
“Aku tahu kalian akan magang di tempat yang sama. Tapi tadi kau— Yana, kau menyebut nama Feng. Apakah dia juga magang di tempat yang sama seperti kalian?” tanya Yuan.
“Eh itu— ” Yana menggantungkan kalimatnya, ia menatap Rose yang terlihat menggigit bibir bawahnya.
Rose sungguh lupa memberitahu Yuan soal ini, bukan maksud Rose ingin menyembunyikannya, tapi karena memang dia benar-benar lupa.
“Itu, Yuan. Sebenarnya— aku, Yana, dan juga— Feng, kami magang di firma hukum yang sama.” kata Rose dengan suara kecilnya, kepalanya bahkan tampak tertunduk kebawah seperti seorang istri yang sedang takut kalau suaminya marah.
Yuan menghembuskan nafas beratnya, kenapa sebelumnya ia tidak bisa menebaknya? Seharusnya, sejak awal perdebatan sengitnya dengan Feng siang waktu itu, ia sudah paham, kalau Feng dekat dengan Rose ataupun Yana karena mereka satu kelompok di tempat magang yang sama.
“Kalau aku memintamu untuk tidak magang di sana dan magang di perusahaan Tnp group saja bagaimana?” tanya Yuan, sebenarnya itu sebuah permintaan dan keinginannya. Tapi karena Yuan masih ingin menghormati Rose, ia terpaksa memberikan gadis itu pilihan.
Namun, justru dengan pilihan seperti ini, membuat Rose bingung. Disisi lain, ia ingin sekali magang di firma hukum Anyu bersama Yana, teman baiknya sejak lama. Tapi disisi lain juga, Rose tidak ingin membuat Yuan merasa kesal ataupun cemburu.
“Yuan, ini hanya sekedar magang saja. Aku dan Feng, kami hanya rekan satu kelompok. Jadi— kalau aku tetap ingin magang di firma hukum Anyu tidak masalah kan? Lagipula, bukankah firma hukum Anyu juga di bawah naungan Tnp group?” kata Rose.
“Tapi aku sungguh tidak suka melihatmu dekat dan bertemu lebih sering dengannya daripada aku. Aku sangat tidak suka!” ujar Yuan, mulai terbawa emosi dengan suasana hatinya yang sudah mulai memanas.
“Maaf Yuan, tapi setidaknya kau harus menghargai pilihan Rose. Aku tahu kau pacarnya, tapi bukan berarti kau berhak seribu persen melarangnya ini dan itu. Dia juga punya hak sendiri untuk memilih apa yang dia inginkan.” sahut Yana.
Yuan mengalihkan pandangannya sejenak, kemudian menatap tajam ke arah Rose.
“Apa kau setuju dengan apa yang dia katakan?” tanya Yuan pada sang kekasih, Yuan bertanya pada Rose dengan jari telunjuk yang mengarah pada Yana.
“Aku, aku— ”
“Baiklah, terserah kau sajalah. Aku ingatkan satu hal, Feng tidak akan menyerah begitu saja padamu. Dia juga bukannya orang yang bisa aku remehkan apalagi kau dan Yana.” ujar Yuan.
“Yuan, Feng memang dari keluarga yang luar biasa, bahkan hampir setara denganmu. Tapi bukan berarti dia itu orang yang jahat. Sama sepertimu, aku tidak pernah menilaimu buruk.” kata Rose, yang bagi Yuan, gadisnya itu terdengar seperti seorang wanita yang sedang membela seorang pria di depan kekasihnya.
“Bagus sekali.” ucap Yuan, membuat Rose mengernyit bingung padanya.
“Bela saja dia terus.” ucapnya lagi, setelah itu, Yuan pergi, pergi dengan langkah kakinya yang lebar, membuat Rose kewalahan mengejarnya.
“Yuan.” panggil Rose, namun diabaikan oleh sang pria.
“Sudahlah Rose, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. Kau jangan sedih dan juga jangan khawatir ya. Semua akan baik-baik saja, percayalah.” nasihat Yana sembari meraih kepala Rose dan meletakkan kepala sahabatnya itu ke bahunya, memberikan sandaran bagi Rose yang sedang gundah hatinya.
“Iya, terimakasih.” ucap Rose.
•••
__ADS_1
Yuan berjalan dengan langkah cepat, kakinya itu seperti roda kereta api yang tidak akan berhenti sebelum sampai tujuan.
Dan raut wajahnya sudah seperti kain kusut yang tidak dicuci selama berhari-hari.
Bahkan tatapan matanya itu sangat berbeda dengan tatapan mata orang normal. Sorot mata Yuan saat ini sangat tajam, lebih tajam daripada sebuah pisau. Tatapannya itu seolah memberitahu kepada semua orang kalau dirinya sungguh sedang tidak ingin diganggu walau hanya satu detik pun.
“Yuan!” panggil seorang gadis, dia Nana.
Yuan yang bahkan di panggil oleh sepupunya sendiri, ia tetap tidak peduli, telinganya seolah tuli, pria itu terus berjalan menjauh dari semua orang.
“Yuan! Kau tuli ya?! Aku sudah susah payah mencarimu kemana-mana, dan akhirnya ketemu juga, tapi sekarang kau malah mengabaikan aku. Keparat kau.” ujar Nana dengan tangan yang sengaja meraih tas punggung Yuan yang tersampir di bahu kiri pria itu.
Sebuah dengusan kesal dengan hembusan nafas berat membuat Nana perlahan melepaskan tangannya dari tas Yuan. Gadis itu kemudian menatap Yuan yang sekarang telah menoleh ke arahnya dengan tatapan yang mengerikan.
Bahkan Nana yang biasanya selalu berani dengan sepupunya itu, kali ini ia menciut, menjadi seekor kelinci putih yang penakut.
“Maaf maaf. Aku hanya ingin bertanya, apa kau tahu dimana Rose?” kata Nana.
Pertanyaannya itu justru semakin membuat Yuan terlihat seperti sebuah gunung berapi yang meletus.
“Tidak tahu, lain kali jangan tanya aku tentang dia, mungkin saat ini dia sedang bersama pria sialan itu.” ujar Yuan yang kemudian berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan Nana yang tersenyum getir menatapnya.
•••
Alex terlihat melamun, pria itu walaupun dihadapkan dengan beberapa berkas di depannya, tapi tatapan matanya tampak kosong.
Pikirannya itu sedang beradu pendapat tentang masalah putrinya.
Sebenarnya, bukan sebuah masalah, tapi lebih kepada, apakah pilihannya sudah tepat? Membiarkan putrinya berpacaran dengan pria itu? Apa Nana akan baik-baik saja?
Selama ini, ia tidak pernah dihadapkan dengan hal-hal semacam itu, karenanya, Alex sendiri bingung dengan hatinya yang terkadang tenang, tapi juga terkadang resah dan gelisah.
”Presdir, ada ketua Ray datang.” ujar Aldo yang tanpa Alex sadari telah berdiri di seberang meja kerjanya.
Alex tersentak dari lamunannya, kemudian beralih menatap Aldo, lalu beralih lagi menatap kakaknya yang ada di belakang sekertarisnya itu.
“Kak Ray? Ada apa pagi-pagi datang ke ruanganku?” tanya Alex, tanpa basa-basi.
“Apa aku tidak boleh mengunjungi mantan ruanganku dulu?” kata Ray sembari duduk di sofa tanpa Alex menyuruhnya lebih dulu.
“Ya, kau lebih lama menepati ruangan ini daripada aku yang belum ada satu tahun.” ujar Alex yang juga ikut duduk di sofa yang berbeda dengan sang kakak.
__ADS_1
“Apa kau sibuk?” tanya Ray, mengalihkan topik awal pembicaraan.
“Sangat sibuk. Aku masih menyelidiki tentang masalah penggelapan dana. Kabar terbarunya, pria bernama Hans, dialah orang yang menggelapkan dana itu. Hanya saja, sampai saat ini dia belum mau mengungkapkan siapa yang telah menyuruhnya membuat bukti palsu.” ujar Alex yang berubah menjadi serius.
“Begitu ya. Tapi aku dengar, kau sudah menindaklanjuti hal ini ke pihak yang berwajib. Apa itu benar? Kau sungguh telah melaporkan masalah penggelapan dana ini ke pada polisi?” tanya Ray.
Alex mengangguk,
“Em, sudah. Hans saat ini sudah berada dikantor kepolisian. Tapi kakak tenang saja, aku pastikan kasus ini tidak akan bocor ke publik. Mereka yang tidak tahu pasti dan hanya mendengar kabar burung, mereka hanya akan mengira kalau masalah penggelapan dana ini, bukan tentang dana investor untuk proyek baru. Tapi dana perusahaan di bidang lain.” kata Alex.
“Baiklah, aku percaya padamu.” ucap Ray yang sebenarnya juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Karena ia percaya, setiap tindakan Alex pasti sudah dipikirkan matang-matang oleh adiknya itu.
“Kak.” panggil Alex.
“Hm?”
“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”
“Tanyakan saja selama itu pertanyaan yang bisa aku jawab.” ujar Ray.
“Ini masalah tentang anak.” ucap Alex.
“Kenapa? Kau berebut anak dengan Rachel?” tanya Ray dengan ekspresi biasanya.
“Tidak, bukan seperti itu. Aku ingin bertanya, bagaimana perasaan kakak ketika melihat ada yang suka dengan Yuan?” tanya Alex.
“Biasa saja. Pada dasarnya, anakku itu memang sangat populer, kalau aku merasa khawatir ketika ada yang dekat dengannya, bisa gila aku. Dan lagi, Yuan itu laki-laki, untuk apa aku khawatir pada seorang anak laki-laki yang bisa menjaga dirinya sendiri.” jawab Ray.
“Ck, benar juga. Yuan dan Nana kan beda jenis.” kata Alex, lebih seperti gumaman pada dirinya sendiri.
“Ada apa? Apa Nana, dia ada orang yang menyukainya?” tanya Ray.
“Iya, aku merasa tidak tenang karena itu. Hah, kadang juga biasa saja, tapi kadang juga khawatir. Apa aku ini berlebihan?”
Tidak salah jika kau berlebihan. Bagaimanapun juga, Nana ada karena sebuah kesalahan, orang bilang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin itu yang sedang kau khawatirkan. Tapi, bukankah sekarang kau dan Rachel sudah sama-sama berubah? Lagipula itu juga sudah menjadi masa lalu.
“Percaya saja pada anakmu sendiri. Selama kau percaya padanya dan terus mengawasinya dengan benar. Dia akan baik-baik saja. Yaa— anak perempuan dan laki-laki memang berbeda, sepertinya aku harus bersyukur mempunyai anak laki-laki dan bukannya perempuan. Kalau tidak, mungkin aku akan dibuat pusing sepertimu.” ujar Ray.
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1