
“Cepatlah sembuh. Daddy tahu, anak daddy ini pasti kuat, tidak akan mungkin dapat dikalahkan oleh rasa sakit. Jadi tegakkan badanmu dan lekas sembuh, berjanjilah.” kata Ray.
“Ya, aku berjanji. Aku pasti akan sembuh secepatnya.” ucap Yuai
“Anak pintar.” kata Ray.
“Cih.” ucap Ana yang tampak tidak suka dengan sikap Ray itu.
“Cih? Kau sedang berdecih dengan suamimu ini ya? Tidak sopan. Sini, kemari. Biar aku ajarkan padamu sikap sopan santun sebagai seorang istri.” ujar Ray sembari mengibaskan tangannya, menyuruh Ana untuk mendekat.
Ana mendengus, lalu mengalihkan pandangannya dari sang suami, ia lebih memilih menatap Yuan, anaknya.
“Ck, lihat sikapmu itu. Buruk sekali, ayo kemari, biar aku menghukummu dan mengajarimu dengan benar.” kata Ray.
“Astaga. Mommy, daddy, kalian kalau ingin bertengkar jangan di kamarku. Pindah tempat sana, pergi ke kamar kalian sendiri dan bertengkarlah disana. Aku ini ingin istirahat.” keluh Yuan.
Kemudian, Ana menoleh pada putranya yang masih tampak pucat itu.
“Suruh saja dad mu pergi, mom akan tetap ada disini, menemanimu sampai kau sembuh. Mommy tidak akan mau pergi kemanapun.” ujar Ana.
“Lihatlah sikap mommy mu itu, kekanakan sekali.” sindir Ray.
“Sudahlah Ray. Lagipula, apa kalian berdua ini sama-sama dalam masa menopause?! Biasanya juga romantis, akur, tapi sekarang malah ribut, bertengkar, di depan anaknya lagi.” ujar nenek Calista.
Ray tampak ingin menanggapi perkataan sang ibu dengan kalimat maafnya. Tapi kemudian, tiba-tiba pintu kamar Yuan terdengar ada yang mengetuknya dari luar.
“Tuan muda Yuan, nona muda Nana dan teman-teman anda datang menjenguk.” ujar bibi Jeni dari luar kamar Yuan.
Si pemilik kamar, yaitu Yuan, ia pun mengernyitkan keningnya, lalu menatap sang ibu dengan raut wajah menuduhnya.
“Mommy ya yang suruh Nana datang? Kok dia bisa tahu kalau aku sakit? Dan juga teman-temanku? Maksudnya Kin, Kai dan juga Julian? Mommy kasih tahu mereka juga?” tanya Yuan.
“Kalau kau ingin mendapatkan jawaban pastinya, kenapa tidak menyuruh mereka masuk dan tanyakan langsung saja? Lagipula, kasihan mereka sudah datang jauh-jauh kemari tapi tidak segera kau suruh masuk.” ujar Ray, memberikan nasihatnya.
“Suruh saja mereka masuk bi.” ucap Ray pada bibi Jeni, ibunya Kai yang ada di luar kamar tersebut.
“Baik.” jawab bibi Jeni.
Setelah itu, pintu kamar Yuan tampak terbuka. Menampilkan sosok Nana yang masuk ke dalam lebih dulu, lalu diikuti oleh Kai dan sosok yang terakhir masuk ke dalam kamar itu, sungguh membuat Yuan mampu membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ana pun awalnya juga terkejut, tapi ketika memastikan jika penglihatan tidak salah. Ana akhirnya tersenyum melihat siapa yang telah ikut datang bersama Nana dan juga Kai.
“Eh? Nana, paman kira kau datang menjenguk Yuan dengan teman-teman Yuan yang lainnya, ternyata kau membawa temanmu juga. Bukankah ini Rose? Yang waktu itu katanya menoleh Kenan ya?” ujar Ray.
“I—iya ketua Ray.” ucap Rose.
“Panggil saja paman Ray, bukankah kau temannya Nana?”
“Paman, Rose ini bukan hanya teman Nana saja, tapi juga bawa teman dekat Yuan. Sangat-sangat dekat” ucap Nana sembari mengedipkan sebelah matanya pada Yuan yang tampak melototkan matanya ke arah Nana.
Ana yang menyadari sikap Nana dan juga Yuan itu pun tertawa kecil.
“Oh iya, paman tidak melihat Julian dan Kin, apa mereka tidak ikut datang?” tanya Ray.
“Oh, itu— mereka, Nana belum memberitahu mereka tentang kondisi Yuan. Jadi mereka belum tahu. Lagipula, tadi sepertinya mereka masih ada kelas.” jawab Nana.
“Baiklah, karena ada anak-anak muda disini. Lebih baik wanita tua ini pergi dulu, karena sudah di penuhi dengan anak muda seperti kalian, orang tua sepertiku harus undur diri.” sahut nenek Calista dengan senyum hangatnya.
“Nenek, apa yang nenek coba katakan. Tidak masalah jika nenek masih ingin duduk disini.” balas Nana.
“Tidak. Kalian para anak muda biasanya butuh privasi dari orang tua. Nenek juga harus istirahat. Yuan, grandma kembali ke kamar ya. Kau cepatlah sembuh.” ujar nenek Calista, ia kemudian berdiri dengan perlahan dari sofa yang tersedia disana.
“Iya, terimakasih grandma sudah mau datang ke kamarku dan menemaniku bersama mom.” ucap Yuan, yang dibalas dengan sebuah senyum hangat dari sang nenek.
“Biar Nana bantu nenek kembali ke kamar ya?” ujar Nana sembari membantu neneknya berdiri tegak.
“Tidak perlu sayang, kau disini saja, temani teman-temanmu dan Yuan mengobrol. Nenek masih bisa pergi ke kamar sendiri. Lagipula, diluar kamar, nenek bisa meminta papah pelayan.” kata nenek Calista.
__ADS_1
“Baiklah, tapi hati-hati ya.” ucap Nana yang dibalas dengan anggukan kepala oleh sang nenek.
Setelah itu, Nenek Calista berjalan pergi meninggalkan kamar milik Yuan itu.
“Ah kalau begitu, kita juga harus pergi suamiku. Biarkan anak kita berbincang dengan teman-temannya.” ujar Ana memecahkan keheningan yang sempat terjadi dalam beberapa saat.
“Eh? Tadi kau bilang tidak akan pernah mau keluar dari kamar Yuan sampai bocah itu sembuh? Sekarang tiba-tiba mengajakku keluar, kenapa jadi tidak konsisten seperti ini?” ucap Ray.
Ana tersenyum, senyum yang ia gunakan untuk menutupi rasa kesalnya terhadap sang suami. Masalahnya, Ray itu tidak bisa memahami situasi. Tadi itu karena belum ada teman-teman Yuan, makanya Ana berkata seperti itu.
Lagipula, disini juga ada Rose. Ana sangat ingat sekali, ketika putranya itu tidak sadarkan diri. Yuan terus-menerus mengigaukan nama Rose tanpa sadar. Karena itu, karena Rose ada disini. Ana harus mengajak Ray pergi, agar ia juga bisa memberi ruang untuk dua pasangan itu saling berbicara.
Dan lagi, siapa tahu, jika Yuan sudah bertemu Rose, anaknya itu bisa lekas sembuh dengan cepat. Itu yang Ana pikirkan.
“Apa maksudmu? Tadi itu kan situasinya berbeda dengan yang sekarang. Sekarang sudah ada teman-teman Yuan. Ingat kata ibumu, kalau anak muda butuh ruang dari para orang tua seperti kita.” kata Ana.
“Ayo kita keluar.” sambungnya lagi, ia kemudian berdiri dari sisi kiri ranjang Yuan, lalu berjalan mendekati suaminya dan menarik pelan suaminya itu menjauh dari kamar Yuan.
Ray yang di tarik oleh istrinya itu, ia hanya diam dan menurut saja.
Setelah Ana dan Ray keluar dari kamar Yuan, dan pintu kamar itu tertutup kembali dengan rapat. Keheningan terlihat menyelimuti kamar tersebut.
“Yuan.” panggil Rose, pada akhirnya ia harus memberanikan dirinya dan meningkatkan nyali-nya untuk mulai berbicara dengan sang kekasih yang masih tampak terbaring di tempat tidur dengan tubuh yang bersandar pada kepala ranjang.
“Hm.” jawab Yuan tanpa menolehkan wajahnya ke arah Rose.
Melihat sikap Yuan yang seperti itu, Rose terdengar menghela nafasnya, begitupun juga Nana, sepupu dari Yuan itu terlihat kesal dengan sikap Yuan.
“Aku— aku minta maaf.” ucap Rose dengan suara lirihnya.
Yuan pun akhirnya menoleh, menatap Rose yang langsung menundukkan kepalanya ketika Yuan berniat beradu pandang dengannya.
“Maaf? Maaf untuk apa?” tanya Yuan yang seolah tidak mengerti dengan apa yang Rose katakan. Padahal dirinya itu seratus persen paham dengan arah pembicaraan Rose.
“Yuan, tolong jangan berpura-pura tidak tahu. Kau itu sedang sakit tapi masih sangat menyebalkan sekali. Ck, mungkin saja sakitmu itu adalah karma karena terlalu sering membuat orang kesal dan mengumpat kepadamu.” ujar Nana.
“Nana, apa yang kau katakan? Aku minta padamu untuk jangan berkata seperti itu. Ingat, perkataan terkadang bisa menjadi do'a, kau tentu tidak ingin kan melihat sepupumu ini sakit terus.” kata Kai memberikan nasihatnya kepada sang kekasih.
Rose yang melihat Yuan tidak berhenti batuk pun langsung mengambil inisiatif, gadis itu meraih segelas air mineral di atas nakas yang sepertinya sengaja di sediakan untuk Yuan.
“Yuan, apa kau baik-baik saja? Ini, minumlah.” ucap Rose sembari menyodorkan segelas air mineral tersebut ke arah Yuan.
Kemudian, Yuan tampak diam, masih di iringi dengan batuk-batuknya. Pria itu terlihat tidak berniat sedikitpun menerima air mineral yang Rose sodorkan padanya. Hal itu membuat Rose merasa canggung dan memilih menundukkan pandangannya dari tatapan datar Yuan.
“Kau tidak lihat tanganku sedang di pasang infus? Bantu aku minum.” ucap Yuan yang langsung membuat Rose mendongakkan kepalanya menatap wajah kekasihnya.
“Eh?”
“Eh? Kenapa malah berkata eh?! Aku bilang, bantu aku minum, cepatlah, tenggorokanku sudah gatal sekali.” ujar Yuan, benar-benar terlihat tidak sabaran.
“Ck, lihatlah dirimu itu, berpura-pura tidak peduli padanya. Tapi juga masih butuh kasih sayangnya, cih munafik sekali.” sindir Nana, tapi sindirannya itu sepertinya diabaikan oleh sang sepupu.
“Nana, sudahlah. Baguskan kalau Yuan masih menginginkan kasih sayang dari Rose, itu artinya dia tidak sepenuhnya marah pada Rose.” bisik Kai.
“Kenapa hanya diam saja?! Jangan pedulikan orang yang sedang iri itu. Cepat bantu aku minum.” ujar Yuan pada Rose yang masih diam.
Setelah Yuan berkata seperti itu, Rose langsung bergerak, dengan hati-hati ia membantu Yuan meminum segelas air mineral tersebut.
Selesai Yuan meneguknya habis, Rose meletakkan kembali gelas yang telah kosong itu ke atas nakas.
“Kau. Duduklah di sini.” ucap Yuan sembari menepuk-nepuk sisi ranjang bagian kanannya yang kosong, menyuruh Rose untuk duduk disana.
“Yuan, kau ini sedang ingin mencoba pamer kemesraan di atas tempat tidur bersama Rose ya?! Rose, jangan naik ke atas ranjang Yuan. Kau jangan lupa, ini rumah keluarga Gavin. Siapa yang tahu kalau paman Ray menempatkan beberapa kamera pengintai di kamar ini. Rose, kau lebih baik duduk di pinggir ranjang yang sebelah kiri, dekat kursi itu.” ujar Nana.
“Ck, kau ini bodoh ya?! Di rumah memang ada banyak kamera pengawas. Tapi kamera pengintai tidak mungkin ada, memangnya aku ini tahanan?! Apalagi ini kamarku. Tidak akan mudah bagi orang luar termasuk orangtuaku untuk mengotak-atiknya.” kata Yuan, membantah tuduhan Nana.
“Yuan, walaupun perkataan Nana tadi itu tidak benar. Tapi ada beberapa kata yang sedikit benar. Aku rasa lebih baik aku duduk disisi kiri in, di pinggir ranjangmu. Lagipula, ini kan di rumahmu. Bagaimana kalau nanti aku ikut duduk bersamamu di atas ranjang, lalu tiba-tiba orangtuamu masuk. Bagaimana kita harus menjelaskannya?” ujar Rose.
__ADS_1
“Ya tinggal katakan saja kalau itu hanya kesalahpahaman. Lagipula, disini juga ada Nana dan Kai, mereka bisa menjadi saksi dan juga bukti kalau kita tidak sedang melakukan apa-apa.” jawab Yuan, menyanggah pendapat Rose.
“Astaga, pria bodoh ini, kau masih belum mengerti juga ya?! Maksud dari perkataan Rose itu, ia tidak ingin membuat paman Ray dan bibi Ana menilai Rose sebagai gadis yang buruk. Apa kau mau melihat pacarmu ini di nilai rendah seperti itu karena ulahmu sendiri?!” kata Nana.
“Nana, kau berkata keras seperti ini, bagaimana kalau paman Ray dan bibi Ana atau yang lainnya mendengar perkataanmu? Bisa pelankan sedikit suaramu itu tidak?” ujar Kai.
Nana pun menoleh pada kekasihnya,
“Hah— ya ampun, bukankah selama ini kau berteman baik dengan Yuan. Kita bertiga sudah saling bersama sejak kecil. Apa kau lupa kalau kamar Yuan ini kedap suara. Orang dari luar kamar tidak akan mampu mendengar apa yang sedang kita bicarakan, sekalipun kau berteriak, kecuali jendela kamar terbuka, baru orang bisa dengar.” kata Nana.
“Benarkah? Apa benar seperti itu, Yuan?” tanya Kai pada temannya.
“Ck, Kai, maaf karena tidak pernah mengajakmu dan yang lainnya masuk ke kamarku. Ya, itu memang benar.” jawab Yuan.
“Rose, kenapa masih diam di tempatmu. Kalau kau tidak mau duduk di sisi yang kosong ini, setidaknya duduklah di tempat mommy-ku duduk tadi, disebelah sini, dekat denganku.” ucap Yuan.
“Eh, iya baik.” kata Rose yang langsung duduk disisi kiri Yuan.
“Jadi kau sudah memaafkannya?” tanya Nana.
“Maaf untuk apa?” tanya Yuan, masih berpura-pura tidak mengerti.
“Masalah tempat magang Rose yang sama dengan Feng.” ucap Nana.
“Aaa— itu, aku tidak akan memaafkannya sampai dia pindah tempat magang.” jawab Yuan sembari menatap Rose lembut.
“Kau tidak mau memaafkannya, tapi masih ingin bersikap romantis bersamanya. Benar-benar, kau ini. Kalau saja kau tidak sakit seperti ini, aku pastikan rambutmu itu sudah botak.” ujar Nana yang terlihat geram dengan sepupunya itu.
“Nana, jangan terbawa emosi.” nasihat Kai.
“Yuan, haruskah aku pindah tempat magang? Aku kan sudah mengurus berkas-berkasnya, tinggal hitungan hari lagi aku akan magang di firma hukum Anyu. Bisakah kau kesampingkan rasa cemburu mu pada Feng? Lagipula, walaupun kami satu tempat magang, tapi ruangan kami berbeda. Yana sudah mengaturnya untukku.” ujar Rose.
“Tidak.” jawab Yuan, singkat, padat, jelas dan juga penuh penekanan.
“Yuan— ”
“Jangan bahas tentang masalah itu lagi.” sela Yuan.
“Tapi kita harus membahasnya.” ucap Rose.
“Terserah kau saja, aku akan berpura-pura tidak mendengarnya jika kau masih ingin membahas tentang masalah magang itu lagi.” ujar Yuan sembari mengalihkan pandangannya dari Rose.
Melihat sikap Yuan yang seperti itu, Rose sampai menghela nafas beratnya,
“Yuan, tidakkah kau ingin mendengarkan alasanku, kenapa aku ingin magang disana? Sebelum kau marah seperti ini, kenapa kau tidak bertanya tentang alasanku?” tanya Rose.
“Tentang alasanmu magang disana? Bukankah waktu itu kau sudah pernah mengatakannya secara langsung padaku? Kau bilang, kalau kau dari dulu sangat ingin magang di firma hukum Anyu yang sangat terkenal itu, bisa magang dan mendapatkan pengalaman disana adalah impianmu. Begitukan? Aku masih ingat.” ujar Yuan.
Dengan ragu, Rose menyentuh tangan kiri Yuan yang tampak terpasang infus di punggung tangannya, gadis itu terlihat mengusap pelan tangan pria itu.
“Itu memang salah satu alasanku. Tapi alasan yang lebih mendasar adalah— karena aku ingin magang bersama Yana. Sudah dari lama kami saling berjanji untuk magang di tempat yang sama. Yuan, sama seperti kau, Kai, Kin dan Julian, aku dan Yana juga berteman baik sejak lama. Tidak mungkin hanya karena pacarku yang memintaku untuk pindah tempat magang, aku jadi harus mengingkari janji dengan teman baikku.” kata Rose
“Kalian berdua sama-sama pentingnya bagiku, karena itu awalnya aku sangat bingung harus memilih yang mana. Tapi mengingat semua kebaikan Yana padaku, aku sungguh tidak mampu mengingkari janjiku padanya. Yuan, setelah mendengar ini, apa kau bisa memahami diriku? Aku mohon padamu.” sambungnya.
Setelah itu, semua terlihat diam. Yuan bahkan sama sekali tidak merespon. Lalu kemudian, pria itu tampak mendengus, membuat hati Rose mendesah pelan, dari dengusan Yuan itu, Rose berpikir kalau Yuan masih kekeuh ingin ia pindah tempat magang.
“Baiklah, kau tidak perlu pindah tempat magang.” ucap Yuan yang terdengar seperti angin segar bagi Rose.
“Eh? Itu, apa yang baru saja kau katakan?” tanya Rose.
“Apa aku perlu mengulanginya lagi?!”
“Tidak, tidak perlu. Tapi— benarkah? Kau sungguh setuju? Tidak akan marah lagi kan?”
“Memangnya kapan aku marah? Aku itu tidak marah, hanya tidak suka saja.” ujar Yuan, menyanggah.
“Ah iya iya baiklah, yang terpenting kau sudah setuju kalau Rose akan magang di firma hukum itu.” sahut Nana.
__ADS_1
💐 thanks for reading this novel. don't forget to favorite, like, comment and vote.💐
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍