The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Who is Feng?


__ADS_3

"Kenapa kau— "


"Ssttt— satu lagi yang harus kau ingat. Jangan pernah bertanya 'kenapa' padaku. Karena aku tidak membutuhkan alasan untuk melakukan apapun yang kumau padamu, selama itu baik untukmu, kau cukup diam dan menurut saja." Kata Yuan yang sengaja menyela pertanyaan Rose.


"Sekarang, masuklah. Aku tidak bisa terus berdiri disini bersamamu. Aku juga punya mata kuliah yang harus aku hadiri pagi ini." Ujar Yuan, lagi.


Rose mengangguk, lalu setelah itu ia segera berlari kecil menuju gedung fakultasnya. Disana ia berhenti sejenak, kemudian berbalik dan menatap ke arah Yuan.


"Terimakasih." Ucap Rose sembari melemparkan senyum tulusnya.


Yuan tampak mengangguk. Pria itu kemudian berlalu dan pergi menuju fakultasnya sendiri.


Setelah memastikan Yuan pergi menjauh dari pandangannya. Rose membalikkan badannya, kemudian mulai melangkah masuk ke dalam gedung fakultas hukum itu.


Tapi, tiba-tiba seorang pria menghentikan langkahnya. Pria itu menghalangi jalannya dengan berdiri di hadapan Rose.


"Feng, kenapa kau menghalangi jalanku? Aku harus segera masuk ke kelas profesor Gun." Kata Rose.


Dalam beberapa detik, pria itu terdiam. Ia memandang Rose dalam hening. Hal itu membuat Rose merasa heran padanya.


Rose menghela nafasnya, lalu menggeser tubuhnya untuk menyingkir dari hadapan Feng. Tapi, pria itu kembali mencegah Rose untuk pergi.


Feng memegang lengan Rose, membuat gadis itu kembali menoleh padanya.


"Ada apa Feng?" Tanya Rose yang merasa bingung dengan sikap Feng pagi ini.


"Profesor Gun tidak masuk hari ini." Ucap Feng.


Rose tampak diam untuk beberapa saat. Lalu kemudian, tangannya bergerak melepaskan pegangan tangan Feng dari lengannya. Jujur, Rose merasa risih dengan tindakan Feng ini. Padahal, kemarin dirinya tidak masalah ketika Feng menggenggam tangannya.


"Terimakasih atas informasinya. Kalau begitu, aku pergi dulu." Ujar Rose yang kemudian berlalu pergi dari hadapan pria itu.


"Tunggu dulu." Ucap Feng yang membuat Rose kembali menghentikan langkahnya.


Rose menolehkan kepalanya ke arah Feng, ia menunggu pria itu untuk mengatakan sesuatu padanya.


"Ikut aku, sebentar saja." Kata Feng sembari berjalan mendekati Rose. Lalu kemudian, ia menarik Rose pergi dari depan gedung fakultas hukum itu menuju ke suatu tempat yang Rose tidak ketahui.


"Feng, apa yang kau lakukan? Kenapa menarikku?! Lepaskan! Kau ingin membawaku kemana?"


"Ikut saja. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan hal buruk padamu. Aku hanya ingin berbicara empat mata denganmu."

__ADS_1


•••


"Nanti sore ada acara ulang tahun dari Ketua perusahaan Jhoneq, dia Ketua Barack, Barack Adelard. Dia itu relasi bisnis yang paling penting bagi perusahaan tnp group. Dia juga merupakan teman dekat dari paman kalian, paman Ray. Mereka dulu sama-sama seorang CEO yang kini sudah menjadi seorang Ketua perusahaan. Jadi, ayah sebagai wakil CEO perusahaan tnp group pastinya di undang untuk datang, dan ayah ingin kalian juga ikut. Terutama kau, Nana. Paman Ray ingin kau ikut. Karena, disana kau bisa belajar bagaimana memiliki relasi bisnis yang baik. Acara seperti itu— adalah tempat dimana kau bisa menemukan korelasi untuk membangun sebuah bisnis." Kata Yohan yang ditujukan untuk kedua putrinya, terutama untuk Nana.


"Oh iya, ketua Barack punya anak laki-laki, kalau tidak salah— namanya Feng Adelard. Dia juga kuliah di universitas City Center, jurusan Hukum. Nana, kau pernah bilang pada ibu kalau kau punya teman baik dari fakultas hukum. Mungkin— temanmu itu mengenalnya. Dengan begitu, kau juga bisa kenal dengannya lebih dekat, dalam dunia bisnis, itu sebuah peluang untukmu." Ujar Rachel.


Nana yang duduk di kursi bagian tengah mobil tampak diam. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi, semua pikiran itu tidak jauh dari ayah kandungnya. Bahkan, ia pun tidak mendengarkan apa yang kedua orangtuanya barusan katakan padanya.


"Nana. Kenapa diam saja, ayo turun dari mobil, kita sudah sampai di kampus. Jangan lupa bawa payungnya." Kata Rachel yang membuat Nana terhempas keluar dari lamunan panjangnya.


"Iya." Jawab Nana.


Gadis itu kemudian berjalan keluar dari mobil, menyusul ibunya dan Daisy yang telah berjalan lebih dulu memasuki area pekarangan kampus.


"Nana." Panggil Yohan ketika Nana hendak menutup pintu mobil itu kembali.


Gadis itu lantas menghentikan gerakannya. Ia diam berdiri di bawah payung menunggu ayah tirinya itu untuk berkata sesuatu padanya.


"Iya?" Tanya Nana.


"Kau boleh menemuinya mulai sekarang. Tapi, jangan terlalu sering. Maksud ayah— mulai sekarang, ayah tidak akan melarangmu untuk bertemu paman Alex." Ujar Yohan yang sengaja menyebutkan kata 'paman'.


"Kenapa? Kenapa ayah tiba-tiba berubah pikiran?"


"Sudah, cepatlah susul ibu dan adikmu. Lihat, mereka sedang menunggumu." Ujar Yohan, lagi.


Nana mengangguk,


"Em, sampai jumpa ayah." Pamit Nana yang kemudian pergi setelah menutup pintu mobil.


Nana melangkahkan kakinya dengan berlari kecil menyusul ibu dan adiknya yang saat ini berdiri menunggu dirinya.


"Maaf, lama." Ucap Nana.


Daisy terlihat mencebik kesal menanggapinya, gadis itu kemudian berjalan pergi lebih dulu dengan membawa payungnya sendiri.


"Ayo cepat. Bukankah kelas pertamamu itu kelas ibu, jangan sampai ibu— "


"Baik, aku mengerti!" Ujar Nana yang kemudian kembali berlari menuju gedung fakultas seni dan budaya.


Nana terus berlari kecil melewati area pekarangan kampus yang luas itu. Gadis itu berlari dengan senyum mengembang diwajahnya.

__ADS_1


Perkataan ayahnya tadi itu benar-benar membuatnya merasa senang. Ia senang akhirnya bisa dengan bebas bertemu ayah kandungnya.


"Feng, kau mau membawaku kemana?! Feng! Aku mau kembali ke fakultas. Lepas Feng!"


Suara dari seorang perempuan yang sangat familiar bagi Nana itu, membuat ia harus menghentikan langkahnya.


Rose?


Nana mengarahkan pandangannya ke penjuru arah, ia mencari dari sudut mana suara itu berasal.


Tak lama kemudian, pandangan Nana menangkap sosok gadis yang memang sedang di carinya.


Disana, Rose berdiri bersama seseorang yang tidak dapat Nana lihat dengan jelas. Tubuh orang itu tertutup oleh pohon besar yang menghalangi pandangan Nana.


"Apa yang ingin kau katakan? Kenapa tidak katakan langsung saja? Kenapa harus disini?" Tanya Rose pada orang itu.


"Apa hubunganmu dengan Yuan? Kemarin kau dan dia— di halte bus, apa yang sebenarnya kau lakukan dengannya?!" Tanya orang itu, Feng.


"Ah itu— Apa yang aku lakukan? Kami ha— "


"Aku melihatnya Rose! Kau dan Yuan, kalian— "


"Berciuman? Memangnya kenapa? Apa masalahmu?" Ujar Yuan yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Nana.


"Yuan? Nana?" Gumam Rose yang memang sejak tadi belum menyadari kehadiran Nana.


"Yuan, kenapa kau ada disini? Dan apa yang kau katakan tadi? Jangan sembarangan bicara." Ucap Nana ketika Yuan berjalan melewatinya. Tapi, pria itu terlihat mengabaikan perkataan sepupunya. Ia tampak terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rose dan Feng berdiri.


Yuan menutup payungnya, karena hujan tampak sudah reda. Kemudian, ia melemparkan payung itu ke arah Rose yang ada di depannya.


"Bawa itu dan ikut aku." Ucap Yuan, setelah itu ia berbalik memunggungi Rose dan Feng yang masih diam memperhatikannya.


"Jangan pergi Rose." Ujar Feng ketika Rose mulai menggerakkan kakinya untuk pergi mengikuti Yuan.


"Dia bukan pria baik." Kata Feng, lagi.


"Dari mana kau tahu aku baik atau tidak? Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang." Ujar Yuan yang kemudian menarik lengan Rose lembut dan membawa gadis itu pergi dari sana secepat mungkin.


"Rumah tangga? Omong kosong apa yang sudah bocah itu katakan? Perkataannya dan caranya berbicara itu— jika dipikir-pikir sangat mirip dengan paman Ray. Ck, dasar." Gumam Nana sembari memperhatikan Yuan yang telah menjauh bersama Rose dari tempat itu.


Setelah itu. Sekilas, Nana menoleh ke arah Feng yang terlihat mengepalkan tangannya kuat.

__ADS_1


Nana tampak diam sejenak memperhatikan pria yang belum dikenalnya itu. Lalu kemudian, ia pergi berlalu menuju fakultasnya, mengabaikan pria yang masih tampak asing baginya itu.


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2