
Acara makan siang telah selesai, kedua keluarga itu berjalan keluar restoran menuju ke mobil masing-masing.
"Nana." Panggil Ana pada gadis yang kini menoleh padanya.
"Ah bibi Ana, ada apa?" Tanya Nana, gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah ibu dari sepupunya itu.
"Yuan tidak datang di acara wisudamu ini ya?" Tanya Ana.
"Tadi aku sudah menghubunginya, tapi sepertinya dia memiliki banyak jadwal kegiatan hari ini, jadi tidak bisa datang." Jawab Nana.
"Banyak jadwal? Ck, sepertinya anak itu lebih sibuk dariku." Ucap Ray, lebih tepatnya seperti sebuah gumaman pada dirinya sendiri.
Ana menoleh pada suaminya itu, ia menatap Ray sejenak, tapi kemudian beralih kembali pada Nana.
"Apa Yuan baik-baik saja?" Tanya Ana.
Mendengar pertanyaan itu, Nana tersenyum diiringi dengan anggukan kepalanya.
"Dia selalu baik-baik saja, kenapa bibi tidak menemuinya? Semua orang bahkan sudah tahu jika Yuan sedang bekerja di Cafe daerah F." Jawab Nana yang membuat Ana diam membisu.
"Sudahlah, untuk apa memikirkan anak yang sudah kabur dari rumah, biarkan saja dia." Ucap Ray, pria paruh baya itu mencoba menenangkan hati Ana yang ia yakini sedang gundah.
"Kau sendiri pasti juga rindu dan khawatir padanya kan? Dia satu-satunya anak kita." Ujar Ana sembari menatap suaminya.
Ray mengalihkan pandangannya, tidak ingin Ana melihat matanya yang kini sedang menyorotkan pancaran kerinduan.
"Kak Nana, ayo cepat masuk mobil." Panggil Daisy yang sudah menunggu cukup lama di dalam mobil bersama Rachel dan Yohan.
"Nana, cepat pergilah, mereka sudah lama menunggu." Ujar Alex, pria itu berdiri di belakang Ana dan Ray.
__ADS_1
Nana mengangguk, ia melemparkan senyuman hangatnya pada ayah kandungnya itu.
"Sampai jumpa papa, nenek Calista, bibi Ana, dan paman Ray. Terimakasih untuk hari ini, daaah." Pamit Nana, gadis yang telah menyelesaikan salah satu study nya itu melangkahkan kakinya menuju mobil milik ayah tirinya.
"Hati-hati dan sampai jumpa lagi." Balas Alex, yang di tanggapi lambaian tangan oleh Nana.
•••
Yuan duduk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada sofa di ruang tamu apartemen kecil itu.
Yuan terlihat sedang memejamkan matanya, menghilangkan rasa penat setelah selesai membersihkan apartemen yang kini telah bersih dan rapi kembali.
"Ini, minumlah." Rose datang menghampiri Yuan dengan membawa dua kaleng minuman dingin, ia memberikan salah satu kaleng berisi minuman dingin itu kepada Yuan.
"Terimakasih." Ucap Yuan, pria itu membuka matanya dan menerima minuman yang Rose berikan padanya.
"Rose." Panggil Yuan ketika ia telah meneguk habis minuman kaleng yang Rose berikan padanya.
"Satu minggu lagi— aku akan pindah dari apartemenmu." Kata Yuan yang membuat Rose terdiam seketika, gadis itu merasa tidak senang dengan apa yang baru saja Yuan katakan padanya.
"Kau akan pergi dari apartemen ini? Kenapa? Apa karena aku memintamu membantuku membersihkan apartemen ini? Jika itu benar, maka kau tidak perlu lagi membersikan apartemen ini, aku bisa membersihkannya sendiri, dan kita bisa bertukar tempat tidur, kau tidur di kamarku dan aku akan tidur di sofa ruang tamu ini, jadi kau jangan merasa tidak nyaman untuk tinggal di sini— lebih lama lagi." Ujar Rose, di akhir kalimatnya, gadis itu mengatakannya dengan suara lirih dan kepala tertunduk, kalimat terakhirnya adalah harapannya, agar Yuan bisa lebih lama tinggal bersamanya.
Yuan mendengarkan perkataan Rose dengan senyum yang mengembang di wajahnya, ia tahu maksud dari gadis yang begitu tergila-gila padanya itu. Yuan tahu jika Rose tidak rela kalau dirinya harus pindah karena otomatis itu akan membuat Rose kembali jauh dari Yuan.
"Bukan karena itu, alasanku pindah karena minggu depan aku dan boybandku akan tampil di acara perayaan hari jadi kampus. Jika penampilanku berhasil dan mampu membuat pikiran ayahku berubah, aku akan pulang kembali ke rumah ku. Kau tidak ingin aku terus-menerus kabur dari rumah kan?" Tanya Yuan pada akhir perkataannya.
Rose menghela nafasnya, walau berat tapi gadis itu tetap mengatakannya.
"Baiklah. Lagipula, aku tidak ingin kau menjadi anak durhaka yang melupakan orangtuamu. Benar— jika di pikir-pikir, kau sudah lama pergi dari rumah, pasti kau sangat rindu pada orangtuamu kan?." Tanya Rose dengan raut wajah yang dipaksakan untuk tersenyum.
__ADS_1
Yuan membalas senyuman Rose itu, tangannya dengan kesadaran penuh mengacak-acak rambut Rose dengan gemas.
"Terimakasih, terimakasih untuk semuanya, Rose." Ucap Yuan dengan tulus.
•••
Ana masuk ke dalam kamarnya, tak lama kemudian, Ray juga masuk mengikuti istrinya yang selama di perjalanan pulang kerumah tadi hanya diam saja.
"Ada apa sayang? Apa yang menggangu pikiranmu? Apa itu tentang Yuan?" Tanya Ray sembari berjalan mendekati Ana yang tengah menatap keluar jendela kamar mereka.
Ana menghembuskan nafasnya, manik matanya melihat goresan awan yang seperti permen kapas itu.
"Sudah hampir setengah bulan lebih aku tidak bertemu dengannya, walaupun aku tahu kabarnya dari media atau teman-temannya, rasanya tetap ada sesuatu yang mengusik hati ini, aku ingin bertemu dengannya Ray." Ujar Ana sembari menatap ke arah Ray yang ikut berdiri di sampingnya.
"Dia bisa besar kepala jika kita menemuinya, tunggu sebentar lagi, kita lihat sampai batas mana kesanggupannya." Kata Ray.
"Apa yang kau katakan? Yuan bahkan bekerja paruh waktu, itu artinya dia mampu hidup tanpa kita, aku takut— aku takut Yuan benar-benar melupakan kita, aku takut dia tidak akan kembali." Ujar Ana mengutarakan semua rasa khawatir yang menggangu hatinya selama ini.
Ray hanya bisa diam, ia merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya, memberikan ketenangan pada Ana.
"Ayo temui dia." Ana mendorong pelan tubuh Ray, membuat pelukan mereka terlepas, wanita yang telah memasuki usia paruh baya itu menatap manik mata suaminya dengan raut wajah serius.
"Dengarkan aku sayang, aku juga berniat menemuinya. Satu minggu lagi ada acara perayaan hari jadi kampus, dan aku di undang untuk hadir ke acara itu. Kita akan datang ke sana bersama-sama, lalu kita akan menemui putra kita, bagaimana?"
"Kenapa tidak sekarang atau besok saja?" Tanya Ana, seorang ibu itu tampak tidak sabar untuk meluapkan rindu yang telah lama di pendamnya.
"Kita bahkan tidak tahu dimana dia tinggal, kalau kita menemuinya di cafe, itu sama saja kita menyusahkan dirinya yang sedang bekerja, biarkan saja sebentar, bersabarlah untuk satu minggu kedepan, okey?"
Ana mengangguk, pada akhirnya ia menyetujui saran dari suaminya itu. Lagipula, selama Yuan pergi tanpa membawa sedikit harta dari orangtuanya, pria itu telah berubah dengan banyaknya pengalaman yang ia dapat dalam waktu yang singkat ini.
__ADS_1
Pengalaman-pengalaman yang membuat pria itu tumbuh menjadi pribadi yang sedikit berbeda dan lebih dewasa dari sebelumnya.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh karakter tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍