
"Aku pikir kau salah paham dengan sepupumu sendiri. Yuan tidak terlihat seperti pria yang sudah memiliki kekasih." Ujar Rue.
Sial, perempuan ini gigih juga ya. Masih bisa berkata seperti itu walau aku sudah mengucapkan kalimat yang seharusnya membuatnya putus asa. — Batin Nana.
"Oh, benarkah? Tapi walau dia tidak terlihat seperti seorang pria yang memiliki kekasih, bukan berarti sepupuku itu tidak mempunyai seorang perempuan yang ia sukai kan?"
Tepat setelah Nana menyelesaikan kalimatnya itu, sebuah mobil yang Nana yakini milik Yuan tampak mendekat ke arah mereka.
"Kenapa tidak langsung tanyakan saja padanya?" Ucap Rue yang juga melihat mobil milik Yuan itu.
Pria yang sejak tadi mereka jadikan akar topik pembahasan akhirnya muncul di antara keduanya.
Yuan turun dari dalam mobil karena Nana dan Rue berada di depan pintu gerbang, sehingga ia tidak dapat membawa masuk mobilnya ke dalam pekarangan rumahnya.
"Kau pulang? Ingat waktu juga ya? Bagaimana kencanmu hari ini?" Tanya Nana, dalam semua kalimat yang ia lontarkan pada sepupunya itu, ada satu kata yang sengaja ia tekankan, yaitu kata 'kencan'.
Yuan tampak terkejut dengan perkataan Nana yang seperti peramal profesional, bagaimana bisa sepupunya itu tahu kalau dirinya sedang kencan? Bahkan, Yuan sementara waktu ini tidak akan memberitahu Nana kalau dirinya dan Rose menjalin kasih.
"Kak Yuan, apa kau punya pacar?" Tanya Rue. Dari cara berbicaranya, sepertinya Rue adalah tipe perempuan yang suka to the point dari pada bertele-tele.
"Kenapa kau perlu tahu dia punya pacar atau tidak? Hal pribadi seperti itu, kenapa kau tidak tahu malu sekali menanyakannya langsung pada seorang pria? Lagipula, kehidupan asmaranya itu bukan urusanmu, jadi tidak ada hak bagimu untuk tahu. Dan kau Yuan, jangan pedulikan dia, cepat masuk ke dalam rumahmu." Ujar Nana, sikapnya itu membuat Yuan sebagai sepupunya ingin tertawa, Nana saat ini terlihat mirip seperti bibi Rachel yang sedang marah. Pikir Yuan.
"Aku hanya sekedar ingin tahu saja, memangnya tidak boleh?" Kata Rue, membalas perkataan Nana.
"Kak Yuan, bisakah kau menjawab pertanyaanku?" Tanya Rue sembari menatap ke arah Yuan.
"Eh, bukankah tadi sudah di jawab oleh sepupuku? Kenapa aku harus menjawabnya lagi? Maaf permisi, aku harus pergi." Ujar Yuan yang kemudian berlalu dari hadapan Rue.
Pria itu berjalan melewati Rue dan Nana, ia melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumahnya.
"Pak Rama!" Teriak Yuan, memanggil seorang pria berusia lima puluhan tahun yang berprofesi sebagai penjaga keamanan di rumahnya.
"Iya tuan muda? Ada apa?" Tanya pria bernama Rama itu.
Melihat Rama yang sudah berada di hadapannya, Yuan langsung melemparkan kunci mobilnya ke arah pria itu.
"Bawa mobilku masuk dan parkirkan di garasi mobil." Perintah Yuan, setelah itu ia melenggang pergi.
"Baik tuan." Ucap Rama yang kemudian bergegas melaksanakan perintah tuan mudanya itu.
Rama berjalan ke arah gerbang, disana ia melihat Nana dan membungkuk hormat padanya.
"Maaf nona muda Nana, bolehkah saya meminta anda untuk berpindah tempat? Saya harus melaksanakan perintah tuan muda Yuan untuk membawa masuk mobilnya, tapi kalau nona muda Nana dan temannya ini berada di depan gerbang, saya jadinya tidak bisa melaksanakan perintah tuan muda Yuan, karena nona muda Nana menghalangi jalan masuk. Maaf jika perkataan saya ini lancang." Ujar Rama.
"Tidak perlu meminta maaf, aku juga baru saja ingin pergi dari sini. Tapi satu hal yang harus kau ingat, dia itu bukan temanku." Kata Nana sembari menatap Rue dengan ekspresi datarnya.
Sedangkan Rue, perempuan itu tampak acuh tak acuh dengan perkataan dan sikap dari Nana.
"Maaf ya pak, saya bukan bermaksud menghalangi, tadinya saya hanya ingin mampir dan bertemu dengan paman Ray juga bibi Ana. Tapi sepertinya niat saya ini dianggap buruk oleh seseorang." Kata Rue, balas menyindir Nana dengan sikap elegannya.
"Oh anda tamunya tuan besar Ray dan nyonya besar Ana ya? Pantas saja saya seperti pernah melihat nona. Tapi nona, tuan besar Ray dan nyonya besar Ana belum pulang ke rumah. Apa anda berniat untuk menunggu mereka? Kalau— "
"Eh tidak perlu pak, saya harus segera pulang, ini juga sudah sore dan hampir petang. Tapi bolehkah saya meminta tolong sesuatu?" Tanya Rue pada penjaga keamanan di rumah Yuan itu.
"Kau ingin meminta tolong apa padanya? Jangan keras kepala, Yuan tidak menyukaimu, lebih baik kau pulang ke rumah dan menjadi tuan putri di rumahmu sendiri." Ujar Nana.
"Maaf nona Nana, saya ini sedang berbicara dengan orang lain, bukan denganmu. Lagipula, bukankah tadi kau bilang ingin segera pergi dari sini dan masuk ke dalam rumah kak Yuan? Kenapa masih tetap ada disini?"
__ADS_1
"Cih, aku hanya memastikan seekor hama tidak masuk ke dalam rumah." Balas Nana.
"Pak Rama, apa sudah lupa dengan perintah Yuan?" Tanya Nana yang kali ini beralih pada Rama.
"Eh, tidak nona muda Nana, bagaimana mungkin saya lupa."
"Kalau begitu cepat kerjakan, bawa mobilnya masuk, lalu setelah itu kembali pada pekerjaanmu sebelumnya." Ujar Nana yang membuat Rama merasa takut.
"Kau pikir dirimu itu sungguh nona muda di rumah ini? Kenapa membentaknya seperti itu?" Tanya Rue.
"Apa yang aku lakukan, itu bukan urusanmu. Pak Rama, cepat bawa mobilnya masuk."
"Tapi nona muda, nona ini tadi meminta tolong, bolehkah saya— "
"Pak Rama mau saya panggilkan Yuan sekarang?" Tanya Nana dengan nada mengancamnya.
"Ja—jangan nona muda, saya akan segera membawa mobilnya masuk, lalu kembali pada pekerjaan saya sebelumnya." Ujar Rama yang kemudian langsung bergegas menghampiri mobil Yuan.
Kenapa nona muda Nana menjadi garang seperti itu ya? Padahal sebelumnya dia itu terlihat seperti seorang perempuan yang lembut dan sopan, tidak pernah sekalipun melihatnya seperti itu, aneh sekali. — Batin pak Rama.
Nana menghela nafasnya, ia merasa lelah karena emosinya seakan-akan telah menguras habis energinya.
Jadi harus marah kan. Ah, aku sungguh merasa tidak enak dengan pak Rama. Aku tidak benar-benar bermaksud untuk mengancamnya. — Kata hati Nana.
"Kenapa masih belum pergi juga?" Tanya Nana pada Rue.
"Bisakah kau berikan ini pada paman Ray dan bibi Ana?" Kata Rue sembari menyodorkan sebuah paper bag berwarna cokelat ke arah Nana.
"Aku bukan tukang pos." Jawab Nana.
"Astaga, kenapa kau harus mempersulitku? Aku hanya ingin memintamu untuk memberikan ini pada paman Ray dan bibi Ana."
"Iya okey, aku akan memberikannya pada bibi Ana dan paman Ray. Sekarang kau bisa pergi." Ujar Nana.
"Terimakasih, kalau begitu aku pamit, sampaikan salam ku pada kak Yuan, walaupun aku tahu kau tidak akan menyampaikannya." Kata Rue yang kemudian pergi dari hadapan Nana dan masuk ke dalam mobilnya.
"Merepotkan." Ucap Nana sembari melihat Rue yang telah pergi menjauh.
•••
Rose terlihat sedang membersihkan apartemennya, gadis itu seperti tidak merasa lelah sedikitpun.
Sejak Yuan pulang dan sampai sekarang pun ia masih bergerak aktif. Rose bahkan tetap berniat membersihkan apartemennya yang sama sekali tidak terlihat kotor.
Drrt. Drrt. Drrt.
Di saat Rose masih sibuk mengelap piring-piring yang ada di dapur apartemennya, ponsel yang Rose letakkan di atas meja makan itu berbunyi.
Apa itu panggilan dari Yuan?
Rose segera meraih ponselnya. Hal pertama yang ia lihat ketika dirinya berhasil meraih ponsel itu adalah nama bibi-nya yang tertera di layar ponsel.
Walaupun kecewa kalau itu bukan panggilan dari Yuan, Rose tetap menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo?"
"Halo Rose! Ibumu, ibumu!"
__ADS_1
"Bibi, bicaralah perlahan, ada apa dengan ibuku? Apa ibu baik-baik saja? Bibi jangan membuatku takut."
"Ibumu masuk rumah sakit lagi. Bibi tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya padamu. Intinya, pagi tadi ibumu pamit pada bibi untuk berkunjung ke tempatmu. Tapi siapa yang tahu, ternyata dia pergi untuk menemui ayahmu yang beberapa hari lalu mendatangi ibumu. Lalu, ayahmu, dia, dia melukai ibumu." Ujar bibinya dari seberang sana.
Rose merasa tubuhnya lemas, bagaimana ayahnya bisa menemukan ibunya? Tidak, yang lebih Rose bingungkan adalah kenapa ibunya itu masih mau bertemu ayahnya?! Rose merasa kesal dengan fakta itu.
"Apa ibu terluka parah?" Tanya Rose dengan raut wajah paniknya.
"Dia mengalami luka memar di punggung dan kakinya, tapi luka di kepalanya cukup parah. Pria gila itu sepertinya menggunakan balok kayu untuk memukuli ibumu."
"Apa?! Bagaimana bisa, ayah, tidak, pria itu kenapa tega sekali?! Bibi apa kondisi ibu sekarang sedang kritis?" Tanya Rose, semakin khawatir.
"Bibi akan menjelaskan semuanya saat kau sampai disini."
"Iya iya, petang ini juga aku akan segera ke sana. Bibi tolong jaga ibu dulu ya."
"Kau tenang saja, bibi pasti akan menjaganya untukmu."
"Baik, terimakasih." Ucap Rose yang kemudian mematikan panggilan itu.
Setelah panggilan itu ia putuskan, Rose langsung bergegas menuju kamarnya, ia mengambil koper dari atas lemari, lalu kemudian membuka lemari bajunya dan mulai memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Rose bahkan tidak peduli dengan pakaian apa yang sedang ia masukan, yang terpenting dirinya harus segera bersiap untuk pergi ke kota tempat dimana ibunya berada.
Di saat Rose tengah sibuk memasukkan barang-barang yang akan ia bawa untuk pergi menemui ibunya, saat itu juga, ponselnya berbunyi kembali, sebuah pemberitahuan panggilan masuk dari Yuan tertera di layar ponsel milik Rose. Tapi sayangnya, gadis itu sepertinya tidak menyadari bunyi panggilan masuk itu.
Puluhan kali Yuan menelponnya, Rose masih belum menyadarinya. Sampai kemudian, panggilan terakhir dari Yuan membuat ponsel Rose mati karena kehabisan baterai.
"Dimana ponselku?" Ucap Rose yang telah siap untuk pergi.
"Ah itu dia." Kata Rose, ia melihat ponselnya yang ternyata berada di atas tempat tidurnya.
Rose segera meraih ponselnya itu, tapi ketika dirinya mencoba menghidupkan ponsel itu, ternyata ponselnya mati.
"Habis baterai ya? Aduh bagaimana ini, dimana powerbank ku?" Ujar Rose sembari mencari pengisi baterai cadangan yang ia simpan di dalam tas.
•••
Yuan menatap layar ponselnya dalam diam, pria itu mengerutkan keningnya ketika ia menyadari kalau ponsel Rose tidak aktif.
"Ada apa dengannya? Tidak mengangkat panggilan dariku dan sekarang ponselnya mati." Ujar Yuan yang diiringi helaan nafas beratnya.
"Kenapa? Kau tidak bisa menghubungi kekasihmu ya?" Tanya Nana, ia terlihat sedang bersandar di depan pintu kamar Yuan.
"Nana?! Sejak kapan kau ada disana?" Tanya Yuan, ia terkejut dengan kehadiran Nana yang seperti hantu, tidak dapat di prediksi.
"Sejak kau terus-menerus menempelkan ponselmu itu ke telinga, kau menghubungi siapa? Sampai berulangkali seperti itu. Mencurigakan." Ucap Nana.
"Bukan urusanmu." Kata Yuan.
"Ck, ya ya baiklah. Oh ya, aku kemari hanya ingin mengingatkan padamu, jangan lupa dengan ucapanku malam itu. Jangan permainkan Rose, kalau suka katakan suka, kalau tidak katakan tidak."
"Iya aku tahu." Jawab Yuan.
"Satu lagi, soal perempuan bernama Rue itu— aku tidak tahu harus berkata apa, tapi sebaiknya kau berhati-hati padanya. Bukan karena dia akan berbuat jahat padamu, tapi karena aku tidak suka padanya. Dia— "
"Aku juga tidak suka padanya. Kau tidak perlu khawatir." Ujar Yuan.
"Oh? Benarkah? Ah iya aku lupa, selera kita kan hampir sama. Ya sudah, baguslah, aku merasa lega mendengarnya. Kalau begitu, selama malam tuan muda, semoga mimpi indah." Kata Nana yang kemudian pergi dari kamar Yuan setelah menutup pintu kamar pria itu kembali.
__ADS_1
*💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍*