The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Morning Day


__ADS_3

Hari berikutnya~


Kondisi Yuan sepertinya lebih baik dari hari kemarin.


Pria itu bahkan terlihat telah memakai pakaian lengkapnya, bersiap untuk pergi ke kampus.


Setelah merasa puas menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di kamarnya. Yuan pun segera meraih tas-nya, lalu bergegas keluar dari dalam kamarnya.


Yuan berjalan menuruni tangga menuju ke arah ruang makan. Setiap langkah kakinya, Yuan terlihat bersenandung riang. Sepertinya hatinya sangat bahagia pagi ini.


“Selamat pagi semuanya.” sapa Yuan ketika kakinya itu telah menginjak lantai ruang makan.


Semua anggota keluarga yang terlihat sedang bersiap untuk sarapan, ketika mendengar suara seseorang yang menyapa, mereka pun menoleh ke arah Yuan yang saar ini telah duduk di samping ibunya.


“Sayang, apa kau ingin pergi ke kampus?” tanya Ana sembari menatap lekat anaknya itu.


“Ya, aku akan pergi ke kampus, memangnya dengan pakaian seperti ini, aku mau pergi kemana lagi selain ke kampus.” jawab Yuan, tangannya itu terlihat meraih selembar roti lalu mengolesinya dengan selai cokelat.


“Tapi kau baru sembuh. Infusmu juga baru dilepas semalam. Bagaimana bisa sekarang kau mau pergi ke kampus? Kau tidak boleh pergi ke kampus, kondisimu masih belum seratus persen membaik, mommy tidak mengijinkanmu pergi dari rumah, kau masih harus istirahat.” ujar Ana.


Yuan tersenyum, kemudian mulai menggigit rotinya, mengunyahnya dengan tenang, setelah menelan roti tersebut, Yuan kembali fokus pada sang ibu yang masih menunggu responnya.


“Aku akan tetap pergi ke kampus. Lagipula, ibu bisa lihat sendiri. Aku sudah sangat sehat sekarang.” kata Yuan.


“Paman dengar— kau kemarin sampai tidak sadarkan diri. Kalau sampai seperti itu, lebih baik hari ini kau ijin saja dulu kuliahnya. Takutnya nanti keadaanmu yang masih belum sembuh total, bisa membuatmu pingsan di kampus, kalau sampai itu terjadi, kau sendiri yang akan malu.” sahut Alex.


Yuan tampak tertawa kecil, lalu kemudian, ia terlihat meraih gelas berisi air mineral milik ibunya. Yuan meneguk air mineral itu hingga habis, setelah meneguknya habis, Yuan mengembalikan gelas kosong itu ke arah ibunya.


“Itu tidak akan terjadi paman.” ucap Yuan.


“Aku berangkat lebih dulu.” sambung Yuan sembari turun dari kursi makannya.


“Yuan, kau sungguh tidak mendengarkan perkataan mommy ya? Mom bilang jangan pergi ke kampus dulu. Kau masih belum sepenuhnya sembuh. Apa kau tidak ingat? Kemarin kau demam sangat tinggi sampai tidak sadarkan diri, jangan buat mommy khawatir.” kata Ana, mencegah anaknya untuk pergi.


“Biarkan saja dia pergi ke kampus. Lagipula dia itu laki-laki, jangan terlalu memanjakannya. Kalau dia bilang sudah sembuh ya sudah.” sahut Ray.


Yuan yang merasa di bela oleh sang ayah, ia pun tersenyum senang, tidak biasanya ayahnya itu mendukung dirinya seperti saat ini.


“Kau ini, apa kau sama sekali tidak khawatir pada anakmu sendiri?! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di kampus nanti? Kau akan menjadi orang yang pertamakali akan aku salahkan kalau sampai itu terjadi.” ujar Ana.


Ray menghela nafasnya, kemudian tampak meletakkan sendoknya ke atas piring makannya.


“Apa Yuan itu seorang bayi? Atau dia masih seorang anak kecil? Sayang, dia itu sudah dewasa. Sudah tahu bagaimana cara menyikapi rasa sakit yang bisa ditahan dan tidak bisa. Kalau kau terus melarangnya ini itu dan terlalu khawatir dengan dirinya. Dia itu nantinya hanya akan menjadi pria lemah.” kata Ray.


“Benar juga, Yuan kan laki-laki, jadi fisiknya tidak perlu terlalu di khawatirkan. Berbeda dengan Nana dan anak perempuan lainnya, yang memang wajib di khawatirkan lebih extra.” ujar Alex.


“Yuan, apa kau sungguh sudah merasa lebih baik?” kali ini, nenek Calista pun ikut masuk ke dalam adu argumen tersebut.


Yuan mengangguk,


“Hm, aku merasa sudah lebih baik. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Dan mommy, bisa tolong lepaskan tangan mommy? Yuan harus segera berangkat ke kampus.” kata Yuan.


“Ini masih pagi, kenapa kau terlihat terburu-buru seperti itu?” tanya Alex, pamannya.


Yuan tampak menggaruk tengkuknya sesaat, lalu menatap sang ibu, memberikan kode pada ibunya.


Mom, bantu aku. Aku berangkat sepagi ini karena ingin menjemput Rose.


“Mom.” bisik Yuan dengan kode-nya.


Ana yang pada awalnya tidak paham, ia hanya mengernyitkan keningnya bingung.


“Apa? Mommy tidak akan melepaskan tangan mommy, mommy tidak ijinkan kau berangkat kuliah hari ini.” ucap Ana.


“Rose.” bisik Yuan, sepelan mungkin.


Mendapatkan bisikan singkat dari anaknya itu. Ana pun langsung paham. “Ah.” ucap Ana.


“Tapi— ” sambung Ana dengan kalimat yang tergantung.

__ADS_1


“Mommy, please, tolong biarkan aku pergi ke kampus ya?” pinta Yuan dengan suara normalnya.


Ana menghela nafasnya pasrah, kemudian menganggukkan kepalanya, ia akhirnya melepaskan tangannya yang tadi sempat menahan lengan Yuan.


“Pergilah, tapi kau harus ingat, jangan lakukan aktivitas fisik secara berlebihan, jangan telat makan, jangan merokok, minum soda apalagi alkohol. Mommy tidak mau kau sakit lagi. Jadi berjanjilah pada mommy untuk menuruti perkataan mommy tadi.” ujar Ana.


Yuan menganggukkan kepalanya, “Ya, mommy tenang saja, Yuan tidak akan melupakan setiap nasihat dari mommy. Yuan berjanji akan menuruti semua perkataan mommy tadi.” katanya.


“Bagus. Sekarang kau boleh pergi.” ujar Ana. “Jangan lupa, sampaikan salam mommy untuk kesayanganmu ya.” sambungnya.


“Em, tentu.” jawab Yuan. Pria itu kemudian melangkah pergi dari meja makan itu. Tapi sebelum pergi menjauh, Yuan terlihat melambaikan tangannya dengan senyum lebarnya ke arah semua anggota keluarganya. “Bye semuanya.” ujar Yuan.


“Hati-hati, jangan mengebut.” teriak Ana pada anaknya yang telah lenyap dari pandangannya.


“Maksud dari perkataanmu tadi apa?” tanya Ray ketika Ana tampak mulai memakan sarapannya kembali.


“Eh? Perkataan yang mana?”


“Kau tadi meminta Yuan menyampaikan salammu untuk kesayangannya. Itu maksudnya apa?” tanya Ray.


“Ah, apa jangan-jangan Yuan punya kekasih? Apa maksud kesayangan Yuan itu adalah kekasihnya?” sahut Alex.


Ana terlihat menatap Alex geram, pria itu memang hanya asal bicara. Tapi perkataannya itu sialnya adalah sebuah kebenaran yang hampir membuat Ana merasa tersedak oleh makanannya sendiri.


“Benarkah? Apa yang Alex katakan barusan, apa itu benar?” tanya Ray.


“Tidak, tentu saja tidak. Yuan mana mungkin punya pacar. Maksud perkataanku tadi itu untuk seekor kucing.” kata Ana, asal bicara, yang terpenting ia bisa lepas dari tatapan penuh selidik Ray.


“Apa? Kucing? Bagaimana mungkin seekor kucing bisa menjadi kesayangan Yuan?” tanya Alex.


“Iya benar. Kau sedang mencoba membodohiku?” ucap Ray.


Ana pun menghela nafasnya, sejujurnya, ia merasa idenya sudah menemui jalan buntu. Tapi bagaimanapun juga, dirinya harus berusaha melindungi hubungan anaknya dari terpaan badai yang ia sendiri tidak mengharapkannya.


“Itu kucingku, waktu itu kami tidak sengaja hampir menabrak seekor kucing yang sakit. Lalu karena kasihan, aku membawanya ke dokter hewan. Ada sekitar beberapa minggu kucing itu dirawat, setelah selesai di rawat aku meminta Yuan membawanya ke rumah temannya yang pecinta kucing. Sejujurnya, aku ingin membawa kucing itu pulang ke rumah. Tapi— Bukankah kalian berdua sama-sama alergi dengan bulu kucing?! Jadi karena aku masih memiliki rasa kasihan pada kalian berdua, makanya aku dengan sangat berat hati menitipkannya ke rumah teman Yuan.” ujar Ana, semua perkataannya itu adalah kebenaran dan juga kebohongan.


Benar memang kalau dirinya dan Yuan pernah hampir menabrak kucing sakit di area parkir restoran. Memang benar, kalau mereka kemudian membawa kucing itu ke dokter hewan dan di rawat di sana selama beberapa hari. Dan seratus persen memang benar kalau kucing itu sekarang tinggal di rumah teman Yuan, yaitu Julian si pecinta kucing.


Ana terpaksa menggunakan alibi yang saling berhubungan itu agar Ray percaya padanya.


“Kau mencoba menipuku kan?” tanya Ray, yang masih tampak ragu.


“Ck, terserah kau saja mau percaya atau tidak, aku sungguh tidak peduli. Kau itu memang kejam, tidak lagi percaya dengan kata-kataku, bahkan tidak lagi peduli dengan perkataanku. Aku membencimu.” ucap Ana, yang seketika langsung mengeluarkan aura amarahnya.


Setelah mengatakan hal itu, Ana terlihat meraih tasnya, lalu pamit pada sang ibu mertua, kemudian ia tampak berlalu pergi begitu saja dari ruang makan tanpa menghiraukan Ray yang menatapnya.


“Ana, tunggu aku. Kau benar-benar marah padaku ya?” ujar Ray sembari melangkah lebar menyusul istrinya yang sudah lebih dulu pergi dari ruang makan tersebut.


“Ck, dasar pasangan suami-istri itu, kadang terlihat sangat romantis, tapi tidak jarang selalu bertengkar. Aneh sekali.” ucap Alex.


•••


Suara decitan mobil yang terparkir bebas di depan sebuah gedung apartemen kecil membuat beberapa orang yang ada disana tampak mengalihkan fokusnya sesaat ke arah sumber suara tersebut.


Yuan dengan masa bodohnya terhadap tatapan orang-orang itu. Ia keluar dari dalam mobil mewahnya, lalu menutup rapat pintu mobil itu kembali. Setelahnya, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung apartemen kecil itu.


“Oh lihat, siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah datang ingin menjemput kekasihnya. Ck, kemana kau kemarin? Bibi tidak melihatmu menjemput Rose. Bibi kira kalian sudah berakhir, ternyata masih belum ya.” kata bibi Meng, wanita paruh baya yang tinggal di samping apartemen Rose.


Yuan menghela nafasnya, kemudian mengalihkan pandangannya dari bibi Meng, ia sungguh malas berbincang dengan wanita paruh baya yang baginya sangat menyebalkan dan aneh.


“Ck, sikap acuh tak acuhmu itu, bukankah sangat keterlaluan untuk wanita paruh baya sepertiku. Cih, ya sudahlah nikmati saja kencanmu. Semoga hubungan kalian bertahan lama sampai ke jenjang yang lebih serius.” ujar bibi Meng.


Mendapatkan doa baik seperti itu, Yuan pun langsung menolehkan kepalanya, menatap si wanita paruh baya. Walau Yuan merasa kesal dengan wanita paruh baya itu, tapi mendapatkan doa seperti itu, siapa yang tidak ingin berkata terimakasih.


“Terimakasih.” ucap Yuan, sekilas, hampir seperti angin semilir yang berlalu cepat. Bibi Meng pun sampai kesulitan mendengarnya.


“Apa? Kau senang aku mendo'akan hal baik untuk hubungan kalian? Ck, kau sungguh sangat mencintai Rose ya? Gadis itu sangat beruntung.” ucap bibi Meng.


“Kalau begitu, bersenang-senanglah kalian, semoga hari kalian menyenangkan. Ah iya, tolong kau jaga Rose baik-baik. Bagaimanapun juga, Rose itu sudah seperti keponakanku sendiri, dia sungguh baik sekali. Ah sudah, aku ini banyak berbicara, makanya kau merasa tidak suka berada di dekatku kan? Kalau begitu bibi pergi dulu. Sampai jumpa.” kata bibi Meng.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu kemudian pergi berjalan menjauh dari Yuan.


“Ck, membuang-buang waktu saja.” ucap Yuan, namun walaupun berkata seperti itu, ia tampak tersenyum ke arah wanita paruh baya itu.


Lalu kemudian, Yuan tampak mendekati pintu apartemen Rose, lalu beberapa kali mengetuk pintu apartemen itu.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu apartemen, Rose pun akhirnya membuka pintu apartemennya.


Gadis itu terlihat sudah berpakaian rapi, siap untuk pergi ke kampus.


“Yuan? Kenapa kau ada disini?” tanya Rose, ia heran, karena kemarin Yuan masih terbaring lemah di atas tempat tidur dengan selang infus yang melekat di tangan kiri pria itu.


Tapi sekarang, tiba-tiba Yuan sudah berdiri di hadapannya dengan kondisi yang seolah terlihat baik-baik saja.


“Memangnya aku tidak boleh datang ke tempat tinggal kekasihku sendiri?” kata Yuan sembari menerobos masuk ke dalam apartemen Rose.


“Bukan seperti itu, tapi kemarin kau masih terlihat kurang sehat, bagaimana bisa kau sekarang sudah ingin pergi ke kampus?”


Yuan mendengus kesal, apa yang Rose ocehkan padanya itu hampir mirip dengan apa yang ibunya katakan padanya juga.


“Aku baik-baik saja.” ucap Yuan yang kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.


Seperti sudah menjadi kebiasaan, pria iu terlihat memeriksa apakah Rose membuat sarapan atau tidak.


Tapi sepertinya, pagi ini Yuan harus menelan kekecewaan, karena Rose sama sekali tidak memasak. Rose pikir, Yuan tidak akan datang karena kondisinya yang masih belum membaik, jadi gadis itu memutuskan untuk tidak membuat sarapan seperti biasanya.


“Kau tidak masak ya?” tanya Yuan, layaknya seorang suami yang sedang menanyai istrinya.


“Tentu saja tidak. Aku mana tahu kalau kau akan datang menjemputku.” jawab Rose.


“Apa kau lapar? Aku bisa saja membuatkanmu sarapan, tapi— bukankah kita harus segera pegi ke kampus? Kalau aku membuatkanmu sarapan sekarang, nanti takutnya kita berdua terlambat masuk kelas mata kuliah pertama.” sambungnya lagi.


“Ck, katakan saja kau tidak ingin memasak untukku.” ucap Yuan yang kemudian berjalan menjauh dari area dapur apartemen kecil itu.


“Bukan seperti itu Yuan, aku— ”


“Sudahlah, lupakan saja. Aku hanya bercanda mengatakannya. Lagipula, aku sudah sarapan di rumah tadi. Tapi kau sendiri malah yang belum sarapan. Kau kenapa kalau aku tidak datang, kenapa tidak memasak untuk dirimu sendiri?”


Rose tersenyum mendengar perkataan Yuan itu, ia merasa begitu sangat di perhatikan oleh Yuan.


“Itu karena aku tidak terbiasa makan di waktu pagi. Jadi tidak masalah untukku kalau aku tidak sarapan. Kau tenang saja, tidak perlu khawatir.” jawab Rose.


Yuan menghela nafasnya,


“Ck, sudahlah, hanya masalah sepele seperti itu, kenapa kita harus mempeributkannya. Ayo segera pergi ke kampus saja.” kata Yuan, lalu kemudian, ia menarik lengan Rose untuk keluar dari apartemen tersebut dan pergi menuju mobilnya.


“Tapi, mulai besok kau harus membiasakan diri untuk sarapan. Sarapan itu baik untuk dirimu, setidaknya sebelum melakukan aktivitas, tubuhmu sudah memiliki energi dan asupan nutrisi.” ujar Yuan sembari berjalan dengan tangan yang menarik lengan Rose pelan.


“Ya.” jawab Rose.


•••


“Kai.” panggil sang ibu ketika pria itu hendak masuk ke dalam mobilnya.


“Ya?” ucap Kai sembari menoleh ke arah ibunya, Jeni.


“Kemarin ibu melihatmu dan nona muda Nana bergandengan tangan. Apa kalian berdua berpacaran? Tidak, tidak, bukan itu maksud ibu. Kau cukup katakan saja pada ibu, ibu salah menebak kan? Katakan kalau ibumu ini salah melihat.” ujar bibi Jeni.


“Ibu benar, ibu tidak salah lihat. Aku dan Nana memang berpacaran, kami memang sepasang kekasih.” ucap Kai.


Jeni yang mendengar jawaban yang tidak ia harapkan dari anaknya itu, dirinya terlihat shock. Mulutnya tampak terbuka, menampilkan ekspresi ketidakpercayaan terhadap apa yang baru saja ia dengar dari Kai.


“Kai, kau!” kata Jeni, wanita paruh baya itu kemudian terlihat meraih sebuah sapu yang ada di halaman depan rumahnya, lalu selanjutnya, sapu itu tampak ia ayunkan untuk memukul Kai yang ada di hadapannya.


“Aduh, ibu, ibu, apa yang ibu lakukan, ibu, sakit.” keluh Kai sembari berusaha menghindari pukulan sapu dari sang ibu.


“Kau, bagaimana bisa kau tidak tahu malu berpacaran dengan anak dari majikan ibu?! Kenapa kau tega melakukannya pada ibumu ini?! Bagaimana ibu akan menghadapi tuan besar kedua Alex?! Kau itu seharusnya tahu diri Kai! Ingat siapa dirimu itu!” kata ibunya.


💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐

__ADS_1


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


__ADS_2