The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Be Alright


__ADS_3

“Kekasih? Dalam mimpimu!” ujar Rose.


“Aku suka tipe gadis sepertimu ini. Kau terlihat cerdas, pantang menyerah, tidak kenal rasa takut dan percaya diri. Ah, kau bisa menjadi lebih dari sekedar seorang kekasih. Kau sangat pantas menjadi istriku.” kata Sean.


“Dasar tidak waras.” umpat Rose yang membuat Sean semakin semangat untuk menggoda gadis dihadapannya itu.


“Penilaianmu tentang kepribadian orang itu sangat buruk. Kau sepenuhnya salah. Lagipula, lebih baik kau hentikan saja basa-basi tidak bergunamu itu. Sekarang cepat berikan ponselnya padaku dan juga bebaskan pria bernama Jordi itu.” kata Rose.


“Ya, aku memang ingin memberikan ponsel ini padamu, tapi setelah kita bertransaksi.” ucap Sean, ia kemudian membuka ponsel Rose yang memang tidak memiliki kunci keamanan. Lalu Sean terlihat mengetik sebuah nomor pada papan panggilan ponsel tersebut.


“Apa yang kau lakukan?!” tanya Rose.


“Sedang melakukan transaksi pertukaran nomor denganmu.” jawab Sean dengan santainya.


“Cih, jangan harap aku akan menyimpannya.” ujar Rose.


Sean pun tersenyum sembari menekan tombol memanggil pada ponsel Rose. “Karena itu aku melakukan panggilan ini.” ujar Sean, ia kemudian mengambil ponselnya yang terdengar berdering dari dalam saku jaketnya.


“Aku akan menyimpan nomormu dengan baik. Pastikan kau tidak mengganti nomormu karena aku ya.” ujar Sean sembari menyerahkan ponsel Rose kepada gadis itu kembali.


Lalu kemudian, Sean mengalihkan pandangannya ke arah tiga pria yang sejak tadi hanya diam menunggu perintah darinya.


“Kalian lepaskan pria bernama Jordi itu, lalu bawa dia kembali pulang ke rumahnya. Kedepannya kita tidak perlu mengganggunya lagi.” kata Sean pada para bawahannya itu.


“Tapi tuan, kalau sampai dia bersaksi di pengadilan besok— ”


“Abaikan tentang pengadilan besok. Aku akan membiarkan mereka menang demi kupu-kupu cantikku ini.” ucapnya.


“Lagipula, walaupun mereka menang, mereka tidak akan bisa menuntut kita balik.” katanya lagi.


“Jadi cepat kalian bereskan. Karena sebentar lagi tempat ini akan ramai. Seperti yang kupu-kupu cantik ini katakan, sebentar lagi polisi akan datang kemari.” ucapnya setelah itu ia kembali berjalan mendekati Rose.


“Gadis manis, anggap saja kejadian yang kau lihat dan semua yang kau dengar tadi tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi. Itu akan lebih baik bagi dirimu dan pria bernama Jordi itu. Ah iya, satu lagi, ini juga baik untuk kehidupan anak dari pria itu, kalau tidak salah namanya— Jesi.”


“Kau! Jangan pernah kau berani menyentuh ataupun menyakiti seorang gadis polos yang tidak bersalah. Aku sungguh tidak akan membiarkanmu kalau sampai itu terjadi.” kata Rose.


“Ya, aku pastikan itu tidak akan terjadi selama kau tutup mulut. Bagaimana? Kesepakatan yang bagus bukan?” tanya Sean.


Rose diam sejenak, ia ingin sekali berkata tidak. Tapi jika sudah berbicara tentang kesepakatan. Ia benar-benar tidak ada pilihan lain.


“Baik, aku setuju. Tapi kau harus benar-benar menepati perkataanmu, jangan menjadi pecundang dengan mengingkarinya.” kata Rose.


“Ya, tentu saja. Aku ini bukan tipe orang yang suka melanggar janji, apalagi sebuah janji dan kesepakatan yang aku buat dengan gadis cantik sepertimu.” ucapnya.


“Ah iya, aku pastikan kita akan bertemu lagi, kupu-kupu cantikku. Sampai jumpa.” kata Sean yang kemudian pergi dari hadapan Rose.


Setelah Sean pergi, tiba-tiba salah seorang dari tiga pria tadi langsung membekap mulut Rose dengan sapu tangan yang diberi obat bius. Rose pun dalam hitungan detik, ia langsung tidak sadarkan diri.


•••


Yana terlihat berlarian menuju ke arah lift, lalu setelah pintu lift terbuka, ia segara masuk ke dalamnya, menekan tombol lift pada angka tujuh.


Tidak lama kemudian, pintu lift itu terbuka. Yana kembali berlari, secepat mungkin ia harus segera sampai di ruangan pengacara Samuel.


“Yana?” panggil seorang pria, dia Feng yang tidak sengaja melihat Yana.


“Feng, apa kau melihat Rose?” tanya Yana.


“Rose? Bukankah dia satu ruangan denganmu? Kenapa kau bertanya padaku dan mencarinya di sini?” tanya Feng.


“Jadi kau belum tahu ya kalau Rose pindah ruangan? Ah itu bukan hal penting. Sekarang aku harus segera pergi ke ruangan pengacara Samuel.” ujar Yana, ia kemudian bergegas menuju ke ruangannya Samuel yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat Feng berdiri.


“Oh, ternyata anda nona muda Yana. Apa anda sedang mencari pengacara Samuel?” kata seorang pengacara yang merupakan senior dari Feng.

__ADS_1


“Pengacara Samuel pergi beberapa jam yang lalu bersama juniornya.” sambungnya lagi.


“Apa senior tahu kemana mereka pergi? Bisakah senior beritahu aku?” tanya Yana yang terlihat sudah tidak sabar lagi.


“Itu, sepertinya mereka pergi untuk menemui rekan kerja klien mereka di bagian timur ibukota, perusahaan konveksi Liem.” jawab pria itu.


“Perusahaan konveksi Liem? Terimakasih informasinya.” ujar Yana. “Feng, kau ikutlah denganku.” kata Yana yang kemudian menarik lengan Feng agar pria itu mengikutinya.


“Senior, tolong ijinkan Feng pulang lebih awal.” teriak Yana pada seniornya Feng.


“Ah iya, baik nona muda Yana.” jawab pria itu.


Setelah masuk ke dalam lift, Yana terlihat melakukan panggilan, ia sedang menelepon pihak kepolisian untuk melaporkan masalah Rose yang tadi tiba-tiba menelponnya tapi ketika Yana mengangkatnya, Rose sama sekali tidak menjawab perkataannya.


Dalam panggilan yang Rose lakukan padanya tadi, Yana hanya mendengar suara samar-samar dari beberapa pria. Merasa ada yang tidak beres, Yana pun langsung bergerak cepat ingin menemui Rose, tapi ternyata, Rose benar-benar pergi dan tidak ada diruanganya. Hal itu semakin membuat rasa khawatir Yana membuncah.


“Yana, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat panik seperti ini? Apa terjadi sesuatu pada Rose?” tanya Feng setelah Yana selesai menelepon pihak kepolisian.


“Aku akan menjelaskannya dengan singkat.” ucap Yana. “Tadi Rose tiba-tiba menelponku. Tapi dia sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun dan yang aku dengar hanya suara samar-samar dari beberapa orang pria yang sedang berbicara. Aku pikir Rose salah tekan, tapi saat aku mencoba menghubunginya kembali, panggilanku di tolak. Walaupun begitu aku masih mencoba menghubunginya lagi, tapi yang terakhir kali, ponselnya sudah mati.” kata Yana.


Mendengar penjelasan dari Yana itu, Feng langsung terlihat menampilkan wajah kekhawatirannya. Pria itu bahkan dengan tidak sabarnya menekan-nekan tombol lift seolah-olah tindakannya itu bisa membuatnya cepat sampai di lantai dasar.


“Kau tunggu di lobby utama, aku akan langsung pergi ke basement untuk mengambil mobilku.” ujar Feng yang kemudian langsung berlari setelah pintu lift itu terbuka lebar.


Melihat Feng yang sudah berlari lebih dulu darinya, Yana pun juga bergegas menuju lobby utama, menunggu mobil Feng disana.


Beberapa menit berlalu, Feng pun datang dengan mobilnya. Tanpa menunggu lama lagi, Yana segera masuk ke dalam mobil milik Feng itu. Lalu dengan kecepatan tinggi, mobil yang Feng kendarai itu melintasi jalanan ibu kota yang sudah mulai padat.


“Sial. Apa kau tahu jalan pintas menuju ibu kota bagian timur? Kalau kita lewat jalan utama sudah pasti dua jam lagi kita akan sampai.” ujar Feng.


“Kau tenang saja. Aku punya seorang paman yang bekerja di kepolisian bagian timur ibu kota. Pamanku bilang polisi akan segera tiba di tempat Rose seharusnya berada.” kata Yana.


“Aku harap begitu.” ucap Feng yang semakin menambah laju kecepatan mobilnya.


•••


Beberapa detik kemudian, kelopak mata Rose tampak bergerak. Gadis itu perlahan-lahan membuka matanya, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang ada di ruangan tersebut.


“Aku ada di mana?” gumam Rose sembari bangkit dari posisinya yang tergeletak di lantai kayu beralaskan jerami.


Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan sembari mencerna semua kejadian yang masih terekam jelas di ingatannya.


“Pria tadi, apa dia sedang menculikku?” tanya Rose pada dirinya sendiri. Tapi kemudian ia sadar kalau tangannya dan seluruh tubuhnya tidak ada tali yang mengikatnya sedikitpun.


Rose pun kemudian berdiri dari posisi duduknya, tapi ketika ia mencoba untuk berdiri, Rose merasa kepalanya masih terasa pening akibat efek dari obat bius yang secara paksa ia hirup tadi.


Dengan langkah sempoyongan serta pandangan yang masih buram, Rose berjalan menuju ke arah pintu.


Sesampainya di depan pintu itu, ia segera memutar knop pintu tersebut. Dan yang mengherankan baginya, pintu itu ternyata tidak di kunci. Rose pun kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.


Saat kakinya melangkah keluar, Rose tersadar, ternyata ruangan tadi bukanlah gudang, melainkan sebuah tempat seperti bangunan untuk peternakan.


“Seingatku, aku tadi berada di perusahaan konveksi yang memiliki banyak kontainer itu, tapi kenapa sekarang aku ada di sini?” tanya Rose pada dirinya sendiri.


“Untuk apa mereka membiusku lalu membawaku ke tempat terbuka seperti ini?” gumam Rose.


Setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya sembari memegangi kepalanya yang terasa masih berdenyut.


Beberapa langkah ia berjalan, sebuah suara yang memanggil namanya membuat Rose ingin segera menyahut. Tapi dirinya terlalu lemah dan lemas, bahkan seakan-akan ia sudah tidak berdaya walau hanya untuk mengeluarkan sebuah suara.


“Aku disini.” ucap Rose lirih, lalu kemudian tubuhnya limbun jatuh ke tanah. Ia tidak pingsan melainkan benar-benar merasa lemah.


“Rose!” teriak seorang perempuan yang Rose yakini itu adalah Yana, temannya.

__ADS_1


Dalam kondisinya yang terlihat lemah tidak berdaya itu, Rose pun tersenyum, ia bisa menghembuskan nafasnya lega ketika Yana telah berada di dekatnya dan mulai membantunya untuk bangun.


“Yana.” ucap Rose lirih.


“Jangan berbicara. Diamlah, kau terlihat pucat sekali. Kau tenang saja, kau sudah aman, polisi dan tim medis akan segera datang kemari.” ujar Yana.


“Yana, kau datang dengan siapa?” tanya Rose.


“Apa maksdumu?” tanya Yana yang tidak paham dengan maksud pertanyaan dari Rose itu.


“Apa kau memberitahu Yuan tentang masalah ini?”


“Yuan? Ck, Kau ini sedang lemah seperti ini tapi masih saja memikirkan Yuan. Lebih baik kau pikirkan dulu dirimu sendiri.” kata Yana.


“Aku baik-baik saja. Hanya merasa sedikit pusing karena pengaruh obat bius.” ucap Rose.


“Kau di bius?! Benar-benar keterlaluan, nanti setelah kau sepenuhnya sadar, kau bisa katakan padaku siapa yang telah membuatmu seperti ini.” ujar Yana.


Rose tersenyum menanggapinya, tapi dalam hatinya ia berkata kalau dirinya tidak mungkin memberitahu Yana. Itu karena kesepakatan yang telah ia buat dengan Sean tadi. Jika dirinya membocorkan tentang kejadian yang sebenarnya terjadi. Maka kehidupan seorang gadis belia yang tidak bersalah akan terancam.


“Yana.” panggil Rose, ia sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Ya?”


“Berjanjilah padaku untuk tidak memberitahukan hal ini pada Yuan. Aku sungguh tidak ingin membuatnya khawatir. Lagipula, kalau Yuan tahu, kemungkinan besar dia akan melarangku magang di firma hukum Anyu. Jadi aku mohon jangan beritahu Yuan dan jangan sampai Yuan tahu.” kata Rose.


“Baik, aku tidak akan mengatakannya pada Yuan. Jadi kau tenanglah.” ujar Yana.


Setelah Yana berkata seperti itu, seorang pria terlihat berjalan cepat mendekati mereka.


“Rose, apa kau baik-baik saja?” tanya Samuel dengan tatapan khawatirnya.


“Aku baik-baik saja senior. Senior tidak perlu khawatir.” ujar Rose.


“Gadis bodoh, bukankah sudah aku bilang untuk tetap diam di tempatmu. Kenapa kau malah pergi? Kau tahu berapa banyak orang yang sudah kau repotkan? Bahkan nona muda ini membawa banyak personel kepolisian dan tim medis.” ujar Samuel yang sepertinya tidak tahu tentang kejadian yang sebenarnya menimpa Rose.


“Maaf.” ucap Rose.


“Ah lupakan saja. Sekarang katakan padaku, kenapa kau bisa ada disini? Tempat ini cukup jauh dari lokasi kita tadi. Kenapa kau bisa sampai disini dan kenapa kau terlihat pucat sekali?” tanya Samuel.


“Itu, tadi, tadi saya mendengar ada suara dentuman keras, lalu karena penasaran, saya mencari dari mana suara itu berasal. Tapi saat saya sampai di sini sepertinya ada seseorang yang membekap saya dari belakang, setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi.” ujar Rose.


“Tapi tadi kenapa kau bisa menghubungiku? Terus aku juga mendengar suara beberapa pria? Apa kau yakin kalau kau baik-baik saja. Rose jangan mencoba untuk menutupi sesuatu.” kata Yana.


“Ah itu, waktu sampai disini, aku melihat ada beberapa orang pria yang sedang berbincang, lalu karena penasaran aku menguping pembicaraan mereka. Tapi sepertinya aku ketahuan, karena itu seseorang membiusku. Aku bersyukur karena aku hanya ditinggalkan begitu saja di sini.” kata Rose.


Mendengar penjelasaan Rose yang terasa aneh itu, Samuel terdiam, ia menatap Rose dengan raut wajah curiganya. Tapi kemudian pria itu menghela napasnya.


“Anggap saja apa yang kau katakan itu benar. Sekarang lebih baik kau pergi ke rumah sakit bersama Yana. Aku tidak bisa menemanimu karena masih harus mewawancarai Jordi.” ujar Samuel.


“Jordi? Maksud senior, ayahnya Jesi? Apa sekarang dia sudah ditemukan? Apa dia baik-baik saja?” tanya Rose.


Samuel mengangguk, “Dia baik-baik saja. Belum lama tadi dia menemuiku.”


“Benarkah? Apa yang dia katakan?” tanya Rose ia mewanti-wanti kalau Jordi mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Tapi bagaimanapun juga, itu sepertinya tidak mungkin.


“Dia hanya bilang kalau hari ini dia bisa wawancara kapanpun, dia juga bilang kalau besok dia akan datang sebagai saksi.” jawab Samuel.


“Baguslah.” ucap Rose yang semakin membuat Samuel merasa ada yang disembunyikan oleh juniornya itu.


“Kalau begitu aku pergi dulu.” ucap Samuel. “Ah iya, maaf karena membuatmu berada dalam situasi bahaya di hari pertamamu magang.” ujar Samuel.


Rose menatap seniornya itu dengan senyum ramahnya, ia merasa kalau Samuel barusan meminta maaf dengan hati yang tulus.

__ADS_1


💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2