The Destiny 2 : Extraordinary Love

The Destiny 2 : Extraordinary Love
Perasaan Nana


__ADS_3

Malam itu Nana terlihat sedang berkutat pada laptopnya, ia sedang menyelesaikan tugas kuliahnya di jurusan seni musik modern.


Gadis itu terlihat fokus, sampai ia tidak sadar jika seseorang telah membuka pintu kamarnya.


Yohan yang baru saja pulang dari kantor dan masih mengenakan pakaian kerjanya itu masuk ke dalam kamar anak tirinya itu, ia berjalan mendekati Nana yang masih belum menyadari kehadirannya.


"Ehem." Yohan berdehem sembari duduk di sisi ranjang.


Nana sontak menolehkan kepalanya, ia mengarahkan pandangannya mencari asal suara deheman itu. Lalu tatapannya tertuju pada sang ayah yang duduk menatapnya.


"Ayah, ada apa?" Tanya Nana. Gadis itu melepas kacamata yang dikenakannya, lalu memutar posisinya menghadap sang ayah.


"Apa kau sedang sibuk?" Yohan balik bertanya.


Nana menggelengkan kepalanya,


"Tidak juga. Jadi, ada apa ayah?" Tanya Nana.


Semenjak Nana besar, Yohan sangat jarang sekali datang ke kamar Nana, pria itu datang hanya ketika ada hal penting yang ingin dibicarakannya bersama putri tirinya itu.


"Bukan apa-apa, ayah hanya ingin mengobrol sebentar saja dengan mu. Apa kau ada waktu? Ah tidak, apa kau bisa meluangkan waktumu sebentar?"


"Tentu saja." Jawab Nana.


"Emm, bagaimana kuliahmu?" Tanya Yohan.


"Berjalan dengan baik seperti biasanya." Jawab Nana.


"Benarkah?"


"Iya." Jawab Nana.


Yohan kemudian diam, yang juga membuat Nana diam, gadis itu menunggu pertanyaan selanjutnya dari ayah tirinya itu.


"Ayolah ayah, katakan saja intinya, apa yang sebenarnya ingin ayah katakan kepadaku?" Tanya Nana.


Yohan menatap gadis itu masih dalam diam, sejenak ia menghela nafasnya.


"Seminggu lagi kau wisuda jurusan manajemen bisnis kan?"


Nana mengangguk,


"Iya." Jawabnya.


"Apa— apa kau juga mengundang Alex untuk datang ke acara kelulusan mu itu?" Tanya Yohan.


Pertanyaan itu membuat Nana tampak mengernyitkan keningnya sekilas, tapi kemudian ia menampilkan seutas senyuman diwajahnya.


"Iya." Jawab Nana.


"Tidak masalah kan? Apa ayah merasa keberatan atau—"


"Tidak, tidak sama sekali. Ayah tidak masalah jika kau mengundangnya, lagipula dia itu kan ayah kandungmu, kau tidak bisa mengabaikannya begitu saja kan? Dia juga harus merasakan hari bahagiamu itu juga kan?"

__ADS_1


"Em, iya." Jawab Nana yang disertai dengan anggukan kepalanya.


"Tapi Nana—" Yohan menggantungkan perkataannya sejenak.


"Tapi apa ayah?" Tanya Nana yang menunggu kelanjutan dari perkataan ayah tirinya itu.


"Kau mengundangnya sebagai apa? Apa kau juga mengundangnya sebagai walimu?" Tanya Yohan.


Nana tampak diam sejenak, ia menundukkan kepalanya, tapi itu hanya sebentar saja. Gadis itu kembali mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Yohan sang ayah tiri yang sudah membantu ibunya untuk merawat dan menjaganya sampai ia sebesar ini.


Nana menatap wajah pria paruh baya itu dengan senyum tulus yang terukir di wajahnya.


Jika memang itu yang ayah harapkan, maka jawabanku adalah —


"Hanya ibu dan ayah yang aku undang sebagai waliku." Jawab Nana, senyumannya tidak pernah luntur dari wajah gadis itu.


Mendengar jawaban dari anak tirinya itu, Yohan tampak menghembuskan nafasnya, kemudian membalas senyuman Nana. Pria paruh baya itu beranjak dan berjalan mendekati Nana, di usapnya puncak kepala putri tirinya itu dengan lembut.


"Istirahatlah, ini sudah malam. Jaga kesehatanmu. Besok pagi ayah akan mengantarmu ke kampus. Selama malam, Nana." Ucap Yohan, setelah itu ia pergi keluar dari kamar Nana.


Nana menatap pintu kamarnya dengan pandangan kosong, setelah Yohan keluar, mata gadis itu terlihat berkaca-kaca, buliran air mata perlahan-lahan menetes, mengalir ke pipinya.


"Aku tidak bisa berkata-kata lagi, yang satu ayah kandung ku, yang satu ayah yang sudah menjaga dan merawatku. Sampai kapan aku harus bersikap baik-baik saja?" Gumam Nana, isakan kecil terdengar keluar dari mulut gadis itu. Sesekali tangannya bergerak mengusap air matanya yang mengalir.


Hatinya terasa sesak, kepalanya pun menjadi sulit untuk berpikir jernih.


Keduanya sangat baik padanya, bahkan jika disuruh memilih salah satu dari mereka, Nana akan sangat kesulitan. Disisi lain, dirinya juga tidak ingin melukai hati keduanya. Selama ini ia selalu berusaha bersikap seimbang pada keduanya. Tapi nyatanya, ia selalu dihadapi dengan pilihan-pilihan yang sulit.


Yohan berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar, tapi kemudian kakinya terhenti saat dirinya melihat Daisy yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Kau baru pulang?" Tanya Yohan pada putri keduanya itu, putri kandungnya.


Daisy mengangguk,


"Ada kunjungan ke rumah sakit." Jawab Daisy dengan wajah lesu-nya.


"Sudah makan?" Tanya Yohan.


"Belum." Jawab Daisy.


"Ikut ayah, ayo kita makan diluar." Kata Yohan, ia kemudian mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.


"Ini sudah malam ayah, jika ibu tahu, dia pasti akan marah." Kata Daisy.


"Karena itu, kita pergi diam-diam. Jadikan ini rahasia kecil kita." Ucap Yohan dengan senyumnya.


"Baiklah, aku ganti pakaian dulu."


"Tidak perlu, pakai saja pakaianmu. Kau terlihat bagus dengan pakaian serba putih itu." Kata Yohan yang ditanggapi senyuman oleh Daisy.


"Oke, tapi jika nanti kita ketahuan. Daisy akan mengatakan pada ibu kalau ayah yang memaksa Daisy untuk makan di luar." Ujar Daisy.


"Tidak masalah, ayo." Jawab Yohan sembari menyodorkan lengannya yang langsung di balas Daisy dengan melingkarkan tangannya di lengan ayah kandungnya itu.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju pintu keluar itu dengan obrolan kecil dan tawa ringan. Ayah dan anak kandung itu tampak sangat dekat satu sama lain, membuat seorang anak lain yang berstatus sebagai anak tiri merasa iri.


Beberapa menit yang lalu, Nana keluar dari kamarnya untuk mengajak Yohan berbincang dan makan diluar, karena ia merasa dirinya dan ayah tirinya itu akhir-akhir ini sangat jarang menghabiskan waktu bersama.


Tapi sayangnya, saat ia baru saja ingin menuruni tangga, pandangannya tertuju pada Daisy yang masuk ke dalam rumah. Lalu obrolan ayah dan anak kandung itu menjadi tontonan bagi Nana.


Gadis itu hanya bisa menghela nafasnya, membuang semua keburukan yang mencoba merasuki hatinya.


Nana berbalik, hendak menuju kamarnya kembali, tapi ia dikejutkan oleh ibunya yang tanpa ia sadari sudah sejak tadi berada di sampingnya.


"Ingin ikut pergi makan keluar juga?" Tanya sang ibu, Rachel.


Nana menggelengkan kepalanya,


"Tidak, aku harus menyelesaikan tugas kuliah ku." Jawab Nana yang kemudian berjalan melewati ibunya.


"Nana." Panggil Rachel, membuat Nana menghentikan langkah kakinya.


"Iya?" Nana menoleh pada ibunya itu.


"Ayahmu tadi datang ke kamarmu kan? Apa yang dia katakan padamu?" Tanya Rachel.


"Tidak ada, bukan hal penting, kami hanya sedikit berbincang-bincang saja." Jawab Nana.


"Kau belakangan ini sering menghabiskan waktu bersama papa mu kan?"


Nana terdiam, tapi kemudian ia tersenyum sembari membalas tatapan dari ibunya itu.


"Iya."


"Kalau begitu jangan merasa sedih jika ayahmu menghabiskan waktu bersama Daisy." Kata Rachel.


"Maksud ibu apa?"


"Kau dekat dengan papa kandungmu dan ayahmu dekat dengan anak kandungnya. Bukankah itu sesuatu yang dikatakan adil?"


Nana tersenyum miris, ia mengalihkan pandangannya dari ibunya itu.


"Ibu sedang tidak menyuruhku untuk menjaga jarak dengan papa kan?" Tanya Nana.


"Aku tahu jika Alex adalah ayah kandungmu, tapi jangan terlalu dekat dengannya dan mengabaikan ayah tirimu yang sudah menjaga dan merawat mu sejak kau bayi. Kau harus tahu Nana, siapa yang telah berjuang untuk membesarkan mu dan siapa yang telah mengabaikan mu." Ujar Rachel.


"Terimakasih atas nasehatmu, bu. Tapi—yang aku tahu, tidak ada satupun dari mereka yang mengabaikanku. Jadi aku tidak tahu siapa orang yang ibu maksud itu. Jika itu papa, maka ibu salah, papa tidak pernah mengabaikan ku sedikitpun. Bu, kalau saja ibu memberinya kesempatan untuk bertanggung jawab dan tidak mengikuti keinginan ibu sendiri, aku tidak akan berada di posisi yang sulit seperti ini." Kata Nana, suara gadis itu terdengar seperti menahan isak tangisnya.


"Nana, saat ibu hamil dirimu, dia tidak pernah ada niat untuk bertanggung jawab. Dia datang terlambat, dia mengutarakan tanggung jawabnya sangat terlambat." Sanggah Rachel, membalas perkataan anaknya itu.


"Bukankah ibu pernah berkata, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Walaupun terlambat, tapi papa sudah memiliki niat untuk bertanggung jawab. Jadi, Nana mohon pada ibu, jangan menilai papa sesuka hati ibu. Aku yang lebih tahu seperti apa papaku itu." Ujar Nana, ia kemudian berbalik dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Gadis itu masuk kedalam kamarnya sembari menutup pintu kamar itu dengan keras, seakan pintu itu menjadi lambang dari emosinya.


*💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


*✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍**

__ADS_1


__ADS_2