The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Give Me A Reason


__ADS_3

Ray menatap sekertaris Chenli yang berdiri menunggunya di depan pintu kamar.


Sekertarisnya itu kemudian dengan senyum sopan membungkuk hormat padanya.


“Mobilnya sudah siap, Ketua Ray.” katanya.


Ray membenarkan letak dasinya. Lalu menepuk bahu Chenli sekilas. “Baik, ayo pergi.” ucapnya, kemudian berlalu dari hadapan sang sekertaris.


Chenli menatap punggung Ray dalam diam. Lalu kemudian beralih memandang pintu kamar bosnya itu sembari menghela nafasnya pelan.


“Kenapa dia tidak jujur saja? Kenapa selalu ingin menanggung semuanya seorang sendiri?” gumam pria paruh baya itu. Ia kemudian berbalik, berjalan mengikuti Ray yang sudah menuruni anak tangga.


•••


“Pergilah. Kembalilah pada Rose. Apa kau tidak mendengar perkataan Daddymu tadi? Kalau kau tidak pergi sekarang, mungkin tidak akan ada kesempatan bagimu untuk kabur. Percayalah, Mommy baik-baik saja disini. Daddymu, dia tidak mungkin menyakiti Mommy.” kata Ana, tangannya yang masih terpasang selang impus itu tampak mengusap lembut wajah anaknya.


Yuan menatap sang ibu dengan penuh kesenduannya. Hatinya bimbang dan juga lelah, ia kesal karena harus di hadapkan dengan pilihan yang sulit untuknya.


“Biarkan aku berpikir untuk beberapa hari lagi.” ucap Yuan.


“Tidak ada waktu untukmu berpikir, Yuan. Daddymu bilang satu minggu lagi dia akan menyuruhmu bertunangan dengan Rue. Kau sungguh tidak boleh membuang-buang waktumu dengan terus berpikir.” kata Ana.


Yuan menyentuh tangan ibunya, kemudian mencium tangan itu dengan penuh kasih sayang.


“Mom. Kalau saja ini pilihan yang mudah, tidak butuh waktu lama bagiku untuk memutuskannya. Tapi ini sungguh sulit untukku memilih.” jujurnya.


Ana menatap putranya itu dengan penuh pengertian. Ia paham apa yang anaknya itu rasakan. Pasti sangat sulit bagi Yuan untuk memilih dua wanita yang sama-sama berharga untuknya.


“Dengarkan Mommy.” ucap Ana sembari mengusap lembut kepala putranya. “Yuan, kau itu sudah dewasa dan Mommy sudah terlalu tua untuk terus berada disisimu selalu. Kau butuh pendamping hidup yang bisa menenangkan hatimu disaat kau lelah. Dan itu semua, hanya Rose yang bisa melakukannya.” ujar Ana sembari memandang anaknya dengan sorotan kasih sayang.


“Kau mencintainya, kan?”


Yuan menganggukkan kepalanya tanpa ragu, “Iya, aku sangat mencintainya.”


“Kalau begitu pergilah. Kembalilah padanya. Mengetahui kalau dirimu akan baik-baik saja bersamanya. Maka Mommy juga akan baik-baik saja di sini.”


Yuan menghela nafasnya. Walaupun perkataan ibunya itu sudah cukup untuknya membuat pilihan. Tapi hatinya masih ragu untuk memutuskan. Yuan masih kesulitan untuk memilih. Ia ingin sekali bersikap serakah kalau saja bisa. Yuan ingin ibu dan wanita yang dicintainya sama-sama berada disisinya.


•••


Rumput basah itu terinjak oleh sepasang kaki yang tidak memakai alas.


Sebuah senyum tersungging manis di wajah cantiknya. Ia kembali lagi di tempat itu, selalu berada di sana. Sejak matahari terbit hingga terbenam tak pernah bosan berada di sana.


Dari kejauhan, Sarah menatap Rose dalam diamnya. Gadis itu menghela nafas beratnya, lagi-lagi dirinya harus melihat pemandangan menyedihkan seperti ini.


“Hah, dia itu.” gumamnya.


Sarah pun kemudian melangkahkan kakinya, mendekati Rose tanpa suara. Ia lalu duduk di sisi Rose, ikut memandang hamparan rumput hijau beserta fauna yang berspesies herbivora.


“Rose.” panggil Sarah.


Rose menoleh, menatap sekertaris kekasihnya itu dengan wajah bertanyanya. “Ya?”


“Sebenarnya, apa alasanmu terus berada di sini setiap hari?” tanya Sarah. “Apa kau tidak merasa bosan?”


Rose tersenyum tipis, kemudian pandangannya kembali pada hamparan padang rumput di hadapannya. Sungguh menyejukkan mata dan hati.


“Alasanku terus berada di sini setiap hari— Sederhana saja, itu karena hamparan rumput ini adalah tempat mendaratnya helikopter yang Yuan gunakan. Aku berada di sini setiap hari dengan harapan aku akan melihat helikopter itu mendarat di sini.” kata Rose tanpa mengalihkan pandangannya dari hamparan padang rumput itu.

__ADS_1


“Sarah, sebenarnya aku merasa bosan. Aku bosan setiap hari harus duduk diam di sini untuk menunggu seseorang yang tidak pasti kapan akan kembali. Tapi aku tidak ingin rasa bosanku itu menguasai diriku. Aku selalu mengabaikan rasa bosan itu dengan terus duduk atau berdiri di sini.”


Sarah menatapnya sendu. Ia sungguh merasa kasihan dengan perempuan di sampingnya itu. Ingin sekali Sarah membantu Rose meringankan rasa rindunya dengan memberikan kabar tentang Yuan pada gadis itu. Tapi, ia sendiri pun sudah lima hari ini tidak mendapatkan kabar apapun dari bosnya.


“Kemarilah.” kata Sarah sembari membuka lebar kedua tangannya. “Aku akan memelukmu.”


“Bahuku cukup lebar untuk menjadi tempat sandaran bagimu.” katanya lagi.


Rose menoleh pada perempuan yang ia kenal selama tiga tahun belakangan ini. Sejak awal bertemu, Sarah memang sosok yang ramah dan hangat.


Ia adalah perempuan yang sangat dewasa dan penuh keroyalan yang tinggi. Rose merasa bersyukur bisa mengenal Sarah. Untung saja ada Sarah yang selalu menemaninya. Dengan begitu, Rose bisa sedikit mengabaikan rasa sedih yang menggerogoti hatinya saat ini.


“Kalau begitu, ijinkan aku memakai bahumu setiap saat aku butuh sandaran.” kata Rose sembari menerima pelukan ketenangan yang Sarah berikan padanya.


“Kedepannya, mungkin aku akan menjadi pengeluh ulung di hadapanmu.” ucap Rose dalam pelukan mereka.


Sarah tersenyum, “Ya, aku tidak sabar mendengarkan semua keluh kesahmu.” katanya sembari menepuk-nepuk pelan punggung Rose.


•••


Ruang tunggu itu terlihat cukup ramai. Bau obat-obatan khas rumah sakit menyeruak masuk ke dalam indra penciuman, hidung.


Sekertaris Chenli terlihat memeriksa jam tangannya kembali. Lalu kemudian menatap bosnya yang masih duduk diam dengan tenang.


“Ketua Ray, apa perlu saya panggil direktur rumah sakit agar anda mendapatkan perawatan lebih cepat? Kita sudah menunggu hampir satu jam. Tapi nama anda belum di panggil juga.” ujar sekertaris Chenli.


Ray menggelengkan kepalanya pelan, tanpa menoleh ke arah sekertarisnya itu, ia menjawab, “Tidak perlu, kita tunggu saja namaku di panggil.” ucapnya.


“Kenapa kita tidak gunakan fasilitas VVIP seperti biasa saja? Itu akan membantu anda untuk mendapatkan perawatan lebih cepat. Jadi ijinkan saya untuk— ”


“Sudahlah sekertaris Chenli. Lagipula, aku juga ingin menikmati fasilitas umum yang diberikan oleh rumah sakit. Aku merasa bosan mendapatkan perawatan khusus selama hampir satu tahun ini. Biarkan aku untuk beberapa hari ini merasakan bagaimana rasanya menjadi orang biasa.” sela Ray.


Bosnya itu akhir-akhir ini terlihat aneh, ia tidak seperti biasanya. Apalagi semenjak kembalinya si tuan muda, yaitu Yuan. Ia terlihat lebih diam dan suka melamun seorang diri. Entah apa yang bosnya itu pikirkan. Tapi tatapan matanya selalu terlihat kosong.


Dua puluh menit kemudian.


Setelah dua puluh menit berlalu. Seorang perempuan dari meja informasi menyebut nama Ray, ia menyuruh pria paruh baya itu untuk masuk ke dalam ruangan tempat hemodialisis dengan nomor bed tiga.


Hemodialisis atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan cuci darah.


Ya, Ray sudah hampir satu tahun lebih menjalani cuci darah tanpa ada seorangpun dari keluarganya yang tahu tentang hal tersebut.


Dengan sangat baik, pria paruh baya itu menyembunyikan sisi lemah dari dirinya. Ia menyembunyikan penyakitnya itu karena tidak ingin di tatap dengan mata penuh rasa kasihan dan kekhawatiran dari keluarganya.


Ray selama ini bersikap baik-baik saja. Tapi siapa yang tahu kalau di lengan kirinya terdapat Fistula arteri-vena atau cimino, sebuah saluran buatan penghubung antara arteri dan vena. Saluran itulah yang setiap beberapa hari sekali dalam seminggu menjadi perantara antara darahnya dengan mesin pencuci darah.


“Sekertaris Chenli.” panggil Ray sebelum ia mengikuti arahan dari perawat yang datang menjemputnya.


“Ya, Ketua Ray.” jawab sekertaris Chenli dengan penuh rasa hormatnya. Ia siap menunggu apa yang akan dikatakan oleh bosnya itu.


“Aku akan masuk sendiri. Kau tidak perlu mengikutiku, cukup tunggu di sini saja.” katanya.


Dari raut wajah Chenli. Pria paruh baya itu sepertinya enggan mengikuti apa yang Ray perintahkan padanya. Bagaimanapun juga, proses hemodialisis atau cuci darah memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar dua setengah jam sampai empat jam lebih.


Membayangkan bagaimana bosnya itu merasakan cuci darah seorang diri, Chenli sebagai seseorang yang memiliki rasa royalitas tinggi, ia tidak mungkin tega.


“Tidak perlu khawatir. Aku tidak sedang pergi untuk berperang. Aku hanya mencuci darahku agar aku bisa bertahan hidup lebih lama.” ujar Ray, meyakinkan sekertarisnya itu kalau dirinya akan baik-baik saja.


“Tapi biasanya saya menemani anda. Bagaimana bisa saya— ”

__ADS_1


“Karena itu, karena kau sudah sering menemaniku. Kali ini biarkan aku sendirian saja.” ucap Ray kemudian menepuk bahu Chenli sekilas. Setelah itu, ia mengikuti perawat yang sejak tadi dengan sabar menunggunya selesai berbincang singkat dengan sekertaris Chenli.


Melihat kepergian bosnya yang sudah masuk ke dalam ruangan tempat cuci darah. Chenli tampak menghela nafasnya berat. Ia hanyalah seorang karyawan yang dipekerjakan oleh atasan. Dan salah satu tugasnya yaitu menuruti apa yang atasannya perintahkan. Karena itu, sekretaris Chenli hanya bisa pasrah dan menuruti perintah yang Ray berikan. Walaupun dirinya tidak menyukai perintah tersebut.


•••


Yuan berjalan keluar dari dalam kamar ibunya. Pria itu terlihat menuruni anak tangga yang terhubung ke arah lantai bawah rumah tersebut.


Yuan keluar dari kamar ibunya setelah hampir dua hari tidak keluar dari dalam sana.


Bahkan mandi pun sudah menjadi rutinitas yang tidak wajib bagi tubuhnya. Untung saja Yuan seperti memiliki pewangi alami di dalam dirinya. Walaupun sudah dua hari tidak menyentuh air. Tapi tidak ada bau sama sekali darinya.


Helaan nafas terdengar dari diri Yuan ketika matanya menatap ke arah pintu keluar rumah. Di sana terlihat beberapa orang pria berbadan atletis dengan baju hitam dan alat komunikasi yang terpasang ditelinga mereka masing-masing.


Daddy benar-benar serius dalam bertindak. Kalau seperti ini, walaupun Mommy menyuruhku untuk pergi dan kabur sekarang pun juga akan sulit.


Bahkan sambungan telepon di rumah juga sudah diputus. Aku hanya bisa menghubungi nomor darurat yang tersambung ke kantor Daddy. Sungguh menyebalkan.


Tapi bagaimanapun juga, aku harus cari cara untuk bisa kabur dari sini. Rose pasti sudah sangat lama menungguku. Aku juga sudah lama tidak menghubungi Sarah semenjak ponselku diambil paksa oleh Daddy.


Aku harap Rose baik-baik saja. Aku sungguh merindukanmu, Rose.


Yuan kembali menghela nafasnya. Ia pun kemudian berbalik. Menjauh dari depan pintu keluar rumah yang dijaga ketat oleh para orang suruhan Ray.


“Tuan muda Yuan. Apa ada yang bisa saya bantu? Apa anda ingin makan sesuatu? Saya akan buatkan makanan kesukaan anda.” kata seorang pelayan bagian dapur. Ia seorang wanita paruh baya yang bekerja di rumah keluarga Gavin sejak Yuan masih berumur tiga tahun lebih.


Yuan menatap wanita paruh baya bernama Penny itu dengan wajah lesunya. Ia kemudian duduk di kursi meja makan tanpa ada minat sama sekali dengan makanan ringan yang tersedia disana.


“Aku tidak melihat bibi Jeni belakangan ini. Dimana dia?” tanya Yuan.


Penny terlihat diam untuk beberapa saat. Kemudian dengan wajah tertunduk. Ia menjawab pertanyaan tuan mudanya itu.


“Pelayan Jeni sudah satu bulan yang lalu di pecat oleh tuan besar Ray, tuan muda.” jawabnya.


“Apa?! Bagaimana bisa Daddy melakukan itu?! Bibi Jeni kan ibu dari teman baikku, dia juga besan dari paman Alex. Daddy sungguh keterlaluan.” ucap Yuan.


“Maaf menyela tuan muda Yuan. Tapi saya rasa, karena itulah tuan besar Ray memecat pelayan Jeni. Karena pelayan Jeni adalah besan dari tuan besar kedua Alex, makanya tuan besar Ray memecatnya.” kata pelayan dapur Penny.


“Begitukah? Apa kau yakin tidak ada alasan yang lain?” tanya Yuan yang dibalas oleh gelengan kepala dari pelayan dapur itu.


“Tapi— ” ucap Penny yang sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia terlihat ragu melanjutkan perkataannya tersebut.


“Tapi apa? Katakan padaku. Apa yang kau tutupi dariku? Apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah ini? Kenapa aku tidak melihat banyak pelayan sama sekali? Semenjak datang kembali ke rumah ini, aku hanya melihat sekitar lima atau enam pelayan. Di mana yang lainnya? Aku sangat ingat, keluarga Gavin itu memiliki banyak pekerja rumah tangga. Bahkan jika di total semuanya bisa menyentuh angka puluhan orang. Kenapa sekarang hanya tinggal segelintir orang saja?” tanya Yuan yang sudah merasa tidak sabar menunggu penjelasan dari pelayan dapur itu.


“Maaf tuan muda Yuan. Saya sendiri juga tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi belakangan ini tuan besar Ray sering sekali memecat pekerja rumah tangganya.” ucap Penny. “Dan anehnya, semua yang tuan besar Ray pecat adalah mereka yang sudah lama berada di keluarga Gavin dan juga mereka yang mengenal baik keluarganya nyonya Ana yaitu keluarga Mauli dan keluarganya tuan Yohan, keluarga Nasution.” ujar Penny.


Setelah mendengar penjelasan itu, Yuan terlihat mengernyitkan keningnya. Merasa ada yang tidak beres dengan semua ini.


Memecat semua pekerja rumah tangga yang mengenal keluarga kami dengan baik? Dan juga para pekerja yang sudah lama bekerja di sini seperti bibi Jeni juga dipecat.


Sebenarnya apa yang Daddy rencanakan? Apa yang Daddy sembunyikan? Atas dasar apa Daddy memecat mereka?


Aku tahu betul kalau Daddy bukan tipe orang yang suka membuang orang dari sisinya tanpa alasan yang cukup kuat.


Pasti ada alasan kenapa Daddy memecat mereka. Tapi apa itu?


💐thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


__ADS_2