The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Bertemu Keluarga (bagian dua)


__ADS_3

Sebelumnya, terimakasih banyak💕 untuk kalian terlove yang sudah vote novel ini. Ty very much 💖


Selamat datang kembali di novel The Destiny 2 : Extraordinary Love


Mohon untuk meninggalkan Komentar positifnya, Like, Vote, dan jangan lupa untuk klik Favorit.


SELAMAT MEMBACA


✴✴✴


Sesampainya di mobilnya. Yuan menurunkan putrinya itu pada kursi penumpang, ia mengusap lembut wajah Yuna yang masih memerah.


“Kau baik-baik saja?” tanya Yuan, putrinya itu mengangguk, “Pasti sakit ya?” tanya Yuan lagi. Kali ini Yuna hanya diam, ia tidak mampu menjawab.


“Setelah ini, tidak akan ada yang berani mengganggu kalian, Papa janji” ujar Yuan sembari mengecup lembut kening putrinya itu.


“Baiklah, mari lupakan apa yang sudah terjadi. Sekarang Yuna katakan pada Papa, kemana Yuna ingin pergi?” tanya Yuan, mengalihkan topik pembicaraan, agar putri kecilnya itu kembali ceria dan bersemangat lagi.


Yuna menoleh ke arah Yusen yang ada disampingnya, seperti meminta pendapat kepada adik kembarnya itu.


Yusen pun tersenyum tipis ke arahnya. Lalu, pria kecil itu terlihat menganggukkan kepalanya.


“Aku ingin pergi ke toko mainan yang waktu itu,” ujar Yunara kemudian.


“Toy store Tnp Group?” tanya Yuan.


Yuna mengangguk, “Em, iya, aku ingin boneka Grizzly bear nya,” ucap Yuna, terasa menggemaskan di telinga sang ayah.


“Boneka Grizzly bear ya. Baik, Papa akan menghubungi pihak toko agar menyiapkannya untukmu,” kata Yuan sembari mengusap wajah putrinya itu lagi.


“Bagaimana dengan mu, Yusen? Kau ingin mainan seperti apa?” tanya Yuan.


Yusen menggelengkan kepalanya, “Tidak ada,” jawabnya singkat.


“Yusen tidak terlalu suka bermain-main dengan mainan anak-anak, jadi wajar saja kalau dia berkata seperti itu,” kata Rose, ia tak ingin Yuan merasa kecewa dengan jawaban dari putranya itu.


Yuan mengangguk paham, “Aku mengerti,” ucap Yuan.


“Baiklah, ayo kita berangkat,” ujar Yuan, setelah itu ia menutup pintu mobil nya. Lalu berpindah menuju kursi kemudi. Yuan pun masuk ke dalamnya, ia duduk, menunggu Rose masuk ke dalam mobil juga.


Setelah Rose masuk dan memakai sabuk pengamannya. Yuan pun menyalakan mesin mobilnya. Lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan normal, keluar dari area sekolah dasar itu.


•••


Ana tersenyum tipis melihat pantulan dirinya pada cermin di hadapannya itu.


“Kau sudah siap?” tanya Ray.


“Kenapa lama sekali? Padahal kita hanya akan pergi ke toko mainan,” kata nya mengeluarkan protesnya.


Ana menoleh ke arah suaminya itu, lalu kemudian kembali fokus pada cermin di hadapannya.


“Bukankah setelah pergi ke toko mainan, kita akan pergi ke rumah Rose, menemui cucu kita? Tentu saja aku harus berdandan dan berpenampilan baik, agar mendapat kesan bagus dari cucu-cucuku,” ujar Ana.


“Ck, kau pikir ini ajang pencarian bakat? Siapa yang akan menilaimu dari penampilan? Lagipula, mereka itu hanya anak kecil, tidak paham dengan apa yang kau maksud barusan,” tutur Ray.


“Iya, iya, aku mengerti, ayo cepat kita berangkat,” ujar Ana sembari meraih tas branded milik nya.


Ray menghela napas pendek nya. Sejak kapan istrinya itu gila penampilan? Seingatnya, dulu Ana sangat masa bodoh dengan penampilan, wanita itu sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan orang lain nilai darinya.


Tapi sekarang, Ana bahkan rela berdiri berjam-jam di depan cermin untuk memperbaiki penampilannya dengan alasan agar dirinya elok di pandang oleh cucu-cucunya.


“Dasar wanita,” gumam Ray ketika istrinya itu sudah keluar dari dalam kamar mereka.


•••


Mobil yang Yuan kendarai telah terparkir apik di basemen pusat perbelanjaan itu.


Yuan terlihat keluar dari dalam mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Rose. Setelah itu, ia berlari kecil menuju kursi penumpang di sisi kiri, di sana, Yuna menunggu ayahnya  membukakan pintu mobil untuknya.


“Ayo, keluar,” ajak Yuan, pria itu menggendong tubuh putrinya, Yuna tidak memprotes. Gadis itu sejak awal memang suka dengan tindakan ayahnya itu. Yuna merasa nyaman berada dalam rengkuhan tubuh sang ayah.


“Yusen, kau bisa keluar sendiri kan?” tanya Yuan, takut kalau ia di kira pilih kasih pada salah satu anak kembarnya.


“Aku ini laki-laki, apa Paman pikir aku akan iri dengan Yuna yang paman gendong itu,” ujar Yusen.


Yuan tersenyum, “Tidak, Papa tidak mungkin berpikir seperti itu. Kau itu kan jagoan Papa,” katanya.


Yusen tanpa sadar menyunggingkan senyumnya, kemudian pria itu melangkah lebih dulu, berjalan beriringan dengan ibunya. Sedangkan Yuan, pria itu mengikuti mereka bersama Yunara yang ada dalam gendongan.

__ADS_1


•••


Ana masuk ke dalam sebuah toko baju bermerk ternama. Ia mulai mendekati satu persatu rak baju yang ada di sana. Lalu, memilah-milah baju yang berisikan pakaian anak-anak itu.


“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?” tanya seorang pegawai toko itu, ia menyambut Ana ramah.


Ana menoleh ke arah Ray. Suaminya itu terlihat diam berdiri di sampingnya.


“Kami sedang mencari pakaian untuk cucu kami. Apa kalian ada rekomendasi pakaian terbaru musim ini?” tanya Ana.


Pegawai toko itu tersenyum, ia kemudian mengangguk, “Tentu saja ada, mari ikut saya. Saya akan tunjukkan,” jawabnya sesopan mungkin.


Ana pun mengikuti pegawai toko itu, lalu kemudian mereka berhenti pada salah satu etalase yang berisi baju khusus limited edition.


“Ini adalah pakaian terbaik musim ini. Beberapa ada yang di jual terbatas, ada yang eksklusif dan ada juga yang standar. Nyonya bisa memilih nya sesuai dengan selera nyonya,” jelas pegawai toko itu.


“Kalau begitu, rekomendasikan padaku pakaian yang di jual terbatas dengan bahan dan kualitas yang bagus,” ujar Ana.


“Kalau boleh tahu, ukuran berapa yang biasa cucu Nyonya pakai? Dan, cucu anda, laki-laki atau perempuan?” tanya pegawai toko itu.


“Cucu saya kembar, jadi rekomendasikan saja dua pakaian yang berbeda sekaligus,” tutur Ana.


“Dan untuk ukurannya...,” Ana tampak diam berpikir, ia belum pernah bertemu Yusen dan Yuna, karena itu dirinya tentu saja tidak tahu berapa ukuran baju yang biasa mereka kenakan.


“Rekomendasikan saja pakaian anak umur delapan tahun ke atas,” sahut Ray yang paham dengan kesulitan istrinya itu.


“Delapan tahun ke atas ya. Baik, tunggu sebentar, Tuan, Nyonya,” ucap pegawai toko itu sembari mengulas senyuman-nya selalu.


Lalu kemudian, dengan sarung tangan putihnya. Pegawai toko itu membuka kaca salah satu etalase. Setelah itu, ia mengambil salah satu set pakaian anak laki-laki.


“Ini untuk pakaian anak laki-laki umur delapan tahunnya. Bahannya sekilas memang terlihat seperti denim biasa, tapi sebenarnya ini terbuat dari bahan khusus yang di import dari negara Eropa. Kualitasnya bisa anda rasakan sendiri ketika menyentuhnya. Satu set pakaian ini hanya ada tiga di dunia, dan salah satunya ada di toko kami,” urai pegawai toko itu memasarkan pakaian tersebut.


Ana tersenyum, melihat pakaian anak kecil itu saja rasanya ia sudah sangat senang. Apalagi ketika dirinya benar-benar melihat Yusen dan Yuna secara langsung.


“Kami ambil yang ini,” ujar Ray, mendahului Ana yang masih diam saja.


“Kau tidak ada masalah kan kalau aku memilih pakaian ini?” tanya Ray kemudian.


Ana menggelengkan kepalanya, “Aku suka desain nya. Kami ambil yang ini,” kata Ana kemudian.


Pegawai toko itu kembali mengulas senyumnya, “Ah baik, akan kami kemas,” ujar nya sembari mengambil pakaian yang di pilih oleh Ray dan Ana itu. Lalu kemudian, ia memberikan satu set pakaian itu kepada pegawai toko yang lain, menyuruh mereka untuk mengemas nya.


“Oh iya, tunggu sebentar,” jawab pegawai toko itu ramah. Ia pun kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan yang merupakan tempat barang-barang khusus berada.


“Untuk pakaian anak perempuan. Ini ada satu rancangan khusus yang di buat oleh desainer dalam negeri. Gaun ini hanya ada satu di dunia ini,” kata pegawai toko, kembali memasarkan produknya.


Lagi-lagi Ana tersenyum senang. Melihat gaun dengan panjang kurang lebih selutut Yuna.


“Kami ambil yang ini juga,” ujar Ana tanpa ragu.


Pegawai itu mengangguk-anggukkan kepalanya, ia kemudian memberikan pakaian tersebut kepada pegawai toko lainnya untuk di kemas.


“Silahkan lakukan pembayaran di meja kasir untuk mengambil barang belanjaan Tuan dan Nyonya,” kata pegawai toko itu memandu.


•••


Yuna tersenyum sumringah. Ia memeluk boneka Grizzly bear edisi terbatas itu dengan erat.


“Kau suka?” tanya Yuan sembari mengusap pipi kiri Yuna yang sudah tidak memerah lagi.


Yuna mengangguk cepat. “Sangat suka,”


“Baguslah, Papa senang mendengarnya,” tutur Yuan.


“Sekarang Yuna mau pergi kemana lagi?” tanya Yuan kemudian.


Yuan tampak berpikir, lalu kemudian bunyi yang keluar dari dalam perutnya seolah menjadi jawaban tidak langsung kemana mereka akan pergi selanjutnya.


“Sepertinya kita sudah mendapatkan jawabannya,” kata Yuan diselingi tawa renyahnya.


Sedangkan Yuna, gadis kecil itu tampak membenamkan wajahnya, malu.


“Ck, perutmu itu terlalu jujur,” sindir Yusen, sang adik kembar.


“Ma, lihat Yusen, dia menyindirku,” adu Yuna.


Rose menghela napasnya, sikap kedua anaknya telah kembali seperti semula.


Yusen yang suka menggoda dan mengganggu Yuna, dan Yuna si tukang adu.

__ADS_1


Yuan terkekeh melihat pertengkaran kecil kedua anaknya itu.


Lalu kemudian, ia kembali menggendong tubuh putrinya.


“Ayo kita cari tempat makan,” ajak Yuan.


Rose mengangguk, ia kemudian menggenggam tangan putranya, Yusen.


Mereka pun berjalan keluar dari toko mainan milik perusahaan Tnp Group itu. Terlihat, para pegawai toko yang tentunya mengenal Yuan pun mereka membungkuk hormat ke arah empat orang itu.


“Rose,” panggil sebuah suara.


“Yuan,” lanjut suara itu lagi


Kedua orang yang di merasa namanya di panggil pun mereka berhenti melangkah.


Baik Yuan ataupun Rose, keduanya sama-sama sudah tahu siapa yang telah memanggil nama mereka.


Rose menoleh lebih dulu, ia menoleh ke arah wanita yang telah memanggil namanya itu.


Sudah lama, lama sekali rasanya Rose tidak melihat wajah ayu nan lembut itu.


“Mommy,” ucap Yuan.


Wanita yang di panggil 'mommy' oleh Yuan itu pun berjalan cepat mendekati keduanya.


Sesampainya di hadapan Rose dan Yuan. Ana tanpa ragu memeluk Rose, rasa bersalah yang ia pendam selama beberapa tahun pun tumpah terurai menjadi air mata penuh rasa haru.


“Sudah lama sekali,” ucapnya.


“Bagaimana kabar anda, Nyonya Ana?” sapa Rose tak mengurangi rasa hormatnya sedikitpun. Menengok pada masa lalu, bagaimanapun juga, dulunya Rose adalah bawahannya Ana. Rasa hormat pun terasa mengakar di hati wanita berusia tiga puluhan tahun itu.


“Bagaimana bisa kau bertanya kabarku dengan tenang tanpa dendam sedikitpun? Aku selama ini merasa bersalah padamu. Karena ku, demi ibunya dan keluarga nya, Yuan harus meninggalkan dirimu untuk sementara waktu. Tapi kau, kau sekarang bahkan tidak terlihat marah padaku sama sekali,” ujar Ana.


“Kenyataan ini membuat hatiku semakin merasa bersalah padamu,” lanjutnya.


Rose tersenyum tipis. Ia sendiri pun juga tidak tahu kenapa dirinya sangat mudah sekali memaafkan Yuan? Dan perihal Ana, Rose tidak pernah berpikir untuk menyalahkan wanita lanjut usia itu. Karena, bagi Rose, Ana itu seperti malaikat tanpa sayap, ia sangat baik, hingga membuat orang lain pun merasa enggan memberinya predikat jahat.


“Mereka— ” kini Ana beralih fokus ke arah dua Yusen dan Yuna.


“Yusen, Yuna, ayo beri salam untuk Nenek kalian,” pinta Yuan. Berharap agar kedua anaknya itu mau menerima ibunya.


“Halo, Nenek, aku Yuna,” sapa Yuna.


“Ah ya ampun, kau cantik sekali. Sungguh mirip dengan ibumu,” puji Ana.


“Dan ini...,” Ana memandang Yusen. Pria kecil yang mirip dengan Yuan itu sejak tadi hanya diam saja.


“Yusen, ayo perkenalkan dirimu,” suruh Rose pada putranya itu.


“Yusen,” ucapnya singkat.


Mendengar jawaban singkat dari putra kecil Rose itu. Ana malah tertawa renyah.


“Maaf, Nyonya Ana. Yusen memang sedikit kaku, dia tidak pandai berkata-kata manis,” jujur Rose, merasa tidak enak dengan sikap Yusen yang terlihat dingin itu.


“Tidak, tidak masalah. Sikapnya itu malah membuatku merasa muda kembali. Rasanya seperti sedang bernostalgia ke beberapa puluh tahun yang lalu. Dia benar-benar mirip dengan Yuan saat Yuan masih seusianya, benarkan Ray?” ungkap Ana sembari meminta dukungan pada suaminya yang hanya diam bergeming.


“Ah, iya benar,” sahutnya cepat.


“Aku rasa bukan hanya wajahnya saja yang mirip. Tapi sifat dingin Yuan juga melekat padanya,” kata Ray.


“Mommy, Dad, bisakah kalian tidak membongkar sifat-sifat burukku di hadapan anak-anakku?” keluh Yuan, ia merasa malu.


 


 


💐thanks for reading this novel. Don't forget to FAVORITE, LIKE, COMMENT, AND VOTE!💐


✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍


NP : Bab ini belum sempat di edit. Jadi mohon di maklumi kalau ada beberapa kata yang typo/ acak-acakan. Kemungkinan akan di edit dan di perbaiki besok. Terimakasih.


Jika ingin meng-copy paste beberapa kata-kata yang ingin di share silahkan. Tapi, harap sertakan judul novel beserta nama penulisnya. Mari saling menghormati dan menghargai. #TolakPlagiarisme


 


 

__ADS_1


__ADS_2