The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Magang (bagian dua)


__ADS_3

•••


“Sudah sampai.” ujar Yuan sembari menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung firma hukum dengan tulisan Anyu di depannya.


“Em, terimakasih.” ucap Rose, kemudian melepaskan seatbelt-nya dan membuka pintu mobil.


Tapi, sebelum ia sempat membuka pintu mobil itu. Yuan tampak menahan lengan Rose, membuat gadis itu menoleh padanya.


“Ada apa?” tanya Rose.


“Ingat perkataanku tadi, jangan— ”


“Jangan dekat-dekat dengan Feng. Iya, aku tahu, aku ingat itu.” ujar Rose.


Yuan kemudian menghela nafasnya sembari melepaskan tangan Rose dari genggamannya.


“Syukurlah kalau kau masih ingat. Tapi juga jangan— ”


“Jangan hanya di ingat saja, tapi juga harus di laksanakan. Iya, Yuan, aku juga tahu itu. Yuan, kau tenang saja okey, tidak perlu khawatir. Aku juga bukan tipe wanita penggoda atau wanita yang gampang berpindah hati. Kau percaya padaku kan?” kata Rose yang lagi-lagi menyela perkataan Yuan.


Yuan pun mengangguk sembari tersenyum hangat, sehangat mentari pagi ini.


“Em, aku percaya padamu. Kalau begitu pergilah, aku tidak akan terlalu khawatir lagi. Ya, walaupun masih khawatir, sedikit.” ucap Yuan.


Rose tersenyum, membalas senyum hangat yang tadi sempat Yuan pancarkan padanya.


“Iya, kau juga pergilah. Hati-hati di jalan. Jangan mengebut. Daah.” kata Rose. Gadis itu lalu keluar dari dalam mobil.


“Rose.” panggil Yuan ketika Rose baru saja ingin menutup pintu mobil itu.


“Ya? Ada apa lagi?” tanya Rose.


“Satu hal lagi yang harus kau ingat.” ucap Yuan.


“Oh, apa itu?”


“Kau harus ingat, kalau kau itu milikku. Aku mencintaimu.” kata Yuan, seketika langsung membuat pipi Rose merona.


“Yuan, mulutmu pagi-pagi sudah manis sekali. Jangan menggodaku. Sudah, aku harus segera masuk untuk absen. Sampai jumpa, nanti siang hubungi aku. Entah kau bisa keluar atau tidak, tetap hubungi aku ya.” ujar Rose.


“Iya, pergilah. Nanti siang, aku pasti akan menghubungimu.” balas Yuan.


Setelah itu, Rose menutup pintu mobil tersebut. Lalu berdiri sedikit menjauh dari mobil Yuan.


Rose tetap berdiri di tempatnya sampai mobil Yuan terlihat pergi menjauh dan keluar dari area firma hukum Anyu.


Saat mobil Yuan sudah tidak terlihat lagi oleh jangkauan matanya. Rose pun kemudian berbalik untuk masuk ke dalam gedung law firm tersebut.


“Rose.” panggil seorang perempuan, Yana.


Rose menoleh, lalu tersenyum cerah ketika melihat siapa yang telah memanggil namanya.


“Yana, kau sudah datang ternyata.” ujar Rose sembari berbalik menghadap ke arah Yana yang tampak berlarian kecil menghampirinya.


“Kau pikir karena ini firma hukum di bawah pimpinan ayahku, jadi aku akan datang terlambat? Tidak mungkin.” kata Yana.


“Bukan seperti itu, aku pikir kau akan berangkat bersama ayahmu, bukankah subuh tadi kau terburu-buru pulang karena itu?” ujar Rose yang membuat Yana tampak tertawa kecil.


“Ah, itu sebenarnya bukan karena aku ingin berangkat bersama ayahku. Tapi karena ada urusan lain yang harus aku selesaikan. Makanya tadi pagi-pagi buta langsung pamit pulang.” kata Yana.


“Urusan? Apa kau ada masalah?” tanya Rose.


Yana pun menggelengkan kepalanya, “Tidak ada. Kau tenang saja, jangan khawatir. Sudah, ayo kita absen dan segera pergi ke ruangan kita. Nanti kalau sampai terlambat karena sibuk mengobrol disini, kita berdua bisa mendapatkan amukan amarah dari senior.” ujar Yana sembari menarik lembut lengan Rose.


“Sungguh? Apa kau benar-benar tidak ada masalah? Kau jangan coba-coba menyembunyikan-nya dariku ya. Yana, aku ini temanmu, kau sudah banyak membantuku, jadi kalau kau ada masalah beritahu aku, agar aku bisa balas membantu semua kebaikanmu.” kata Rose yang kemudian berjalan mengikuti Yana.


“Iya, iya, nanti kalau aku ada masalah, aku pasti akan cerita padamu.” ujar Yana.


Kedua perempuan itu pun kemudian berjalan beriringan menuju ruangan mereka.


Sesampainya di ruangan, terlihat ada tiga orang yang telah duduk di tempatnya masing-masing. Mereka bertiga adalah orang-orang yang akan menjadi senior mereka disini.


“Selamat pagi, maaf terlambat.” ucap Rose dan Yana.


“Oh tidak masalah.” kata seorang pria, dia adalah pengacara utama yang menempati ruangan tersebut, Daniel.


Di firma hukum Anyu, dalam satu ruangan biasanya di isi oleh dua sampai tiga orang. Satu orang adalah pemilik asli ruangan, yang namanya akan tertera di atas pintu masuk. Lalu dua lainnya adalah seorang asisten dan seorang detektif swasta yang akan membantu proses penyidikan terhadap permintaan klien.


“Diantara kalian, siapa yang bernama Yana?” tanya Daniel.

__ADS_1


“Saya.” ucap Yana sembari mengangkat tangan kanannya sekilas.


“Ah, nona Yana. Silahkan duduk disini.” kata Daniel, ia mengarahkan Yana untuk duduk di kursinya. Hal itu membuat Yana merasa bingung sekaligus risih.


“Maaf senior, tapi bukankah ini tempat duduk anda, saya mana bisa duduk di kursi kebanggaan anda.” ujar Yana.


“Ini mungkin kursi saya. Tapi kalau nona Yana ada disini. Sekarang kursi ini menjadi milik anda. Bukan hanya kursi ini, tapi juga seluruh ruangan ini juga milik anda.” kata Daniel dengan sikap sopan-nya yang tampak berlebihan bagi Yana.


Dia pikir karena perusahaan ini dibawah pimpinan ayahku. Jadi semuanya juga milikku? Ck, walaupun kata ayah pengacara Daniel memiliki kredibilitas yang luar biasa, tapi pemikirannya sangat sempit.


Dia baik padaku dan memperlakukan aku secara khusus seperti ini pasti karena aku anak dari pimpinan firma hukum.


“Nona Yana, bagaimana? Anda suka kan berada di ruangan saya? Saya harap anda betah disini dan tidak beralih ke pengacara lain untuk anda jadikan sebagai senior.” ujar Daniel.


“Itu, senior. Bisakah anda berhenti memanggil saya dengan sebutan nona? Saya merasa tidak nyaman dengan panggilan itu. Lebih baik bagi anda untuk berkata biasa saja pada saya, layaknya seorang senior terhadap juniornya. Kalau tidak, mungkin saya akan memikirkan tentang apa yang anda katakan tadi, beralih ke pengacara lain.” ujar Yana.


“Oh iya, tentu saja say— maksudnya aku aku bersikap biasa saja. Jadi Yana tidak perlu pindah ke pengacara lain. Karena aku ini satu-satunya pengacara terbaik di firma hukum Anyu.” kata Daniel.


Yana pun tersenyum, tidak menyalahkan kesombongan pria di hadapannya itu. Karena memang Daniel adalah pengacara terbaik. Tapi juga bukan satu-satunya, sebab masih ada beberapa pengacara lain yang memiliki kredibilitas tinggi yang setara dengan Daniel.


Dia terlalu berlebihan dalam menyombongkan dirinya. Sungguh menjengkelkan. — batin Yana.


“Oh iya, itu teman saya. Apa senior tidak ingin menyapanya?” tanya Yana sembari menatap Rose yang sejak tadi diam memperhatikan.


“Ah, Jadi apa kau yang bernama Rosella?” ujar Daniel dengan nada bicara yang berbeda.


Rose pun tersenyum kaku.


Kenapa nada bicaranya berubah menyeramkan? Kali ini dia benar-benar terlihat seperti seorang senior yang tegas. Ck, Dalam dunia hukum pun tetap ada yang namanya pilih kasih. Ini membuktikan status sosial menjadi nilai kita di mata orang lain. Sungguh miris sekali. — batin Rose.


“Iya, saya Rosella, panggil saja Rose. Saya juga pekerja magang yang akan berkerja disini. Mohon bimbingannya, senior.” katanya, memperkenalkan diri.


“Rose, maaf ya, jadi begini, sebenarnya aturannya itu, satu pengacara hanya boleh memilih satu pegawai magang. Jadi, karena Yana sudah disini. Kau lebih baik cari pengacara lain saja yang mau menerimamu sebagai juniornya.” ujar Daniel.


“Loh? Bagaimana bisa seperti itu?” tanya Yana, ia sendiripun juga tidak tahu perihal ini.


“Ayahmu belum memberitahumu ya? Tapi itu memang sudah menjadi aturan disini. Lagipula, tidak mungkin satu pengacara memiliki banyak bawahan. Ya, walaupun itu sangat membantu, tapi sistem administrasinya bisa kacau nanti. Jadi Rose, kau cari pengacara lain saja ya.” kata Daniel.


“Eh itu, iya, baiklah, kalau begitu saya permisi.” ucap Rose.


“Rose tunggu, aku akan membantumu mencari pengacara yang lain.” kata Yana, setelah itu ia menarik Rose keluar dari dalam ruangan tersebut.


“Ada apa?” tanya Rose.


“Pengacara barusan itu sangat menyebalkan. Aku sungguh tidak suka dengan sikapnya. Rose, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tidak tahu tentang aturan ini. Maaf ya.” ucap Yana.


Rose mengangguk, lalu tersenyum tulus kepada teman baiknya itu.


“Tidak apa-apa.” kata Rose.


“Kalau begitu, ayo cepat ikuti aku. Aku akan membawamu ke ruangan pengacara yang lain. Kau tenang saja, pengacara ini memiliki rating dan kredibelitas yang tinggi juga, setara dengan pengacara yang tadi. Hanya saja— ada dua hal yang harus kau tahu.” ujar Yana.


“Apa?”


“Pertama, ruangannya itu cukup dekat dengan ruangan tempat Feng berada.” kata Yana.


“Ah itu, hah, nanti aku akan mengatakannya dan menjelaskannya pada Yuan. Jadi anggap saja itu bukan masalah besar. Lalu, bagaimana dengan hal yang satunya lagi?”


Yana tampak diam sejenak kemudian menghela nafasnya.


“Menurut rumor yang beredar di firma hukum ini. Pengacara itu adalah seorang jenius, di usianya yang masih belasan tahun, ia sudah menjadi profiler dan banyak membantu detektif swasta ataupun nasional dalam memecahkan beberapa kasus. Tapi anehnya saat selesai sekolah menengah atas, dia malah melanjutkan pendidikannya ke jenjang universitas dan mengambil jurusan hukum.” ujar Yana.


“Dia juga terkenal sangat misterius dan bersifat dingin. Dia sama sekali tidak memiliki rekan kerja di ruangannya.” sambungnya.


“Eh? Maksudnya, dia berkerja sendirian?” tanya Rose.


“Benar. Itu karena tidak ada orang yang betah bekerja bersama dengannya. Jadi bagaimana? Apa kau yakin masih tidak masalah menjadi juniornya?”


Rose terlihat diam untuk beberapa saat, namun kemudian senyumannya kembali merekah.


“Aku pikir tidak masalah. Lagipula, aku hanya akan magang dan menjadi juniornya selama tiga bulan kedepan.” ujar Rose.


“Ck, asal kau tahu. Semua orang yang pernah bekerja dengannya hanya bisa bertahan selama satu bulan, itu yang paling lama.” kata Yana.


Rose pun tertawa mendengarnya. “Kalau begitu, aku akan menjadi orang pertama yang paling lama bertahan bekerja bersamanya.” ujar Rose.


“Gila, apa kau sudah tidak waras? Tapi sebenarnya aku merekomendasikan dia padamu karena hanya tinggal dia satu-satunya pengacara disini yang masuk ke dalam daftar emas, yang artinya dia salah satu dari tiga pengacara dengan rating penilaian tertinggi di firma hukum ini. Karena dua lainnya sudah menjadikan aku dan Feng sebagai junior. Jadi hanya tinggal dia seorang saja yang tersisa untukmu. Maaf ya.” kata Yana sembari menatap Rose dengan raut wajah bersalahnya.


“Aku tidak peduli siapa yang akan menjadi seniorku. Selama dia bisa bersikap adil dan memiliki kredibilitas baik, hal lainnya bukan masalah besar untukku.” ujar Rose.

__ADS_1


“Masalah adil, dia itu memang ahlinya dalam bidang keadilan. Dia bukan tipe orang yang suka pilih kasih. Karena itu aku merekomendasikannya untukmu. Ya, aku pikir, semoga saja dia senior yang tepat untukmu.”


Rose mengangguk, “Kalau begitu, katakan siapa namanya, biar aku saja yang mencari ruangannya. Kau kembalilah ke ruangan pengacara Daniel.”


“Kau ingin mencarinya sendiri? Serius?”


“Iya, cepat katakan saja, siapa namanya?.”


“Samuel Adamson.” ucap Yana.


“Ah, Samuel Adamson. Namanya saja sudah membuatku merinding. Dia sepertinya benar-benar orang hebat.” kata Rose.


“Kalau begitu kau pergilah, aku akan segera pergi mencari ruangannya.” sambungnya.


“Iya. Kalau kau ada masalah, hubungi saja aku. Ponselku selalu menyala dan selalu ada bersamaku.” ujar Yana, setelah itu ia berbalik dan pergi menjauh dari Rose.


Setelah Yana pergi, Rose tampak menghembuskan nafasnya.


Lalu melangkahkan kakinya, mulai mencari ruangan dengan pintu yang memiliki plat nama Samuel Adamson.


Gedung firma hukum ini besar juga ya, interior dan desainnya juga sangat modern tapi terlihat elegan. Benar-benar pemandangan yang bagus untuk membuat semua klien yang datang kesini merasa nyaman dan tenang.


Pepatah bilang, lingkungan sekitar juga mempengaruhi hati dan penilaian seseorang. — Batin Rose sembari terus mencari ruangan pengacara itu.


Sudah cukup lama Rose berkeliling lantai tiga, tapi ia masih belum menemukan ruangan dengan plat nama yang dicarinya.


“Sepertinya aku harus bertanya.” gumam Rose, ia kemudian langsung mencari siapapun orang yang tampak sebagai pegawai di sana.


“Eh, permisi.” ucap Rose pada seorang pria yang tampak berusia lima tahun lebih tua darinya.


Pria yang terlihat ingin menggunakan lift itupun menoleh, ia menatap ke arah Rose sekilas, tapi kemudian mengabaikannya.


“Boleh saya bertanya?” ujar Rose.


“Apa anda tersesat?” pria itu balik bertanya.


“Eh?”


“Saya melihat anda melewati tempat ini sebanyak tiga kali.” kata pria itu.


“Oh itu, sebenarnya saya sedang mencari ruangan seorang pengacara.” ujar Rose.


“Sebutkan saja namanya, saya akan memberikan petunjuk arah untuk anda.” kata pria itu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rose. Ia terlihat fokus menunggu lift di hadapannya itu terbuka.


“Samuel Adamson. Apa anda tahu dimana ruangannya?” ucap Rose yang seketika membuat si pria di depannya tampak menoleh padanya.


“Dia sedang tidak menerima klien.” kata pria itu.


“Eh? Itu, sebenarnya saya— ”


“Cari saja pengacara yang lain.” ucap pria itu, tiba-tiba menyela perkataan Rose.


Lalu, tidak lama kemudian pintu lift tampak terbuka.


Seorang perempuan dari dalam lift terlihat menatap pria di depan Rose itu dengan raut wajah takut dan hormat.


“Selamat pagi pengacara Samuel.” sapa si perempuan yang merupakan mantan rekan kerja pria itu.


“Eh? Sam— Samuel? Apakah anda— ” Rose sengaja menggantungkan kalimatnya, ia segera menatap tanda pengenal si pria yang tampak tergantung di leher pria itu.


Jadi dia yang bernama Samuel Adamson. Ck, benar-benar memiliki sifat yang dingin.


“Pengacara Samuel, tunggu saya.” ucap Rose yang langsung menerobos masuk ke dalam lift mengikuti pria bernama Samuel itu.


“Cari saja pengacara lain. Saya sedang tidak menerima klien.” katanya.


“Saya bukan seorang klien. Saya mahasiswa magang disini.” ujar Rose.


“Oh, jadi kau akan menjadi juniorku?”


“Apa anda akan menerima saya menjadi Junior anda?” tanya Rose.


“Itu terserah padamu. Kalau kau betah bekerja di bawah tekananku. Aku tidak masalah. Satu lagi, aku tidak akan memandang latar belakangmu. Sekalipun kau berasa dari keluarga kaya raya, aku akan bersikap layaknya seorang senior yang mendidik juniornya. Jadi, apa kau masih ingin menjadi juniorku?” kata Samuel dengan kalimat yang sudah tidak formal lagi.


“Itu bukan masalah. Saya suka bekerja dibawah tekanan, saya juga suka anda tidak memandang latar belakang saya. Jadi saya akan tetap menginginkan anda untuk menjadi senior saya. Jadi, senior, mohon bimbingannya.” ujar Rose sembari tersenyum lebar ke arah Samuel yang terlihat terpaku untuk beberapa saat karena sungguh tidak menduga kalau Rose akan menjawab dengan jawaban yang tidak biasa baginya.


Gadis aneh. Ya, kita lihat saja sampai hari keberapa kau akan betah menjadi bawahanku. Ck, selama ini, paling lama hanya satu bulan orang betah menjadi rekanku.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2