
Pagi itu langit tampak mendung, suara gemuruh yang terdengar dari balik awan seolah seperti sebuah alarm peringatan sebelum badai hujan datang.
Tak lama kemudian, angin bertiup kencang, menerpa semua benda yang menghadangnya.
Cuaca pagi ini benar-benar tidak mendukung orang untuk beraktivitas di luar ruangan.
Ketika rintikan air hujan turun, Rose masih tampak berjalan menuju halte bus. Gadis itu terpaksa harus mempercepat langkahnya dengan berlari agar pakaian dan juga barang bawaannya tidak basah karena hujan.
Untungnya, jarak antara dirinya dan halte bus itu cukup dekat, hanya butuh beberapa menit berlari, Rose telah sampai disana.
Angin berhembus semakin kencang, disertai dengan hujan yang turun semakin deras. Membuat Rose semakin merapatkan dirinya, mencoba menghindari hujan angin yang ingin menyentuh dirinya.
•••
"Yuan, jangan lupa bawa payungnya." Ujar Ana sembari menyerahkan sebuah payung berwarna hitam kepada putranya.
Yuan yang saat itu sedang memakai jaketnya langsung menoleh ketika mendengar ibunya berkata padanya.
"Iya." Jawab Yuan. Kemudian, mengambil sebuah payung yang dibawakan oleh ibunya.
"Seharusnya— tadi kau berangkat bersama daddy-mu saja. Mom khawatir kau tidak bisa menyetir dengan baik disaat badai hujan seperti ini." Kata ibunya.
Yuan melemparkan sebuah senyuman hangat ke arah wanita yang menjadi nomor satu di hatinya itu.
"Mom tidak perlu khawatir, Yuan akan berhati-hati mengendarai mobilnya." Ucap Yuan.
"Jangan mengebut ya, jalanan akan menjadi sangat licin saat hujan seperti ini."
Yuan mengangguk,
"Iya, mom tenang saja. Kalau begitu— Yuan berangkat dulu, sampai jumpa mom." Ujar Yuan yang kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Ana tersenyum, ia masih terus berdiri disana sampai mobil yang Yuan kendarai melaju keluar dari garansi itu.
"Hati-hati." Teriak Ana ketika mobil yang Yuan kendarai telah pergi menembus hujan yang mengguyur deras.
•••
Beberapa menit berlalu, sudah hampir satu jam Rose berdiri di halte bus itu. Tapi, tidak ada satupun bus yang datang.
Hal itu membuat perasaan Rose gelisah. Kalau terus seperti ini, dirinya bisa tertinggal mata kuliah jam pertama.
__ADS_1
Rose kembali menghembuskan nafasnya, gadis itu merasa frustasi dengan cuaca pagi ini. Tapi, walaupun begitu, tidak mungkin bagi dirinya untuk memberikan sebuah umpatan kasar pada sang hujan. Karena, bagaimanapun juga, hujan adalah sebuah berkah dari tuhan.
"Ah— " Rose tampak terpekik ketika dirinya terkena cipratan air dari ulah salah satu mobil yang melaju kencang di bawah hujan seperti ini.
Kini baju yang Rose kenakan tampak kotor, warna cokelat dari air berlumpur yang mengenai pakaiannya terlihat sangat buruk.
Rose segera mengelap bagian yang kotor itu mengunakan tisu. Tapi, tetap saja, sulit baginya untuk benar-benar membersihkan noda membandel itu.
"Apa kau butuh tumpangan, nona?"
Sebuah suara terdengar dari dalam mobil yang tampak berhenti di depan halte bus itu.
Rose menoleh, dirinya yang tadinya fokus membersihkan noda pada pakaiannya, kini fokusnya beralih pada sebuah mobil yang di dalamnya terdapat seorang pria bernama Yuan.
Mata Rose tampak menyipit, gadis itu sedang menajamkan penglihatannya. Ia ingin memastikan kalau dirinya tidak salah lihat.
"Ayo cepat masuk." Kata Yuan dari balik kaca mobil yang terbuka.
"Tidak perlu, aku akan pergi ke kampus naik bus saja." Ucap Rose.
Yuan yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas, pria itu sudah tahu kalau Rose pasti akan menolaknya. Karena itu, pada akhirnya, ia harus menggunakan cara paksa.
"Kenapa malah melamun? Ayo cepat masuk ke dalam mobil." Kata Yuan yang kemudian meraih tangan Rose.
Rose yang tiba-tiba ditarik paksa oleh Yuan tampak terkejut dengan tindakan dari pria itu. Dan lagi, ia semakin dibuat terkejut ketika Yuan merengkuh tubuhnya dan mengajaknya berjalan menuju mobil.
Gadis itu benar-benar merasa kalau dirinya sedang bermimpi. Ia tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan berbagi satu payung bersama dengan Yuan, lalu bersama-sama berjalan menembus hujan deras.
Suasana ini, terlihat sangat romantis dan begitu menyentuh hati Rose.
"Masuklah." Ucap Yuan sembari membukakan pintu mobil untuk Rose.
Lagi-lagi, Rose kembali menuruti perintah Yuan, gadis itu masuk ke dalam mobil. Setelah Rose masuk, Yuan menutup pintu mobil itu kembali, lalu berjalan ke sisi pintu lain dan masuk ke dalam mobil itu juga.
"Kenapa kau menatapku terus? Apa aku setampan itu?" Tanya Yuan ketika dirinya tanpa sengaja melihat Rose yang terus mengarahkan pandangan kepadanya.
"Kenapa kau datang kemari?" Tanya Rose.
"Apa kau berpikir kalau aku datang untuk menjemputmu? Kau jangan salah paham, aku tidak akan mungkin melakukannya." Ucap Yuan, pria itu perlahan mulai melajukan mobilnya menembus butiran air yang turun sangat deras dari langit.
"Kalau tidak, kenapa kau ada disini? Dan kenapa kau memaksaku untuk masuk ke mobilmu?"
__ADS_1
"Kenapa aku ada di sini? Tentu saja untuk berangkat ke kampus. Tadi aku tidak sengaja melihatmu berdiri di halte bus itu. Jadi, karena kau pernah membantuku, anggap saja ini balas budiku padamu."
Rose mengernyitkan keningnya, ia merasa ada yang salah. Karena, dari yang Rose tahu, Yuan selalu melewati jalan raya utama dari rumahnya menuju kampus. Yuan tidak pernah terlihat melewati jalur alternatif ini, yang sebenarnya lebih jauh bagi Yuan.
"Tapi— apa kau biasanya memang lewat rute ini? Bukankah— "
"Berhentilah mengoceh, lebih baik kau diam atau aku akan menurunkanmu di tengah jalan ini." Ucap Yuan.
Setelah mendengar ancaman dari pria itu, Rose memilih untuk menurutinya. Gadis itu akhirnya diam dengan tenang, ia mencoba mengabaikan semua pertanyaan yang kini tengah melayang-layang di dalam kepalanya.
•••
Ray berjalan masuk ke ruangan CEO tnp group. Sebuah ruangan yang dulu menjadi tempatnya berperang dengan dokumen-dokumen.
Mengenang masa-masa perjuangannya itu, membuat Ray merasakan haru di dalam hatinya.
"Masuklah kak." Ucap Alex.
"Aku hanya akan duduk sebentar saja." Kata Ray sembari duduk di kursi sofa ruangan itu.
"Lama juga tidak masalah." Ujar Alex yang kemudian ikut duduk bersebrangan dengan kakaknya.
"Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO perusahaan besar?" Tanya Ray.
"Sulit." Jawab Alex, singkat namun penuh makna.
Ray tampak tertawa kecil mendengar jawaban dari adik beda ibunya itu.
"Setidaknya, performa-mu sangat bagus. Kau mampu memimpin perusahaan ini dengan baik." Ujar Ray.
"Itu semua berkat kakak dan semua pegawai perusahaan." Kata Alex yang merendahkan dirinya.
Ray kembali tersenyum. Tapi, tak lama dari itu, senyum Ray tiba-tiba luntur dari wajahnya. Senyum itu menghilang dan digantikan oleh raut wajah sedihnya.
"Ada apa kak?" Tanya Alex yang dapat melihat jelas perubahan ekspresi kakaknya.
"Alex, apa kau tidak berniat untuk menikah?" Tanya Ray.
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
Np : Maaf lama update, tapi setelah ini, Extraordinary akan update seperti biasa.
__ADS_1