ya?” tanya Yuan dengan nada mengejeknya.


“Ck, apa yang kau katakan? Mommy-mu mana mungkin sanggup mengusir dad dari kamar. Kau terlalu buruk dalam berasumsi. Sudahlah, cepat lakukan saja apa yang dad minta padamu, tidak usah banyak bertanya.” kata Ray yang tidak mau mengaku.


“Ya sudah, kalau memang tidak di usir dari dalam kamar oleh mom, kenapa daddy tidak langsung masuk saja ke kamar kalian sendiri? Kenapa harus memintaku untuk mengetuk pintu kamar?” ujar Yuan.


“Kau ini, sudah daddy katakan cukup lakukan apa yang daddy suruh padamu. Jangan banyak bicara apalagi bertanya.” kata Ray.


“Aku tidak mau melakukannya.” ucap Yuan yang kemudian kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua.


“Yuan, anak sialan. Apa susahnya hanya mengetuk pintu ha? Kau itu— aish anak kurang ajar.” kata Ray yang terlihat geram dengan putranya.


“Daddy malam ini tidur saja di kamar tamu. Satu lagi, makanya lain kali jangan buat mommy marah, kalau sudah seperti ini, baru tahu rasanya menyesal kan? Selamat malam dad, selamat tidur sendiri.” ujar Yuan dari lantai dua rumah besar itu.


“Kau! Beraninya berkata seperti itu pada daddy-mu. Kurang ajar, awas saja kau Yuan.” ucap Ray sembari menunjuk-nunjuk ke arah Yuan yang telah pergi dari pandangannya.


Yuan yang berada di lantai dua rumah itu pun masih dapat mendengar perkataan geram dari ayahnya. Yuan bahkan sampai terlihat tertawa kecil melihat sang ayah yang tampak sangat frustasi karena mendapatkan hukuman amarah dari ibunya, sampai harus keluar dari kamar dan tidur sendiri.


Setelah puas menertawakan sikap dan nasib sial ayahnya malam ini. Yuan pun kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya.


Sesampainya di depan pintu kamar, Yuan langsung membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalamnya.


“Hah, akhirnya bisa istirahat juga. Ck, akan sangat lebih baik jika tadi tidak ada Yana di apartemen Rose. Aku pasti akan memaksa untuk menginap disana dan sudah istirahat sejak tadi.” gumam Yuan sembari melepaskan jaketnya dan juga baju yang ia pakai.


“Ah iya benar!” ucap Yuan sampai membuat aktivitas berganti pakaiannya terhenti sejenak. “Aku lupa memberi kabar ke Rose kalau aku sudah sampai dirumah. Ck, gadis keras kepala itu, pasti sampai sekarang masih belum tidur karena menunggu kabar dariku.” ujar Yuan sembari menyelesaikan aktivitas berganti pakaiannya.


Setelah itu, Yuan pun segera meraih ponselnya dan merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dengan posisi santai dan nyaman seperti itu, Yuan mulai membuka bilik pesannya dan mengirimkan pesan singkat kepada Rose.


Sayang, kau pasti belum tidur kan? Kau sungguh sangat khawatir padaku ya? Kau tenang saja, aku sudah sampai dirumah dengan aman. Sekarang baru ingin pergi tidur. Ah iya, kau tidak perlu membalas pesanku. Selamat malam Rose, semoga mimpi indah.


Sebelum mengetik pesan singkat yang ditujukan pada Rose itu, Yuan membacanya ulang sekali lagi, lalu setelah itu baru mengirimkannya kepada Rose.


“Oke, sudah terkirim. Kalau begitu aku akan tidur sekarang.” ucap Yuan yang kemudian mematikan lampu kamarnya dengan menepukkan tangannya dua kali, lampu kamar pun langsung mati dan berganti dengan lampu tidur.


•••


Sedangkan, disisi lain. Di dalam kamar sebuah apartemen kecil Rose. Dua orang gadis terlihat sudah tertidur lelap sejak Yuan telah pergi tadi.


Rose yang tadinya berniat ingin menunggu pesan dari Yuan, ia tiba-tiba merasa kelopak matanya seakan-akan ada yang menariknya kebawah hingga ia merasa sudah tidak kuat lagi menahan dirinya untuk tidak tidur.


Karena itu, saat ini ia tanpa sengaja telah melewatkan pesan dari Yuan yang baru saja masuk ke dalam bilik pesan singkatnya.


Untung saja Yuan menyuruhnya untuk tidak perlu membalas. Kalau tadi pria itu tidak mengetik kata seperti itu, sudah pasti Rose akan merutuki dirinya pagi nanti.

__ADS_1


💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2