
Terlihat seorang pria muda di usir keluar oleh pemilik toserba itu.
Pakaian yang dikenakan pria itu tampak mahal, kendaraan yang di kendarainya pun juga mahal. Tapi membayar mie instan dan air mineral botol saja tidak mampu.
Semua cibiran itu ia dapatkan dari pemilik toko, minimarket ataupun toserba yang ia kunjungi.
Yuan seperti ingin menangis dan berteriak pada dunia yang seakan sedang mempermainkan dirinya.
Bagaimana bisa hidupnya yang serba ada, kini menjadi sulit. Semua ini dimulai karena dirinya yang memaksakan kehendaknya untuk pergi dari rumah.
Berkata keras pasa ayahnya, bahwa ia tidak butuh perusahaan TNP, ia juga benci menjadi pewaris. Dengan tekad tipis, Yuan berniat meninggalkan rumah dan meniti mimpinya sendiri. Ia pikir itu hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangannya. Tapi ternyata ini sulit, sesulit menahan nafas selama sepuluh menit.
Seorang pria yang sejak lahir memegang sendok emas di tangannya, yang tidak pernah merasakan kesusahan dan kesulitan, kini dunia seolah menjungkirbalikkan dirinya, ditangan Yuan saat ini hanya ada sendok kayu yang sudah patah, sama sekali tidak dapat digunakan.
Ayahnya, Ray dengan sengaja memblokir semua kartu kredit dan debitnya. Uang tunai yang di milikinya? Sama sekali tidak ada. Uang tabungannya? Ia berikan pada rentenir yang menagih hutang ayah Rose waktu itu.
Yuan, saat ini hanya seorang gelandang saja.
"Sial!" Gumam Yuan saat mobilnya tiba-tiba berhenti menyala. Bahan bakar mobil itu telah habis.
Yuan keluar dari dalam mobil itu, menutup pintu mobil itu dengan keras. Pria itu kemudian berteriak kesal di pinggir jalan raya. Ia bahkan sudah tidak peduli dengan pandangan orang yang menganggapnya seperti orang gila.
"Apa aku menyerah saja dan kembali kerumah?!" Tanya Yuan pada dirinya sendiri. Tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak boleh!" Jawab Yuan pada dirinya sendiri.
"Tapi jika aku tidak kembali, aku benar-benar akan menjadi gelandangan di jalanan. Meminta bantuan Nana dan yang lainnya hanya akan membuat mereka kesusahan. Dad pasti sudah mengancam mereka atau orangtua mereka untuk tidak berurusan denganku saat ini." Gumam Yuan.
Pria itu mengacak-acak rambutnya kesal,
"Sekarang aku harus bagaimana?! Ahh, sial!" Teriaknya lagi.
•••
Rose berjalan keluar dari gerbang universitas, ia melangkahkan kakinya menuju ke arah halte bus yang di bangun tidak jauh dari kampusnya.
"Pssst..hei!psst.." Suara desutan dari seseorang membuat Rose menyapu pandangannya ke penjuru arah, mencari asal suara itu.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya Rose dengan kewaspadaan tinggi.
"Di sini." Ucap suara itu, yang berada di belakang Rose.
Rose pun menoleh, terlihat olehnya seorang pria dengan pakaian serba hitam, topi hitam dan masker hitam, tak lupa kaca mata hitam juga. Pria itu bersembunyi di balik lorong yang gelap karena tidak terkena sinaran matahari.
"Si—siapa kau?" Tanya Rose, ia belum berani mendekati pria itu.
"Ini aku." Jawab pria itu pelan, kemudian ia sedikit membuka maskernya.
"Yuan!" Pekik Rose, ia terkejut melihat sosok yang sudah menghilang seharian ini.
"Ssstt.. jangan keras-keras, jika ada yang mendengarmu, percuma saja aku menyamar seperti ini." Kata Yuan.
"Maaf, maaf." Ucap Rose yang kemudian berjalan mendekat ke arah pria itu.
"Aku dengar dari Nana kalau kau pergi dari rumahmu. Sebenarnya apa yang terjadi ? Kenapa kau memakai pakaian seperti ini dan bersembunyi disini?" Tanya Rose saat dirinya sudah sampai di hadapan pria itu.
Yuan menatap gadis itu sejenak, kemudian tiba-tiba ia membalikkan posisi mereka, Yuan menarik tubuh Rose dan menguncinya di dinding. Sedangkan pria itu berdiri di depannya cukup dekat.
"Yu—" Belum sempat Rose melanjutkan ucapannya, Yuan sudah lebih dulu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir gadis itu, menyuruh Rose untuk diam.
Helaan nafas kemudian terdengar dari diri pria itu, Yuan menurunkan jari telunjuknya dari bibir Rose, pria itu juga menjauh sedikit dari hadapan Rose, mengembalikan jarak normal di antara mereka.
"Bantu aku." Ucap Yuan.
Rose diam, ia masih shock dengan tindakan Yuan barusan. Tindakan Yuan itu membuat jantungnya berdetak kencang.
"Hei bodoh!" Panggil Yuan, pelan tapi dengan nada sarkasme seperti biasa.
"Ah iya?" Tanya Rose yang baru saja kembali ke alam nyatanya.
"Bantu aku." Ucap Yuan, mengulangi perkataannya kembali.
"Bantu? Memangnya apa yang bisa aku bantu? Aku bukan orang kaya—"
"Tempat tinggal, pakaian, makanan dan minuman. Aku butuh itu semua." Ujar Yuan menyela perkataan Rose.
__ADS_1
Jika aku tidak mengenalnya sebagai seorang Yuan Mauli Gavin. Pasti aku akan berpikir jika dia ini laki-laki murahan dan aku adalah perempuan yang suka memelihara laki-laki. Ah ya ampun, apa dunia sedang terbalik? — Batin Rose.
"Hei! Apa kau mendengarku? Kau tidak bisa menolongku ya?" Tanya Yuan yang kesal karena hanya di tatap kosong oleh Rose.
"Tidak, bukan seperti itu. Tapi—apa kau yakin ingin meminta bantuanku? Aku tidak bisa memberimu fasilitas yang baik." Kata Rose.
"Ah aku tidak peduli, jika kau tidak—"
"Eh iya iya. Aku akan membantumu, lagipula aku juga berhutang banyak padamu, anggap saja ini balasanku atas semua kebaikanmu." Ujar Rose.
Yuan tersenyum sekilas, pilihannya untuk meminta bantuan Rose sepertinya memang tepat.
"Ayo kerumahmu." Ujar Yuan yang kemudian memakai maskernya kembali, ia berjalan keluar dari lorong gelap itu.
"Tunggu dulu, aku tidak tinggal dirumah itu lagi. Ayahku sudah menjualnya." Kata Rose, ia berlari kecil menyusul Yuan yang berjalan lebih dulu.
"Lalu dimana kau tinggal? Apa kau tidak memiliki tempat tinggal juga?!"
"Punya, aku punya tempat tinggal. Tapi hanya apartemen kecil, apa tidak masalah untukmu?" Tanya Rose melihat Yuan yang masih berjalan.
"Tidak masalah, ayo cepat, sebelum ada yang mengenaliku." Kata Yuan.
"Jika seperti ini, kau sudah seperti artis terkenal saja ya, harus menyamar." Ucap Rose sembari terkikik kecil.
"Apa yang lucu?!"
"Tidak ada." Jawab Rose, seketika tawanya itu tak terdengar lagi, namun ia masih terlihat menahan tawanya.
"Kita pulang naik bus saja, mobilku rusak." Ucap Yuan, ia berbohong, bagaimana mungkin ia akan berkata jika mobilnya kehabisan bahan bakar, itu sama saja menurunkan harga dirinya.
"Ya, bukan masalah." Jawab Rose, gadis itu berjalan mengimbangi langkah kaki Yuan yang lebar. Walaupun kesulitan, tapi Rose tidak merasa kesal sedikitpun, ia malah merasa senang.
Aku ingin waktu berhenti disaat-saat seperti ini. — Batin Rose dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Tak lama mereka menunggu, bus yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Rose masuk lebih dulu, ia membayar untuk dua penumpang sekaligus pada sopir bus itu. Kemudian, ia menarik tangan Yuan menuju ke tempat duduk paling belakang.
Mereka duduk berdampingan di sana, seperti sepasang kekasih di dalam drama-drama romantis.
__ADS_1
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍