
Feng masih diam berdiri di tempatnya. Pandangannya terus menatap lurus ke arah Yuan dan Rose pergi menjauh darinya.
Perlahan, ia menghela nafasnya, mencoba melepaskan semua aura negatif yang terpendam di dalam dirinya.
"Tuan muda Feng! Kami sudah mencari anda kemana-mana, ternyata anda ada di sini. Tuan muda, apa anda lupa? Nyonya besar menyuruh anda untuk ijin hari ini." Kata seorang pria dengan baju formalnya. Pria itu berdiri dihadapan Feng dengan nafas terengah-engah.
"Kenapa kau ada disini? Pergilah. Lagipula, aku tidak akan ijin dari mata kuliah manapun." Ujar Feng yang kemudian pergi dari hadapan pria itu.
"Tunggu dulu tuan muda. Anda harus kembali. Jika tidak, saya bisa mendapat amukan dari nyonya besar." Kata pria bernama Jhony.
"Itu bukan urusanku." Jawab Feng sembari melangkahkan kakinya kembali.
"Tuan muda." Pria bernama Jhony itu tampaknya tidak akan menyerah dengan mudah.
Baginya, lebih baik susah payah membujuk tuan mudanya itu daripada nantinya terkena amukan dari ibu Feng kalau sampai dirinya tidak berhasil membawa pulang putra dari nyonya besarnya itu.
"Pergilah, Jhon. Aku tidak butuh pengawalanmu. Jangan membuat hidupku yang damai ini menjadi noisy karenamu." Ujar Feng.
"Tuan muda, kalau anda tidak mau menuruti permintaan saya untuk pulang sekarang. Maka, saya harus meminta maaf kepada anda. Karena saya akan menggunakan cara yang nyonya besar sarankan pada saya." Kata Jhony.
Mendengar perkataan dari pengikut setianya itu, Feng membalikkan badannya untuk menatap ke arah pria itu.
"Jhon, apa kau sedang mengancamku?" Tanya Feng dengan nada bicara yang membuat pria bernama Jhony itu menunduk untuk sesaat.
"Maaf tuan muda. Saya terpaksa melakukan ini. Tapi, kalau tuan muda tidak menginginkannya, anda bisa langsung masuk ke dalam mobil dan pulang kembali ke rumah." Kata pria itu.
Feng tampak menghembuskan nafas beratnya. Dalam sekejap, rasa kesal dihatinya semakin menaiki level tinggi. Setelah dibuat kesal oleh Yuan yang membawa Rose pergi begitu saja. Kini, ia harus dibuat kesal oleh assisten pribadinya yang memang sejak ia sekolah menengah atas selalu mengikutinya.
"Terserah kau saja." Ucap Feng yang kemudian berbalik dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke fakultasnya.
"Tuan muda, anda yakin tidak akan menyesalinya? Kalau anda tidak menurut, saya benar-benar minta maaf, saya harus melakukan ini." Ujar Jhony sembari menepukkan kedua tangannya sebanyak tiga kali.
Tak lama setelah itu, beberapa orang dengan pakaian serba hitam terlihat keluar dari sebuah mobil SUV.
Mereka tampak berlari menuju ke arah Feng yang saat itu masih belum memahami situasi yang terjadi.
"Apa maksudnya ini Jhon?!" Tanya Feng ketika dirinya di tarik paksa oleh dua orang pria berbadan kekar, sedangkan dua lainnya mengawalnya dari belakang.
"Maaf tuan muda. Anda harus segera kembali pulang ke rumah untuk mempersiapkan diri anda di acara pesta perayaan ulang tahun tuan besar nanti sore."
"Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah hadir di acara seperti itu. Jadi, cepat keluarkan aku sekarang juga." Ujar Feng yang sudah di bawa masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Maaf tuan muda. Bagaimanapun juga, anda adalah anak laki-laki satu-satunya keluarga Adelard. Hari ini, sudah seharusnya anda menunjukkan diri anda untuk menyapa para relasi bisnis ayah anda." Kata Jhony sembari menghidupkan mesin mobil dan kemudian melajukan mobil itu keluar dari area kampus.
•••
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Rose yang masih terus mengikuti Yuan.
"Memangnya kau pikir aku akan membawamu kemana? Aku hanya ingin mengantarkanmu ke fakultasmu kembali. Tapi, kali ini aku tidak akan pergi sampai aku benar-benar melihatmu masuk ke dalam gedung fakultas itu." Ujar Yuan yang kemudian berhenti melangkah ketika dirinya berada di depan gedung fakultas hukum itu kembali.
"Maaf." Ucap Rose sembari menundukkan kepalanya.
"Aku sudah pernah mengatakannya padamu, jangan terlalu mudah untuk berkata maaf." Ujar Yuan yang diiringi helaan nafas herannya.
"Iya aku tahu. Tapi— tentang aku dan Feng tadi— "
"Kau pikir aku cemburu?" Tanya Yuan.
"Eh?"
"Dengar Rose. Aku sarankan, lebih baik kau menurunkan kadar kepercayaan dirimu itu. Aku tidak mungkin dan tidak akan pernah cemburu padamu." Ujar Yuan dengan nada menyindirnya.
"Tapi sikapmu itu seperti— "
"Jangan banyak bicara. Cepat masuk ke dalam gedung fakultasmu." Kata Yuan yang sengaja menyela perkataan Rose.
"Kenapa hanya diam? Ayo cepat masuk sana. Aku sudah berjanji untuk tetap disini sampai kau masuk ke dalam gedung fakultas itu. Kalau kau tidak cepat masuk, kau itu akan membuatku tertinggal mata kuliah pertamaku." Ujar Yuan.
"Ah iya, maaf. Ini— aku kembalikan payungmu." Kata Rose yang kemudian memberikan payung milik Yuan kepada pria itu.
Lalu setelah itu, ia pergi begitu saja dari hadapan Yuan.
"Kau pergi begitu saja?" Tanya Yuan.
"Tadi kau menyuruhku untuk pergi." Jawab Rose yang benar-benar merasa bingung dengan semua sikap pria itu pagi ini.
"Setidaknya katakan sampai jumpa atau apalah itu." Kata Yuan sembari mengalihkan pandangannya.
"Sampai jumpa." Ucap Rose.
Yuan langsung menoleh ketika indera pendengarannya itu menangkap sebuah ucapan 'sampai jumpa' dari Rose.
"Aku tidak memaksamu untuk mengucapkan hal itu." Ujar Yuan. Perkataannya itu bertolak belakang dengan apa yang hatinya inginkan.
__ADS_1
"Anggap saja itu keinginanku. Aku ingin mengucapkannya karena aku berharap kita bisa bertemu kembali nanti." Kata Rose.
"Yaa— itu terdengar lebih baik. Kau memang tidak akan pernah bisa berhenti mengharapkanku. Cepat, pergi sana." Ujar Yuan sembari menahan sebuah senyum kebahagiaan.
"Em, aku pergi. Sekali lagi, sampai jumpa dan— terimakasih." Kata Rose. Setelah itu, ia kembali melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam gedung fakultas hukum.
Setelah memastikan Rose menghilang dari jarak pandangnya. Yuan langsung melepaskan senyum senang yang ia tahan sejak Rose mengatakan 'sampai jumpa' tadi.
Pria itu bahkan terlihat memegangi perutnya yang terasa seperti digelitk oleh ratusan kupu-kupu.
•••
Nana berlari masuk ke dalam kelas Rachel. Gadis itu tampak menghentikan langkahnya ketika dirinya melihat sang ibu yang notabenenya adalah dosen kelas itu— yang kini telah berdiri di depan dan tampak bersiap untuk menjelaskan materi perkuliahan hari ini.
"Bukankah saya sudah memperingatkan kalau tidak ada yang boleh terlambat di mata kuliah saya?" Tanya Rachel dengan bahasa formalnya.
"Maaf, tadi saya— "
"Keluar." Ucap Rachel.
"Baik." Jawab Nana yang kemudian memutar balik tubuhnya dan berjalan menuju ke arah pintu keluar ruang kelas itu.
Eh? Pergi begitu saja? Ck, dasar anak ini. Apa dia tidak ingin membuat alasan sama sekali? — Batin Rachel.
"Dosen Rachel." Seorang pria tampak berdiri dari duduknya. Pria itu berdiri sembari memanggil Rachel dengan hormat.
"Ada apa?" Tanya Rachel.
"Kenapa Nana harus keluar? Dia masuk lebih lambat tiga menit dari anda. Sedangkan, waktu perkuliahan seharusnya dimulai dua puluh tiga menit yang lalu. Bukankah— itu artinya anda juga terlambat?" Kata pria itu, Kai.
Perkataan Kai membuat Rachel terdiam. Dalam hati wanita paruh baya itu, ia tersenyum. Merasa senang, karena ada yang dengan logis membela Nana, anaknya.
"Lalu? Apa kau sedang menyuruhku untuk keluar dari kelas?" Tanya Rachel, masih dengan nada berwibawanya.
"Bukan seperti itu maksud saya. Tapi, mengingat anda dan Nana sama-sama terlambat, tidakkah seharusnya— anda memaafkan Nana untuk kali ini saja?"
Rachel ingin langsung menjawabnya dengan anggukan dan tanggapan setuju. Tapi, demi rasa formalitasnya, Rachel harus diam untuk beberapa saat, ia tampak seperti sedang berpikir. Padahal, sama sekali tidak ada yang ia pikirkan.
"Baiklah. Nana, duduklah dan ikuti mata kuliah saya. Satu lagi, jangan lupa untuk berterimakasih pada pria itu. Karena dia, kau kali ini saya maafkan." Ucap Rachel.
Tidak biasanya ibu akan menuruti perkataan dari seorang mahasiswa. Tapi, apa yang dikatakan oleh Kai memang benar. Kalau ibu menolak, sama saja ia akan mempermalukan dirinya yang juga terlambat. Bagaimanapun juga, aku harus berterimakasih banyak pada Kai. — Batin Nana.
__ADS_1
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍