The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Tinggal Bersama (bagian satu)


__ADS_3

Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Beberapa saat, Yuan tampak diam di tempatnya.


 


Tapi kemudian, pria itu berjalan mendekati Rose beserta kedua anaknya. Yuan berhenti sejenak untuk melepaskan kopernya, meletakkan koper tersebut di tengah ruangan itu begitu saja. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya, mendekat dan kini berdiri di hadapan tiga orang tercintanya.


 


Namun, entah bagaimana, pria itu merasa dirinya menjadi bisu seketika. Yuan tidak tahu harus berkata apa dan memulai perkataannya dari mana.


 


“Kenapa hanya diam saja? Kenapa tidak mengatakan sesuatu? Kalau ada yang ingin Paman katakan, katakan saja. Tapi kalau Paman hanya ingin diam seperti patung, lebih baik Paman keluar saja dari rumah ini,” sungut Yusen dengan ekspresi dinginnya.


Yuan tersenyum tipis, ia menatap kedua anaknya itu secara bergantian. Berapakali pun ia menatap mereka, rasanya tidak akan pernah puas. Mereka seperti batu permata yang menawan hati.


“Papa tidak punya rumah, bolehkah Papa tinggal di sini?” tanya Yuan.


Rose menatap Yuan terbengong. Ia tidak menyangka, pria cerdas seperti Yuan akan menggunakan alasan konyol pada dua anaknya yang pintar itu.


Jika saja ini sebuah pertunjukan langsung bergenre komedi, mungkin Rose akan tertawa terbahak-bahak.


Sayangnya, aura yang menyelimuti mereka saat ini adalah melodrama.


Rose hanya bisa diam, mengubur gejolak tawanya di dalam hati yang terdalam.


“Paman pikir kami ini bayi?” celetuk Yusen.


“Siapa yang berpikir seperti itu? Papa tidak pernah berpikir kalau kalian ini bayi,” jawab Yuan. Sekalipun Yusen memanggilnya dengan sebutan 'paman'. Tapi, Yuan tetap menyebut dirinya pada anak-anaknya itu dengan sebutan 'papa'.


Semua Yuan lakukan dengan harapan agar dua kakak-beradik kembar itu suatu hari nanti memanggilnya dengan sebutan seperti itu.


“Duduklah,” ucap Rose, mencoba mencairkan suasana.


“Mama mengijinkannya tinggal di rumah kita?” tanya Yusen.


“Benarkah, Ma?” Yuna pun ikut bertanya.


“Bukankah kalian mengijinkannya?” Rose balik bertanya, ia pikir perkataan Yusen tadi adalah bentuk penerimaan tidak langsung untuk Yuan.


“Apa diantara kami berdua ada yang pernah mengatakan kalau kami mengijinkannya tinggal di sini begitu saja?” ujar Yuna.


“Bukankah Mama sering bilang kalau kita tidak boleh membiarkan orang asing masuk ke rumah apalagi membiarkannya menginap? Apalagi orang asing ini seorang pria dewasa,” imbuh Yusen.


Kedua kakak-beradik kembar itu tiba-tiba terpadu dengan baik. Mereka berkolaborasi dengan sangat apik.


Rose terlihat menggigit bibir bawahnya, ia menatap Yuan yang tampak diam.


Pria yang biasanya memiliki segudang ide segar itu, kini kepalanya terasa kosong, tidak ada satu pun ide yang terlintas di kepalanya. Yuan bingung harus berkata apa lagi.


“Ehem,” Rose berdehem, “Begini, Yuna, Yusen. Soal itu, yang Mama maksud adalah orang asing yang benar-benar asing dan tidak ada salah satu pun diantara kita yang mengenalnya. Sedangkan... dia ini kan berbeda, dia adalah papa kalian,” jelas Rose, sehalus mungkin.


“Papa?” Yuna berkicau.


“Yusen, apa kita punya Papa?” kini gadis kecil itu bertanya pada adik kembarnya.


Yusen dengan tegas menggelengkan kepalanya, “Aku tidak yakin. Kalau papa yang dimaksud adalah orang yang tidak bertanggung jawab, mungkin kita punya, tapi apakah orang seperti itu pantas kita sebut papa?” tukas Yusen, benar-benar menusuk lembut ke dalam hati sang ayah.


“Yusen,” seru Rose, ia tidak suka dengan perkataan putranya itu. Yusen terdengar sangat tidak sopan.


“Apa Mama pernah mengajarimu berkata tidak sopan seperti itu pada orangtua?!” omel Rose.


Yusen diam, dia sadar kalau dirinya salah. Tapi Yusen enggan mengakuinya, karena ia merasa kalau pria dihadapannya itu pantas mendapatkan kata-kata kejam dari anak yang telah ditinggalkannya selama delapan tahun ini.

__ADS_1


“Mama membentakku untuk membela pria yang sudah meninggalkan Mama?” tanya Yusen, kesal.


“Yusen kecewa dengan, Mama,” imbuhnya, setelah itu ia turun dari kursi makan dan pergi menuju kamarnya.


“Yusen,” panggil Yuan, ingin mencegah kepergian putranya itu. Tapi, sebuah tangan kecil menahan lengannya.


Gadis yang tingginya hanya sebatas pinggang Yuan itu menatap ke arahnya dengan kepala menggeleng pelan.


“Jangan ganggu dia. Yusen hanya sedang bingung dengan semua ini, begitupun denganku. Merecoki kami dengan nasihat pun hanya akan membuat kami semakin kesal,” ujar Yuna.


Rose menghela napasnya, setidaknya ia sedikit tenang melihat Yuna yang sebenarnya tidak terlalu membenci ayah kandungnya.


“Yuna, kau tolong temani Yusen ya. Mama ingin membicarakan hal penting dengan Papa-mu,” kata Rose.


Yuna pun mengangguk paham, ia kemudian melepaskan pegangannya dari lengan Yuan.


Gadis kecil itu berjalan menuju kamar adik kembarnya, ia masuk ke dalam kamar Yusen tanpa mengetuk pintunya.


Melihat anak-anaknya yang telah masuk ke dalam kamar itu. Rose pun kini beralih fokus ke arah Yuan.


“Duduklah,” suruh Rose. Ia sendiri pun kemudian duduk di kursi makan itu.


Yuan menurut, ia menarik salah satu kursi, lalu duduk di sana dengan ragu.


Dua menit mereka berteman dalam hening.


Yuan terlihat ingin berbicara. Tapi perkataan Yusen yang menohok hatinya membuat bibirnya terasa kelu walau hanya sekedar mengucapkan sepatah kata saja.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Rose, memecahkan keheningan diantara mereka.


Yuan menoleh pada perempuan itu, ia menatapnya sesaat, lalu kembali menundukkan kepalanya.


“Baik, tapi sebenarnya tidak benar-benar baik,” jujurnya.


Rose tersenyum penuh pengertian. Ia menatap melas pria lusuh di hadapannya itu.


Kalau saja ia tidak mengenal siapa itu Yuan, mungkin dirinya akan mengira kalau pria dihadapannya ini adalah salah satu kliennya yang mungkin baru saja di usir dari rumah oleh istrinya.


Rose kembali menyunggingkan senyuman terbaiknya.


“Seperti yang kau lihat, aku baik. Sekarang aku punya rumah dan juga pekerjaan dengan gaji yang cukup untuk biaya kehidupan ku dan anak-anak,” katanya.


Mendengar Rose membahas biaya hidup, Yuan tertunduk, ia malu, merasa malu sekali.


Dirinya selama ini bergelimang harta. Mobil mewah di mana-mana. Rumah type seperti ini pun ia bisa membelinya puluhan. Tapi, dirinya bahkan tidak pernah sepeser pun membiayai kehidupan anak-anaknya dan ibu dari anak-anaknya.


“Mulai sekarang, biaya hidupmu dan anak-anak, aku yang tanggung,” tutur Yuan.


“Aku tidak memintamu melakukan itu,” ucap Rose.


“Ini insiatif ku. Aku ingin kau dan anak-anak hidup terjamin. Kau juga boleh berhenti bekerja,” balas Yuan.


Rose tersenyum miris, ia merasa seperti di cap sebagai seorang perempuan yang membuat dirinya sendiri hamil dengan seorang tuan muda. Lalu mendapatkan harta tuan muda itu karena melahirkan anak keturunannya.


“Kau pikir, aku ini perempuan macam apa?” tanya Rose, tidak suka.


Yuan tersadar. Bagaimana ia lupa dengan sifat Rose yang satu ini. Rose bukan penggila harta, juga bukan wanita murahan yang banyak berkeliaran di sekitarnya.


“Maaf,” ucapnya, kata itu lagi.


“Sekarang ke intinya saja. Sebenarnya, apa tujuanmu datang kemari dengan membawa serta barang-barangmu itu?” tanya Rose sembari menunjuk ke arah koper Yuan.


“Aku akan tinggal di sini,” jawabnya singkat.


Rose tersenyum miris lagi. Ini benar-benar Yuan, sifatnya sungguh sama dengan putranya, Yusen.


Alih-alih menggunakan kata 'ingin' sebagai wujud tanda permohonan dan harapan. Yuan malah menggunakan kata 'akan' yang secara tidak langsung ia memaksa Rose untuk menerimanya, mau tidak mau, suka tidak suka, Yuan akan tinggal di sana, bersama dirinya dan juga anak-anaknya.


“Apa kau sudah tidak waras?!” protes Rose.


“Aku memang sudah tidak waras sejak kehilangan dirimu,” jawabnya.

__ADS_1


Skakmat. Rose bergeming, ia juga tidak dapat berkata apapun.


“Aku lapar,” ucap Yuan dengan nada memelas sembari menatap makanan yang baru saja di makan sedikit oleh Yusen dan Yuna.


“Apa aku boleh memakannya?” tanya Yuan, bersamaan dengan itu, suara protes dari perut Yuan terdengar berbunyi.


“Maaf, aku benar-benar lapar,” jujur Yuan.


Rose menghela napasnya, “Ck, kau ini Presdir perusahaan besar. Tapi perutmu sampai mengeluarkan bunyi memalukan seperti itu. Kau sedang tidak dalam ambang kebangkrutan kan?” kata Rose, diakhiri dengan kalimat tanyanya.


“Aku tidak peduli dengan uang, bangkrut pun bukan masalah besar untukku. Sekarang yang terpenting adalah kau dan anak-anak kita,” tutur Yuan.


Rose terdiam, namun kemudian ia memalingkan wajahnya seraya berkata, “Kalau kau bangkrut, lebih baik aku cari pria lain saja untuk menjadi ayah anak-anakku. Pria lain yang lebih mapan dan kaya,” ujarnya.


“Dengar ya, hidup ini bukan hanya sekedar tentang cinta. Cinta tidak akan membuatmu hidup. Apalagi kalau sudah punya anak. Anakmu butuh makan, minum dan sekolah. Semua itu, memang nya cinta saja cukup? Tidak,” imbuh Rose.


Yuan terbengong, “Sejak kapan kau menjadi perempuan materialistis?” tanya Yuan, bukan sindiran, ia hanya merasa bingung dengan sifat wanita itu.


Tapi rasa geli juga menggeluti hatinya, ia merasa gemas dengan cara Rose menyampaikan perkataannya.


Wanita itu sebenarnya tidak yakin dengan apa yang ia katakan. Rose hanya sekedar menggertak Yuan.


“Sejak aku harus berjuang mati-matian membesarkan dua anakku seorang diri,” jawab Rose, tegas.


Satu panah beracun kembali menancap tajam di hati Yuan.


Ini semua salahnya, benar-benar salahnya.


Yuan tidak dapat berkata-kata. Makanan yang tadi sempat ia masukkan ke dalam mulutnya pun terasa menyangkut di tenggorokan.


Pria itu sampai terbatuk-batuk. Ia kini terlihat memukul-mukul dadanya, menyuruh makanan yang tersangkut itu keluar dari mulutnya atau lebih baik masuk ke dalam perutnya.


Rose awalnya tak acuh dengan kondisi Yuan. Tapi melihatnya yang benar-benar terdesak. Rose pun bergegas menuangkan satu gelas air minum untuknya.


“Ini, minumlah,” suruh Rose sembari mengelus pelan punggung Yuan.


“Ck, apa kau tidak bisa makan dengan benar?! Kenapa sampai tersedak?” oceh Rose, sebenarnya khawatir.


“Maaf,” ucap Yuan, untuk kesekian kalinya Rose mendengar kata itu lagi.


“Minum perlahan-lahan,” pesan Rose ketika pria itu mulai meminum air yang diberikan olehnya.


“Terimakasih,” ucap Yuan setelah meminum air tersebut.


Rose menghela napasnya. Lalu ia duduk di samping Yuan. Menatap pria yang kini menundukkan kepalanya.


“Maaf,” lirih Yuan yang terlihat salah tingkah dengan tatapan wanitanya itu.


“Kenapa meminta maaf? Cepat makanlah. Setelah selesai makan, jangan lupa masukkan piring kotornya ke tempat cuci piring,” ujar Rose, “Akan jauh lebih bagus kalau kau juga mencucinya,” imbuhnya.


Kemudian, Rose berdiri dari duduknya. Ia ingin pergi ke kamar anak-anaknya.


“Mau kemana?” tanya Yuan, menahan lengan Rose.


“Mau ke kamar anak-anak. Mereka harus tidur lebih awal, besok mereka ada ujian sekolah,” jawab Rose.


Yuan mengangguk paham, ia melepaskan lengan Rose. Tapi kemudian, ia berkata, “Aku ikut,” ucapnya.


“Tidak, jangan. Kau tidak lihat kalau Yusen belum bisa menerimamu? Biarkan mereka memenangkan diri, kau juga jangan terlalu keras memaksakan diri. Lebih baik lakukan secara perlahan-lahan dan bertahap,” saran Rose.


“Benar, kau benar. Baiklah, aku mengerti. Aku akan mendekati mereka secara perlahan dan bertahap,”


Rose tersenyum menanggapinya, “Aku senang kau bisa mengerti mereka. Kalau begitu sekarang makanlah. Tapi makan dengan hati-hati, jangan sampai tersedak lagi,” pesan Rose.


Yuan menganggukkan kepalanya, “Iya. Tapi Rose, aku sungguh senang mendapat perhatianmu kembali. Sebuah perhatian dari seseorang yang aku rindukan selama ini,” gombal Yuan.


“Ck, berhenti berkata manis, itu tidak akan membuatku meleleh. Aku pergi dulu,” sahut Rose, kemudian langsung melenggang pergi dari hadapan Yuan.


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍

__ADS_1


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme


__ADS_2