
"Apa yang mom pikirkan? Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa." Ujar Yuan cepat.
"Eh! Kau tadi bilang tidak mengenalnya, tapi kau baru saja menyanggah jika kau dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Ck, kau ini buruk sekali dalam hal berbohong ya. Lagipula— mom sudah tahu semuanya. Kau dan Rose" Kata Ana.
"Apa yang mom tahu?"
Ana menampilkan senyum penuh misteri di wajahnya. Membuat Yuan merasa khawatir dengan senyuman yang ibunya itu tampilkan.
"Kau dan dia— "
Belum selesai Ana mengucapkan kata-katanya, ponsel wanita paruh baya itu berbunyi lebih dulu, menghentikan Ana melanjutkan perkataannya.
Tertera di layar ponsel itu sebuah panggilan dari sang suami tercinta.
"Ah daddy mu menelpon." Ucap Ana pada anaknya.
"Halo, ada apa sayang?" Tanya Ana ketika ia telah menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Kenapa belum pulang? Aku akan menjemputmu."
"Eh! Tidak perlu menjemputku, aku pulang bersama Yuan." Jawab Ana.
"Yuan? Dia datang ke restoran?"
"Iya, tidak seperti biasanya kan? Aku juga merasa heran. Dia juga tiba-tiba menanyakan tentang bagaimana kita bertemu, lalu dia bertanya tentang pegawai perem— "
Mendengar Ana ingin mengatakan hal-hal yang bisa membuat dirinya di interogasi oleh ayahnya. Dengan gerakan cepat, Yuan langsung merebut ponsel yang Ana pegang itu.
"Halo dad, kami akan segera pulang, sampai jumpa." Ucap Yuan yang kemudian langsung mematikan panggilan itu secara sepihak.
Ana yang melihat sikap Yuan hanya bisa tertawa kecil, gelagat putranya itu sudah seperti pria yang sedang salah tingkah.
"Mom, kumohon jangan ceritakan pada dad tentang apa yang aku tanyakan hari ini. Kalau mommy menceritakannya pada dad, Yuan bisa berakhir di ruang kerja dad dan menjadi korban interogasi selama berjam-jam. Yuan tidak mau itu terjadi, membayangkannya saja rasanya sudah membosankan sekali." Ujar Yuan.
Ana tertawa kecil,
"Aaaaa baiklah, ini akan menjadi rahasia kita berdua. Tapi— kalau kau mau mom tutup mulut, ada syaratnya."
"Mom~" Rengek Yuan, dirinya sudah frustasi karena dijahili habis-habisan oleh ibunya itu.
__ADS_1
"Syaratnya mudah, cukup katakan pada mom iya atau tidak."
"Apanya yang iya atau tidak?" Tanya Yuan dengan tidak sabar.
"Iya atau tidak kalau kau suka dengan Rose?" Tanya Ana, wanita paruh baya itu kini menatap anaknya dengan raut wajah penuh selidik namun senyuman jahil tidak pernah lepas dari bibirnya.
"Tidak." Jawab Yuan singkat, namun ia mengatakannya sembari mengalihkan pandangannya dari sang ibu, membuat Ana semakin yakin jika putranya berbohong.
"Teng! Kau berbohong." Ucap Ana.
"Apa? Aku tidak berbohong." Jawab Yuan.
"Yaa— sepertinya kau sendiri tidak paham dengan hatimu, atau mungkin kau memang menutupinya dari mom ? Lagipula, kau sudah tinggal satu atap dengannya, laki-laki dan perempuan tinggal satu atap tanpa menyisakan sebuah kenangan manis yang membekas di dalam hati itu tidak mungkin. Kau pasti— "
"Tunggu dulu! Mom tahu kalau aku dan Rose tinggal bersama?" Tanya Yuan, raut wajah pria itu tampak terkejut.
Ana semakin melebarkan senyumannya, ia tersenyum lebar dengan wajah yang seakan mengatakan 'tentu, aku tahu, kau ketahuan berbohong kan? Kau tadi bilang tidak mengenalnya? Ah lucu sekali, padahal kalian sudah pernah tinggal bersama.'
Wajah penuh candaan yang mengejek itu membuat Yuan merasa dirinya seperti orang bodoh yang berbohong di depan orang pintar.
Perasaan kesal yang dicampur dengan rasa gemas di hati Yuan itu sudah seperti saat kaki terasa gatal karena digigit oleh seekor nyamuk, ingin menggaruk tapi tidak bisa. Benar-benar menjengkelkan.
"Tidak akan berbohong maksudnya?" Tanya Ana masih dengan nada jahilnya.
"Terserah mom saja. Ayo pulang." Ujar Yuan sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Ah ya ampun sepertinya ada yang sedang marah ya." Canda Ana dengan tawa kecilnya.
"Mom~"
"Iya iya. Mommy siap-siap dulu, kau tunggulah di luar." Ujar Ana.
"Hm." Jawab Yuan singkat, pria itu kemudian keluar dari ruangan ibunya.
Saat kakinya tepat menapaki tangga terakhir, Rose lewat di depannya dengan membawa alat-alat kebersihan untuk membersihkan lantai dan meja yang sudah ditinggalkan oleh pembeli.
Tapi sayangnya, gadis itu berjalan melewati Yuan begitu saja, seakan-akan Yuan adalah orang yang tidak dikenalnya, atau mungkin, Rose memang tidak menyadari keberadaan pria itu.
Merasa di acuhkan oleh gadis yang telah ia rebut ciuman pertamanya itu, membuat Yuan kesal.
__ADS_1
Pria itu mencebik dengan tatapan yang terus terarah pada Rose yang tengah sibuk mengelap meja.
"Tuan muda Yuan, apa anda sudah ingin pulang?" Tanya manajer Dita.
"Iya." Jawab Yuan tanpa mengalihkan pandangannya pada Rose.
Manajer Dita yang merasa penasaran dengan apa yang Yuan lihat, ia pun mengikuti arah pandang dari anak bos-nya itu.
"Ah! Itu Rose. Apa anda mengenalnya tuan muda? Oh iya saya pikir anda satu universitas dengan-nya." Ujar manajer Dita.
Yuan hanya menoleh sekilas pada wanita yang sedang berbicara padanya itu, lalu kemudian kembali fokus pada Rose yang masih mengelap meja dan membersihkan sampah sisa makanan dari pembeli.
"Mom bisa memanggilkannya untukmu kalau kau ingin berbincang dengannya." Bisik Ana yang baru saja menyusul keluar.
"Bos, anda sudah mau pulang ya." Sapa manajer Dita yang di balas anggukan dan senyuman dari Ana.
"Mom, kau mengagetkanku. Dan lagi, siapa yang mau berbincang dengannya, ayo cepat kita pulang." Ujar Yuan.
"Kau pikir mom tidak tahu, sejak tadi kau terus saja memperhatikannya. Benarkan Dita?"
Ana menoleh pada karyawan seniornya yang telah ia angkat menjadi manajer restoran itu untuk meminta dukungan.
"Ah iya iya, itu benar, sejak tadi anda terus memperhatikannya, tuan muda." Ujar manajer Dita.
"Kau ingin mom memanggilnya?" Tanya Ana memberikan penawaran lagi.
"Mom— " Belum selesai Yuan menolak penawaran ibunya, Ana sudah lebih dulu melambaikan tangannya ke arah Rose dan memanggil gadis itu.
"Rose!" Panggil Ana.
Rose yang merasa namanya di panggil oleh seseorang yang sangat di hormatinya sebagai bos itu pun menoleh. Rose menatap ke arah Ana dan Dita.
Awalnya ia belum menyadari sosok laki-laki yang juga berdiri di samping bos-nya. Namun sedetik kemudian, mata gadis itu membulat sempurna, bahkan sampai terkejutnya ia tidak sadar memegang bibirnya, ingatannya tentang Yuan yang merampas ciuman pertamanya tadi siang kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
Wajah gadis itu pun sontak langsung merona, menimbulkan warna merah yang menggemaskan.
"Kenapa dia terlihat sangat terkejut saat melihatmu? Dan kenapa juga dia memegang bibirnya terus? Dan lagi, walaupun mommy mu ini sudah tua, tapi penglihatanku masih tajam, Rose tampak merona saat melihatmu. Yuan apa kau menyembunyikan sesuatu dari mom?" Bisik Ana penuh selidik pada putranya itu.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
__ADS_1